Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Hukum Islam / Persamaan hak di dalam Islam
KLIK UNTUK BERINFAK

Persamaan hak di dalam Islam

Persamaan hak di dalam Islam

Sering kita mendengar bahwa persamaan hak dalam setiap bidang termasuk suatu keadilan. Padahal antara persamaan hak dengan keadilan sangat jauh bedanya. Persamaan hak adalah menaikkan hak seseorang sehingga setara dengan yang lainnya, sedangkan keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan yang punya hak haknya.

Jauh sebelum bangsa barat mengumandangkan persamaan hak, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin telah lebih dahulu menjamin persamaan  manusia. Diantara bentuknya:

1. Persamaan dalam kemanusiaan

Tidak ada perbedaan antara seorang pun di depan syari’at Alloh kecuali dengan ketakwaan. Pemimpin sama dengan rakyatnya, para pembesar sama dengan orang awam, yang kuat sama dengan yang lemah. Alloh ta’ala pernah menegur Nabi Muhammad karena beliau mementingkan untuk mendakwahi para tokoh Quraisy saja pada waktu itu dan membiarkan seorang yang miskin lagi buta yaitu Ibnu umi Maktum (QS. Abasa: 1-11).

Demikian pula tatkala ada seorang wanita dari pembesar Quraisy mencuri, kaumnya datang untuk meminta keringanan agar tidak dihukum. Maka Nabi berkata: “Yang membuat kaum sebelum kalian hancur adalah jika ada orang terpandang mereka yang mencuri maka mereka tidak menghukumnya namun jika yang mencuri adalah orang rendahan mereka justru menghukumnya…” (HR. al Bukhori 3288).

Kisah Jabalah bin al Aiham juga perlu dijadikan pelajaran. Ketika ia thawaf  kain bawahnya tersenggol dan dikotori oleh seorang Arab dusun. Maka jabalah pun menamparnya. Sang Arab badui tersebut mengadu kepada ‘Umar bin Khoththob dan khalifah memerintahkan untuk mengqishosnya. Namun Jabalah merasa gengsi harus menerima balasan tamparan seorang badui sementara ia adalah tokoh yang terkemuka. Maka ia lari ke negeri Rum kemudian masuk nasrani. Pada akhirnya ia pun menyesal (Siyar A’lam an Nubala’ 3/532, al bidayah wan nihayah 8/63).

2. Persamaan di dalam hukum

Tatkala Rasululloh sakit menjelang akan meninggal dunia, beliau dipapah oleh Fadhl bin al Abbas dan ‘Ali bin abi Thalib sampai beliau duduk di atas mimbar dan berkata: “wahai manusia, barangsiapa yang pernah aku pukul punggungnya maka silakan ia membalasnya, barangsiapa yang pernah aku cela kehormatannya maka balaslah, dan barangsiapa yang pernah aku ambil hartanya maka ini hartaku, ambillah…” (Dikeluarkan oleh Ibnul Atsir dalam “al Kamil” 2/154).

Di kala Abu Bakr as Shiddiq diberikan amanah untuk menjadi khalifah, beliau naik mimbar seraya berkata: “Saya dijadikan pemimpin padahal saya bukan orang terbaik diantara kalian, jika kalian melihat saya di atas kebenaran maka tolonglah saya dan jika saya salah maka benarkanlah…” (Tarikhur rusul wal Muluk, at Thobary 3/203).

Dari Anas bin Malik bahwa ada seseorang dari Mesir datang menghadap kepada ‘Umar bin khoththob. Ia mengadukan bahwa dirinya pernah mengalahkan anaknya ‘Amr bin al Ash dalam suatu perlombaan lantas ia dicambuk seraya mengatakan :”Aku ini anak dua orang yang mulia!” (yaitu ‘Amr dan al Ash). Maka ‘Umar menulis surat kepada ‘Amr bin Al Ash yang pada waktu itu adalah gubernur Mesir untuk menghadap kepada ‘Umar dengan membawa anaknya. Tatkala mereka telah datang, Umar berkata kepada orang mesir tersebut :”Ambil cambuk itu dan pukullah anaknya dua orang yang mulia itu!” (Muntakhob Kanzil Ummal 4/420).

3. Persamaan hak dalam kepemimpinan jika ia memang ahlinya.

Di dalam Islam tidak boleh bagi seorang pemimpin untuk mempekerjakan atau menyerahkan amanah suatu jabatan kepada orang lain yang bukan ahlinya; hanya karena unsur nepotisme atau kolusi (lihat QS .an Nisaa’: 58).

Dari Abu Hurairoh Rasululloh bersabda: “Jika suatu urusan itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya” (HR. al Bukhori 59).  Dari Abu Dzar ia berkata: “Wahai Rasululloh, tidakkah engkau mau memberikan saya suatu jabatan? Maka Nabi menepuk pundaknya seraya berkata: “Wahai Abu Dzar engkau itu orang lemah, sedangkan jabatan ini adalah suatu amanah dan nanti pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang ahlinya dan ia menunaikan amanahnya” (HR. Muslim 1825).

4. Persamaan hak dalam kepemilikan, perlindungan dan kehormatan

Pada haji wada’ Nabi bersabda: “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram seperti haramnya hari ini” (HR. al Bukhori 67).

Barometer persamaan  di dalam Islam

Bukanlah yang dimaksud persamaan di dalam Islam itu yakni harus sama dalam segala hal karena perbedaan adalah suatu sunnatulloh yang mesti terjadi di muka bumi ini (QS. Al Israa’: 21). Tidaklah Islam membedakan manusia menurut warna kulit, bangsa, suku, bahasa, namun Islam membedakan mereka menurut amalan dan kemaslahatan mereka. Dari sisi amalan mereka ada yang muslim, ada yang kafir, ada yang beriman lagi bertakwa dan ada yang mukmin tapi berbuat maksiat dan seterusnya. Masing-masing dari mereka memiliki hukum tersendiri. Dari sisi kemaslahatan mereka, Islam membedakan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan kodrat dan asal penciptaan masing-masing. Islam melebihkan laki-laki daripada perempuan semata-mata untuk memuliakan perempuan itu sendiri bukan untuk merendahkan mereka karena siapapun tahu kalau laki-laki itu tidak sama dengan perempuan (QS. Ali Imraan: 36). Maka termasuk suatu kedzholiman kalau perempuan tersebut harus sama dengan lelaki dalam semua hal. Apalagi kalau ditilik secara seksama pengusung persamaan gender antara laki-laki dan perempuan tidak lain adalah bangsa Yahudi sebagaimana pernyataan salah seorang tokoh Yahudi (al Prutukulat hal.38) yang kemudian dilanjutkan oleh kaum sekuler tidak lain tujuannya adalah merusak kaum muslimin di seluruh dunia khususnya kaum wanita muslimah sehingga wanita menjadi barang dagangan yang dipamerkan di setiap iklan dan hanya menjadi obyek pelampiasan syahwat dan ambisi dunia (Makanatul mar’ah fil mujtama’ al muslim hal. 56-58).  Padahal Islam sangat memuliakan wanita muslimah. Diantara bentuknya:

  1. Alloh menjadikan wanita sebagai tanda-tanda kekuasaan Alloh (QS. Ar Ruum: 21).
  2. Rasululloh menjadikan mereka pengurus di dalam rumah suaminya.
  3. Alloh Ta’ala menjadikan wanita muslimah lebih utama dan mulia dari semua wanita kafir di dunia ini (QS. Al Hujurat: 13).
  4. Rasululloh menjadikan mereka sebaik-baik perhiasan dunia (HR. Muslim 1467).
  5. Mereka disetarakan dengan minyak wangi yang sangat harum (HR. an Nasa’I 5435). Dan masih banyak lagi bentuk pemuliaan wanita di dalam Islam.

Dalam sebuah majalah yang terbit di Perancis pernah dilakukan jajak pendapat dengan 5,2 juta wanita Perancis dari semua jenjang umur tentang pendapat mereka menikah dengan orang ‘Arab (muslim). Hasil dari kuisioner tersebut 90% menjawab : “Ya (Mau)” dengan alasan: mereka bosan harus sama dengan laki-laki di semua bidang, bosan harus pergi pagi dan kerja sampai sore di pabrik maupun kantor, bosan dengan kehidupan rumah tangga yang hanya bisa bertemu dengan suami tatkala tidur saja, bosan karena hanya bisa melihat anak-anaknya tatkala waktu makan saja dan alasan lainnya ( al ‘Udwan ‘alal Mar’ah ,Fuad Abdul Karim hal. 106).

Hal ini tidak lain karena Islam adalah agama yang adil di semua lini kehidupannya. Walhamdulillah.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *