Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Pendidikan Islam / Sifat- sifat Pendidik Idaman
KLIK UNTUK BERINFAK

Sifat- sifat Pendidik Idaman

Sifat- sifat Pendidik Idaman

Menjadi seorang pendidik tidaklah mudah karena ia adalah tugas para nabi dan orang-orang sholih. Oleh karena itu sebelum seorang pendidik memperbaiki anak didiknya, hendaknya ia memperbaiki dirinya sendiri.

Berkata ‘Utaibah bin Abi Sufyan kepada Abdus Shomad (pendidik anak-anaknya) :”Hendaknya engkau memulai mendidik anak saya dengan memperbaiki dirimu karena pandangan mereka terikat dengan pandanganmu, sesuatu yang baik bagi mereka adalah  yang engkau anggap baik, yang jelek menurut mereka adalah apa yang jelek menurutmu. Janganlah engkau menyusahkan mereka sehingga mereka menjadi bosan…jadilah seorang tabib bagi mereka yang tidak tergesa-gesa memberikan obat sampai ia mengetahui penyakitnya” (al Bayan wat Tabyin 1/142).

Maka sejatinya seorang pendidik berhias dengan sifat-sifat seorang pendidik idaman yang mulia. Diantaranya:

  1. Lapang dada, Tenang dan Sabar

Sifat ini adalah perangai yang dicintai oleh Alloh sebagaimana sabda Nabi  kepada al Asyaj : “Engkau mempunyai dua perangai yang dicintai oleh Alloh yaitu lapang dada dan tenang” (HR. Muslim 126).

Berkata Abdulloh ibnu Thohir : “Pada suatu hari saya pernah berada di dekat al Ma’mun. Ia pun memanggil pembantunya (budaknya): “Wahai Ghulam !Tidak ada seorangpun yang menjawabnya. Kemudian ia memanggil lagi, lalu keluarlah seorang pembantu berkebangsaan Turki sambil berkata: “Apakah tidak boleh seorang pembantu itu makan atau minum ?! Setiap kali kami pergi engkau selalu berteriak : “Wahai Ghulam, Wahai Ghulam!! Sampai kapan begini terus!!. Ma’mun menundukkan kepalanya – saya menyangka ia akan menyuruh saya untuk memenggal leher  pembantu itu-, Kemudian ia memandang ke arahku seraya berkata: “Wahai Abdulloh, seseorang jika baik akhlaknya maka jeleklah akhlak pembantunya, dan kita tidak bisa supaya jelek akhlak kita agar baik akhlak pembantu kita” (Tarbiyatul Aulad fil Islam, al ‘Ulwan 1/287, an Nabulisi 15/15).

Seorang pendidik idaman selalu berhias dengan kesabaran karena mendidik anak tidaklah semudah membalik telapak tangan. Bukanlah pendidik idaman yang suka mengeluh, cepat berputus asa, marah dan sempit dada tatkala diterpa musibah di saat anak didiknya susah diatur atau tidak memahami pelajaran. Perhatikanlah bagaimana para salafus sholih menyikapi musibah:

Berkata Sufyan at Tsauri : “Bukanlah termasuk orang faqih jika tidak menganggap musibah itu sebagai nikmat dan kelapangan itu sebagai musibah”. Wahb bin Munabbih rohimahulloh  berkata: “Dahulu orang-orang sebelum kalian, jika ditimpa musibah ia menganggapnya sebagai nikmat dan jika mendapatkan kelapangan mereka menganggapnya musibah” (Siyar a’lam an Nubala’ 4/327).

Berkata Syaikh Abdul Qodir Jaelani  kepada anaknya: “Wahai anakku, musibah itu tidaklah datang untuk mencelakakanmu tetapi ia datang untuk menguji kesabaran dan imanmu. Wahai anakku, tadqir Alloh ibarat binatang buas dan binatang buas tidak menerkam bangkai. Musibah adalah pembersih hamba, bisa jadi yang keluar itu adalah emas atau kotoran” (al Adab as Syar’iyyah 1/630).

  1. Lembut dan ramah

Seorang pendidik idaman bukanlah orang yang pelit tersenyum, bermuka sangar, suka menghardik dan gemar menghukum. Dari Jarir dari Nabi bahwa beliau ^ pernah bersabda: “Barangsiapa yang tidak diberikan kelembutan maka ia tidak diberikan kebaikan” (HR. Muslim 2592).

  1. Kasih Sayang

Hilangnya kasih sayang dalam mendidik akan membuat anak cenderung melawan dan tidak menyukai guru maupun orang tuanya. Bukankah Rasululloh  ^ pernah bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil diantara kita ”(HR. atTirmidzi 1/349, as Shohihah 2196).

  1. Menahan diri dari marah

Hendaknya seorang pendidik marah karena Alloh dan dibalik marah tersebut adalah untuk “mendidik” karena marah yang tidak terpuji adalah musuhnya akal, kapan saja marah itu menguasai akal maka akal akan dimangsa sebagaimana serigala memangsa domba.

Abu Dzar  pernah bertanya kepada budak laki-lakinya :”Kenapa kamu membiarkan kambing-kambing ini memakan makanan kuda itu?”. Ia menjawab: “Aku ingin membuatmu marah”. Abu Dzar berkata: “Saya akan menggabungkan kemarahan saya dengan pahala. Engkau saya merdekakan karena mengharapkan wajah Alloh” (al Bayan wat Tabyin 1/456).

Tatkala budak perempuan ‘Ali bin Husain C menuangkan beliau air wudhu untuk sholat tiba-tiba wadah air tersebut jatuh menimpa wajahnya sehingga terluka. Namun beliau tidak marah dan justru berkata : “Pergilah karena engkau telah saya bebaskan” (Diriwayatkan oleh al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 8317).

  1. Mudah dalam semua urusannya dan tidak mempersulit.

Dari Abdulloh bin Mas’ud   Rasululloh ^ bersabda:” Maukah saya beritahukan orang yang diharamkan baginya neraka?”. “Semua orang yang qorib, hayyin, layyin sahlin” (HR. at Tirmidzi 2676, shohih). Qorib maknanya dekat dengan semua orang dan berusaha membantu keperluan orang lain. Hayyin Layyin artinya lembut hatinya. Sahlin artinya mudah dalam semua urusannya.

Dari Ibunda ‘Aisyah D ia berkata: “Jika nabi dipilihkan dua hal maka beliau akan memilih yang paling mudah selama tidak berdosa” (HR. al Bukhori 6126). Maka hendaknya seorang pendidik menggunakan metode yang terbaik, ungkapan yang simple, waktu yang tepat dan nasehat yang dalam agar bisa masuk ke dalam pikiran anak didiknya dengan usaha yang seminimal mungkin (al Asaalib an nabawiyyah fit ta’lim bab I).

  1. Berusaha menjadi teladan yang baik

Terkadang banyak berbicara tidak banyak memberikan hasil, justru dengan memberikan teladan yang baiklah yang akan  dapat memberikan buahnya di setiap generasi karena sesungguhnya perangai dan tingkah laku manusia adalah hasil meniru orang lain. Alloh Ta’ala berfirman mengisahkan perkataan Syu’aib yang artinya:

Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan (QS. Huud: 88).

‘Umar bin al khoththob apabila beliau naik mimbar dan melarang sesuatu, beliau kemudian mengumpulkan kelurganya dan berkata: “Sesungguhnya aku telah melarang orang-orang dari itu dan ini  dan mereka memperhatikan kalian seperti burung (pemangsa) yang melihat daging. Aku bersumpah, demi Alloh tidaklah aku mendapati salah seorang kalian melakukannya melainkan aku akan lipatgandakan hukumannya” (Taarikhul umam wal muluk at Thobary  2/68, al Kaamil fit taarikh ibnul Atsir 3/31).

  1. Mumpuni ilmunya

Imam Malik pernah berkata: “Ilmu itu tidak boleh dicari dari empat orang: “Orang dungu yang keterlaluan, Pengikut hawa nafsu yang mengajak orang kepadanya, Orang yang sering berbohong tatkala berbicara dengan manusia sekalipun ia tidak pernah berdusta atas nama Nabi dan orang yang memiliki keutamaan dan kesholihan namun ia tidak mengerti apa yang ia ucapkan” (Jaami’u Bayanil ‘Ilmi hal. 348).

  1. Amanah

Tidak diragukan lagi profesi pendidik syarat dengan amanah baik amanah dari Alloh, pemimpin, orang tua murid bahkan dari masyarakat.

Berkata Syaikh al Utsaimin  : “Amanah sangat luas sekali yang dasarnya ada dua macam yaitu amanah dalam hak-hak Alloh yaitu amanah seorang hamba dalam beribadah kepada Alloh dan amanah pada hak-hak manusia” (Syarh Riyadhush sholihin 2/463).

Berkata Nafi’  : “Ibnu ‘Umar pernah thawaf tujuh putaran dan sholat dua roka’at. Berkata salah seorang dari Quraisy: “Alangkah cepatnya engkau thawaf dan sholat wahai Abu abdirrahman?!”. Maka Ibnu ‘Umar C  berkata: “Kalian lebih banyak thawaf dan sholat daripada kami tetapi kami lebih baik dari kalian dengan kejujuran dalam berbicara, menunaikan amanah dan menepati janji” (Diriwayatkan oleh al Faakihi dalam “Akhbaru Makkah” 1/211, al Adab as Syar’iyyah 4/500).

  1. Adil

Adil secara bahasa adalah pertengahan dalam segala urusan (as Shihah fil lughoh, al Jauhari 5/1760). Secara istilah adil merupakan ungkapan tentang sikap istiqomah di atas jalan yang benar dengan menghindarkan diri dari sesuatu yang terlarang secara syar’i (at Ta’rifaat al Jurjani hal. 147).

Rasululloh  juga bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang adil pada hari kiamat berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sebelah kanan ar Rahman- dan kedua tanganNya adalah kanan-, yaitu orang-orang yang adil dalam hukumnya, keluarganya dan apa-apa yang mereka urus” (HR. Muslim 1827).

Berkata Ibrohim an Nakho’i  : “Mereka (para sahabat) menyukai jika seseorang berbuat adil terhadap anak-anaknya sampai dalam masalah ciuman” (HR. Ibnu Abi Syaibah 7/317). Umar bin Abdil ‘Aziz pernah memeluk anaknya yang sangat dicintainya seraya berkata: “Wahai fulan, demi Alloh saya sangat mencintaimu namun aku tidak bisa mengutamakanmu dari sudara-saudaramu yang lain sekalipun hanya satu suap” ( Dikeluarkan oleh Ibnu Abi ad Dunya 1/177 dalam kitabnya “al ‘Iyaal”  dan ia berkata: “sanadnya maqbul”).

Adapun mu’amalah bathin seperti kecintaan dan kecendrungan hati kepada salah satu anak maka tidak akan dapat dihindarkan karena seorang pendidik tidak akan mampu membagi kecintaaan kepada semua anak secara adil sebagaimana yang terjadi pada Ayyub ‘alaihis salam yang hatinya lebih condong kepada Yusuf ‘alaihis salam. Alloh berfirman tentang perkataan saudara-saudara Yusuf yang artinya:

(yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, Padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat) (QS. Yusuf : 8).

  1. Memiliki Semangat yang tinggi

Berkata Ibnul Qoyyim : “Semangat yang tinggi ibarat orang yang terbang di atas burung, ia tidak akan rela untuk jatuh dan ia tidak akan mundur dengan adanya penghalang. Semakin tinggi semangat dan tekad seseorang maka kegagalan itu akan semakin tipis dan jika semakin lemah maka kegagalan itu pun akan datang dari segala penjuru, Sesungguhnya kegagalan ibarat pemangsa dan pemangsa akan menerkam sesuatu yang berada di tempat yang rendah dan ia tidak akan bisa menerkam sesuatu yang tinggi. Tingginya semangat seseorang adalah pertanda kesuksesannya dan rendahnya semangat seseorang merupakan ciri  kegagalannya” (Madarijus Salikin 3/171-172). 

  1. Selalu berlari mendekat kepada Alloh

Sesungguhnya manusia hanyalah berusaha dan berbuat sedangkan hasilnya adalah di tangan Alloh. Oleh karena itu sejatinya seorang pendidik harus lebih memperbanyak amalan-amalan sunnah dan menengadahkan tangan di keheningan malam untuk kesuksesan anak didiknya. Ketahuilah bahwasanya maksiat yang dilakukan oleh seorang pendidik akan berpengaruh kepada jiwa anak didiknya.

Berkata Fudhail bin ‘Iyyadh  :

إِنِّي لَأَعْصِي اللهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ حِمَارِي وَخَادِمِي

“Sungguh aku bermaksiat kepada Alloh, maka aku mengetahui (pengaruhnya) pada perilaku kendaraan dan pembantuku” (Hilyatul ‘Auliya’ al Jawabul Kafi 1/54).

Wallohul Muwaffiq.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *