Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Pendidikan Islam / Pola Pendidikan Teladan bagi Anak Usia Dini
KLIK UNTUK BERINFAK

Pola Pendidikan Teladan bagi Anak Usia Dini

Pola Pendidikan Teladan bagi Anak Usia Dini

Anak merupakan permata dan buah hati orang tua. Karena ia dilahirkan dalam keadaan suci, maka Islam membimbingnya untuk tetap berada dalam koridor kesuciannya tersebut. Khususnya anak-anak usia dini yang belum baligh, Islam telah mengajarkan pola pendidikan yang sedemikian rapi dan harmonisnya sehingga mereka tumbuh menjadi generasi penerus yang didambakan. Untuk mencapai hal tersebut maka bagi para pendidik dan orang tua supaya memahami bagaimana ‘cara mendakwahi anak usia dini’ sehingga apa yang diidam-idamkan bisa tercapai.

Asal dari mendakwahi anak dalam Islam adalah dengan lemah lembut. Namun jika pada suatu kondisi sang anak terus membangkang maka ditawarkanlah beberapa solusi berikut:

  1. Menjelaskan tentang kesalahannya dengan cara yang baik.
  2. Melarang dengan tegas tatkala anak keras kepala.
  3. Melakukan pemukulan jika dirasa ada manfaatnya tanpa berlebih-lebihan dan tanpa melukai.
  4. Melakukan pengucilan jika memang akan membuahkan hasil

Diantara metode yang dicontohkan dalam Islam bagi anak usia dini diantaranya:

  1. Mengajak anak untuk melakukan kebaikan sedini mungkin. Contoh dari hal ini sangat banyak sekali, seperti:
  2. Menyuruh anak yang belum baligh untuk meminta izin jika ingin masuk ke kamar orangtunya pada tiga waktu yaitu sebelum shalat subuh, ketika siang hari dan sesudah shalat Isya karena pada tiga waktu tersebut orang tua biasanya menanggalkan atau mengganti pakaiannya (QS. An Nuur: 58).
  3. Memerintahkannya untuk melaksanakan perintah-perintah Alloh dan menjauhi larangan-larangannya sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengajarkan keponakannya yang masih kecil dengan sabdanya: “Jagalah (perintah) Alloh, niscaya Ia akan menjagamu” (HR. at Tirmidzi 2635).
  4. Memerintahkan mereka sholat berjama’ah di masjid tatkala sudah berumur 7 tahun dan memukulnya jika tidak sholat tatkala sudah berumur 10 tahun (HR. Abu Dawud 490).  Sewaktu kecil Abdulloh bin ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma penah menginap di rumah bibinya Maimunah dimana Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terlambat pulang dan ia tertidur. Ketika Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang, beliau bertanya : ‘Apakah anak kecil ini sudah sholat?’ (HR. Abu Dawud 1353, Sohih Abi Dawud 1/253). Dari sini ada faedah berharga bahwasanya semua anggota keluarga baik  paman, bibi, kakek, nenek, dan kerabat lainnya harus ikut andil yang dalam mendidik anak kecil karena pada hakekatnya itu adalah anak mereka sendiri. Ibrohim an Nakho’I Rahimahullah berkata: ‘Dahulu mereka (para sahabat) mengajarkan shalat kepada anak-anak jika gigi mereka telah tumbuh’ (Al Mushannaf1/347).
  5. Memerintahkan anak kecil untuk belajar berpuasa. Imam al Bukhori (1960) dan Muslim (1136) meriwayatkan dalam “Shohihnya” dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz ia berkata: ‘Rasululloh mengutus di pagi hari ‘Asyura kepada penduduk Anshor (untuk meneuskan puasa Asyura’nya)…Rubayyi berkata: “ Maka kami meneruskan puasa dan mempuasakan anak-anak kami dan kami membuatkan mereka mainan dari kulit. Jika salah seorang mereka menangis minta makan, kami memberikan mainan itu sampai datang waktu berbuka”.
  6. Jika anak tersebut non muslim maka diajak untuk masuk Islam karena itu yang sesuai dengan fitrohnya.Suatu ketika Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menjenguk anak laki-laki keturunan Yahudi yang jatuh sakit lalu beliau berkata kepadanya : “Masuklah Islam” maka ia pun memeluk Islam (HR .al Bukhori 1356).
  7. Melarang anak berbuat kemungkaran atau perbuatan yang tidak baik sejak dini.

Di dalam Islam anak dididik sejak kecil untuk menghindari kemungkaran sehingga tatkala  sudah menginjak usia baligh ia sudah terbiasa menjauhi perbuatan yang tidak baik. Diantara contohnya:

  1. Diriwayatkan dari Abdulloh bin ‘Umar rodhoyallohu ‘anhuma bahwasanya RasulullohShallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melihat seorang anak kecil yang rambutnya dipotong sebagian dan dibiarkan sebagian (seperti model rambut anak-anak “PUNK” di zaman ini), maka beliau melarangnya seraya berkata: “Cukurlah semuanya atau biarkan semuanya” (HR. Abu Dawud 4189, Abdurrozzaq 19564, As Shohihah 2/115) Demikian pula Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu pernah melarang seorang anak kecil mencukur rambutnya mengikuti model rambutnya orang Yahudi atau model rambut yang aneh-aneh (HR. Abu Dawud 4191).
  2. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menyuruh cucunya Hasan bin ‘Ali rodhoyallohu ‘anhuma untuk mengeluarkan kurma sedekah yang ia makan, beliau berkata: “Tidakkah engkau tahu kalau kita tidak makan sedekah ?!” (HR. al Bukhori 1491). Beliau juga pernah menegur ‘Umar bin Abi Salamah yang tangannya kesana kemari tatkala makan.
  3. Pernah suatu ketika anak lelaki dari Abdulloh bin Mas’ud rodhoyallohu ‘anhum datang dengan memakai baju dari sutera. Maka beliau merobeknya seraya berkata: “ Ini diperuntukkan untuk wanita” (Al Mushannaf ibnu Abi Syaibah 4707). Maka bagi para orang tua untuk menghindarkan anaknya dari pakaian yang tidak diperbolehkan dalam Islam seperti bergambar makhluk bernyawa, pakaian ketat atau pakaian yang isbal bagi anak laki-laki.
  4. Pegingkaran terhadap kemungkaran yang dilakukan anak juga dilakukan oleh para ibu-ibu kaum muslimin. ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha tidak mau bertemu dengan seorang anak perempuan yang memakai gelang kaki yang menimbulkan bunyi bahkan beliau menyuruh untuk memecahkannya (HR. Abu Dawud 4225). Ummu Salamah juga pernah mengingkari Sa’id bin Jubair -tatkala masih kecil- yang memakai cincin dari emas.
  5. Rasululloh r pernah melarang si kecil Ibnu ‘Abbas yang sholat di sebelah kiri beliau.

Kisah-kisah di atas menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar kepada anak-anak baik yang belum baligh maupun sudah baligh adalah sesuatu yang memasyarakat di zaman Nabi dan para sahabatnya berbeda dengan sebagian orang tua di zaman ini yang membiarkan bahkan menyediakan fasilitas yang memudahkan anak melakukan kemaksiatan dengan alasan mereka masih kecil dan belum baligh. Hal ini menjadikan anak terbiasa dengan kemaksiatan sampai ia menginjak usia baligh bahkan walaupun sudah dewasa. Wallohul Musta’an. 

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *