Rabu , Oktober 21 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Akhlaq / Tawaadhu’ (التَّوَاضُعُ) – fotret Tawadhu’ Nya Rasulullah dan Para Sahabat
KLIK UNTUK BERINFAK

Tawaadhu’ (التَّوَاضُعُ) – fotret Tawadhu’ Nya Rasulullah dan Para Sahabat

Tawaadhu’ (التَّوَاضُعُ)

Sesungguhnya tawaadhu’ adalah sifat para Nabi, para Rasul dan hamba-hamba Alloh yang sholih  yang mereka mengetahui kebenaran dan mengikutinya sehingga mereka bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya sifat sombong dan angkuh adalah sifat kaum kafir dan musyrik serta pelaku dosa yang sombong terhadap kebenaran dan angkuh terhadap hamba-hamba Alloh sehingga mereka akan terhina. Oleh karena itu hendaknya setiap insan  selalu tawaadhu’ dan menjauhi sifat sombong agar Alloh mengangkatnya secara hakiki maupun secara maknawi di dunia dan akhirat.

Makna Tawaadhu’

Tawaadhu’ secara bahasa bermakna merendahkan diri. Secara Istilah tawaadhu’ adalah menampakkan kerendahan kepada orang yang ingin dihormatinya atau menghormati orang yang lebih atas darinya karena keutamaan yang dimilikinya (al Qomus al Muhith hal.997, fathul Baari 11/341).

Fudhail bin ‘Iyad pernah ditanya tentang tawaadhu’, ia menjawab: “Tunduk kepada kebenaran, melaksanakannya dan menerimanya dari siapa saja kebenaran itu datang”. Sebagian ulama ada yang mengatakan: “Tawaadhu’ adalah tidak melihat pada dirimu ada suatu kelebihan. Jika engkau masih melihat pada dirimu ada suatu yang istimewa maka engkau tidak mendapatkan bagian tawaadhu’. 

Abu Yazid al Busthomi berkata: “Tidak melihat dirinya memiliki kedudukan atau posisi lebih tinggi dari orang lain dan tidak melihat ada orang lain yang lebih rendah dari dirinya” (Madaarijus Salikin 2/329, tahqiq Muhammad Hamid Fiqi). 

Macam-macam Tawaadhu’:

Tawaadhu’  ada dua macam:

  1. Tawaadhu’ yang terpuji yaitu tidak merasa lebih tinggi terhadap hamba Alloh yang lain. Tawaadhu’ ini muncul karena pengetahuannya tentang kebesaran dan kemuliaan Alloh dan banyaknya aib pada dirinya sehingga muncul dari dalam hatinya ketundukan kepada Alloh dan ia merasa tidak punya kelebihan apa-apa dibandingkan makhluk yang lain (ar Ruuh hal. 234).
  2. Tawaadhu’ yang tercela yaitu merendahnya seseorang kepada orang yang memiliki dunia (jabatan, kekayaan, dan lainnya) karena ingin mendapatkan dunia tersebut (Raudhotul Uqola’, Ibnu Hibban hal.59).

Tawaadhu’ kepada Alloh ada dua macam:

  1. Tawaadhu’-nya seorang hamba kepada Robb-nya tatkala melakukan suatu ketaatan, tidak bangga diri dengan amalan tersebut karena ia merasa masih banyak kekurangan dalam melaksanakan hak-hak Alloh dan semua amalan yang dikerjakan semata-mata karunia dari Alloh kepadanya.
  2. Seorang hamba mencela dirinya sendiri karena kelalaiannya dalam muhasabah (introspeksi diri) dalam menunaikan hak dan kewajibannya kepada Alloh (Tadzkirul basyar bifadhli at tawaadhu’ wa dzammil kibri, syaikh Abdulloh alu Jaarulloh hal. 2-3).

Urgensi Tawaadhu’

  1. Seorang yang tawaadhu’ akan diangkat derajatnya. Dari Abu Hurairoh Radhiallahu ‘Anhu bahwasanya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang tawaadhu’ karena Alloh melainkan Alloh akan mengangkatnya” (HR. Muslim 2588).

Berkata Qodhi ‘Iyyad: “Hadits tersebut ada dua sisi, yang pertama Alloh akan mengaruniakan (akan mengangkatnya) di dunia sebagai balasan tawaadhu’-nya karena tawaadhu’nya akan menumbuhkan kecintaan, mendapat tempat di hati dan kemuliaan, yang kedua : Itu adalah balasan pahala di akhirat karena tawaadhu’-nya di dunia (Ikmalul Mu’lim Syarh Shohih Muslim 8/59).

  1. Tawaadhu’ merupakan sifat orang yang akan menjadi penduduk surga. Dari haritsah bin Wahb Radhiallahu ‘Anhu bahwasanya ia mendengar Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Maukah aku beritahukan tentang penduduk surga? Para sahabat menjawab: “Ya”. Beliau bersabda: “Orang-orang lemah lagi diremehkan manusia jika ia bersumpah atas nama Alloh maka Alloh akan mengabulkannya”. Maukah saya beritahukan penduduk neraka? Mereka menjawab: “Ya”. Beliau bersabda: “Semua orang yang kasar, sombong dan angkuh”(HR. al Bukhori 4918, Muslim 2853). Alloh juga berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi (QS. al Qoshos: 83).

Berkata Ibnu Katsir : “Alloh Ta’ala mengabarkan bahwasanya negeri akhirat dan kenikmatannya yang kekal adalah bagi hamba-Nya yang beriman lagi  tawaadhu’ yang tidak ingin menyombongkan diri…” (Tafsir Ibnu katsir 6/258). 

  1. Tawaadhu’ adalah sifat ibadurrahman (hamba Alloh yang beriman) (QS. al Furqon: 63).
  2. Tawaadhu’ dalam berpakaian akan mendapatkan ganjaran khusus. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang meninggalkan suatu pakaian karena tawaadhu’ karena Alloh padahal ia mampu memakaianya maka Alloh akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan semua makhluk sampai disuruh memilih perhiasan iman mana yang mau dipakainya (HR. at Tirmidzi 2481, shohih al Jaami’ 6145). Berkata Syaikh al Utsaimin: “Maksudnya jika seseorang berada di kalangan manusia yang keadaan ekonominya pertengahan yang tidak bisa memakai pakaian yang mahal kemudian ia tawaadhu’ dengan mengenakan pakaian sebagaimana mereka agar mereka tidak minder hatinya dan tidak berbangga di hadapan mereka maka orang tersebut mendapatkan balasan yang agung ini. Namun jika ia berada di masyarakat yang telah diberikan nikmat oleh Alloh sehingga mereka mengenakan pakaian yang mahal –asal yang tidak diharamkan- maka yang afdhol adalah memakai pakaian seperti mereka karena Alloh indah menyukai keindahan…”(Syarh Riyadus sholihin 3/317-318).
  3. Tawaadhu’ akan mewariskan keselamatan, membuahkan persaudaraan, menghilangkan kedengkian dan permusuhan (Raudhotul ‘Uqola’ hal.61).

Faktor pendorong untuk menjadi orang yang tawaadhu’

  1. Bertaqwa kepada Alloh

Tawaadhu’ tidak akan diperoleh kecuali bagi ahli taqwa karena hakikat tawaadhu’ adalah merendahkan diri kepada Alloh dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (ar Ruuh: 234).

  1. Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau senang diperlakukan orang. Berkata al hasan: “Tawaadhu’ adalah engkau keluar rumahmu dan tidaklah engkau bertemu seorang muslim melainkan engkau melihat orang tersebut memiliki kelebihan darimu” (at Tawaadhu’ wal Khumul 154).
  2. Mengingat asal penciptaan manusia (at tawaadhu’ fi dhauil qur’an was sunnah hal. 31-32). Berkata Ibnu Hibban: “Bagaimana manusia tidak mau tawaadhu’ sementara ia diciptakan dari air mani yang hina, akan kembali menjadi mayat yang busuk tak terkira dan hidup membawa kotoran (di perutnya) ?!” (Raudhotaul Uqola’ hal.61).
  3. Menyadari keterbatasan dirinya. Manusia tidak akan bisa menembus bumi dan sekali-kali tidak akan sampai setinggi gunung, lalu kenapa ia sombong?! (Adhwaul bayan 3/592). Berkata Qotadah: “Barangsiapa yang diberikan harta, ketampanan, pakaian dan ilmu kemudian ia tidak tawaadhu’ maka itu adalah musibah pada hari kiamat (at tawaadhu’ wal khumul, Ibnu abid dunya 142).
  4. Menyucikan hati. Apabila hati seseorang baik maka semua amalannya akan baik. Maka hendaknya seseorang membersihkan hatinya dari hasad, dengki, ujub dan sombong karena hati merupakan sumber penyakit-penyakit ini (Durus imaniyyah fil akhlaq al islamiyyah , Khumais Sa’id hal. 61).

Fotret Tawaadhu’-nya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Dari Abu Hurairoh Radhiallahu ‘Anhu dan Abu dzar Radhiallahu ‘Anhu, mereka berkata: “Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam duduk di belakang para sahabatnya sehingga orang asing tidak mengenalnya sampai ia bertanya…”(Shohih Abu Dawud 4698).

Al Aswad pernah bertanya kepada ‘Aisyah : “Apa yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kerjakan di rumahnya?”. Aisyah menjawab: “Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membantu keluarganya dan apabila datang waktu sholat beliau keluar sholat” (HR. al Bukhori 676).

Anas Radhiallahu ‘Anhu pernah berkata: “Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membonceng orang dibelakangnya, meletakkan makanannya di tanah, memenuhi undangan budak-budak dan mengendarai keledai”(HR. al Hakim 4/132, Shohihul Jaami’ 4945).

Ada seseorang yang berkata kepada beliau: “Wahai tuan kami, anak tuan kami, orang terbaik kami, anak orang yang terbaik kami…Maka beliau berkata: “Wahai manusia, hendaknya kalian bertaqwa janganlah kalian diperdayakan oleh syaithon. Saya adalah Muhammad bin Abdulloh, saya hamba Alloh dan rasul-Nya, saya tidak suka diangkat melebihi kedudukan yang Alloh berikan kepada saya” (HR. al Ahmad 3/153 dan dishohihkan oleh ahmad Syakir).

Abdulloh bin ‘Amr Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah diceritakan tentang puasa saya (yang setiap hari) maka beliau mengunjungi saya dan saya menggelarkan beliau bantal dari kulit namun beliau justru duduk di tanah sehingga bantal itu berada di tengah-tengah kami…”(HR. al Bukhori 1980, Muslim 1159).

Fotret Tawaadhu’-nya Para sahabat

Karena meneladani Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para sahabat pun berhias dengan sifat tawaadhu’.

Abu Bakr Radhiallahu ‘Anhu memerah susu buat tetangganya (padahal beliau seorang kholifah) (at tabshiroh, Ibnul Jauzi  408). Beliau juga pernah berkata: “Aku sangat ingin menjadi rambut saja bila berada di dekat hamba yang mukmin” (az Zuhd Imam Ahmad 569).

 ‘Umar bin Khoththob Radhiallahu ‘Anhu dikala menjadi kholifah pernah melewati suatu penyeberangan kemudian beliau turun sambil melepaskan sepatunya dan meletakkannya di pundaknya (HR. al Hakim 1/130, Shohih at Targhib 2893).  ‘Urwah bin zubair pernah melihat ‘Umar memikul tempayan air (ar risalah al Qusyairiah 1/279).

Al hasan pernah berkata: “Saya pernah melihat Usman bin affan tidur siang di masjid yang pada waktu itu ia seorang kholifah dan ketika bangun ada bekas kerikil di pundaknya” (at Tabshiroh 437).

‘Ali bin abi Tholib Radhiallahu ‘Anhu pernah membeli daging dan membawanya di dalam mantelnya. Ada yang berkata: “Saya bawakan wahai amirul mukminin!”. Beliau menjawab: “Tidak, kepala rumah tangga lebih berhak membawanya” (al Ihya 2/368).

Abu Hurairoh Radhiallahu ‘Anhu pernah suatu kali menjadi ‘amir. Suatu ketika ia memikul beberapa ikat kayu bakar, ada yang berkata: “Berikan jalan buat ‘amir” (Tarikh Dimasyqo 67/373). Walhamdulillah.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *