Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Pendidikan Islam / Problematika Anak Didik dan Solusinya ( 1 )
KLIK UNTUK BERINFAK

Problematika Anak Didik dan Solusinya ( 1 )

Problematika Anak Didik dan Solusinya

Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah baik agama maupun akhlaknya. Namun warna habitatnya yang membuat ia tercelup dan terpoles sedemikian rupa. Tatkala ia berubah dari fitrahnya mengikuti lingkungannya dengan berbagai macam corak penyimpangannya maka harus dikembalikan ke celupan awal dengan celupan ilahi yakni al Qur’an dan sunnah Nabi. Alloh Ta’ala berfirman:

صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

Shibgah (Celupan) Allah. dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan Hanya kepada-Nya-lah kami menyembah (QS. al Baqarah: 138).

Beberapa Penyimpangan Akhlak pada anak didik:

  1. Berbohong

Berbohong merupakan persolan pelik pada anak didik dan semakin mengkhawatirkan jika berbohong ini menyebar di kalangan orang dewasa seperti halnya penyakit yang justru mewabah menimpa para dokternya sendiri. Bahaya berbohong ini ditinjau dari dua sisi:

  • Berbohong kebanyakan adalah untuk menutupi kejahatan, kesalahan, kekurangan atau aib. Hal ini akan membuat sang anak mudah untuk berbohong dan akan terus menjadi tameng sampai ia menginjak dewasa.
  • Terdapat hubungan yang sangat erat antara berbohong dengan pencurian, penipuan dan pemalsuan. Oleh karena itu Rasululloh memperingatkan dengan keras sifat tercela ini.

Dari Abdulloh bin ‘Amir ia berkata: “ Suatu hari Ibuku memanggilku sedangkan Rasululloh tengah duduk di rumah kami. Ibunya berkata: “Kemarilah aku akan memberimu”. Rasululloh bertanya kepadanya: “Apa yang hendak engkau berikan kepadanya?”. Ibunya menjawab: “Aku ingin memberinya kurma”. Maka Rasululloh berkata: “Seandainya engkau tidak memberikannya sesuatu maka akan ditulis bagimu satu kebohongan” (HR. Ahmad 3/447, Shohih Abu Dawud 4991). Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha bahwasanya jika Rasululloh mendapati suatu kebohongan diantara keluarganya maka beliau akan terus berpaling muka sampai orang tersebut bertaubat karena Alloh” (Shohihul Jaami’ 4675).

Penyebab berbohong:

  1. Takut akan hukuman. Sebuah penelitian menyebutkan 70% penyebab berbohong pada anak yang disifati pembohong adalah karena takut dihukum, 10 % karena hayalan dan imajinasi, 20 % karena bertujuan menipu dan berbuat curang.
  2. Tekanan dan sikap keras orang tua terhadap anak dimana jika sang anak menjawab dengan jujur maka ia akan mendapatkan kado tamparan, hadiah hukuman dan bingkisan omelan. Hal itu akan membuat sang anak akhirnya memilih jalan pintas untuk berbohong.
  3. Ingin membuat pendengarnya tercengang dan kagum dengan ceritanya semisal mengatakan bahwa ia mempunyai baju yang sangat bagus padahal ia tidak miliki atau mainan yang hebat padahal tidak ada.
  4. Berbohong untuk memperoleh apa yang ia inginkan seperti mengatakan bahwa gurunya menyuruh untuk mengeluarkan uang guna membeli suatu peralatan padahal ia ingin membeli jajan, atau suatu yang sangat diidolakannya.
  5. Karena bermusuhan dengan teman yang lain. Misalnya: Ada perabotan rumah mahal yang rusak dan ibunya tidak mengetahui siapa yang menjatuhkannya. Maka sang anak lantas menuduh anak lain atau saudara yang ia benci tersebut agar mendapat hukuman.
  6. Ikut-ikutan

Anak diciptakan dengan sifat fitroh yaitu jujur namun sifat itu berubah karena mencontoh orang tua, saudara, teman dan yang lainnya.

  1. Malas Belajar

Diantara fenomena malas belajar pada anak didik:

  1. Anak didik tidak lulus pada semua mata pelajaran atau sebagiannya dan terjadi terus menerus.
  2. Malasnya mengerjakan pekerjaan rumah atau tugas dari sekolah.
  3. Sering tidak masuk sekolah dan bolos belajar.
  4. Terkadang seorang anak yang malas memiliki kecerdasan yang tinggi sehingga tanpa belajar yang keras ia bisa lulus dengan nilai bagus. Hal ini terkadang tidak menyusahkan pendidik atau orang tua padahal ini dapat memberikan dampak negatif karena keberhasilan yang hakiki dan sesungguhnya haruslah didapatkan dengan kerja keras.

3. Hiperaktif

Tidak sedikit para pendidik dan orang tua yang mengeluhkan tentang anaknya yang hiper dan super aktif dengan kata-kata: “Dia tidak bisa diam”, “Tidak betah duduk satu menit atau dua menit”, “Hatinya entah dimana”, Di pantatnya ada kulit durian”… dan seterusnya.  Sebagian ada yang memberikan solusi agar diperiksakan ke dokter jiwa, ada juga yang berkomentar: “Ini tanda anak pintar karena kalau diam saja berarti sang anak tidak cerdas”, “Semua anak seperti itu kok”, “Itu hanya sementara, kalau sudah agak besar akan berhenti sendiri…”.

Penyebab Hiperaktif:

  1. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Ibu hamil yang sakit dan mengkonsumsi obat-obatan yang bersifat penenang adalah salah satu penyebab anak hiperaktif.
  2. Suasana rumah yang tidak nyaman, tenang dan rapi serta tidak ada mainan buat anak sehingga anak melampiaskan kekecewaannya dengan berbagai cara.
  3. Mengikuti tingkah laku keluarga maupun temannya.

4. Pertengkaran antar anak

Permusuhan antar anak menjadi mengkhawatirkan jika disertai dengan kekerasan, kata-kata yang kotor, mengganggu orang lain dan menimbulkan dendam sesama mereka. Terlebih jika yang menjadi korban adalah yang lebih kecil sehingga sang anak menjadi tertekan dan ketakutan.

Penyebab Pertengkaran diantara anak:

  1. Memperlombakan sesuatu yang sifatnya terbatas seperti mencari perhatian dan kasih sayang pendidik atau kedua orang tua, memperebutkan mainan yang jumlahnya terbatas atau yang lainnya.
  2. Pertentangan keinginan anak dalam suatu perkara.
  3. Kecemburuan terhadap saudara atau anak yang lain yang disebabkan ketidakadilan orang tua atau pendidik dalam memperlakukan anak-anaknya.
  4. Percekcokan antara kedua orang tua atau kesibukan mereka yang membuat anak tidak terurus sehingga kekecewaan anak dilampiaskan dengan perkelahian.
  5. Kerasnya orang tua dalam mendidik anak-anaknya sehingga memberikan kesan bahwa segala permasalahan harus diselesaikan dengan jalan kekerasan.

5. Minder dan tidak percaya diri

Fenomena minder dan tidak percaya diri pada anak dapat diketahui dengan sikap anak yang selalu merasa takut dan khawatir menghadapi sesuatu. Seringkali anak seperti ini  tatkala mengatakan: “Saya tidak bisa”, “Aku tidak disukai”, “Saya orang bodoh” dan ungkapan yang lainnya menandakan keputusasaan sebelum berbuat. Disamping itu senang menyendiri dan tidak suka bergaul merupakan salah satu ciri anak yang minder.

Penyebab Minder dan Tidak Percaya Diri

  1. Sifat warisan atau karena memiliki cacat dan kekurangan secara fisik.
  2. Tuntutan orang tua yang berlebihan terhadap anak dimana anak tidak sanggup untuk memenuhinya.
  3. Berlebihan dalam menjaga dan mengawasi anak serta tidak pernah memberikan kepercayaan terhadap anak ataupun melatihnya mengemban suatu amanah.
  4. Kerasnya orang tua atau pendidik dalam mendidik anak sehingga anak merasakan berada di alam militer. Walaupun tujuan dari pendidikan seperti itu adalah untuk mengontrol dan mengawasi serta bentuk perhatian yang besar dari orang tua atau pendidik tetapi jika telalu berlebihan justru akan membuat anak merasa hina dan rendah diri.

6. Membangkang dan keras Kepala

 Tidak sedikit orang tua maupun pendidik yang mengeluhkan anaknya yang “keras kepala”, “suka membangkang”, “Maunya sendiri saja” dan apabila diperintahkan sesuatu selalu membantah dan bahkan melawan.

Diantara penyebab pembangkangan:

  1. Pembatasan ruang gerak anak baik yang bersifat konkret seperti sempitnya pekarangan maupun ruangan di dalam rumah dan banyaknya peralatan maupun benda-benda yang tidak boleh disentuh oleh sang anak, maupun yang bersifat abstrak seperti tidak adanya komunikasi yang harmonis antara orang tua maupun pendidik dengan anak dan kurangnya perhatian terhadap anak ditambah lagi orang tua inginnya menang sendiri dimana semua perkataannya harus diikuti dan dituruti tanpa melihat kemampuan sang anak.
  2. Merasa diri dizholimi dan ditekan oleh orang tua maupun pendidik.
  3. Mengikuti perangai suka membangkang dari orang yang lebih besar.
  4. Kepribadian guru maupun pendidik yang kurang berpengaruh terhadap anak, baik dikarenakan kurang sungguh-sungguh dan ikhlas dalam mengajar, tabi’at guru yang tidak baik dalam bermuamalah dengan anak didiknya, kurang menguasai materi yang diajarkan ataupun karena sang guru atau pelajaran yang ia ampu tidak disukai oleh anak didiknya.

7. Menyontek

Diantara penyebab menyontek:

  1. Anak didik tidak pernah mempelajari materi ujian baik sebagian atau keseluruhannya.
  2. Suasana rumah yang tidak mendukung anak untuk belajar baik karena orang tuanya sibuk dengan perdagangan dan kegiatan lainnya yang menyebabkan anak tidak memiliki kesempatan belajar karena ikut membantu orang tuanya.
  3. Tekanan dari orang tua maupun guru agar anak didiknya wajib lulus dengan nilai memuaskan tanpa melihat kemampuan masing-masing anak.
  4. Tingkat kesukaran pelajaran tersebut sangat tinggi.
  5. Anak didik belum mampu mengatur dan menggunakan waktu
  6. Pengaruh luar yang terbiasa dengan budaya menyontek.

8. Tidur di kelas

Seringkali anak didik tidur pulas di kelas terutama pada pelajaran-pelajaran tertentu dan hal ini sering dilakukan.

Penyebab sering tidur di kelas:

  1. Penyakit tubuh bawaan
  2. Mengkonsumsi obat-obatan yang terdapat di dalamnya senyawa penenang seperti obat batuk, filek dan lainnya.
  3. Duduk di tempat yang agak jauh dari jangkauan dan pergerakan guru.
  4. Anak didik tidak suka dengan pelajaran tersebut.
  5. Guru tidak berperan aktif bertanya ataupun meminta feedback dari anak didik.
  6. Kebiasaan bergadang atau terlambat tidur.

(Musykilatul Athfal, DR. Abdul Karim Bakkar hal. 11-113, at Thufulah Masyakil wa Hululuha, Asma binti Ahmad al Buhaishy hal. 3-46).

  1. Masa Pubertasi

Masa pubertasi adalah fase yang sangat rentan dan rawan bagi anak didik dimana terjadi perubahan fisiologis dan psikologis yang sangat cepat dalam pertumbuhannya. Diantara fenomena pubertasi: Sangat senang menyendiri, Malas beraktifitas, Cepat bosan dan tidak tekun dengan satu pekerjaan, Suka membantah dan melawan, Perhatian dengan lawan jenis, Senang berkhayal, Sangat pemalu, Kurang percaya diri dan sangat sensitif.

Beberapa usaha preventif untuk menjaga anak yang sedang puber: Menguatkan hubungannya dengan Alloh Ta’ala, Bergaul dengan teman yang sholih, Meredam syahwatnya dengan cara menjelaskan hukum-hukum orang yang telah baligh (mukallaf), mengingatkan kebiasaan terlarang yang terus menerus, menikah dini, mengingatkan adab-adab Nabawi dalam hal makan dan tidak berlebihan, terus meneliti dan meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang mulai muncul dan menggunakan waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat (Asalib Mu’amalatil Murohiq fil Islam, DR. Isma’il Muhammad Hanafi hal. 15-18).

Diantara tindakan defentif menghadapi anak didik yang puber : Lembut dan kasih sayang, Tawadhu’ kepada mereka, Menghargai mereka, Memberikan dorongan dan semangat dalam kebaikan dan  Menjalin suasana rumah tangga yang harmonis (Asalib Mu’amalatil Murohiq fil Islam, hal. 19-23).

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *