Senin , Juli 23 2018
Breaking News
Home / Belajar Islam / Fiqih / Umdatul Ahkam (Bab Puasa) : Larangan Berpuasa Sehari Atau Dua Hari Sebelum Ramadha

Umdatul Ahkam (Bab Puasa) : Larangan Berpuasa Sehari Atau Dua Hari Sebelum Ramadha

Umdatul Ahkam (Bab Puasa)

Larangan Berpuasa Sehari Atau Dua Hari Sebelum Ramadhan (Hadits No.176)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  ( لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ , أَوْ يَوْمَيْنِ إلاَّ رَجُلاً كَانَ يَصُومُ صَوْماً فَلْيَصُمْهُ )

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kalian mendahului ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang terbiasa melakukan puasa sunnah maka hendaknya ia berpuasa pada hari itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mutiara dan faidah Hadits :

1. Hadits diatas melarang mendahului ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang sudah terbiasa melakukannya dan bertepatan dengan hari itu, maka hendaklah dia berpuasa pada hari itu.

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

قال العلماء : معنى الحديث : لا تستقبلوا رمضان بصيام على نية الاحتياط لرمضان

“Para ‘Ulama berpendapat, makna hadits tersebut, janganlah menyambut bulan ramadhan dengan berpuasa dan dengan niat jaga-jaga untuk penentuan awal ramadhan.” (Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari)

2. Dalil lain yang melarang mendahului ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelum ramadhan adalah Atsar Dari ‘Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhuma, ia berkata :

من صام اليوم الذي يشك فيه الناس فقد عصى أبا القاسم – صلى الله عليه وسلم-

 “Barang siapa yang berpuasa pada hari yang diragukan oleh manusia, maka ia telah menyelisihi Abal Qosim shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari mengatakan :

اسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى تَحْرِيم صَوْم يَوْمِ الشَّكِّ لأَنَّ الصَّحَابِيَّ لا يَقُولُ ذَلِكَ مِنْ قِبَلِ رَأْيِهِ

“Atsar ini dapat dijadikan dalil akan pengharaman puasa pada hari yang diragukan, karena shahabat tidak mengatakan seperti itu dari pendapatnyasendiri.”

Hari yang diragukan adalah hari ketiga puluh bulan Sya’ban ketika tidak terlihat bulan sabit dikarenakan mendung atau semisalnya. Dinamakan hari yang diragukan karena ada kemungkinan bahwa hari ketiga puluh adalah bulan Sya’ban dan ada kemungkinan ia adalah hari pertama di bulan Ramadan. Maka diharamkan berpuasa pada hari itu kecuali bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa dan bertepatan pada hari tersebut.

3. Para ‘Ulama berselisih pendapat mengenai larangan dalam hadits diatas, apakah larangannya sampai pada tingkat haram atau hanya makruh?

a. Pendapat pertama : larangannya bermakna haram.

b. Pendapat kedua : larangannya bermakna makruh. Dan Pendapat yang rojih adalah pendapat yang pertama.

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadits :

لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْم وَلا يَوْمَيْنِ …

“Janganlah kalian mendahului ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang terbiasa melakukan puasa sunnah maka hendaknya ia berpuasa pada hari itu.

واختلف العلماء رحمهم الله في هذا النهي هل هو نهي تحريم أو نهي كراهة ؟ والصحيح أنه نهي تحريم ، لاسيما اليوم الذي يشك فيه

Beliau mengatakan, “Para ulama rahimahumullah berbeda pendapat terkait dengan larangan ini, apakah larangan haram atau larangan makruh? “Pendapat yang benar bahwa maksud larangan tersebut adalah diharamkannya (berpuasa sehari atau dua hari sebelum ramadhan), lebih-lebih pada hari syak (hari yang diragukan apakah masuk bulan ramadhan apa belum).” (Syarh Riyadus Shalihin, 3/394)

4. Hikmah dilarangnya berpuasa sehari atau dua hari sebelum ramadhan adalah :

  • Supaya seseorang bisa membedakan antara puasa wajib (puasa Ramadhan) dan puasa sunnah.
  • Supaya seseorang kuat melaksanakan puasa pada awal Ramadhan.
  • Awal puasa ramadhan ditentukan dengan melihat hilal (datangnya awal bulan ramadhan). Maka barangsiapa yang mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya berarti ia berusaha menyelisihi dan menyalahkan ketentuan ini.

5. Dibolehkan mendahului ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya pada dua keadaan :

  • Orang yang memiliki kebiasaan berpuasa, seperti puasa senen dan kamis. Jika sehari atau dua hari sebelum ramadhan bertepatan dengan kebiasaannya ini maka tidak mengapa ia berpuasa pada hari tersebut.
  • Orang yang puasa wajib seperti puasa nadzar, puasa membayar kaffarah atau puasa qadha’ ramadhan. Semua ini dibolehkan karena hal ini tidak termasuk menyambut ramdhan.

6. Bolehnya mengatakan ramadhan tanpa menyebut kata bulan. Diantara dalil-dalil bolehnya adalah  :

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة

“Apabila telah datang ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka.”

Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

من صام رمضان إيماناً واحتساباً

“Barang siapa berpuasa ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala.”

Sebagian ‘Ulama (yaitu sahabat-sahabat Imam Malik) berpendapat tidak bolehnya mengatakan ramadhan tanpa menyebut bulan. Mereka berdalil dengan hadits :

لا تقولوا رمضان ، فإن رمضان اسم من أسماء الله ، ولكن قولوا شهر رمضان

“Janganlah kalian mengatkan ramadhan, karena sesungguhnya ramadhan nama dari nama Allah subhanahu wa ta’ala, maka katakanlah bulan ramadhan.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata :

وَهَذَا الحَدِيثُ ضَعِيفٌ ، ضَعَّفَهُ البيهقيُّ ، والضَّعفُ عَلَيْهِ ظَاهرٌ ، ولَمْ يذكرْ أحدٌ رَمَضَانَ في أسماءِ اللَّهِ  تعالى، مَعَ كثرةِ منْ صَنَّفَ فِيهَا

“Dan hadits ini lemah, telah dilemahkan oleh Baihaqi, dan kelemahan hadits ini sangat jelas, dan tidak seorangpun yang menyebutkan bahwa ramadhan nama Allah ta’ala, padahal banyak orang yang menyusun kitab dalam hal ini.” (Al-Adzkar Imam Nawawi Hal. 889)

 

Pondok Tahfidz Putri Al-Mahmud Aik Ampat, Senin 8 Sya’ban 1439 H/23 April 2018

Bahrul Ulum Ahmad Makki

 

Refrensi :

  • Syarah Umdatul Ahkam Syaikh Sulaiman Al-Luhaimid
  • Taisir ‘Allam Syarh Umdatul Ahkam Syaikh Abdullah Al-Bassam
  • Ihkamul Ahkam Syarh Umdatul Ahkam Ibnu Daqiq Al-‘Id
  • https://islamqa.info/ar/26850
  • http://www.alukah.net/sharia/0/116902/
  • Http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=167832
Please follow and like us:
0

About Bahrul Ulum Ahmad Makki

Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pondok Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana )

Check Also

Hukum Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hukum Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Lanjutan Syarah Lamiyah Ibnu Taimiyah Bait ke-4) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Please like this page and share it