Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Pendidikan Islam / Problematika Anak Didik dan Solusinya ( 2 )
KLIK UNTUK BERINFAK

Problematika Anak Didik dan Solusinya ( 2 )

Problematika Anak Didik dan Solusinya ( 2 )

Metode Meluruskan Akhlak dan Perangai anak didik

  1. Tindakan preventif dengan menanamkan sifat-sifat mulia pada diri pendidik, orang tua dan anak

Tidak diragukan lagi bahwasanya Islam telah menyeru kepada sifat-sifat dasar mulia yang sejatinya harus ditanamkan sejak dini pada diri anak maupun pendidik dan orang tua. Diantara sifat-sifat tersebut adalah:

a. Jujur

Jujur dalam berkata dan berbuat merupakan akhlak seorang muslim yang dengannya hubungan antara individu dan masyarakat haruslah dibangun.

Ibnul Qoyyim mengatakan: “ Memikul kejujuran ibarat memikul gunung, tidak ada yang mampu kecuali pemilik tekad yang tinggi. Mereka berbolak-balik di bawah kejujuran ini sebagaimana pemikul barang yang berat. Riya’ dan bohong sangatlah enteng seperti bulu sehinggat tidak terasa berat bagi yang membawanya dan tidak melelahkan. Namun barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka akan mendapat janji dari Alloh yaitu firmanNya (yang artinya):

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS. al Ankabut: 69).

Berkata ‘Umar bin al Khoththob: “ Tidaklah seseorang mendapatkan hakikat keimanan sampai ia meninggalkan debat kusir sekalipun ia berhak dan meninggalkan berbohong tatkala bercanda” ( Raudhotul ‘Uqola’ hal.55).  Berkata al Junaid: “Hakekat jujur adalah Engkau jujur pada suatu kondisi yang tidak bisa menyelamatkanmu  kecuali dengan berdusta” (Madaarijus Salikin 3/20).

b. Memenuhi janji dan amanah

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha Rasululloh r bersabda: “Sesungguhnya hamba-hamba pilihan dari ummat ini adalah orang yang menunaikan janjinya dengan kerelaan hati” (Diriwayatkan oleh Abu Muhammad al Makhladi dalam ”al Fawaid”, Abu Nu’aim dalam “al Hilyah” 13/289, lihat Silsilah as Shohihah no. 2848).

c. Tenang, Sabar dan menahan marah

Sifat-sifat ini haruslah dimiliki oleh orang-orang yang bergelut di dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Kebanyakan anak marah mengikuti cara marahnya orang tua maupun pendidik.

Berkata Fudhail Ibnu ‘Iyyadh: “Orang yang suka memaafkan akan tidur nyaman di malam hari sedangkan orang yang berhasil melampiaskan kemarahannya urusannya tidak akan tenang” (Tahdzib al hilyah 3/28). Berkata  Abu Darda: “Barangsiapa yang menuruti keinginan nafsunya pada semua yang dilihat pada manusia maka sedihnya akan berkelanjutan dan kemarahannya tidak akan reda” (Mausu’ah Ibnu Abi Dunya 7/523). Ibnu Hibban pernah berkata: “Seseorang lebih mampu untuk memperbaiki sesuatu jika ia bisa menahan marah dari memperbaiki kerusakan setelah marah” (Raudhotul ‘Uqola’ 138).

d.Ikhlas

Tidak sedikit pengajar yang menunaikan tugasnya hanya untuk mencari uang semata dan alangkah banyaknya orang tua yang menekan anaknya belajar sekedar agar anaknya mendapat juara. Bagaimana anak disuruh ikhlas jika yang menyuruh tidak ikhlas bahkan tidak menyadari kalau ia tidak ikhlas?! Bagaimana nasehat itu akan sampai ke hati anak-anak jika keluar bukan dari hati yang bersih…??

Berkata Fudhail Ibnu ‘Iyyadh: “Wahai miskin, engkau sering berbuat kejelekan sementara engkau menganggap dirimu orang baik, engkau jahil sementara engkau menganggap dirimu ‘alim, engkau pelit sementara engkau merasa mulia, engkau bodoh sementara engkau merasa pintar, ajalmu tinggal sebentar sedangkan angan-anganmu sangat panjang”. Berkata al Imam ad Dzahabi: “Demi Alloh, beliau (Fudhail) berkata benar. Engkau dzholim namun engkau merasa dizholimi, engkau memakan yang haram sementara engkau merasa orang waro’, engkau fasiq namun merasa adil, engkau menuntut ilmu karena dunia namun engkau menganggap dirimu menuntutnya karena Alloh…” (Tahdzib  as Siyar 2/779).

e. Memperhatikan Adab-adab berbicara

 Kebanyakan pertengkaran dan permusuhan berasal dari lisan yang tidak terdidik. Rasululloh bersabda: Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku di akhirat adalah yang terbaik akhlaknya diantara kalian dan yang paling jauh dariku di akhirat adalah yang paling jelek akhlaknya; yang banyak bicara, yang sombong lagi suka mengejek orang (HR. Ahmad 4/193-194, Ibnu Hibban 482 dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam As Shohihah 791). Berkata ‘Amr bin al Ash : “Ketergelinciran kaki adalah tulang yang bisa diluruskan sedangkan ketergelinciran lisan tidak meninggalkan  dan tidak membiarkan” (Bahjatul Majalis 1/87).

f. Selamatnya Hati dari Hasad

Diantara cara untuk mengobati hasad diantara anak adalah  Memberikan rasa aman dan cinta kepada anak-anak, Menerapkan keadilan diantara anak di rumah dan di sekolah dan menghilangkan sebab-sebab yang akan membuat hasad (‘Alwan hal.262-263).

Dari Mu’adz, Ali, Ibnu ‘Abbas dan Abi Burdah secara mursal, Rasululloh r bersabda: “Minta bantuanlah dalam memenuhi kebutuhan kalian dengan menyembunyikannya karena semua pemilik nikmat selalu dihasadi” (HR. at Thobroni (20/94, no. 183 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohihul Jaami’ no.943).

g. Malu

Berkata al Hafidz: “Malu adalah sifat yang mendorong pelakunya untuk menghindari perbuatan yang jelek dan mencegah diri dari menyia-nyiakan hak orang lain” (Fathul Baari 1/52). Dari Ya’la C bahwasanya Rasululloh ^ bersabda: “Sesungguhnya Alloh Maha Lembut, Maha Malu, Maha menutupi, Ia menyukai malu” (HR. Abu Dawud 4012, an Nasa’i 406). Dari ‘Ubaid Ibnu ‘Umair ia berkata: “Dahulukan malu kepada Alloh daripada malu kepada manusia” (Tahdzib al Hilyah 2/122).

h. Tawadhu’ (merendah diri karena Alloh) dan menjauhi sifat sombong

Sifat sombong jika telah melekat pada diri anak maka akan menjadi pemicu permusuhan dan pertengkaran antara anak.

Berkata Abu Yazid al Busthomi: “Selama seorang hamba menganggap ada orang lain yang lebih rendah darinya berarti ia termasuk orang yang sombong” (Hilyatul Auliya’ 10/36).

i. ar Rahmah (kasih sayang)

Orang tua adalah sahabat anak di rumah dan pendidik adalah sahabatnya di sekolah. Mereka lebih pantas memiliki sifat kasih sayang dari yang lainnya. Berkata ‘Ulwan: “Kasih sayang adalah lembutnya hati dan pekanya sanubari, seorang yang penyayang akan disukai temannya dan lebih santun dengan sejawatnya” (Hal.278).

j. Memanfaatkan waktu

Seorang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang sibuk mengambil faedah dan pelajaran dari pengalaman dirinya dan orang lain serta berusaha memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk memperbaiki dirinya.

Berkata Ibnul Qoyyim rohimahulloh: ‘Tahun itu ibarat pohon, bulan-bulan adalah cabangnya, hari-hari adalah rantingnya, jam adalah adalah daunnya dan nafas adalah buahnya. Jika nafasnya dalam ketaatan maka buah pohon tersebut bagus dan barangsiapa nafasnya dalam kemaksiatan maka buahnya pahit. Panen itu adalah pada hari yang dijanjikan (akhirat) maka akan jelaslah di sana mana buah yang manis dan yang pahit’. (Ar Rosail An Nafi’ah, Abdul Hadi ibnu Hasan Wahbi hal.266)

k. Istiqomah

Hati manusia selalu berbolak-balik sehingga sangat berat untuk dapat istiqomah.

Dari Abdulloh Ats Tsaqofi t ia berkata:  “Wahai Rasululloh, beritahukan saya sesuatu yang dengannya saya berpegang”. Beliau menjawab: “Katakanlah Robbku adalah Alloh kemudian istiqomahlah”. “Aku berkata: “Wahai Rasululloh apa yang paling engkau takutkan terhadap kami?” Maka beliau memegang lisannya seraya berkata :”Ini”. (HR. at Tirmidzi (2410), Ibnu Majah (3972), Shohih At Tirmidzi (1965)).

  1. Beberapa Metode Nabawi untuk Meluruskan Penyimpangan Akhlak Anak

Tahapan-tahapan  dalam meluruskan perilaku menyimpang dari anak didik di dalam Islam dibangun di atas dua hal:

a. (مُجَاهَدَةٌ) Mujahadah (Bersungguh-sungguh)

Alloh Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS. al Ankabut: 69).

2. (تِكْرَارٌ) Berkesinambungan

Alloh ‘Azza wa jalla berfirman:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS. al A’raaf: 205).

Berkata az Za’balawi: “Faidah yang diambil dari ayat di atas bahwa berkesinambungan dalam meluruskan penyimpangan akhlak merupakan tahapan yang sangat mendasar untuk menumbuhkan kebiasaan  yang baik dan menjauhinya dari kebiasaan yang buruk” (hal.341).

Beberapa Ushlub (Metode) Nabawi dalam Meluruskan Penyimpangan Anak:

  1. Teladan yang baik (الْقُدْوَةُ الْحَسَنَةُ)

Alloh Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS. al Ahzab: 21).

Berkata al Hajj Ahmad : “Hendaknya seorang guru hendaknya memulai dari dirinya sendiri karena pada hakekatnya mereka adalah teladan bagi anak didik dimana mereka memperhatikan gurunya karena ia adalah sumber ilmu mereka dan seorang guru janganlah perbuatannya menyelisihi ucapannya” (al Asalib at Tarbawiyah hal.49).

Kelebihan sistem qudwah hasanah:

a. Perpindahan kebaikan yang cepat dari yang diteladani ke arah yang meneladani.

Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa: “Rasululloh r pernah keluar menuju Hunain sedangkan orang-orang berbeda, ada yang berpuasa dan ada yang tidak berpuasa. Maka beliau naik ke atas kendaraan dan meminta bejana berisi susu dan air, lantas beliau minum dan orang-orang pun ikut minum” (HR. al Bukhori 4028).

b. Penerimaan yang baik dan benar terlebih dalam hal-hal yang rumit yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan teori.

Contoh ini terlihat jelas dari pengajaran Nabi secara langsung para sahabatnya tata cara mengerjakan sholat, haji dan yang lainnya. Bahkan beliau diajarkan langsung praktek sholat oleh Jibril pada subuh malam Isro’ Mi’roj.               

c. Pengaruh yang sangat dalam dan membekas terhadap jiwa manusia.

Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma pernah berkata: “Rasululloh r pernah memakai cincin dari emas sehingga orang-orang membuat cincin dari emas. Rasululloh r bersabda: “Sesungguhnya aku pernah memamakai cincin dari emas”, kemudian beliau melemparnya seraya berkata: “Aku tidak akan memakainya lagi selamanya”! Maka orang-orang pun melempar cincinya” (HR. al Bukhori 6868, Muslim 3091).  Berkata Ibnu Baththol: “Hal itu menunjukkan bahwasanya perbuatan lebih berpengaruh daripada perkataan” (Fathul Baari 13/275).

  1. Metode Kisah dalam al Qur’an dan Hadits Nabi (الْقِصَّةُ)

Alloh Ta’ala berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik (QS. Yusuf: 3)

Berkata Hafidz: “Hendaknya para pendidik dapat mengambil pelajaran dan nasehat dari kisah-kisah ini dan janganlah ia memaparkan kisah ini hanya sekedar untuk menghibur dan menghabiskan waktu. Hendaknya ia menyiratkan pesan-pesan pendidikan yang bertujuan untuk meluruskan penyimpangan anak” (Istihdamul Mu’allim Asaliba at Tarbiyah an Nabawiyyah hal. 89).

Keistimewaan  Sistem Kisah:

a. Salah satu sistem pendidikan Islam sehingga kita mendapati al Qur’an dipenuhi dengan kisah.

Misalnya kisah ashabul ukhdud yang menggambarkan sifat sabar, Ashabul Kahfi mendidik untuk menjadi pemuda-pemuda yang sholih, kisah Nabi Sulaiman bersama hud-hud yang mendidik anak menjadi orang yang amanah, tawadhu’ dan banyak bersyukur, kisah Nabi Dawud yang menggambarkan keberanian, kejujuran dan kecerdasan, kisah nabi Yunus yang mengajarkan agar tidak mudah berputus asa dan bertawakkal hanya kepada Alloh dan yang kisah-kisah lainnya dengan menghubungkan dengan jenis penyimpangan akhlak pada anak didik.

b. Kisah memberikan pengaruh yang dalam terhadap jiwa manusia sehingga ia akan cenderung meniru kepribadian lakon cerita atau perilakunya atau berusaha menjauhi perilaku-perilaku yang tidak baik dalam kisah tersebut.

Sebagai contoh Untuk mencegah terjangkitnya anak dengan sifat sombong maka dapat dikisahkan  hadits Abu Hurairoh bahwasanya Rasululloh r bersabda: “Tatkala seseorang berjalan dengan pakaian kemegahannya yang ia kagumi, dengan rambut yang disisir tiba-tiba Alloh benamkan dia ( ke bumi) dan ia meronta-ronta sampai hari kiamat” (HR. al Bukhori 5789).

c. Kisah akan membuat pendengarnya seolah-olah terjun langsung ke dalam alur cerita tersebut tanpa membuatnya lelah dan bosan.

3. Metode Perlombaan (التَّنَافُسُ)

Metode perlombaan merupakan salah satu metode pendidikan Islam sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman:

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُون

Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba (QS. al Muthaffifin: 26).

Berkata Sayyid Abdul Hamid Mursy: “Metode perlombaan merupakan cara pengajaran yang sangat efektif dan efisien yang dianjurkan oleh al Qur’an dan didukung oleh Rasul pada berbagai kesempatan. Perlombaan merupakan kegiatan yang diberikan oleh seorang guru dengan tujuan untuk menambah pengetahuan, membiasakan mereka untuk banyak menelaah dan mencari (an Nafsul Basyariyyah hal. 176).

Sebaik-baik perlombaan adalah yang mendekatkan seorang hamba dengan Robbnya dan semakin membuatnya ta’at kepada Alloh Ta’ala.

Contoh Metode Perlombaan Nabawi

a. Dorongan Nabi kepada para sahabatnya untuk berlomba dan berpacu dalam menuntut ilmu, menghafal al Qur’an, memperbanyak amal sholih dan menggabungkan antara ilmu dan amal.

Diantara contoh metode perlombaan dalam beramal sholih dalam Hadits  Ibnunda ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, Rasululloh r bersabda:

« الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ »

Orang yang mahir membaca Al Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan orang yang gagapan membaca Al Qur’an sedang ia kesulitan mendapatkan dua pahala (HR. Bukhori 4653, Muslim 798).

b. Janji dari Nabi bagi yang berhasil akan mendapatkan hadiah baik berupa pahala, surga maupun kebaikan yang lain.

Dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rasululloh r terkepung pada Perang Uhud bersama tujuh orang Anshor dan dua orang Quraisy. Tatkala mereka (musuh) mendekat beliau berkata: “Barangsiapa yang menjauhkan mereka dari kita maka baginya surga atau akan menjadi temanku di surga”. Maka majulah seorang Anshor  berperang sampai ia terbunuh. Kemudian musuh mendekat lagi. Maka Nabi berkata: “Barangsiapa yang menjauhkan mereka dari kita maka baginya surga atau akan menjadi temanku di surga”. Maka majulah seorang Anshor  berperang sampai ia terbunuh. Begitu seterusnya sampai tujuh orang Anshor tersebut terbunuh…(HR. Muslim 1789).

c. Menvariasikan jenis perlombaan tidak hanya aspek rohani tapi juga yang berkaitan dengan kekuatan jasmani sebagaimana Nabi pernah mengajak istri beliau lomba lari dan pacuan kuda. Rasululloh r bersabda: “Tidak ada perlombaan kecuali pada unta atau kuda atau memanah” (HR. Abu dawud 2074).

Seorang Pendidik dapat membuat metode perlombaan sendiri semisal lomba kebagusan akhlak, lomba pelanggaran yang paling sedikit di Ma’had atau sekolah, lomba siswa yang paling rajin, lomba santri/siswa model dan sebagainya.

  1. Metode Dialog untuk membuat anak didik puas atau tunduk

Jiwa manusia cenderung akan mendukung dan menerima apabila merasa puas dengan suatu penjelasan. Adanya sikap memberontak, berpaling atau membantah dari anak didik dikarenakan jiwanya belum merasa puas dan menerima sesuatu.

Hal ini tercermin dari  metode Nabi menghadapi seorang pemuda yang meminta izin untuk berzina. Dari Abu Umamah ia berkata: “Seorang pemuda pernah mendatangi Rasululloh r kemudian berkata: “Wahai Rasululloh, Apakah engkau mengizinkan aku untuk berzina?” Beliau menghampirinya lantas duduk seraya bertanya: “Apakah kamu suka ibumu dizinai?” Ia menjawab: “Tidak wahai Rasululloh, Alloh menjadikan saya tebusanmu, Maka Nabi berkata: “Orang-orang juga tidak suka ibunya dizinai”. Beliau bertanya lagi: “Apakah kamu suka jika anak perempuanmu dizinai?” Ia menjawab: “Tidak wahai Rasululloh, Alloh menjadikan aku tebusanmu”. Maka Nabi berkata: “Orang-orang juga tidak suka anak perempuannya dizinai”. Nabi bertanya lagi: “Apakah kamu suka saudara perempuanmu dizinai?” Ia menjawab: ““Tidak wahai Rasululloh, Alloh menjadikan saya tebusanmu, Maka Nabi berkata: “Orang-orang juga tidak suka saudara perempuannya dizinai”…(Kemudian  Nabi menyebutkan bibi). Sang pemuda kemudian berkata: “Wahai Rasululloh, do’akanlah aku. Kemudian Nabi meletakkan tangannya di atas kepalanya seraya berdo’a: “Ya Alloh ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”. Rawi berkata: “Setelah itu sang pemuda tidak pernah menoleh sedikitpun (kepada yang diharamkan)” (HR. Ahmad, al Baihaqi).

  1. Ushlub Nasehat dan Pelajaran yang baik (الْمَوْعِظَةُ الْحَسَنَةُ)

Nasehat yang baik termasuk salah satu metode pendidikan yang Alloh ajarkan kepada NabiNya dalam al Qur’an sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka (QS. an Nisaa’: 63).

Nasehat akan memberikan pengaruh yang besar di dalam hati oleh karena itu Pendidik Pertama ummat ini tidak pernah lepas dari menasehati para sahabat dan shahabiyah kemudian dilanjutkan oleh ummatnya.

‘Irbadh Ibnu Sariyah pernah menuturkan: “Rasululloh r pernah menasehati kami setelah sholat subuh dengan nasehat yang sangat dalam sehingga membuat air mata menetes, membuat hati takut…(HR. at Tirmidzi 2676).

Dari Abi Wa’il ia berkata: “Abdulloh ibnu Mas’ud sering menasehati orang-orang setiap hari kamis. Ada yang bertanya kepada beliau: “Wahai Abu Abdirrahman, aku senang jika engkau menasehati kami setiap hari”. Abdulloh menjawab: “Tidak ada yang menghalangiku untuk menasehati kalian setiap hari kecuali karena aku tidak ingin membuat kalian bosan sebagaimana Rasululloh menasehati jarang-jarang karena khawatir kita akan bosan” (HR. al Bukhori 68).

  1. Ushlub Dialog (الْحِوَارُ)

al Khotib menukil dari Zarnuji ia berkata: “Menghabiskan waktu sejenak untuk berdialog dan bertukar pikiran lebik baik buat pelajar daripada menghafal dan mengulangi selama  sebulan dan metode ini termasuk metode pendidikan yang paling banyak diterapkan dan sangat penting” (Ta’dilus Suluk al Qowanin wal Ijro’at hal. 86).

Diantara contoh dialog yang digunakan Nabi dalam mengajarkan para sahabatnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwasanya ia mendengar Rasululloh r bersabda: “Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah kalian kemudian ia mandi lima kali dalam sehari, apakah akan masih tersisa noda di badannya?” Para sahabat menjawab: “Tentu tidak tersisa sedikitpun”, maka Nabi bersabda: “Hal Itu seperti sholat yang lima waktu, dengannya Alloh menghapuskan dosa-dosa” (HR. al Bukhori 505). Wallohul Muwaffiq.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الرُّشْدَ وَالسَّدَادَ…

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *