Rabu , Oktober 21 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Fiqih / Umdatul Ahkam : Sifat Wudhu’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Bag.2 (Hadits Ke-8)
KLIK UNTUK BERINFAK

Umdatul Ahkam : Sifat Wudhu’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Bag.2 (Hadits Ke-8)

Umdatul Ahkam Hadits Ke-8

Sifat Wudhu’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Bag.2

عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : ( شَهِدْتُ عَمْرَو بْنَ أَبِي حَسَنٍ سَأَلَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ زَيْدٍ عَنْ وُضُوءِ النَّبِيِّ ؟ فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ , فَتَوَضَّأَ لَهُمْ وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ فَأَكْفَأَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ التَّوْرِ , فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلاثاً , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاثاً بِثَلاثِ غَرْفَاتٍ , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاثاً , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَمَسَحَ رَأْسَهُ , فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ) .

وَفِي رِوَايَةٍ : ( بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ , حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إلَى قَفَاهُ , ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ ) . وَفِي رِوَايَةٍ ( أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ فَأَخْرَجْنَا لَهُ مَاءً فِي تَوْرٍ مِنْ صُفْرٍ ) . التَّوْرُ : شِبْهُ الطَّسْتِ . أهـ

“Dari ‘Amru bin Yahya Al Maziny dari Bapaknya berkata, “Aku pernah menyaksikan ‘Amru bin Abu Hasan bertanya kepada Abdullah bin Zaid tentang wudhu’ nya Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Lalu ia minta diambilkan satu bejana air, kemudian ia memperlihatkan kepada mereka cara wudhu’ Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Ia menuangkan air dari bejana ke telapak tangannya lalu mencucinya tiga kali, kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu berkumur-kumur, lalu memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkannya kembali dengan tiga kali cidukan, kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu membasuh mukanya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangannya dua kali sampai ke siku. Kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu mengusap kepalanya dengan tangan, mulai dari bagian depan ke belakang dan menariknya kembali sebanyak satu kali, lalu membasuh kedua kakinya hingga mata kaki.” [HR. Bukhary dan Muslim].

Dalam riwayat lain : “dimulai dari bagian depan dan menariknya hingga sampai pada bagian tengkuk, lalu menariknya kembali ke tempat semula.”

Dalam riwayat lain: “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, datang, lalu kami menyiapkan air dalam sebuah bejana yang terbuat dari tembaga.”

Penjelasan dan Fiqih Hadits :

  1. Hadits ini menunjukkan dianjurkannya membasuh kedua telapak tangan pada permulaan wudhu’.
  2. Disunnahkannya menggabungkan antara berkumur dan memasukkan air kedalam hidung ketika berwudhu’.

Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar –Rahimahullah-, berkata :

اِسْتَدَلَّ بِهِ عَلَى اِسْتِحْبَابِ الْجَمْعِ بَيْنَ الْمَضْمَضَةِ وَالْاِسْتِنْشَاقِ مِنْ كُلِّ غُرْفَةٍ .

“ (Para ‘Ulama) berdalil dengan hadits ini, atas di anjurkannya menggabungkan antara berkumur dan menghirup air kedalam hidung pada setiap cidukan”

Imam Ibnul qayyim –Rahimahullah-, berkata : “ Tidak disebutkan satupun dalam hadits yang shohih, pemisahan antara berkumur dan istinsyaq (menghirup air kedalam hidung)”.

  • Tata cara menggabungkan antara berkumur dan istinsyaq sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi –Rahimahullah-, adalah : “Seseorang mengambil air dengan tangannya, kemudian berkumur dan beristinsyaq dengan air tersebut, kemudian mengambil air untuk kedua kalinya dan melakukan hal yang sama, dan mengambil air untuk yang ketiga kalinya dan melakukan seperti apa yang dilakukan pertama kali”.
  1. Dibolehkan membasuh sebagian anggota wudhu’ satu kali, sebagian yang lain dua atau tiga kali. Karena Rasulullah bersabda :

ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاثاً , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ

“ Kemudian beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, membasuh mukanya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangannya dua kali sampai ke siku”.

Imam Nawawi –Rahimahullah-, berkata :

فِيْهِ دِلَالَةٌ عَلَى جَوَازِ مُخَالَفَةِ الْأَعْضَاءِ ، وَغَسْلِ بَعْضِهَا ثَلَاثاً وَبَعْضِهَا مَرَّتَيْنِ وَبَعْضِهَا مَرَّةً

“ Hadits ini menunjukkan bolehnya menyelisihi anggota wudhu’ dalam hal basuhan, membasuh sebagian anggota tiga kali dan sebagian yang lainnya dua atau satu kali.”

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin –Rahimahullah-, berkata : “Sebagian ‘Ulama membenci (memakruhkan) membedakan sebagian anggota wudhu’ dalam jumlah basuhan, jika kalian membasuh wajah satu kali, maka janganlah kalian membasuh tangan dua kali, akan tetapi pendapat yang benar, tidak makruh”.

  1. Disyari’atkannya mengusap kepala dan bukan membasuhnya.
  2. Mengusap kepala cukup satu kali saja, dan ini pendapat jumhur ‘Ulama, sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, di atas.

Berkata Ibnul Mundzir –rahimahullah-, :

إنَّ الثَّابِتَ عَنِ النَّبِيِّ فِيْ الْمَسْحِ مَرَّةً وَاحِدَةً

“Yang tsabit dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dalam masalah mengusap kepala, cukup satu kali saja”.

  • Hikmah di wajibkannya mengusap kepala dalam wudhu’ dan bukan membasuh :

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –Rahimahullah-, berkata :

وَإِنَّمَا أَوْجَبَ اللهُ فِي الَّرأْسِ الْمَسْحَ دُوْنَ الْغُسْلِ ، لِأَنَّ الْغُسْلَ يَشُقُّ عَلَى الْإِنْسَانِ ، وَلَا سِيَمَا إِذَا كَثُرَ الشَّعْرُ وكَانَ فِي أَيَّامِ الشِّتَاءِ

“ Sesungguhnya Allah mewajibkan mengusap kepala bukan membasuhnya, karena membasuh kepala akan memberatkan seseorang, lebih-lebih bagi orang yang memiliki rambut yang lebat pada musim dingin”.

  1. Jika seseorang mebasuh kepalanya sebagai ganti dari mengusap, apakah wudhu’ nya sah ? Pendapat yang kuat –In sya Allah-, sangat dimakruhkan.
  2. Tata cara mengusap kepala : dimulai dari bagian depan dan menariknya hingga sampai pada bagian tengkuk, lalu menariknya kembali ke tempat semula.
  • Imam Nawawi Rahimahullah-, menyebutkan dalam kitabnya Syarah Imam Muslim, kesepakatan para ‘Ulama atas dianjurkannya melakukan cara ini dalam mengusap kepala.

 

Refrensi :

  1. Syarah Umdatul Ahkam Syaikh Sulaiman Al-Luhaimid
  2. Taisir ‘Allam Syarh Umdatul Ahkam Syaikh Abdullah Al-Bassam

Ponpes Tahfidz Putri Al-Mahmud Al-Islamy , Rabu 3 Jumadal Ula 1440 H / 9 Januari 2019

Bahrul Ulum Ahmad Makki

Tentang Penulis Bahrul Ulum Ahmad Makki

Bahrul Ulum Ahmad Makki -hafidzahullah-. Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana ) Aktifitas : Pengasuh dan pengajar di pondok Tahfidz Al-Mahmud Al-Islamy, Pembina Yayasan Al-Hakam NTB, Pengasuh Web alhakam.com

Silahkan Pilih Yang Lain

Nasehat akhir tahun

Nasehat akhir tahun إِنَّ اْلحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *