Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Fiqih / Rahasia Keindahan Hudud (Hukum) Islam
KLIK UNTUK BERINFAK

Rahasia Keindahan Hudud (Hukum) Islam

Rahasia Keindahan Hudud (Hukum) Islam

Hukum dalam Islam merupakan bagian dari wahyu ilahi nan sempurna yang diturunkan kepada Nabi Muhammad bagi yang merindukan kebahagiaan dan keamanan sampai hari kiamat. Pondasi hukum dalam Islam dibangun untuk menjaga keseimbangan hak-hak individu serta masyarakat secara bersamaan. Diantara hak individu yang harus diayomi masyarakat adalah hak dalam mencapai kesejahteraan hidup, keamanan, dan kenyamanan. Penjagaan hak pribadi ini bukanlah dari orang lain saja tetapi juga dari dirinya sendiri sehingga tidak boleh ia mencelakakan atau menghancurkan dirinya sendiri. Demikian pula kewajiban bagi semua individu untuk mewujudkan ketentraman dalam masyarakat dan menjaganya dari kerusuhan dan kekacauan karena semua tindak kejahatan yang terjadi dalam masyarakat apabila dibiarkan maka akan memporak-porandakan keseimbangan dan kenyamanan hidup bermasyarakat.

Dalam mewujudkan kehidupan yang bahagia, Islam tidaklah bergantung dengan satu metode saja dalam menangani tindakan kriminal namun lebih mengedepankan penjagaan sebelum terjadinya dengan menanamkan akhlak yang mulia, keyakinan yang bersih dan menjelaskan sebab- sebab kebahagiaan dan keberuntungan serta menutup semua pintu yang menuju jurang kehancuran dan kebinasaan.

Islam tidaklah menerapkan hukuman di dunia ini terhadap semua jenis pelanggaran dan penyimpangan syar’i. Bahkan banyak pelanggaran yang dicukupkan hanya dengan memperingatkan pelakunya dengan adzab dan murka Alloh saja seperti berbohong, riya, memakan riba, khianat terhadap amanat, bersaksi palsu, makan makanan haram, durhaka kepada kedua orang tua, mengurangi takaran dan timbangan, ghibah, namimah dan lainnya dan tidak menetapkan hukuman berat jika dianggap hukuman ringan sudah cukup membuat jera. Adapun hukuman yang sudah ditentukan terbatas pada beberapa pelanggaran saja seperti pencurian, perzinaan, menuduh wanita baik-baik berzina, murtad, aniaya, perampokan dan pembunuhan Tujuh pelanggaran pertama adalah termasuk hak Alloh yang tidak bisa digugurkan oleh manusia berbeda dengan pembunuhan yang bisa digugurkan jika wali korban pembunuhan memaafkannya dengan syarat yang telah ditentukan. Hal itu karena dampak negatifnya terhadap masyarakat lebih besar daripada perorangan. Pembunuhan merupakan kejahatan terhadap kehidupan yang itu merupakan hak Alloh. Oleh karena itu membunuh satu orang sama dengan membunuh semua manusia karena telah menghina dan tidak menghargai darah sesama manusia (QS. Al Maaidah: 32). Perzinaan akan merusak nasab, menghancurkan keluarga dan keturunan, mewariskan kebencian di dalam masyarakat serta menjadikan manusia layaknya hewan bahkan lebih rendah dari makhluk yang tidak berakal tersebut. Pencurian akan menghalalkan harta orang lain sehingga tidak bisa dinikmati oleh yang punya hak sebagai pemiliknya. Perampokan merupakan bentuk penghinaan terhadap manusia, harta dan darahnya yang seenaknya direnggut. Pemurtadan merupakan bentuk penghinaan terhadap Islam dan ajarannya dan merupakan pengkhianatan terbesar.

Hukum Islam sangat sesuai dengan tabiat kemanusiaan dan keadilan. Hal itu ditunjukkan oleh beberapa hal:

  1. Sesungguhnya yang mensyari’atkan hukum Islam adalah Dzat Yang Maha Mengetahui tentang kemaslahatan manusia dan Maha Pengasih terhadap semua makhlukNya. Oleh karena itu tidaklah ada di dalam hukumNya ketidakadilan dan kedzholiman karena itu adalah sifat manusia (QS. Al Mulk: 14).
  2. Hukum Islam dibangun di atas hikmah dan rahmat. Termasuk bagian dari hikmah adalah menempatkan hukum yang sesuai dengan pelanggarannya tanpa berlebih-lebihan atau justru menyepelekannya, tanpa menambah atau menguranginya. Oleh karena itu kita mendapati bahwa orang yang menuduh orang lain berzina tidaklah dipotong lisannya sebagaimana pencuri (yang mencuri lebih dari ukuran seperempat dinar) dipotong tangannya dan seterusnya.

Penerapan hukum islam merupakan rahmat bagi pelakunya karena dengannya ia akan memperoleh ampunan Alloh dan pembersih dosa-dosanya. Rasululloh bersabda tentang al ghomidiyyah yang menjalani hukum rajam: “Ia telah taubat dengan taubat yang jika dibagi kepada 70 orang madinah maka akan mencukupi”(HR. Abu Dawud, at Tirmidzi 1435 dan yang lainnya, dandishohihkan oleh Syaikh Albani ).

Rahmat bagi masyarakat, karena akan menciptakan keamanan dan terjaganya darah dan harta. Itulah masyarakat yang betul-betul hidup (QS. Al Baqoroh: 179). Di sisi lain berkah bagi masyarakat tersebut akan tercurah dari langit. Dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu Rasululloh bersabda: “Penerapan hukuman di bumi lebih baik bagi penduduknya dari diguyuri hujan selama empat puluh malam” (HR. an Nasa’I 4902, Ibnu Majah 2537, Shohih at Targhib 2351).

  1. Islam tidaklah melihat hukuman itu sebagai tujuan namun hanya sebagai wasilah saja. Oleh karena itu seseorang yang melanggar hukum-hukum syari’at lebih dianjurkan untuk bertaubat, menutupi kejahatannya dan saling memaafkan sebelum permasalahannya sampai ke meja hakim. Dari Abdulloh bin ‘Amr bin al ‘Ash Rasululloh bersabda: “Saling maafkanlah diantara kalian. Jika ada yang sampai ke saya maka wajib untuk ditegakkan hukumannya” (HR. Abu Dawud 4376, an Nasa’I 4885, hadits shohih).
  2. Jika pelaku kejahatan telah ditangkap dan dihadapkan ke hakim, tidaklah hakim langsung menghukumnya namun tetap memberikan jalan yang syar’I jika memang dapat untuk dibebaskan. Dari Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu Rasululloh bersabda: “Bebaskanlah penegakan hukum dan hukuman mati dari kaum muslimin semampumu” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan al Baihaqi. Berkata Syaikh Albani dalam “Irwaul Ghalil” (8/26): “sanadnya hasan”). Demikian pula tatkala beliau didatangi Ma’iz bin Malik yang meminta untuk ditegakkan hukum rajam karena telah berzina, Rasululloh bertanya: “Mungkin kamu hanya sekedar menciumnya, menyentuhnya atau memandangnya…?”(HR. al Bukhori 6824).
  3. Di dalam hukum Islam tidak sah menghukum seseorang kecuali dengan bukti yang jelas. Jika buktinya tidak jelas maka dianjurkan bagi hakim untuk memaafkannya. Seorang hakim keliru memaafkan lebih baik daripada keliru menjatuhkan hukuman. Sebagai contoh hukuman rajam bagi orang yang sudah menikah tetapi berzina disyaratkan bagi yang menuduh mendatangkan empat orang saksi yang melihat langsung. Jika kurang dan tidak melihat langsung maka tidak diterima.
  4. Banyak diantara hukum-hukum Islam  ini terdapat di dalam Taurat dan disepakati juga di dalam Injil seperti halnya hukum qishos (QS. Al Maaidah: 45). Demikian juga Rasululloh menerangkan tentang sebab hancurnya Bani Isroil :”Jika pembesarnya mencuri mereka tidak menghukumnya dan jika rakyat jelata yang mencuri mereka menegakkan hukumannya” (HR. Muslim 406). Jika bangsa-bangsa Eropa menganggap hukum Islam ini keras dan mengerikan maka sesungguhnya di dalam kitab-kitab mereka sendiri tercantum hukum-hukum ini. Itu menunjukkan jauhnya mereka dari kitab sucinya dan relanya mereka mengganti hukum Alloh dengan hukum yang lainnya.
  5. Hukum Islam sangat sesuai dengan perkembangan zaman. Apalagi jika ditilik kejahatan semakin meningkat dan darah manusia sangat mudah ditumpahkan serta angka kriminalitas semakin meningkat. Jika semua tindak kejahatan hanya akan berakhir di penjara maka manusia akan semakin menganggap enteng darah, kehormatan dan harta sesamanya.

 

Wallohul Musta’an.

 

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *