Jumat , Mei 25 2018
Breaking News
Home / Belajar Islam / Fiqih / Sholat Tathawwu’ ( Sunnah ) : (Hukum, Keutamaan, dan Macam-Macamnya)

Sholat Tathawwu’ ( Sunnah ) : (Hukum, Keutamaan, dan Macam-Macamnya)

Sholat Tathowwu’ ( Sunnah )

A. Definisi Sholat Tathawwu’

Sholat Tathawwu’ adalah sholat tambahan selain sholat lima waktu.

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Tholhah bin ‘Ubaidillah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :

أن أعرابيًّا جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ثائر الرأس، فقال: يا رسول الله، أخبرني ماذا فرض الله عليَّ من الصلوات؟ فقال: (خمس صلواتٍ في اليوم والليلة) ، فقال: هل عليَّ غيرها؟ قال: (لا، إلا أن تطَّوَّعَ) 

“Bahwasanya ada seorang arab pedalaman datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam kondisi rambutnya kusut. Lalu ia berkata : Ya Rasulullah beritahukan kepadaku apa-apa yang Allah wajibkan atasku dari shalat-shalat? Nabi bersabda : “Shalat lima waktu sehari semalam”. Ia berkata : Apakah ada yang lainnya yang harus aku kerjakan? Nabi bersabda : “Tidak ada, kecuali engkau mengerjakan shalat tathawwu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

B. Keutamaan Sholat Tathawwu’

Sholat Tathawwu’ memiliki beberapa keutamaan, diantaranya :

a. Menyempurnakan kekurangan yang terdapat di dalam Sholat Fardhu. Diriwayatkan dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن أولَ ما يحاسب الناس به يوم القيامة من أعمالهم الصلاة، قال: يقول ربنا جل وعز لملائكته – وهو أعلم -: انظروا في صلاة عبدي أتمها أم نقصها، فإن كانت تامةً كتبت له تامةً، وإن كان انتقص منها شيئًا، قال: انظروا هل لعبدي من تطوعٍ؟ فإن كان له تطوع، قال: أتمُّوا لعبدي فريضته من تطوعه، ثم تؤخذ الأعمال على ذاكم

 “Sesungguhnya amal ibadah manusia yang pertama kali dihisab pada Hari Kiamat adalah, sholatnya’. Beliau bersabda : “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada malaikatNya  -dan Dia Maha Mengetahui- : “Lihatlah sholat hambaKu, apakah ia menyempurnakannya atau ada yang kurang ?”. Jika sholatnya sempurna, maka (pahalanya) ditulis sempurna. Dan jika sholatnya ada yang kurang, Allah berfirman : “Lihatlah, apakah hambaKu mengerjakan sholat Tathowwu’ ? Jika ia mengerjakan sholat Tathowwu’, Allah berfirman : “Sempurnakan untuk hambaKu kekurangan sholat wajibnya dengan sholat Tathowwu’nya. Kemudian amalan ibadah lainnya akan diperhitungkan seperti itu.”  (HR. Ahmad dan penulis Kitab Sunan yang empat).                      

b. Mengangkat derajat seorang hamba di surga. Diriwayatkan dari Rabi’ah bin Ka’b bin Malik al-Aslami radhiallahu ‘anhu beliau berkata :

كنت أبِيتُ مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فأتيتُه بوَضوئه وحاجته، فقال لي: (سَلْ)، فقلت: أسألك مرافقتك في الجنة، قال: (أوْ غيرَ ذلك)، قلت: هو ذاك، قال: فأعِنِّي على نفسك بكثرة السجود

“Aku pernah bermalam di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku membawakan air wudhu dan kebutuhannya, maka beliau berkata kepadaku : “Mintalah sesuatu”. Maka aku berkata : “Aku minta agar aku dapat menemanimu di surga”. Beliau berkata : “Apakah ada yang lain ?”. Aku berkata : “Hanya itu saja”. Beliau bersabda : “Maka bantulah aku dengan engkau memperbanyak sujud”. (HR. Muslim dan penulis Kitab Sunan).

Diriwayatkan dari Ma’dan bin Abu Tholhah al-Ya’miri. Beliau berkata :

لقيت ثوبان مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت أخبرني بعمل أعمله يدخلني الله به الجنة أو قال قلت بأحب الأعمال إلى الله فسكت ثم سألته فسكت ثم سألته الثالثة فقال سألت عن ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال عليك بكثرة السجود لله فإنك لا تسجد لله سجدة إلا رفعك الله بها درجة وحط عنك بها خطيئة قال معدان ثم لقيت أبا الدرداء فسألته فقال لي مثل ما قال لي ثوبان

“Aku bertemu Tsauban, budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku berkata : “Kabarkan kepada saya amalan apa yang jika saya amalkan, Allah dapat memasukkan saya ke dalam surga dengan sebab amalan itu ?”. Atau berkata : “Aku mengatakan : Amalan apa yang paling dicintai Allah ?”. Tsauban diam. Aku pun menanyakan lagi. Tsauban diam. Aku pun menanyakannya lagi yang ketiga kalinya. Maka Tsauban berkata : “ Aku pernah menanyakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : “Engkau harus memperbanyak sujud kepada Allah, maka sesungguhnya tidaklah engkau bersujud kepada Allah kecuali Dia akan menaikkanmu satu derajat disebabkan sujudmu itu. Dan Allah akan menghapuskan satu kesalahan darimu”. Ma’dan berkata, “Kemudian aku bertemu dengan Abu Darda’ dan bertanya kepadanya, kemudian beliau mengatakan kepadaku seperti yang dikatakan Tsauban.” (HR. Muslim)

c. Sholat adalah amal terbaik setelah mentauhidkan (mengesakan) Allah. Diriwayatkan dari Tsauban radhiallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 استقيموا ولن تُحصوا، واعلموا أن خير أعمالكم الصلاة، ولا يحافظ على الوضوء إلا مؤمنٌ

 “Istiqomahlah kalian dan kalian tidak akan mampu beristiqomah secara sempurna, dan ketahuilah bahwa sesunguhnya sebaik-baik amalan kalian adalah sholat, dan tidak ada yang menjaga wudhu kecuali orang yang beriman”. (H.R Ibnu Majah)

C. Shalat Tathawwu’ Di Sunnahkan dilakukan di Rumah

Shalat tathawwu’ lebih utama dilakukan di rumah, Diantara dalil-dalil adalah :

a. Dari Ibnu ‘Umar radiallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اجعلوا في بيوتكم من صلاتكم ولا تتخذوها قبوراً 

“Tunaikan shalat-shalat sunnah didalam rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian menjadikannya seperti kuburan.” (HR. Muslim no.698 dan Muslim no.781)

Imam Nawawi rahimahullah berkata :

معناه : صلُّوا فيها ، ولا تجعلوها كالقبور مهجورة من الصلاة ، والمراد به : صلاة النافلة ، أي : صلوا النوافل في بيوتكم

“Maknanya shalatlah kalian didalam rumah, janganlah kalian menjadikannya seperti kuburan  yang terhalang dari shalat, maksud shalat disini adalah shalat sunnah (tathawwu’), yaitu Shalat sunnahlah dirumah-rumah kalian.” (Syarah Muslim 6/67)

b. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا قضى أحدكم الصلاة في مسجده فليجعل لبيته نصيباً من صلاته فإن الله جاعل في بيته من صلاته خيراً

“Apabila salah seorang dari kalian selesai melaksanakan shalat dimasjidnya, maka hendaklah ia menjadikan bagian untuk rumahnya dari shalatnya (shalat sunnah), Sesungguhnya Allah menjadikan sholatnya dirumahnya sebagai kebaikan.” (HR. muslim No. 778)

Imam Al-Munawi rahimahullah berkata : 

أن النفل في البيت أفضل منه في المسجد ولو بالمسجد الحرام

“Bahwasaya mengerjakan shalat sunnah didalam rumah lebih utama dari shalat sunnah di masjid, walaupun dimasjid haram.” (Faidhul Qadir 1/418)

c. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya “

صلوا أيها الناس في بيوتكم، فإن أفضل الصلاة صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة

“Shalat lah kalian dirumah-rumah kalian, karena sesungguhnya seutama shalat adalah shalat seseorang yang dikerjakan didalam rumah, kecuali shalat wajib (yang utama dilakukan di masjid).” (HR. Bukhari dan Muslim)

D. Macam-macam Sholat Tathawwu’

Shalat Tathawwu’ terbagi menjadi dua macam :

1. Tathawwu’ Mutlak yaitu Shalat yang jumlahnya tidak dibatasi oleh Allah

dan bukan karena sebab tertentu. Maka seseorang boleh mengerjakannya satu, dua, tiga rakaat, atau lebih dari itu dengan niat sholat.

Imam Nawawi rahimahullah berkata :

إذا شرَع المصلي في تطوع ولم ينوِ عددًا، فله أن يسلم من ركعة، وله أن يَزيد فيجعلها ركعتين أو ثلاثًا أو عشرًا أو مائة أو ألفًا أو غير ذلك، ولو صلى عددًا لا يعلمه ثم سلم، صحَّ بلا خلاف؛ اتفق عليه أصحابنا، ونص عليه الشافعي

 “Apabila seseorang memulai sholat tathawwu’ dan belum berniat akan sholat berapa rakaat, maka boleh baginya salam setelah satu rakaat. Dan boleh baginya menambah hingga dua, tiga, sepuluh, seratus, seribu rakaat, atau lainnya. Dan seandainya ia sholat beberapa rakaat yang ia tidak mengetahui jumlahnya kemudian ia salam, maka sholatnya sah, tanpa ada perselisihan. Sahabat-sahabat kami ( ‘Ulama Syafi’iyyah ) sepakat mengenai hal ini, dan ini berdasarkan nash dari Imam Syafi’i rahimahullah.” (Al-Majmu’ karya Imam Nawawi jilid 4, hal. 49 )

Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu bahwasanya beliau sholat dengan jumlah rakaat yang banyak. Ketika beliau salam, Al-Ahnaf bin Qais berkata kepadanya : “Apakah engkau tahu, engkau sholat dengan jumlah ganjil atau genap ?”. Abu Dzar berkata : “Kalau aku tidak mengetahui, maka sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui, saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

“Tidaklah seorang hamba bersujud kepada Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya satu derajat dan menghapus satu kesalahannya”. (HR. Ahmad 5/164, Abdurrazzaq no. 3561 dan 4847, Al-Bazzar 9/345, Al-Baihaqi 2/489)

E. Tata Cara Shalat Tathawwu’ Mutlak

Shalat sunnah mutlak dilakukan Sama persis seperti shalat-shalat sunnah lainnya, tidak ada bacaan dan doa khusus.

Jumlah rakaatnya, bisa dikerjakan dua rakaat kemudian salam, atau empat rakaat dengan satu kali tasyahud kemudian salam. Dan boleh dilakukan sebanyak-banyaknya dengan jumlah yang tidak terbatas.

Shalat sunah mutlak, dianjurkan dilakukan kapan saja, kecuali pada waktu-waktu yang terlarang :

  1. Setelah subuh sampai terbitnya matahari
  2. Ketika matahari tepat berada di atas kepala, hingga condong sedikit kebarat.
  3. Ketika matahari sudah menguning setelah shalat ashar, sampai terbenamnya matahari

2. Tathowwu’ Muqoyyad yaitu yang jumlahnya dibatasi oleh Allah subhanahu wa ta’aala.

Misal : Jika seseorang ingin melaksanakan  Sholat Rawatib Shubuh, maka sholat yang ia kerjakan harus dua rakaat, dilaksanakan setelah masuk waktu Sholat Shubuh, dan berniat untuk sholat Rawatib Shubuh. Contoh yang lain, jika seseorang ingin melaksanakan sholat Kusuf ( Sholat Gerhana ), maka tata cara sholatnya harus sesuai dengan tata cara sholat Gerhana.

 

Ponpes Tahfidz Putri Al-Mahmud Aik Ampat, Ahad 7 sya’ban 1439 H/22 April 2018

Ummu Hakam Yanuarizki Al-Atsariyah

Di koreksi oleh: Bahrul Ulum Ahmad Makki

 

Referensi :

  1. Fiqhussunnah Syaikh Sayyid Saabiq
  2. Shahih Fiqhussunnah Syaikh Abu Malik Kamal Salim
  3. Bugyatul Mutathawwi’ fi Shalati At-Thawwu’ Syaikh Muhammad Bazmul
  4. http://www.alukah.net/sharia/0/112542/
  5. https://islamqa.info/ar/22209
  6. https://saaid.net/bahoth/150.htm
Please follow and like us:
0

About Bahrul Ulum Ahmad Makki

Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pondok Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana )

Check Also

Hukum Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hukum Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Lanjutan Syarah Lamiyah Ibnu Taimiyah Bait ke-4) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Please like this page and share it