Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Fiqih / Syarat-syarat I’tikaf bag.4
KLIK UNTUK BERINFAK

Syarat-syarat I’tikaf bag.4

  1. Tidak mencumbui Istri

Baik dengan bersetubuh atau sekedar bercumbu , yang demikian itu karena kesucian dan keagungan masjid, maka tidak diperbolehkan bagi orang yang beri’tikap hal-hal yang diperbolehkan bagi orang yang yang berpuasa ketika telah berbuka , Allah ta’ala berfirman :

ولا تباشروهن و أنتم عاكفون في المساجد .(البقرة : 187) .

Artinya :   : Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. (Q.S Al Baqarah ; 187) .

Dan Ummul Mukminin Aisyah berkata :

و لا يمس امرأة , ولا يباشرها .

Artinya : “(Seorang yang beri’tikaf) tidak boleh menyetubuhi istrinya , dan tidak boleh mencumbuinya” .

Abdurrazzaq telah mengeluarkan dalam Mushonnaf (3/364) dengan sanad yang shohih dari Atho’ bin Abi Rabah , dia berkata : “Janganlah seorang yang beri’tikaf mendatangi keluarganya (istrinya) pada malam maupun siang hari , dia berkata : dan tidak boleh menyetubuhi, mencium, mencumbui, menyentuh, meraba istrinya , dan hendaknya dia menjauhi istrinya sebisa mungkin”

Maka menyetubuhi istri , atau mencumbuinya adalah teremasuk hal yang membatalkan I’tikaf.

Apa yang dilakukan seorang yang beri’tikaf apabila dia telah menyetubuhi istrinya, telah mencium, atau telah mencumbui istrinya walaupun sebentar ?

Tidak disebutkan sedikit pun dalam bab ini sesuatu yang menunjukkan atas wajibnya kaffaroh .

Sebagaimana yang telah dikeluarkan oleh Abdurrazzaq (3/363) dengan sanad yang shohih dari Zuhri , tentang seseorang yang menyetubuhi istrinya sedangkan dia beri’tikaf ?

Dia berkata : Tidak ada dalil sedikit pun yang sampai kepada kami tentang hal itu , akan tetapi kami berpendapat hendaknya ia membebaskan budak , sebagaimana kaffaroh orang yang menyetubuhi istrinya pada bulan ramadhan .

Saya (muallif) mengatakan :pendapat yang mengatakan bahwa adanya kaffaroh adalah datang dari sebuah ijtihad , dan sesuatu yang tidak ada nash tentangnya , maka tidak bisa dijadikan hujjah untuk perkataan yang merupakan ijtihad , dan yang benar bahwa dia memulai I’tikaf dari awal .

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq , dan Ibnu Abi Syaibah (2/338) dengan sanad perawi yang tsiqoh (terpercaya) dari Ibnu Abbas , berkata :

إذا وقع المعتكف على امرأته استأنف اعتكافه

Artinya : “Jika seorang yang beri’tikaf menyetubuhi istrinya , maka ia memulai I’tikafnya dari awal” .

Saya (muallif) mengatakan : Ini dalam I’tikaf pada selain waktu puasa wajib seperti bulan ramadhan , maka sesungguhnya seseorang yang menyetubuhi istrinya ketika I’tikaf pada siang hari bulan ramadhan , maka wajib atasnya sebagaimana yang diwajibkan atas orang yang menyetubuhi pada waktu puasa wajib. Wallahu A’lam.

Disyariatkannya I’tikaf Bagi Wanita Ketika Aman Dari Fitnah, Berdasarkan yang telah lalu dari hadits Ummul Mukminin Aisyah – radhiallahu anha – , dia berkata :

كان رسول الله – صلى الله عليه و سلم – يعتكف في كل رمضان فإذا صلى الغداة دخل مكانه الذي اعتكف فيه , قال : فاستأذنته عائشة أن تعتكف , فأذن لها , فضربت فيه قبة , فسمعت بها حفصة , فضربت قبة , و سمعت زينب بها فضربت قبة أخرى …الحديث

Artinya : : “Adalah Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam – i’tikaf pada tiap ramadhan, apabila beliau selesai dari sholat shubuh, beliau masuk ke tempat i’tikaf beliau. Berkata Rowi : Kemudian Aisyah meminta izin kepada beliau untuk beri’tikaf , maka Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam – mengizinkannya , kemudian Aisyah membuat kemah di tempat tersebut, lalu Hafshoh mendengarnya , kemudian dia pun membuat kemah . Kemudian Zainab mendengarnya , kemudian dia pun membuat kemah …dst.

Dan dari Aisyah – radhiallahu anha – , berkata :

اعتكفت مع رسول الله  – صلى الله عليه و سلم – امرأة من أزواجه مستحاضة , فكانت ترى الحمرة و الصفرة , فربما وضعنا الطست تحتها وهي تصلي .

Artinya : “Salah satu dari istri Nabi – shallallahu alaihi wa sallam- beri’tikaf bersama beliau . Maka dia melihat cairan berwarna merah dan kuning , kadang-kadang kami membuatkan baskom di bawahnya , sedangkan dia sedang sholat .[1]

Akan tetapi ini disyaratkan ketika aman dari fitnah , tidak ada bahaya dengan keluarnya wanita untuk I’tikaf , mendapat izin dari walinya, terlebih jika dia telah bersuami, maka sesungguhnya ia tidak boleh keluar untuk I’tikaf kecuali dengan perintah suaminya dan tidak ada bahaya bagi dirinya , atau lainnya seperti anak-anaknya , atau orang yang berada dalam tanggung jawabnya dengan keluarnya menuju I’tikaf.

Sumber Bahan :

  • Kutaib Fiqhul I’tikaf –  Syaikh Amr Abdul Mun’im Salim

[1] .Dikeluarkan oleh Bukhari 2/68 , Abu Dawud no hadits 2476 , Ibnu Majah no hadits 1780 , dari jalan Ikrimah , dari Aisyah.

Tentang Penulis Bahrul Ulum Ahmad Makki

Bahrul Ulum Ahmad Makki -hafidzahullah-. Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana ) Aktifitas : Pengasuh dan pengajar di pondok Tahfidz Al-Mahmud Al-Islamy, Pembina Yayasan Al-Hakam NTB, Pengasuh Web alhakam.com

Silahkan Pilih Yang Lain

Nasehat akhir tahun

Nasehat akhir tahun إِنَّ اْلحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *