Senin , Juli 23 2018
Breaking News
Home / Belajar Islam / Aqidah / Syarah Lamiyah Ibnu Taimiyah Bag.6 : Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu

Syarah Lamiyah Ibnu Taimiyah Bag.6 : Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu

Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu

وَلِكُلِّهِمْ قَـدْرٌ علا وَفَضْائلٌ   لكِنَّما الصِّديقُ مِنْهُمْ أَفْضَـل

Dan  setiap mereka memiliki kedudukan dan keutamaan yang sangat tinggi, tetapi As-siddiq (Abu Bakar ‘Abdullah bin ‘Utsman, pen-) yang paling utama diantara mereka

Penjelasan Matan Lamiyah Ibnu Taimiyah rahimahullah :

1. Para ‘Ulama sepakat bahwa orang yang paling utama dari ummat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Sahabat yang mulia Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.

Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, : Imam Abu ‘Abdillah Al-Maziry rahimahullah berkata :

واتفق أهل السنة على أن أفضلهم أبو بكر ، ثم عمر . قال جمهورهم : ثم عثمان ، ثم علي . وقال بعض أهل السنة من أهل الكوفة بتقديم علي على عثمان ، والصحيح المشهور تقديم عثمان . قال أبو منصور البغدادي : أصحابنا مجمعون على أن أفضلهم الخلفاء الأربعة على الترتيب المذكور ثم تمام العشرة ، ثم أهل بدر ، ثم أحد ، ثم بيعة الرضوان

“Ahlussunnah sepakat bahwa sahabat yang paling mulia adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, kemudian ‘Umar (Ibnul Khattab, pen-), Jumhur Ahlussunnah berpendapat : Kemudian ‘Utsman (bin ‘Affan, pen-), kemudian ‘Ali (bin Abi Thalib, pen-). Sebagian Ahlussunnah dari penduduk kufah berpendapat, mendahulukan ‘Ali dari ‘Utsman, akan tetapi yang masyhur dan benar ‘Utsman yang lebih utama. Abu Manshur Al-Bagdadi rahimahullah berkata : “Sahabat-sahabat kami sepakat bahwa sahabat yang paling utama adalah 4 Khalifah Ar-Rosyidin sesuai urutan yang telah disebutkan, kemudian sisa yang sepuluh (sahabat yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah), kemudian para sahabat yang menghadiri perang badar, kemudian perang Uhud, kemudian Bai’at ridhwan.” (Syarah Muslim 15/148).

Imam Al-Qosthalani rahimahullah berkata :

إن أفضلهم على الإطلاق عند أهل السنة إجماعاً أبو بكر ثم عمر رضي الله عنهما، إلى أن قال: ثم اختلفوا فيمن بعدهما، فالجمهور على تقديم عثمان

“Bahwa sahabat yang paling utama secara umum menurut kesepakatan Ahlussunnah adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar radhiallahu ‘anhuma,…………..kemudian mereka berselisih siapa yang utama setelah mereka berdua, maka jumhur ahlussunnah mendahulukan ‘Utsman radhiallahu ‘anhu.” (Kitab Al-Mawahib 7/36).

Imam Ibnu katsir rahimahullah berkata :

وأفضل الصحابة، بل أفضل الخلق بعد الأنبياء – عليهم السلام -: أبو بكر الصديق ثم من بعده عمر بن الخطاب ثم عثمان بن عفان ثم علي بن أبي طالب

“Dan sahabat yang paling utama, bahkan manusia yang paling mulia setelah para Nabi ‘Alaihimussalam adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian setelah beliau ‘Umar bin Khattab, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan, kemudian ‘Ali bin Abi Thalib.” (Al-Ba’its Hatsits Hal.183)

2. Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah tentang keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.

a. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sahabat yang menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hijrah ke kota madinah.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allâh telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At-Taubah : 40).

b. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu orang yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ : عَائِشَةُ، فَقُلْتُ : مِنَ الرِّجَالِ؟ فَقَالَ : أَبُوهَا، قُلْتُ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ, فَعَدَّ رِجَالًا

“Siapakah orang yang paling engkau cintai? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aisyah.’ Aku bertanya, ‘(Maksudku) dari kaum laki-laki?’ Beliaupun menjawab, ‘Ayahnya (yaitu Abu Bakar)’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Umar bin Khattab.’ Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa orang yang dicintainya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَابَكْرٍ خَلِيلًا، وَلَكِنَّهُ أَخِي وَصَاحِبِي، وَقَدِ اتَّخَذَاللهُ ﻷصَاحِبَكُمْ خَلِيلًا

Sekiranya aku diizinkan oleh Allah untuk menjadikan seseorang sebagai khalil (kekasih), niscaya aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku (kekasihku), akan tetapi ia adalah saudara dan sahabatku, sedangkan Allah ta’aala telah menjadikan sahabat kalian ini (Nabi, Pen-) sebagai khalilnya (kekasihnya).” (Muttafaqun ‘Alaih)

c. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu orang yang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik semasa hidup beliau atau setelah wafatNya. Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma Ia berkata :

كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُخَيِّرُ أَبَابَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ، ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

“Kami (para sahabat, Pen-) pernah menilai orang yang terbaik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka kami dapatkan yang terbaik adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar bin Khattab, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan, radhiallahu ‘anhum.” (HR. Bukhari 3655)

Dari Ibnu Al-Hanafiyah rahimahullah Ia berkata :

قُلْتُ لِأَبِي أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ : أَبُو بَكْرٍ،قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ عُمَرُ،وَخَشِيتُ أَنْ يَقُولَ عُثْمَانُ، قُلْتُ: ثُمَّ أَنْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلَّا رَجُلٌ مِنَ المُسْلِمِينَ.

“Aku bertanya kepada ayahku, siapa orang terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka ia menjawab: Abu Bakar, aku pun bertanya lagi : Kemudian siapa setelah itu? Ia menjawab: Kemudian ‘Umar, maka aku khawatir ia akan menjawab ‘Utsman setelah itu, aku pun segera memotongnya: kemudian engkau? Ia menjawab: Aku hanyalah seseorang dari kaum muslimin.” (HR. Bukhari)

d. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu orang yang ditunjuk menggantikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafatNya. Dari Jubair bin Muth’im radhiallahu ‘anhu,

أن امرأة أتتْ النبي صلى الله عليه وسلم فأمرها أن ترجع إليه، فقالت : أرأيت إن لم أجدك؟ قال : إن لم تجديني فأتيْ أبي بكر

“Bahwa seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau memrintahkannya untuk kembali menemuinya, wanita itu berkata : ‘Bagaimana jika aku tidak menemukanMu ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Kalo engkau tidak menemukanku, maka datangilah ‘Abu Bakar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مروا أبا بكرٍ لييصل للناس

“Perintahkan supaya Abu Bakar melaksanakan sholat dengan orang-orang (menjadi imam).”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada Bilal bin Robah radhiallahu ‘anhu :

إذا حضرت صلاة العصر : مر أبا بكرٍ لييصل للناس

“Apabila waktu shalat ashar tiba, Perintahkan supaya Abu Bakar melaksanakan sholat dengan orang-orang (menjadi imam).”

3. Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa penunjukkan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah adalah secara Nash (Tekstual) dan secara isyarah, dan inilah pendapat ‘Ulama Ahlul Hadits.

Imam Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : Perkataan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha :

فأرسل رسول الله إلى أبي بكر أن يصلى بالناس، فقال أبو بكر وكان رجلا رقيقا : يا عمر صل بالناس. فقال عمر : أنت أحق بذلك

“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang kepada Abu Bakar radhiallahu ‘anhu untuk mengimami orang-orang shalat, Abu Bakar berkata (beliau seorang yang berhati lembut) : “Wahai ‘Umar imami orang-orang shalat. ‘Umar berkata : “Anda lebih berhak untuk itu”.

Atsar diatas mengandung beberapa faidah, diantaranya : Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, dan keunggulan beliau dari semua sahabat radhiallahu ‘anhum, serta keutamaan beliau dari semuanya. Dan sebagai penjelasan bahwa beliau yang paling berhak menduduki kursi khilafah dari yang lainnya.”

Wallahu A’lam Bisshowab

 

Pondok Tahfidz Putri Al-Mahmud Aik Ampat, Sabtu 6 Sya’ban 1439 H/21 April 2018

Bahrul Ulum Ahmad Makki


Refrensi :

  1. Al-Laali’ Al-Bahiyah Syarh Lamiyah Karya Syaikh Ahmad bin Abdullah Al-Mardawy Al-Hambaly
  2. Syarah Lamiyah syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Karya Syaikh Yahya Bin ‘Ali Al-Hajuri
  3. Al-Fawaid Al-bahiyah Fi Syarh Lamiyah Karya syaikh Muhammad Hizam al-Ba’dany
  4. Ad-Duror Al-Aqdiyah fi Syarh Lamiyah Karya Syaikh Abu Hamzah Sa’ad Abdussalam An-Nazily
  5. https://dorar.net/aqadia/3713
Please follow and like us:
0

About Bahrul Ulum Ahmad Makki

Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pondok Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana )

Check Also

‘Umdatul Ahkam : Cara Menentukan Awal Bulan Ramadhan (Hadits 179)

‘Umdatul Ahkam : Cara Menentukan Awal Bulan Ramadhan (Hadits 179) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Please like this page and share it