Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Akhlaq / Mudaroh, akhlak orang bijak
KLIK UNTUK BERINFAK

Mudaroh, akhlak orang bijak

Mudaroh, akhlak orang bijak

Di dalam masyarakat kehidupan manusia sangatlah majemuk. Level manusia-nya pun berbeda-beda. Ada yang berpendidikan ( alim) dan ada orang awwam (jahil). Al hasil, jika tidak cerdas dalam bergaul dan berinteraksi maka seseorang akan mendapatkan banyak permasalahan di dalam masyarakat karena tidak semua yang boleh diucapkan dan dikerjakan pada orang-orang tertentu boleh untuk diucapkan atau dikerjakan pada orang lain. Maka selayaknya seorang muslim memiliki sifat Mudaroh.

Definisi Mudaroh

Mudaroh secara bahasa artinya mencegah atau menghindar (Lisanul Arob 1/71). Secara Istilah mudaroh adalah merendah di hadapan manusia, lembut dan tidak keras dalam berbicara.  Berkata al Hafidz: “Mudaroh adalah mencegah dengan lembut” (Fathul baari 10/528).

Dalil- dalil dianjurkannya bersikap mudaroh

Alloh Ta’ala berfirman tentang Nabi Musa:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS. Thaha: 44).

Berkata Ibnu Katsir : “Dalam ayat ini terdapat pelajaran yang sangat agung, dimana Fir’aun adalah orang yang super congkak dan sombong dan Musa adalah hamba pilihan Alloh pada waktu itu namun begitu Alloh menyuruhnya untuk tidak berbicara dengan Fir’aun kecuali dengan lembut dan lunak” (Tafsir Ibnu Katsir 5/294).

Dari ‘Urwah bin Zubair bahwasanya ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha pernah bercerita: “Ada seseorang yang minta izin kepada Nabi kemudian beliau berkata: “Izinkan dia, ia itu sejelek-jelek anak suatu kaum atau saudara suatu kaum. Tatkala orang itu masuk beliau melembutkan bicaranya. ‘Aisyah berkata: “Wahai Rasululloh, engkau mengatakan sesuatu kemudian melembutkan bicara dengannya”? Beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya orang yang paling jelek di sisi Alloh adalah orang yang ditinggalkan dan dijauhi orang banyak karena khawatir akan kejelekannya” (HR. al Bukhori 6054, Muslim 2591).

Berkata al Qodhi : “Orang itu adalah ‘Uyainah bin Hishnin, ia belum masuk Islam pada waktu tersebut sekalipun sudah menampakkan keislamannya. Namun Nabi ingin menjelaskan keadaannya yang sebenarnya supaya orang tidak terpedaya. Hal ini terjadi tatkala nabi masih hidup dan setelah itu – yang menunjukkan akan lemahnya imannya- ia murtad dan menjadi tawanan Abu bakr. Hadits ini menunjukkan disyaria’atkannya mudaroh terhadap orang yang dikhawatirkan kejahatannya dan bolehnya menggibah orang fasiq yang memamerkan kefasikannya (Syarh Shohih Muslim 16/144). Berkata al Munawi : “Hadits ini merupakan dasar dianjurkannya mudaroh untuk menolak hal yang negatif dan mencari kemaslahatan. Jika tidak ada manfaatnya maka tidak disyari’atkan” (Faidhul Qodiir 2/454).

Perbedaan antara Mudaroh dan Mudahanah (bermuka dua, menjilat)

Berkata al Qurthubi : “Mudaroh adalah mencurahkan dunia untuk kemaslahatan dunia dan agama sedangkan Mudahanah adalah meninggalkan agama untuk kebaikan dunia” (Fathul Baari 10/454).

Berkata Ibnu Baththol : “Mudahanah adalah bergaul dengan orang fasiq dan ridho dengan perilaku mereka tanpa ada pengingkaran, sedangkan Mudaroh adalah berlemah lembut dalam mengajarkan orang awwam dan melarang perbuatan orang fasiq, dan meninggalkan cara keras kepadanya selama ia tidak menampakkannya dan mengingkarinya dengan perkataan dan cara yang halus lebih-lebih lagi jika orang tersebut butuh untuk dilunakkan hatinya” (Fathul Baari 10/528).

Bentuk-bentuk Mudaroh

Mudaroh bukanlah akhlak yang terus menerus harus dilakukan. Ia dibutuhkan untuk menghadapi orang-orang tertentu dan pada situasi dan kondisi tertentu pula. Diantaranya:

a. Menjaga diri dari orang-orang jahat dan buruk jika mau tidak mau harus bergaul dan berinteraksi mereka.

Abu Darda’ pernah berkata: “Kita terkadang tersenyum dan tertawa di depan orang-orang padahal hati kita melaknatnya” (Diriwayatkan oleh al Bukhori secara mu’allaq  sebelum hadits 6131).

b. Dalam berinteraksi dengan rakyat atau bawahan

Berkata ‘Umar bin al Khoththob: “Pergauilah manusia dengan akhlak dan menyingkirlah dari mereka dengan beramal sholih” (Mudarotun naas, Ibnu abi dunya hal.37).

Berkata Mu’awiyyah : “Seandainya antara saya dan manusia ada rambut maka tidak akan pernah terputus. Ada yang berkata: “Bagaimana hal itu bisa?”. Ia menjawab: “Karena jika mereka membentangkannya maka saya akan mengendorkannya dan jika mereka memutuskannya maka saya akan menyambungnya” (Raudhotul ‘Uqola’ hal.72). Karena manusia sangat bervariasi maka pemimpin butuh mudaroh untuk mempersatukan mereka, sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka, menunjuki orang-orang yang sesat dan mengajarkan orang-orang yang jahil. Terlebih lagi jika mereka adalah orang-orang terpandang dan dijadikan tokoh maka pemimpin perlu mudaroh untuk kemaslahatan ummat ( Bada’ius salki fi thobai’iul muluki, Ibnu Azroq 2/16).  

c. Takut dari orang kafir dan tidak mampu menghadapi mereka

Alloh Ta’ala berfirman yang artinya: “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (penolong, teman akrab) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka” (QS. Ali ‘Imraan: 28).

Berkata Syaikh as Syinqity: “Ketika kondisi takut dan untuk bersiasat maka diberikan keringanan untuk muwalaat (menjadikan mereka teman) seukuran mudaroh untuk menghindar dari kejelekan mereka namun disyaratkan bathin harus selamat dari hal tersebut” (Adhwaul bayan 1/413).

d. Mendakwahi manusia dan penguasa

Kebanyakan keadaan orang yang sombong dan keras kepala dari menerima nasihat secara langsung atau diperingatkan secara keras dikarenakan mereka melihat dirinya memilki kemuliaan dan kekuasaan. Oleh karena itu yang lebih utama adalah mudaroh dan bersikap lembut dalam berbicara dengan mereka sampai ia kembali kepada kebenaran atau sekedar agar terhindar dari kejahatannya tanpa harus meninggalkan batasan-batasan agama (Bada’isu salki fi Thoba’i’ul muluki 1/326).

e. Mudaroh terhadap kedua orang tua.

Alloh Ta’ala berfirman yang artinya: Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. Luqman: 15). Jika kita dianjurkan mudaroh dalam mendakwahi orang lain maka orang tua juga lebih layak mendapatkannya.

f. Mudaroh kepada istri

Rasululloh bersabda: “Wanita seperti tulang rusuk, jika engkau luruskan maka ia akan patah dan jika engkau bersenang-senang dengannya maka engkau bersenang-senang dengan sesuatu yang bengkok” (HR. al Bukhori 5184, Muslim 1468 dari Abu Hurairoh).

Dari Yunus, ia berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa Ibnu ‘Abbas pernah berkata: “Wanita adalah aurat dan mereka diciptakan sebagai makhluk yang lemah maka tutuplah auratnya dengan mendiamkannya di rumah dan hindarkanlah sifat lemahnya itu dengan banyak diam” (Mudarotun Naas, Ibnu abi Dunya 140).

Abu Darda’ pernah berrkata kepada istrinya: “Jika aku marah maka ridholah kepadaku dan jika engkau marah maka aku akan meridhoimu, jika tidak begitu maka alangkah cepatnya kita akan berpisah” (Raudhotul Uqola 72, Tarikh Dimasyqo, Ibnu ‘Asakir 70/151). Wallohul muwaffiq.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *