Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Pendidikan Islam / Spesifikasi Kurikulum Pendidikan Salaf
KLIK UNTUK BERINFAK

Spesifikasi Kurikulum Pendidikan Salaf

Spesifikasi Kurikulum Pendidikan Salaf

Sebelum melangkah ke dalam rimba pendidikan maka seorang perintis haruslah berbekal kompas dan peta yang akurat agar mencapai tujuan yang tepat. Salah melangkah dan tidak terarah justru perangkap akan menjerat dan pendidikan akan kiamat. Ditambah lagi godaan dunia semakin memikat sehingga niat awal menjadi berkarat dan orientasi tidak lagi akhirat. Maka kurikulum pendidikan Ilahi menjadi kebutuhan yang sangat untuk membangun generasi sahabat.

Karakteristik pendidikan Salaf

  1. Pendidikan berjenjang dari Umum ke khusus dimulai dari perkara yang paling urgen yaitu pendidikan imaniyyah.

عن جندب بن عبد الله رضي الله عنه يقول: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ (أي قَارَبْنَا الْبُلُوْغَ) فَتَعَلَّمْنَا الإِيْمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا إِيْمَاناً (رواه ابن ماجه).

Dari Jundub Ibni Abdillah ia berkata: “Kami bersama Nabi tatkala mendekati masa baligh. Kami mempelajari iman sebelum al Qur’an kemudian barulah kami mempelajari al Qur’an sehingga bertambahlah keimanan kami” (HR. Ibnu Majah).

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: كُنتُ خَلفَ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم يومًا. فقال: يا غُلامُ ! إني أُعَلِّمُكَ كَلِماتٍ، احفَظِ اللهَ يَحفَظكَ…

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma ia berkata: “Aku pernah berada di belakang Rasululloh pada suatu hari, Beliau berkata: “Wahai nak, aku akan ajarkan suatu kata yaitu jagalah Alloh niscaya Alloh akan menjagamu…” (HR. Ahmad, at Tirmidzi dan lainnya)..

عن عبدالله بن عُمر رضي الله عنهما قال: لَقَدْ عِشنَا بُرْهَةً مِنْ دَهرِنَا، وَإِنَّ أَحَدَنَا لَيُؤْتَى الإِيْمَانُ قَبْلَ الْقُرْآنَ، وَتَنْـزِلُ السُّورةُ عَلىَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم فَنَتَعَلَّمُ حَلاَلَهَا وَحَرَامَهَا, وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُوْقَفَ عِنْدَهُ مِنْهَا, كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ, وَلَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالاً يُؤتَى أَحَدُهُمْ الْقُرْآنَ قَبْلَ الإِيْمَانِ, فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إلى خَاتِمَتِهِ, مَا يَدْرِي مَا آمُرُهُ، وَلاَ زَاجِرُهُ, وَلاَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يُوْقَفَ عِنْدَهُ مِنْهُ, وَيَنْثُرُه نثرَ الدَّقَلِ )رواه ابن منده في “الإيمان” (207)، والحاكم (1/35)، والبيهقي في “الكبرى” (3/120)، وصححه: ابن منده، و الحاكم).

Dari Abdillah Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma ia berkata: “Sungguh kami pernah hidup beberapa waktu, dimana salah seorang kami diberikan pelajaran keimanan sebelum al Qur’an dan Tatkala ada surat yang diturunkan kepada Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam kami langsung mempelajari halal haramnya dan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar sebagaimana kalian hari ini mempelajari al Qur’an. Sungguh aku melihat di masa ini orang-orang yang diajari al Qur’an sebelum diajarkan keimanan. Ia membaca antara al fatihah sampai akhir al Qur’an namun ia tidak mengetahui apa perintah dan larangan dan batasan yang  tidak boleh dilanggar dan mereka membacanya seperti kurma kering yang rusak (membaca dengan cepat tanpa mentadabburinya) (Dikeluarkan oleh Ibnu Mandah dalam “al Iman” 207, al hakim 1/35, al Baihaqiy dalam “Sunanul Kubro” 3/120 dan dishohihkan oleh Ibnu Mandah dan al al Hakim).

Berkata Syaikh Abu Yazid al Jazairy hafidzhohulloh: “Makna perkataan sahabat “Kami mempelajari iman sebelum al Qur’an” ada beberapa makna:

  1. Mereka mempelajari iman secara global terutama iman yang bersifat fardhu ‘ain sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu taimiyyah.
  2. Mereka mengimani Alloh dan rasulNya dan keshohihan apa yang dibawa dari Islam dan iman sehingga hati mereka menjadi tenang (dalam keimanan) sebelum membaca al Qur’an. Demikian pula mereka tidak hanya sekedar mempelajari lafadz al Qur’an saja namun halal haram, perintah dan larangan serta batasan yang tidak boleh dilanggar.
  3. Mereka mempelajari keimanan tentang al Qur’an terlebih dahulu (www.kulalsalafiyeen.com).

Bagaimana cara mengajarkan  iman ini? Dengan dua cara:

  1. Tafakkur ayat-ayat Alloh al mar’iyyah (yang terlihat)
  2. Tafakkur pada ayat-ayat pertama yang turun kepada para sahabat yang telah membentuk iman yang kokoh seperti gunung di dada-dada mereka (al Iman Qablal Qur’an, Syaikh ‘Ishom Ibnu Sholih al ‘Uwaid. www.tafsir.net).

قال ذو النّون المصريّ: مررت بأرضِ مصر، فرأيت الصِّبيان يرمون رُجلاً بالحِجارةِ، فقلتُ لهم: ما تُريدون منه ؟ 
فقالوا: يزعمُ أنه يرى الله عزَّ وجلَّ … ” (عُقلاء المجانين” للضّراب  14 ).

Berkata Dzun Nun al Mishriy: “Aku pernah melewati negeri Mesir. Aku melihat  anak-anak kecil melempar seseorang dengan  batu. Aku bertanya kepada mereka: “Apa mau kalian terhadapnya?”. Mereka berkata: “Ia mengaku melihat  Alloh ‘Azza wa jalla” (‘Uqola’ul Majanin, Dorrob hal. 14).

قال أبو هريرة رضي الله عنه على مُعلِّم الكُتَّاب،: يا مُعلِّم الكُتَّابِ، اجمع لي غِلمانك، فيجمعهم، فيقول: قل لهم: فلينصتوا، 
أيّ بني أخي، أفهموا ما أقولُ لكم، أما يُدركنَّ أحدٌ منكم عيسى ابن مريم، فإنّه شابٌ وضيء أحمر، فليقرأ عليه من أبي هريرة السَّلام.  فلا يَمرُّ على مُعلّم كُتَّابٍ إلا قال لغلمانه مثل ذلك  ” (ابن أبي شيبة (19368).

Berkata Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu kepada para pengajar kuttab: “Wahai pengajar kuttab, kumpulkan saya murid-muridmu, maka mereka dikumpulkan. Abu Hurairoh berkata kepada mereka: “Katakan kepada mereka untuk diam”. Maka mereka didiamkan. Beliau berkata: “Wahai anak saudaraku, pahami yang aku akan katakan. Siapa saja diantara kalian yang  menjumpai ‘Isa bin Maryam maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang pemuda tampan berkulit merah, sampaikan salam Abu Hurairoh kepadanya. Tidaklah beliau  melewati  para pengajar kuttab melainkan ia berkata seperti itu” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah 19368).

  1. Pendidikan Salaf adalah pendidikan robbaniy  yang diampu oleh pendidik robbaniy.

ﻗﺎﻝ ﻋﺘﺒﺔ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﻟﻤﺆﺩﺏ ﻭﻟﺪﻩ : ﻟﻴﻜﻦ ﺃﻭﻝ ﺇﺻﻼﺣﻚ ﻟﻮﻟﺪﻱ ﺇﺻﻼﺣﻚ ﻟﻨﻔﺴﻚ؛  ﻓﺈﻥ ﻋﻴﻮﻧﻬﻢ ﻣﻌﻘﻮﺩﺓ ﺑﻚ؛ ﻓﺎﻟﺤﺴﻦ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﻣﺎ ﺻﻨﻌﺖَ،
ﻭﺍﻟﻘﺒﻴﺢ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﻣﺎ ﺗﺮﻛﺖَ، ﻭﻋﻠِّﻤﻬﻢ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﺗﻜﺮﻫﻬﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻴﻤﻠﻮﻩ، ﻭﻻ ﺗﺘﺮﻛﻬﻢ ﻣﻨﻪ ﻓﻴﻬﺠﺮﻭﻩ، ﺛﻢ ﺭﻭِّﻫﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻌﺮ ﺃﻋﻔَّﻪ، ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﺷﺮﻓﻪ، ﻭﻻ  ﺗُﺨﺮﺟﻬﻢ ﻣﻦ ﻋﻠﻢ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮﻩ ﺣﺘﻰ ﻳُﺤﻜِﻤﻮﻩ؛ ﻓﺈﻥ ﺍﺯﺩﺣﺎﻡ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﻊ ﻣﻀﻠﺔ ﻟﻠﻔﻬﻢ  (ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻴﺎﻝ، 1/470 ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ (7293).

Berkata ‘Utbah Ibnu Abi Sufyan kepada pendidik anaknya: “Hendaknya perbaikan pertama pada diri anak saya adalah perbaikan dirimu sendiri karena pandangannya tertuju kepadamu. Yang baik menurutmu adalah apa yang engkau perbuat dan yang jelek bagi mereka adalah apa yang engkau tinggalkan. Ajarkan mereka kitabulloh dan jangan dipaksa sehingga ia menjadi bosan dan jangan engkau meninggalkan mereka tidak mempelajari kiatbulloh sehingga mereka meninggalkannya kemudian ajarkan sya’ir yang menjaga ‘iffah, hadits  yang paling penting dan jangan engkau pindahkan ia ke ilmu yang lain sampai ia mahir terlebih dahulu karena banyaknya perkataan dalam pendengaran akan membuat tidak paham-paham” (Dikeluarkan oleh Ibnu abi Dunya dalam ‘al ‘Iyal” 1/470 dan Abdur rozzaq 7293).

Para Salaf tidaklah menyerahkan anak-anak mereka kecuali kepada pengajar yang baik akhlaknya dan terpenuhi syarat-syarat kedewasaan diantaranya ia terkenal dengan Istiqomah dan ‘afaf (penjagaan dirinya), kredibilitas yang tinggi disertai pengetahuan dan pengalaman mereka yang mendalam tentang al Qur’an dan ilmu-ilmu al Qur’an. Fuqaha muslimin telah menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi para pengajar Kuttab. Al Qobisy menyebutkan diantara syaratnya hendaknya pengajar terus adalah orang lembut tidak kasar, bukan orang yang suka cemberut maupun marah, tidak menyulitkan, bisa menemani sang anak dan mampu mengajarkan adab kepada anak-anak untuk kemaslahatan mereka (Adabul Mu’alimin hal. 47).

Sebagian lagi mensyaratkan bagi pengajar hendaknya ia adalah ahlu sholah wal ‘amanah wal iffah, hafal al Qur’an, tulisannya bagus, bisa berhitung dan lebih baik adalah yang sudah menikah. Mereka tidak menganjurkan yang membujang untuk membuka Kuttab kecuali setelah ia menjadi Syaikh kabir yang terkenal dengan agama dan kebaikannya serta ahli dalam mengajar (Ma’alimul Qurbah Fi Ahkamil Hasbah hal. 260).

Pendidikan Salaf menitikberatkan pada pendidikan akhlak dan tingkah laku

قال مخلد بن الحسين لعبد الله بن المبارك: «نحن إلى كثير  من الأدب أحوج منا إلى كثير من الحديث»

Berkata Mikhlad Ibnul Husain kepada Abdulloh Ibnul Mubarok: “Kita lebih banyak butuh kepada adab dibandingkan banyak hadits” (al Jaami’, al Khotib al Baghdadi 1/80).

قال عبد الله بن المبارك: (طلبت الأدب ثلاثين سنة, وطلبت العلم عشرين سنة, وكانوا يطلبون الأدب ثمّ العلم).

Berkata Abdulloh Ibnul Mubarok rohimahulloh: “Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan aku mempelajari ilmu dua puluh tahun. Mereka (para sahabat) mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian belajar ilmu” (Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik  3/39).

Pendidikan Salaf memperioritaskan menghafal al Qur’an sebelum yang lainnya.

قال شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله -: (وأما طلب حفظ القرآن فهو مقدّم على كثير مما تسميه الناس علماً وهو إما باطل أو قليل النفع. وهو أيضاً مقدّم في التعلم في حق من يريد أن يتعلم علم الدين من الأصول والفروع، فإن المشروع في حق مثل هذا في هذه الأوقات أن يبدأ بحفظ القرآن فإنه أصل علوم الدين).

Berkata Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh: “Adapun mempelajari hafalan al Qur’an lebih didahulukan dari pada pelajaran yang disebut orang sebagai ilmu baik itu yang bathil ataupun yang sedikit manfaatnya. Ini juga lebih diperioritaskan bagi orang yang ingin mempelajari ilmu agama baik ushul maupun furu’nya maka hendaknya orang-orang seperti ini di zaman ini memulai dengan menghafal al Qur’an karena itu adalah pondasi agama” (Majmu’ al fatawa  12/35).

قال ابن عبدالبر – رحمه الله – (أول العلم حفظ كتاب الله عزوجل وتفهمه، وكل ما يعين على فهمه فواجب طلبه معه، ولا أقول إن حفظه كله فرض؛ ولكني أقول إن ذلك شرط لازم على من أحبّ أن يكون عالماً فقيهاً ناصباً نفسه للعلم)

Berkata Ibnu Abdil Barr rohimahulloh: “Awal dari ilmu adalah menghafal kitabulloh ‘azza wa jalla dan memahaminya dan semua ilmu alat untuk memahaminya maka wajib mempelajarinya namun aku tidak mengatakan itu hukumnya fardhu tetapi itu adalah syarat wajib bagi ingin menjadi orang ‘alim, faqih dan kokoh di atas ilmu” (Jaami’u  Bayanil ‘ilmi wa fadhlihi 2/1129).

Pendidikan Salaf memperhatikan karakter dan bakat anak didik

قال ابن القيم -رحمه الله: “إذا رأى الصبي وهو مستعد للفروسية وأسبابها، من الركوب والرمي واللعب بالرمح، وأنه لا نفاذ له من العلم ولم يخلق له، ومكنه من أسباب الفروسية والتمرن عليها، فإنه أنفع له وللمسلمين”.

Berkata Ibnul Qoyyim rohimahulloh: “Apabila (seorang pendidik) melihat anak lebih siap mempelajari keperwiraan dan sebab-sebabnya seperti berkuda, memanah, menombak dan ia tidak memiliki bakat (mendalami) ilmu dan tidak ada minatnya maka hendaknya diarahkan kepada sebab-sebab tersebut dan dilatih karena itu akan lebih bermanfaat bagi kaum muslimin” (at Tarbiyah al badaniyyah war Riyadhiyah fit turots  hal. 77).

ثم قال- رحمه الله- : ( ومما ينبغي أن يُعتمد حالُ الصبي ، وما هو مستعد له من الأعمال، ومهيأ له منها، فيعلم أنَّهُ مخلوق لذلك العمل فلا يُحملهُ على غيره ، فإنَّهُ إن حمَّله على غير ما هو مستعدٌ له لم يفلح فيه ، وفاتهُ ما هو مهيأٌ له ، فإذا رآه حسن الفهم، صحيح الإدراك، جيد الحفظ واعياً ، فهذه من علامات قبولهِ وتهيؤه للعلم) 

Kemudian beliau (Ibnul  Qoyyim) rohimahulloh juga berkata: “Hendaknya yang dijadikan pegangan adalah keadaan sang anak dan apa yang menjadi bakatnya dan kesiapannya diciptakan untuk pekerjaan tersebut dan jangan diarahkan kepada yang lainnya  yang bukan bakatnya sebab ia tidak akan pernah beruntung dan akan terluput  sesuatu yang menjadi bakatnya. Apabila orang tua melihatnya bagus pemahamannya, jitu fikirannya , hafalannya kuat, brilian maka ini adalah tanda menerima dan berbakat mempelajari ilmu” (Tuhfatul Maudud  fi Ahkamil Maulud  hal. 243-244).  Wallohu a’lam.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *