Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Fiqih / Syarat-syarat I’tikaf bag.2
KLIK UNTUK BERINFAK

Syarat-syarat I’tikaf bag.2

  1. Dilaksanakan Di Masjid Jami’.

Yaitu masjid yang didirikan semua sholat di dalamnya . Dan dalil atas pensyaratannya :

Firman Allah ta’ala :

و لا تباشروهن و أنتم عاكفون في المساجد (البقرة : 187)

Artinya : Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. (Q.S Al Baqarah ; 187).

Perkataan Ummul Mukminin Aisyah – radhiallahu anha – :

ولا اعتكاف إلا في مسجد جامع

Artinya : dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid jami’ .

Dan adapun orang-orang yang mengkhususkan masjid-masjid, sebagaimana yang tersebut dalam sebagian riwayat yang dhoif dari hadits Hudzaifah bin Al Yaman – radhiallahu anhu -, bahwasannya masjid-masjid tersebut adalah masjid yang 3 (tiga) (yaitu masjid Al Haram , masjid Nabawi , masjid Al Aqsho) , maka ini tidak benar , bahkan perkataan ini menyelisihi keumuman ayat yang telah lalu .

Dan hadits yang menjelaskan tentang ini(mengkhususkan masjid-masjid tertentu) adalah hadits yang dhoif , sebagaimana telah saya jelaskan dengan detail dalam kitab saya ‘Shounu Asy Syar’i Al-Hanif.

Dan adapun berhujjah atas yang demikian itu(mengkhususkan masjid-masjid tertentu untuk I’tikaf), karena beberapa salaf , seperti Ibnul Musayyib dan Atho telah berpendapat dengannya, maka ini perlu di perinci :

Adapun perkataan Ibnul Musayyib :

Ibnu Abi Syaibah telah mengeluarkan dari Ibnul Musayyib (2/337) dari jalan : Hammam bin Yahya , dari Qotadah , dari Ibnul Musayyib , dia berkata :

لا اعتكاف إلا في مسجد نبي

Artinya : Tidak ada I’tikaf kecuali di masjid nabi .

Saya (muallif) mengatakan : Riwayat ini berdasarkan kaidah mutaqoddimin(ulama’ terdahulu) adalah riwayat yang syadz[1] , karena Hammam bin Yahya telah menyendiri dengan riwayat ini , dan dia bukan termasuk murid Qotadah yang atsbat (kuat) dan tsiqoh (terpercaya) , Al Bardiji menganggap bahwa menyendirinya salah satu perawi yang atsbat dan tsiqoh dari murid-murid Qotadah dengan suatu hadits , tidak ada yang mengikutinya  dari murid-murid yang lain , maka termasuk riwayat yang mungkar , sebagaimana hal ini telah dinukil oleh Ibnu Rajab dari Al Bardiji dalam kitab Syarah ‘Ilal Tirmidzi hal. 282 . Dan kepada pendapat inilah  , perkataan Imam Muslim mengarah dalam muqoddimah shohihnya , dimana beliau menyebutkan kaidah ini secara umum dan memisalkan dengannya dengan Az Zuhri dan Hisyam bin Urwah .

Jika seperti ini keadaan hadits di tingkatan pertama dari murid-murid Qotadah , maka bagaimana di tingkatan syuyukhnya(di bawah tingkatan atsbat ats-tsiqot) ?

Maka jika dikatakan : Akan tetapi Hammam bin Yahya telah dimutaba’ah oleh Abdurrazzaq (4/346) , dari Ma’mar , dari Qotadah – menurut sangkaan saya  – , dari Ibnul Musayyib , dia berkata :

لا اعتكاف إلا في مسجد النبي صلى الله عليه و سلم

Artinya : “Tidak ada I’tikaf kecuali di masjid Nabi – shallallahu alaihi wa sallam –” .

Maka jawabannya adalah : Sesungguhnya Ma’mar bin Rasyid adalah dhoif pada riwayatnya dari Qotadah , dia telah mendengar hadits dari Qotadah ketika masih kecil ,, sehingga dia tidak menghafalnya , dan dia juga ragu – sebagaimana yang kamu lihat – , dia berkata : “menurut sangkaan saya” , sedangkan keragu-raguan dalam sanad dapat membuat sebuah hadits menjadi cacat , sebagaimana telah aku jelaskan dalam “An Naqdu Ash Shorih” . Ini dari satu sisi .

Adapun dari sisi yang lain , Ma’mar telah menyelisihi Qotadah dalam matan , karena dia mendkhususkan masjid Nabi – shallallahu alaihi wa sallam – , maka tidak ada dalam atsar ini sesuatu yang menguatkan pendapat yang dibangun atas dasar hadits Hudzaifah bin Al Yaman , yang telah berlalu pendhoifannya , bahkan ini adalah perkataan lain yang mengkhususkan I’tikaf di masjid Nabi – shallallahu alaihi wa sallam – .

Adapun atsar Atho’ bin Abi Rabah :

Abdurrazzaq telah mengeluarkannya (4/349) :

Dari Ibnu Juraij , dari Atho’ , dia berkata :

لا جوار إلا في مسجد جامع , ثم قال : لا جوار إلا في مسجد مكة , و مسجد المدينة

Artinya : ” Tidak ada I’tikaf kecuali dia masjid jami’ , kemudian Atho’ berkata : Tidak ada I’tikaf kecuali di masjid makkah , tidak ada I’tikaf kecuali di masjid madinah ” .

Dan dalam atsar yang lain , Ibnu Juraij berkata : ” Aku berkata kepada Atho’ : “Bagaimana dengan masjid Iliya’ ?” , dia berkata : “Tidak dilaksanakan I’tikaf kecuali di masjid makkah dan masjid madinah .

2 (dua) atsar ini adalah atsar yang shohih , akan tetapi keduanya telah menyelisihi hadits Hudzaifah bin Al Yaman – sebagaimana yang kamu lihat – dalam meninngalkan I’tikaf di masjid Al Aqsho – Ilya’ – yang menunjukkan bahwa hujjah menurut Atho’ bukan dengan hadits ini , karena kalau seandainya Atho’ berhujjah dengan hadits tersebut , dia akan mengatakan bolehnya I’tikaf di masjid Al Aqsho , dan ketika perkaranya sesuai yang kami jelaskan , maka jelaslah bahwa hal tersebut adalah pendapat Atho’ bin Abi Rabah , dan ijtihad beliau , ijtihad beliau ini tertolak dengan keumuman firman Allah ta’ala :

ولا تباشروهن و أنتم عاكفون في المساجد .(البقرة : 187)

Artinya :   : Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. (Q.S Al Baqarah ; 187) .

Dan juga dengan atsar Ummul Mukminin Aisyah – radhiallahu anha – , bahkan dalam hadits Hudzaifah menunjukkan adanya pengingkaran Ibnu Mas’ud terhadap pendapat Hudzaifah dan penyanggahannya terhadapnya .

Dan perkataan tabi’in tidak wajib diikuti , lebih-lebih apabila menyelisihi dalil . Dan pendapat bahwa bolehnya beri’tikaf di selain 3 (tiga) masjid tersebut , adalah perkataan para imam yang terpercaya – rahimahumullah – .

 

  • Permasalahan : Yaitu I’tikaf di masjid yang berada di rumah , apa hukum beri’tikaf di tempat tersebut ?
  •  Saya (muallif) mengatakan : Sebagian salaf dari kalangan tabi’in membolehkan beri’tikaf di masjid yang berada di rumah , akan tetapi beberapa orang dari kalangan sahabat menyelisihi pendapat mereka : Tidak ada I’tikaf kecuali di masjid jami’ , ini adalah perkataan Ummul Mukminin Aisyah dan Ibnu Abbas – radhiallahu anhuma – .
  • Maka pendapat yang rajih (kuat) menurut kami dalam masalah ini : Bahwasanya tidak dibolehkan beri’tikaf kecuali di masjid-masjid yang didirikan sholat jumat dan sholat jamaah di dalamnya , dan pada umumnya masjid-masjid yang berada di rumah terkunci saat sholat jumat didirikan , maka orang yang beri’tikaf harus keluar dari I’tikafnya untuk sholat jumat .Memang , sebagian ulama telah memperbolehkan keluarnya orang yang beri’tikaf untuk sholat jumat , dan ini adalah pendapat Ahmad sebagiamana dalam kitab Masail Abdillah (732) , akan tetapi perkataan tersebut dibangun berdasarkan pendapat yang mengatakan bolehnya beri’tikaf di masjid yang berada di rumah , dan telah berlalu penjelasan atas pendhoifan hadits tersebut .

 

Sumber Bahan :

  • Kutaib Fiqhul I’tikaf –  Syaikh Amr Abdul Mun’im Salim

[1] .Hadits syadz adalah  Seorang Perawi hadits yang makbul(diterima) haditsnya, menyelisihi riwayat seorang perawi yang lebih tinggi kedudukannya

Tentang Penulis Bahrul Ulum Ahmad Makki

Bahrul Ulum Ahmad Makki -hafidzahullah-. Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana ) Aktifitas : Pengasuh dan pengajar di pondok Tahfidz Al-Mahmud Al-Islamy, Pembina Yayasan Al-Hakam NTB, Pengasuh Web alhakam.com

Silahkan Pilih Yang Lain

Nasehat akhir tahun

Nasehat akhir tahun إِنَّ اْلحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *