Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Pendidikan Islam / Potret Pendidikan Anak di zaman para Salaf
KLIK UNTUK BERINFAK

Potret Pendidikan Anak di zaman para Salaf

Potret Pendidikan Anak di zaman para Salaf

Wadah Pendidikan anak telah muncul sejak zaman Nabi yang dikenal dengan nama Kuttab dan berkembang seiring dengan perkembangan Islam. Perhatian Nabi  sangatlah besar dengan pendidikan anak. Hal ini terlihat bagaimana beliau memerintahkan kepada setiap tawanan Perang Badar untuk mengajarkan dua belas anak kaum muslimin sebagai tebusannya.

Kuttab di zaman tersebut dibagi dua:

  1. Kuttab Awwaliah (Perioritas) dimana anak-anak mempelajari baca tulis, menghafal al Qur’an, mempelajari pondasi-pondasi agama dan pokok-pokok ilmu berhitung.
  2. Kuttab Qonuniyyah dimana anak-anak dan pemuda diajarkan bahasa, tata bahasa, ilmu-ilmu agama, hadits dan ilmu-ilmu lain secara global (at Tarbiyyah wat Ta’lim fil Islam hal.110).

Demikian pula muncul Kuttab khusus untuk anak-anak yatim  yang bertujuan untuk mengajarkan dan mengasuh anak-anak yatim dan fakir miskin ditambah lagi dengan anak-anak para pejuang dan komandan yang sibuk dengan jihad fi sabilillah. Kuttab ini sangat besar pengaruhnya di masyarakat terutama bagi mereka yang tidak mampu untuk mengirim anak-anak mereka belajar di Kuttab-kuttab favorit atau tidak mampu menyewa pengajar untuk mengajarkan anak-anak mereka di rumah (at Ta’lim Fi Mishro zamanal Ayyubiyyin hal.121).

Ukuran Kuttab

Adapun ukuran kuttab berbeda satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh Kuttab Abul Qosim al Balkhi memuat 3000 siswa dengan tempat yang luas terpisah dengan masjid sehingga al Balkhi membutuhkan kendaraan untuk lalu lalang mengajar murid-murinya agar semua dapat dibimbing” (at Tarbiyyah al Islamiyyah, Ahmad Syalbi hal. 54).

Fasilitas Kuttab

Secara umum kuttab-kuttab hanya menyediakan tikar tempat anak-anak duduk dengan bersila. Peralatan belajar mereka terdiri dari mushaf, beberapa lembar lauh (kertas) dan pena. Terkadang Mu’allim (pengajar) duduk di kursi atau tikar khusus (Adabul Mu’allimin, Ibnu Sahnun hal. 50).

Umur Murid

Secara umum anak-anak salaf telah mulai belajar sejak umur yang masih belia seperti lima atau enam tahun. Mereka pindah ke lingkungan baru yaitu Kuttab sampai mereka menghafal seluruh al Qur’an atau sebagiannya disamping mempelajari baca tulis, nahwu, bahasa Arab dan sebagian ilmu hitung dan ilmu-ilmu lain yang mendukung pemahaman ilmu agama (at Tarbiyyah fil Islam hal.130).

Tatkala anak-anak yang masih kecil harus mendatangi kuttab maka keluarganya akan mempercayakan seseorang untuk menemani mereka ketika datang dan pulang. Disyaratkan orang tersebut adalah orang yang jujur, tsiqoh (terpercaya) dan pengalaman karena merekalah yang banyak berinteraksi dengan sang anak dan mereka pula yang akan banyak mengunjungi rumah yang di dalamnya ada ummahat (ibu-ibu) sang anak tersebut (Nihayatu ar Rutbah fi Tholabil Hasbah hal. 104).

Syarat-syarat Mu’allim (Pengajar)

Para Salaf tidaklah menyerahkan anak-anak mereka kecuali kepada pengajar yang baik akhlaknya dan terpenuhi syarat-syarat kedewasaan diantaranya ia terkenal dengan Istiqomah dan ‘afaf (penjagaan dirinya), kredibilitas yang tinggi disertai pengetahuan dan pengalaman mereka yang mendalam tentang al Qur’an dan ilmu-ilmu al Qur’an. Fuqaha muslimin telah menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi para pengajar Kuttab. Al Qobisy menyebutkan diantara syaratnya hendaknya pengajar terus adalah orang lembut tidak kasar, bukan orang yang suka cemberut maupun marah, tidak menyulitkan, bisa menemani sang anak dan mampu mengajarkan adab kepada anak-anak untuk kemaslahatan mereka (Adabul Mu’alimin hal. 47).

Sebagian lagi mensyaratkan bagi pengajar hendaknya ia adalah ahlu sholah wal ‘amanah wal iffah, hafal al Qur’an, tulisannya bagus, bisa berhitung dan lebih baik adalah yang sudah menikah. Mereka tidak menganjurkan yang membujang untuk membuka Kuttab kecuali setelah ia menjadi Syaikh kabir yang terkenal dengan agama dan kebaikannya serta ahli dalam mengajar (Ma’alimul Qurbah Fi Ahkamil Hasbah hal. 260).

Metode Pembelajaran

Adapun metodologi pembelajaran dan kurikulum Kuttab  diantaranya mereka meminta kepada murid untuk membaca al Qur’an seluruh maupun sebagiannya dengan hafalan dan mengajarkan mereka baca tulis, khoth dan pengantar ilmu hitung. Para pengajar sangat perhatian untuk menyeragamkan keahlian semua murid dengan membiasakan mereka menulis surat kepada orang-orang, mengajar satu dengan yang lainnya khususnya bagi murid yang terkenal dengan kepintarannya, mendikte satu dengan yang lainnya serta memerintahkan murid yang sudah baligh untuk menjadi Imam manusia dan bentuk-bentuk praktek keilmuan yang lainnya. Di samping itu murid-murid juga diajarkan hadits-hadits Nabawi dan Adab serta aqidah ahlu sunnah wal jama’ah yang sesuai dengan pemahaman mereka, tidak lupa juga kaidah-kaidah bahasa secara berurutan sampai mereka terbiasa (Tarikh at Tarbiyyah al Islamiyyah hal. 226).

Adapun kehidupan Kuttab sehari-hari dilaksanakan secara “alami” dimana awwal pembelajaran dimulai dengan syuruq matahari (waktu dhuha), maju dan mundur tergantung kepada suruqnya matahari dan adzan Ashar (at Tarbiyyah al Islamiyyah fil Qorni ar robi’ al Hijry hal. 185).

Istirahat dan Libur

Kaum muslimin sangat memberikan perhatian kepada anak-anak agar mereka bisa beristirahat setelah penatnya belajar. Ibnul Hajj al Abdary (wafat th. 373 H) berkata: “Istirahat merupakan sunnah Nabi sebagaimana sabdanya: “Segarkanlah jiwa ini sejenak”(Marosil Abu Dawud berkata as Sakhowi: “Ia memiliki penguat dari hadits-hadits yang shohih”, al Maqosid al Hasanah 275). Waktu libur biasanya pada hari ‘Ied, tatkala sakit, badai, dingin, angin kencang dan hujan yang deras. Adapun pengajar, apabila ia ada urusan mendadak sehingga ia tidak masuk maka ia harus menyewa orang yang selevel dengannya jika waktunya tidak terlalu lama (Adabul Mu’alimin, Ibnu Sahnun hal. 57).

 Pendidikan anak Perempuan

Pengajaran di zaman salaf tidaklah khusus bagi murid laki-laki saja. Anak-anak wanita pun mendapatkan bagian pengajaran terutama anak-anak kalangan kaya, pembesar dan para ulama. Lihatlah Qodhi al Waro’ ‘Isa Ibnu Miskin (wafat 275 H) apabila selesai subuh beliau membaca beberapa bagian al Qur’an kemudian duduk mengajarkan para muridnya sampai Ashar. Setelah Ashar beliau memanggil anak-anak perempuannya dan anak-anak perempuan saudaranya untuk diajarkan al Qur’an dan ilmu-ilmu lainnya (ar Risalah al Mufashsholah Liahwalil Mu’alimin hal. 321).

Jelaslah mengapa anak-anak perempuan tidak diikutkan di kuttab. Bukan karena mereka tidak mendapatkan pengajaran tetapi semata-mata agar mereka tidak ikhtilath (bercampur) dengan anak laki-laki di Kuttab yang sebagian mereka sudah memasuki waktu baligh sehingga ditakutkan kerusakan akhlak dan agama mereka. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya wanita penghafal al Qur’an, ahli fiqh, penyair dan  penulis.

Kehidupan Sosial Kuttab

Kehidupan Kuttab tidaklah terpisah dari masyarakat. Sebagai contoh jika seorang alim, pemimpin atau pemuka meninggal maka pintu-pintu kuttab ditutup dan diliburkan agar mereka ikut bergabung dengan masyarakat untuk mendapatkan kemaslahatan bersama (Adabul Mu’alimin hal. 57). Berkata Ibnu Sahnun: “Apabila manusia mengalami kekeringan dan Imam menyuruh mereka untuk sholat Istisqo’ maka para pengajar akan mengajak murid-murid yang sudah bisa sholat untuk menghadirinya dan telah sampai kepada saya bahwa kaum nabi Yunus tatkala akan diadzab mereka keluar membawa anak-anak mereka dengan tunduk dan memohon kepada Alloh dengan perantara anak-anak tersebut” (Adabul Mu’alimin hal. 111).

Pendidikan di Kuttab memiliki keistimewaan dimana murid sangat ditekankan adab-adab bermasyarakat dengan membiasakan mereka perbuatan-perbuatan yang baik, mengajarkan mereka cara menghormati orang lain disesuaikan dengan urf yang berlaku di masyarakat, mengucapkan salam kepada orang yang mengunjungi atau melewati mereka, menyuruh mereka untuk birrul walidain dan tunduk kepada perintah keduanya, mengucapkan salam kepada keduanya, mencium tangan keduanya tatkala pergi dan pulang, dan memukul mereka ‘yang berkelakuan jelek, berkata yang kotor dan perbuatan lain yang keluar dari koridor syar’i (Ma’alim al Qurbah fi Ahkamil Hasbah hal. 261).

Begitulah sekilas tentang pendidikan anak di zaman para salafus sholih, semoga menjadi inspirasi bagi para orang tua dan pengajar yang mendambakan surga Alloh ‘Azza wa jalla.

Walhamdulillahi robbil ‘alamin.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *