Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Aqidah / Lamiyah Ibnu Taimiyah 1 : Bertanya Masalah Agama Kepada Ahlinya
KLIK UNTUK BERINFAK

Lamiyah Ibnu Taimiyah 1 : Bertanya Masalah Agama Kepada Ahlinya

Syarah Lamiyah Ibnu Taimiyah bag.1

Bertanya Ilmu Agama, Kepada Siapa?

يا سَائِليْ عَنْ مَذْهَبِيْ وعَقيدَتِيْ     رُزِقَ الهُدَى مَنْ لِلْهِدَايَةِ يَسْأَلُ

“Wahai orang yang bertanya  tentang madzhab dan aqidahku, Semoga diberi anugrah petunjuk orang yang bertanya (meminta) tentang hidayah”

Penjelasan Matan Lamiyah :

  1. Syaikhul Islam menulis risalah ringkas ini sebagai jawaban atas seseorang yang bertanya kepada beliau tentang aqidah dan madzhab yang diyakininya. Dan inilah yang sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim agar bertanya kepada ‘Ulama perkara-perkara yang tidak difahami dalam urusan agamanya, supaya ia beribadah berdasarkan ilmu dan petunjuk. Bukan karena ikut-ikutan.
  2. Pertanyaan dalam Al-Qur’an dan Sunnah ada dua bentuk :

  • Pertanyaan dengan tujuan mendapatkan penjelasan dan keterangan tentang suatu masalah yang tidak difahami dan sangat dibutuhkan, maka pertanyaan jenis ini dibolehkan bahkan dianjurkan.

Allah ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”. (QS. Al-Anbiya’ 7)

  • Pertanyaan yang menyusahkan,membingungkan, untuk mencari keringan atau untuk tujuan menabrakkan pendapat ulama dengan ‘ulama yang lainnya, maka hal ini tidak dibolehkan, dan seorang mufti hendaknya tidak menjawab pertanyaan jenis ini sebagai pelajaran atas penanya.

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah telah menukil kesepakatan ‘Ulama atas dilarangnya mencari keringan-keringan dalam beragama dan mencari pendapat yang sesuai dengan hawa nafsu.(Lihat. Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi 2/92).

  1. Perkataan Ibnu taimiyah rahimahullah : (رُزِقَ الهُدَى مَنْ لِلْهِدَايَةِ يَسْأَلُ ) “Semoga diberi anugrah petunjuk orang yang bertanya (meminta) tentang hidayah”.
  • Anugrah atau rezeki ada dua macam :

  • Rezeki yang ‘Amm (Umum) yaitu Rezeki yang Allah berikan kepada semua makhluknya, jin,manusia dan binatang. Baik yang muslim maupun yang kafir.berupa makanan dan minuman atau yang lainnya.

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”

أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar”.

  • Rezeki yang Khas (Khusus) yaitu Rezeki yang diberikan khusus untuk orang-orang beriman, rezeki ini berupa ilmu,iman, hidayah dan semua yang bermanfaat untuk kebaikan dunia dan akhiratnya.

Doa yang dipanjatkan syaikhul islam adalah doa jenis kedua, yaitu beliau memohon kepada Allah agar penanya mendapatkan petunjuk dan hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu A’lam Bisshowab

  1. Faidah : Apakah harta yang didapat dengan cara yang haram termasuk rezeki, seperti harta hasil mencuri, uang riba dan lainnya?

Jawab : Harta yang didapat dengan cara yang haram termasuk rezeki dari Allah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyemba”. (QS. Al-Baqarah 172)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk memakan rezeki Allah yang baik-baik saja. Mafhumnya bahwa Allah melarang kita memakan rezeki yang tidak baik atau haram.

-Wallahu A’lam Bisshowab-

 

Artikel ini ditulis di Ponpes Al-Mahmud aik Ampat, hari rabu  4 Maret 2018

Bahrul Ulum Ahmad Makki


Refrensi :

  • Al-Laali’ Al-Bahiyah Syarh Lamiyah Karya Syaikh Ahmad bin Abdullah Al-Mardawy Al-Hambaly
  • Al-Fawaid Al-bahiyah Fi Syarh Lamiyah Karya syaikh Muhammad Hizam al-Ba’dany
  • Ad-Duror Al-Aqdiyah fi Syarh Lamiyah Karya Syaikh Abu Hamzah Sa’ad Abdussalam An-Nazily

Tentang Penulis Bahrul Ulum Ahmad Makki

Bahrul Ulum Ahmad Makki -hafidzahullah-. Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana ) Aktifitas : Pengasuh dan pengajar di pondok Tahfidz Al-Mahmud Al-Islamy, Pembina Yayasan Al-Hakam NTB, Pengasuh Web alhakam.com

Silahkan Pilih Yang Lain

Nasehat akhir tahun

Nasehat akhir tahun إِنَّ اْلحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *