Rabu , Mei 23 2018
Breaking News
Home / Belajar Islam / Aqidah / Lamiyah Ibnu Taimiyah 3 : Kewajiban Mencintai Semua Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Lamiyah Ibnu Taimiyah 3 : Kewajiban Mencintai Semua Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Syarah Lamiyah Ibnu Taimiyah Bag. 3

Kewajiban Mencintai Semua Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Syaikhul Islam Rahimahullah berkata :

حُبُّ الصَّحابَةِ كُلهمْ لي مَذْهَبٌ    وَمَوَدَّةُ القُرْبى بِها أَتَوَسَّــلُ

“Mencintai semua sahabat merupakan madzhabku, dan mencintai kerabat nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan itu aku bertawasul”.

Penjelasan Matan Lamiyah Ibnu Taimiyah :

  1. Sahabat adalah Siapa saja yang bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik dari kalangan manusia atau jin, lalu beriman kepada Nya dan mati dalam keadaan beriman.Walaupun pernah murtad, kemudian kembali lagi memeluk Islam.
  2. Malaikat yang bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak dikatakan sebagai sahabat karena Nabi tidak diutus untuk mereka.Inilah pendapat yang benar. Wallahu A’lam Bisshowab
  3. Dalam bait ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menetapkan madzhab ahlussunnah wal jama’ah tentang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu mencintai mereka semuanya tanpa terkecuali baik yang masuk islam sebelum atau sesudah penaklukan kota Makkah, baik pembesar-pembesar sahabat atau sahabat-sahabat yang muda dalam usia, karena mencintai mereka sesuatu yang wajib dalam islam dan tidak boleh menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Menghindari mencela dan mencaci maki mereka.

Adapun Fitnah dan peperangan yang terjadi antara para sahabat semua berdasarkan Ijtihad dari mereka, jika mereka benar dalam ijtihadnya  mereka mendapat dua pahala, jika mereka salah mereka mendapatkan satu pahala, maka tidak boleh kita mencela,menfasiqkan dan mengkafirkan mereka, yang pantas untuk diucapkan,:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-hasyr 10)

  1. Dalam bait ini juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ingin membantah beberapa golongan yang menyimpang dari islam :
  • Golongan Syi’ah Rofidhah, mereka ini adalah golongan yang membenci dan memusuhi sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka mengkafirkan para sahabat-sahabat Nabi kecuali beberapa sahabat saja, diantaranya Miqdad Bin Al-aswad, Hudzaifah Ibnul Yaman, Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Gifari Radhiallahu ‘Anhum.

Berkata Al-‘Ayasyi –Ahli Tafsir Syi’ah- :

عن أبي جعفر عليه السلام قال: (كان الناس أهل ردة بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ثلاثة، فقلت: ومن الثلاثة ؟ قال : المقداد وأبو ذر وسلمان الفارسي )

Dari Abu Ja’far Ia berkata : “Manusia (sahabat) telah murtad setelah meninggalnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kecuali tiga sahabat, Maka aku berkata : Siapa yang tiga? Beliau menjawab : “Al-Miqdad, Abu Dzar, dan Salaman Al-farisi.”

Berkata Murthada husaini fairuz abadi -‘Ulama Syi’ah-, :

إن الرسول ابتلى بأصحاب قد ارتدوا من بعد عن الدين إلا القليل

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, di uji dengan sahabat-sahabat yang telah murtad (keluar dari islam) kecuali sedikit saja (yang tidak murtad).”

  • Golongan An-Nawashib, Merekayang telah menabuh gendrang permusuhan dan kebencian kepada keluarga dan kerabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

5. Mencintai para sahabat adalah wajib dan bagian dari agama, karena mereka yang membawa dan menyampaikan agama ini kepada kita.

Dalil-dalil yang menunjukkan wajib nya mencintai Para sahabat Radhiallahu ‘Anhum, sangatlah banyat baik didalam Al-Qur’an maupun dalam Hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Diantaranya :

  • Firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 100,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

  • Firman Allah dalam surat Al-Fath ayat 18 :

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”

  • Firman Allah dalam surat Al-Hadid ayat 10,

لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dan masih banyak lagi ayat-ayat tentang kebaikan para sahabat Nabi, Adapun dalil-dalil dari Sunnah, diantaranya :

  • Dari ‘Imran Bin Husain dan Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhuma, Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ;

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”(Muttafaq ‘Alaih)

  • Dari Abi Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhuma, Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah mencela sahabat-sahabatku! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, Kalau sekiranya kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan dapat menyamai satu mud sedekah mereka, tidak juga separuhnya.”(Muttafaq ‘Alaihi)

  • Dari Anas Bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bersabda :

ﺁﻳﺔ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺣﺐّ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭ ﻭﺁﻳﺔ ﺍﻟﻨﻔﺎﻕ ﺑﻐﺾ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭ

“Tanda-tanda keimanan adalah cinta kepada orang-orang anshar dan tanda kemunafikan adalah benci kepada mereka.”

  • Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu berkata : “ Bahwasanya Allah Ta’ala melihat ke dalam hati-hati para hamba Nya, maka Dia mendapati hati Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam paling baik dari semua hamba Nya, lalu Allah memilihnya untuk diri Nya, dan diutusnya untuk mengemban risalah Nya, kemudian Allah Ta’ala melihat hati-hati para hamba setelah hati Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, dan Allah mendapati hati-hati para Sahabat sebaik-baik hati dari seluruh hamba, maka di jadikanlah mereka pendamping Nabi Nya yang mereka berperang karena membela Agama Nya, dan apa yang dalam pandangan kaum Muslimin (sahabat) adalah baik, maka ia di sisi Allah baik, dan apa yang dalam pandangan mereka buruk, maka menurut Allah buruk ”. Di riwayatkan oleh Imam Ahmad dalam.”
  • Imam Malik Rahimahullah berkata :

مَن يبغض أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وكان في قلبه عليه غِلٌّ فليس له حقٌّ في فَيءِ المسلمين، ثم قرأ قولَه سبحانه وتعالى: {وَالَّذِينَ جَاؤُو مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ } الآية

“Barang siapa yang membenci salah seorang dari shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan di dalam hatinya terdapat perasaan dengki terhadapnya, maka dia tidak berhak untuk mendapatkan harta fai’ kaum Muslimin, kemudian Imam Malik Rahimahullah, membacakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami, yang telah beriman lebih dahulu dari kami.” (QS. al-Hasyr 10)

  • Imam Abu Ja’far Ath-Thahawy Rahimahullah berkata :

ونحبُّ أصحابَ رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا نفرط في حبِّ أحدٍ منهم، ولا نتبرَّأ من أحدٍ منهم، ونبغض من يبغضهم وبغير الخير يذكرهم، ولا نذكرهم إلا بخيرٍ، وحبُّهم دينٌ وإيمانٌ وإحسانٌ، وبغضُهم كفرٌ ونفاقٌ وطغيانٌ

“Dan kami mencintai para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kami tidak berlebih-lebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, tidak pula kami bersikap bara’ terhadap salah seorang dari mereka. Kami membenci orang yang membenci para shahabat (dan membenci) orang yang berkata tidak baik tentang mereka. Tidaklah kami menyebut para shahabat kecuali dengan kebaikan. Mencintai para shahabat adalah agama, iman, dan ihsan. Membenci para shahabat adalah kekufuran, kemunafikan, dan sikap melampaui batas.”

-Wallahu A’lam Bisshowab-

 

Selesai ditulis sabtu 22 Rajab 1439 H / 07April 2018 M di PonpesTahfidz Putri Al-Mahmud Aik Ampat Lombok Barat

Bahrul Ulum Ahmad Makki


Refrensi :

  • Al-Laali’ Al-Bahiyah Syarh Lamiyah Karya Syaikh Ahmad bin Abdullah Al-Mardawy Al-Hambaly
  • Syarah Lamiyah syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Karya Syaikh Yahya Bin ‘Ali Al-Hajuri
  • Al-Fawaid Al-bahiyah Fi Syarh Lamiyah Karya syaikh Muhammad Hizam al-Ba’dany
  • Ad-Duror Al-Aqdiyah fi Syarh Lamiyah Karya Syaikh Abu Hamzah Sa’ad Abdussalam An-Nazily
  • https://ar.islamway.net/article/47378

 

Please follow and like us:
0

About Bahrul Ulum Ahmad Makki

Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pondok Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana )

Check Also

‘Umdatul Ahkam : Cara Menentukan Awal Bulan Ramadhan (Hadits 179)

‘Umdatul Ahkam : Cara Menentukan Awal Bulan Ramadhan (Hadits 179) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Please like this page and share it