Sabtu , Oktober 24 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Manhaj / SIAPAKAH AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH ?
KLIK UNTUK BERINFAK

SIAPAKAH AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH ?

SIAPAKAH AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH ?

I. DEFINISI SUNNAH

a. Pengertian Sunnah secara bahasa

As Sunnah (السُّنَّة ) secara bahasa memiliki beberapa arti yaitu : perrjalanan hidup dan metode atau tata cara (Maqoyisul Lugoh (3/44) Ibnu Faris dan Lisanul ‘Arob (13/226) Ibnul Mandhzur ), seperti  sabda Nabi ^ dalam hadits Abi Waqid Al Laitsi C:

((وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ))

Demi Alloh yang jiwaku ada ditanganNya benar-benar kalian akan mengikuti sunnah (tata cara) orang-orang sebelum kalian (HR. Ahmad (47/472), Shohih Tirmidzi (5/180)).

Sunnah juga bermakna  Al Hadits jika di gabungkan dengan Al Kitab, seperti sabda Nabi ^ dalam hadits Abu Hurairah C:

(( إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي ))

Sesungguhnya telah aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang kalian tidak akan sesat setelahnya yaitu kitabulloh (Al Qur’an) dan Sunnahku (Haditsku)( HR. Hakim (1/93), Shohihul Jami’ (2937).

b. Secara Istilah

Batasan Sunnah secara umum sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Rojab: “As Sunnah adalah metode yang ditempuh, termasuk darinya adalah berpegang teguh dengan apa yang digariskan oleh Nabi ^ dan Khulafa’ Ar Rosyidun baik itu I’tiqod (keyakinan), perbuatan dan perkataan. Dan ini adalah sunnah yang lengkap (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (1/120).

Berkata Syaikh Doktor Nashir al ‘Aql memberikan terminologi sunnah:  “Sunnah adalah petunjuk yang Nabi ^ dan para sahabatnya berada di atasnya baik itu ilmu, keyakinan, perkataan dan perbuatan, yaitu sunnah yang wajib diikuti, dipuji para pengikutnya dan dicela para penentangnya” (Mabahits fi ‘Aqidati Ahlis Sunnah, hal.13 ).

Tidak ada perbedaan apakah yang digariskan tersebut wajib atau tidak wajib sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya beliau sholat jenazah lalu ia mengeraskan bacaan Al Fatihah dan beliau berkata:

إِنَّمَا فَعَلْتُ هَذَا لِتَعْلَمُوا أَنَّهَا سُنَّةٌ

Hanya saja aku mengerjakan hal ini agar kalian mengetahui bahwa ia adalah sunnah,

Yaitu membaca Al Fatihah, padahal membaca Al Fatihah dalam sholat jenazah hukumnya wajib (Al Faqih wal Mutafaqqih, Al Khatib Al Bagdadi (I/127) ).

Syaikhul Islam menjelaskan, ‘Sunnah adalah: “Semua yang ada dalil syar’I atasnya bahwa ia merupakan ketaatan kepada Alloh dan rasulNya”( Majmu Fatawa oleh Syaikhul Islam (XXI/317-318) ).

II. Dalil-dalil wajibnya mengikuti sunnah

Alloh Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. Annisa’: 59).

Berkata Ibnu ‘Abbas rodhiyyallohu ‘anhuma:’Berhakim kepada Rasul setelah wafatnya adalah dengan berhakim kepada sunnahnya’.

Dalan hadits ‘Irbad bin Sariyah rodhiyallohu ‘anhu Nabi ^ bersabda: “Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Alloh dan mendengar serta taat sekalipun kalian dipimpin oleh budak Habasyi (kulit hitam). Sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa ar rosyidin yang diberikan petunjuk. Pegang eratlah dan gigit dengan gerahammu (Hadits shohih riwayat Abu Dawud (4609), Ibnu Majah (44), Tirmidzi (2676).

III. Komitmen Para Imam Ahlu sunnah terhadap Sunnah

Imam Malik (wafat tahun 127 H) rodhiyallohu ‘anhu mengatakan:

كلٌّ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلاَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Semua orang bisa  diambil dan dibuang pendapatnya kecuali Rasululloh ^  (Al Hatsu ‘Ala Ittiba’is sunnah Syaikh Abdul Muhsin Al Badr hal. 19 )

Imam Syafi’I –semoga Alloh merahmatinya- berkata:

أَجْمَعَ النَّاسُ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

Semua orang telah bersepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah Rasululloh ^  maka tidak boleh baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut karena mengikuti pendapat seseorang (Ar Ruh oleh Ibnul Qoyyim Al Jauziyah hal. 395-396 ). Beliau juga mengatakan:

كُلُّ مَا قُلْتُ وَكَانَ قَوْلُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلاَفَ قَوْلِي مِمَّا يَصِحُّ فَحَدِيْثُ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلىَ وَلاَ تُقَلِّدُوْنِي

Semua apa yang pernah aku katakan dan ternyata perkataan Rasululloh ^  dari hadits-haditsnya yang shohih  berbeda dengan perkataanku maka perkataan Rasululloh ^ lebih berhak untuk diikuti dan jangan kalian taklid (ikut-ikutan) kepadaku (Manaqib As Syafi’I oleh Abu Hatim Ar Rozi 1/473 ).

Beliau juga berkata:

لَقَدْ ضَلَّ مَنْ تَرَكَ سُنَّةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقَوْلِ مَنْ بَعْدَهُ

Sungguh telah tersesat orang yang meninggalkan sunnah Rasululloh ^ karena mengikuti pendapat orang setelah beliau (Al Faqih wal Mutafaqqih oleh Al Khatib Al Bagdadi  (I/149).

Berkata Imam Ahmad- semoga Alloh merahmatinya- :

لاَ تُقَلِّدُنِي وَلاَ تُقَلِّدُ مَالِكًا وَلاَ الشَّافِعِي وَلاَ الأَوْزَاعِي وَلاَ الثَّوْرِي وَخُذْ مِنْ أَيْنَ أَخَذُوا

Jangan kalian taklid kepadaku, tidak pula kepada Malik, As Syafi’I, Al Auza’I, Ats Tsauri, dan ambillah dari mana mereka mengambil (Al Qur’an dan Sunnah) (I’lamul Muwaqi’in oleh Ibnul Qoyyim Al Jauziyah (II/201).

Al Imam Abu Hanifah mengatakan:

إِذَا جَاءَ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَى الرَّأْسِ وَاْلعَيْنِ

Jika telah datang dari Nabi ^  maka di atas kepala dan mata (wajib tunduk) (Al Ihya’ oleh Al Ghazali (I/79).

IV. Makna al Jama’ah

Dari Anas bin Malik C bahwasanya Rasululloh ^ bersabda:

إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيْلَ اِفْتَرَقَتْ عَلىَ إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً . وَإِنَّ أُمَّتِي سَتَفْتَرِقُ عَلىَ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً . كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةٌ . وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

Sesungguhnya bani Isroil terpecah menjadi 71 golongan dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu golongan yaitu al Jama’ah ( HR.ahmad 3/145, Ibnu Majah 2/1322)

Dalam riwayat Imam at Tirmidzi :

قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلُ اللهِ? قاَلَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Para sahabat bertanya:  Siapa yang satu golongan itu wahai Rasululloh? Beliau menjawab: “Siapa saja yang sama dengan aku dan para sahabatku”( HR.  at Tirmidzi 5/26, shohih at Tirmidzi 2641).

Abdulloh bin Mas’ud berkata:

إِنَّمَا الْجَمَاعَةُ  مَا وَافَقَ طَاعَةَ اللهِ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ

Al Jama’ah itu adalah yang sesuai dengan keta’atan kepada Alloh sekalipun engkau seorang diri (Ushul I’tiqod Ahli Sunnah, al Laalika’i 1/108).

Berkata Ishaq: “Mayoritas orang tidak mengetahui bahasanya al jama’ah itu adalah siapa saja yang ‘alim dengan sunnah Nabi, barangsiapa yang bersama Nabi dan mengikuti beliau maka ia adalah jama’ah dan barangsiapa yang menyelisihinya maka ia telah meninggalkan jama’ah” (Hilyatul ‘Auliya’, Abu Nu’aim 9/239).

V. Kebenaran itu tidaklah banyak

Alloh Ta’ala berfirman yang artinya:

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti subul (jalan-jalan yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa (QS. Al An’aam: 153).

Dari Abdulloh bin Mas’ud bahwasanya Rasululloh ^ pernah menggaris satu garis lurus seraya berkata: “Ini adalah jalan Alloh”. Kemudian beliau menggaris garis di kanan dan kirinya dan beliau mengatakan: “Ini adalah subul, di setiap jalan ini ada syaiton yang mengajak kepadanya” (HR. Ahmad 1/435, an Nasa’i dalan ‘Al Kubro” 6/343, Misykatul Masobih 1/36).

Berkata Muthorrif: “Seandainya hawa nafsu manusia ini cuma satu maka orang akan berkata bahwasanya hawa nafsu manusia ini adalah tolak ukur kebenaran, namun tatkala hawa nafsu dan pemikiran ini bermacam-macam dan terpecah belah maka orang yang punya akal sehat akan mengetahui bahwasanya kebenaran itu tidaklah banyak” (Ushul I’tiqod Ahli Sunnah wa Jama’ah 1/149).

VI. Keutamaan Berpegang kepada sunnah

a. Amalan seseorang akan diterima jika sesuai dengan sunnah

Rasululloh ^ bersabda:

Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasarnya dalam urusan agama kami maka ia tertolak” (HR. Muslim 1718).

b. Akan mendapatkan ampunan dari Alloh. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya:

Katakanlah (Wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Ali Imraan: 31).

c. Mendapatkan pahala lima puluh para sahabat.

Dari Anas bin Malik C ia berkata, Rasululloh ^ bersabda: “Kalian pada hari ini di atas hujjah yang jelas dari Robb kalian; kalian amar ma’ruf nahi munkar dan berjihad di jalan Alloh. Kemudian akan nampak dari kalian dua sekarat, sekarat kebodohan (tentang ilmu agama) dan sekarat cinta dunia sehingga kalian tidak menyuruh kepada yang ma’ruf dan tidak melarang dari yang mungkar dan tidak pula berjihad di jalan Alloh. Orang-orang yang berpegang dengan kitab dan sunnah pada hari itu mendapatkan pahala lima puluh siddiqun”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasululloh, lima puluh dari kita atau mereka”? Beliau menjawab: “Dari kalian” (HR. Abu Nu’aim dalam “al Hilyah 8/49  dan perowinya terpercaya).

Dari Abdulloh bin Mas’ud C bahwasanya Nabi ^ bersabda: “Orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnahku tatkala berpecahnya ummatku seperti orang yang menggenggam bara api” (Shohih al Jaami’ 6676).

Bukankah tatkala kita ingin melaksanakan sunnah di zaman ini maka kita dianggap asing dan aneh karena tidak sesuai dengan adat istiadat dan kebiasaan nenek moyang menurut mereka..??!

Wallohul Musta’an.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *