Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Pendidikan Islam / Metode Menghukum menurut Timbangan Syar’i
KLIK UNTUK BERINFAK

Metode Menghukum menurut Timbangan Syar’i

Metode Menghukum menurut Timbangan Syar’i

Definisi Hukuman (الْعِقَابُ )

Secara bahasa Hukuman adalah balasan dari perbuatan yang tidak baik (Lisanul ‘Arob, Ibnul Mandzhur 9/305, al Qomus al Muhith, al Fairuz Abadi 1/142).

Menurut istilah Syar’i hukuman bisa bermakna siksaan (Mufrodat Alfadzil Qur’an, al Ashfahani 575). Berkata Abdul Qodir ‘Audah : “Hukuman adalah balasan yang telah ditetapkan oleh Syari’at untuk kemaslahatan orang banyak karena melanggar aturan syar’i” (at Tasyri’ al Jina’i al Islamy 1/609).

Adapun Hukuman menurut istilah Pendidikan adalah salah satu  jenis balasan fisik atau  maknawi yang diterapkan untuk mengatasi perilaku yang menyimpang dengan tujuan untuk meluruskan dan mengarahkannya guna memperkecil kemungkinan akan terjadi di masa yang akan datang (Ta’dilus Suluk al Insani, Jamal al Khotiib hal. 27).

Dalil-dalil disyariatkannya menghukum

Alloh Ta’ala berfirman (artinya) :

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (pembangkangannya), Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. (QS. an Nisaa’: 34).

Berkata al Imam as Syafi’i: “Memukul mereka hukumnya mubah (diperbolehkan) bukanlah wajib dan kita memilih sebagaimana yang dipilih oleh Nabi (yakni tidak memukulnya) “ (al Umm 5/194).

Dari ‘Amr ibni Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya ia berkata: “Rasululloh r bersabda: “ Perintahkan anak kalian untuk sholat jika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka jika meninggalkannya tatkala berumur sepuluh tahun dan pisahkan mereka di tempat tidurnya” (HR. Abu Dawud 495, Shohih Abi Dawud 495).

Berkata Ibnu Qudamah: “Perintah untuk mendidik anak adalah untuk membiasakannya dan agar tidak meninggalkannya jika telah memasuki usia baligh dan bukanlah maksudnya mereka sudah wajib untuk melakukannya” (al Mughni 2/350).

Menghukum anak yang belum Baligh (Belum Mukallaf)

Sabda Nabi r : “Pena diangkat dari tiga orang, anak kecil sampai ia baligh…” menunjukkan beberapa hal:

  1. Anak kecil tidak diwajibkan dalam urusan-urusan agama seperti sholat, puasa, zakat, dan lainnya yang mensyaratkan harus mukallaf (baligh). Jika ia meninggalkannya maka tidaklah mendapatkan dosa di akhirat namun harus dibiasakan sejak dini untuk melakukan sholat dan amal sholih yang lainnya.
  2. Jika anak tersebut melakukan tindakan pelanggaran hukum seperti mencuri, berzina, minum khomer dan lainnya, tidaklah dihukum had seperti potong tangan, dicambuk dan lainnya namun tetap diberikan hukuman peringatan agar menjauhi perbuatan tersebut.

Berkata  Syaikhul Islam: “Anak kecil perlu dihukum jika melakukan perbuatan yang buruk atau meninggalkan amalan-amalan yang ia butuhkan untuk kemaslahatan hidupnya” (Dar’u Ta’arudil ‘Aql wan Naql 9/64).

  1. Apabila anak kecil menghilangkan jiwa orang lain atau merusak dan menghilangkan harta orang lain maka ia (atau walinya) tetap dibebankan untuk mengganti. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “ Diangkatnya beban syari’at bagi anak kecil maknanya adalah ia tidak berdosa dan bukan tidak mengganti sebagaimana ini adalah kesepakatan kaum muslimin” (Minhajus Sunnah 6/50).
  2. Berkata asy Syaukani : “Diangkatnya pena dari anak kecil yang belum baligh bukan berarti mereka tidak mendapatkan pahala jika mengerjakan perbuatan baik” (as Sailul Jaror 1/73).

 

Hukum seorang Guru/Pendidik menghukum murid/ anak didiknya

Sebagian ulama berpendapat bahwasanya tidak boleh menghukum selain Imam (Waliyul Amri) kecuali tiga orang yaitu orang tua kepada anaknya, majikan menghukum budaknya dan suami menghukum istrinya (Subulus Salaam, as Shon’ani 7/228). Namun mayoritas ulama membolehkannya jika ada maslahatnya untuk anak didik dengan ketentuan dan koridor syar’i yang berlaku (al Majmu’, an Nawawi 13/288, al Mughni, Ibnu Qudamah 8/116, al Bahru Roo’iq, Zaenuddin ibnu Nujaim 8/17). Hal itu karena guru atau pendidik adalah perpanjangan tangan dari orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Dari Abu Hurairoh, Rasululloh r bersabda:

إِنَّما أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ، أُعَلِّمُكُمْ…

Sesungguhnya aku adalah seperti orang tua kalian, aku mengajarkan kalian...(Shohih Abi Dawud 8).

Apakah pendidik menanggung hukuman jika sampai menyakiti atau menyiksa anak didiknya?

Jika hukuman tersebut menimbulkan bahaya bagi sang anak seperti melukai, mematahkan atau membunuh maka sang pendidik harus menanggungnya jika itu terjadi karena kelalaiannya atau telah melampaui batasan syar’i sekalipun diizinkan oleh orang tua sang anak atau tidak diizinkan, namun jika ia menghukum sesuai dengan yang disyari’atkan  kemudian terjadi sesuatu pada sang anak maka ia tidaklah menanggung apa-apa ( al Mughni 8/16, al Muharror fil Fiqh 1/358).

Kaidah-kaidah penting dalam menghukum

  1. Memaafkan lebih baik daripada menghukum.

Tatkala manusia dilahirkan dengan sifat suka lupa dan keliru baik disengaja maupun tidak, maka syari’at menuntun kita untuk lebih banyak memaafkan apalagi terhadap orang yang kelihatannya baik. Abdulloh bin ‘Amr berkata mensifati Rasululloh r : “ Beliau tidak membalas kejelekan dengan kejelekan tetapi  beliau memaafkan dan mengampuni…”(HR. al Bukhori 2018).

Dari ‘Aisyah Rasululloh r bersabda: “Maafkanlah ketergelinciran orang-orang yang sholih kecuali dalam hukuman had” (Shohih Sunan Abi Dawud 4370).

  1. Tabayyun (mencari kejelasan masalah) sebelum menimpakan hukuman.

Dalil-dalil syar’i sangat menekankan kita untuk tabayyun terlebih dahulu sebelum mengeluarkan suatu keputusan atau hukum baik dalam urusan dunia maupun agama agar hukum atau keputusan tersebut lurus, bijaksana dan sesuai dengan kebenaran apalagi jika berkaitan dengan hak-hak orang lain. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS. al Hujuraat: 6).

Rasululloh r memuji Asyja’ Abdul Qo’is dengan sabdanya: “Ada dua perangai yang Alloh suka padamu yaitu al Hilmu wal ‘Anah” (HR. Muslim 17). Berkata Ahmad al Utsmani: “al Hilmu adalah berakal dan al ‘Anah maknanya mencari kejelasan berita dan tidak tergesa-gesa” (Fathul Mulhim Syarh Shohih Muslim 1/553).

  1. Mengetahui Faktor Pendorong Perbuatan Yang Tidak Baik Tersebut

Pendorong melakukan perbuatan yang tidak baiklah sangatlah banyak baik itu intern maupun ekstren. Bisa jadi seorang anak melakukan suatu perilaku yang tidak baik karena ia lupa, terpaksa, atau menganggap hal itu sesuatu yang wajar saja karena lingkungannya terbiasa begitu. Maka tidaklah adil manakala seorang pendidik menimpakan hukuman yang sama kepada dua orang yang satunya tidak sengaja atau tidak mengetahui bahwa hal itu terlarang  dan satunya sengaja dan tahu hukum.

Rasululloh r tidaklah menghukum Hatib ibnu Abi Balta’ah yang mengirim berita kepada kaum Quraisy tentang kedatangan Nabi ke Mekkah. Beliau bertanya kepada Hatib apa yang mendorongnya melakukan perbuatan itu, maka Hatib menjawab: “…Aku ingin ada diantara mereka yang melindungi kerabatku. Tidaklah aku melakukannya karena ingkar maupun murtad, tidak juga karena ridho dengan kekufuran setelah Islam” (HR. al Bukhori 2845).

  1. Memberikan hukuman kepada pelakunya bukan kepada semua orang yang tidak terlibat di dalamnya.

Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):

dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain (QS. al Israa’: 15).

Alloh ‘Azza wa jalla pernah menegur seorang Nabi (ada yang mengatakan ‘Uzair atau Musa) yang membakar sarang semut karena digigit oleh satu ekor semut. Abu Hurairoh berkata: “Aku mendengar Rasululloh r bersabda: “Seekor semut pernah menggigit salah seorang Nabi maka ia memerintahkan untuk membakar kampung semut itu. Maka Alloh mewahyukan kepadanya: “Bahwasanya karena gigitan satu semut engkau membakar salah satu ummat yang bertasbih” (HR. al Bukhori 2856).

Dari Tsa’labah ibnu Zahdam al Yarbu’iy ia berkata: “ Rasululloh r pernah berkhutbah pada sebagian orang-orang Anshor, kemudian mereka berkata: “Wahai Rasululloh mereka adalah Bani Tsa’labah ibnu Yarbu’ yang telah membunuh seseorang pada waktu jahiliyyah”! Maka Nabi bersabda dengan mengeraskan suaranya: “Ketahuilah, bahwasanya suatu jiwa tidak menanggung dosa jiwa yang lainnya” (HR. an Nasa’i  4833, Shohih Sunan an Nasa’i  4848).

Berkata al Ayyubi: “Maknanya orang yang membunuhnya tidak bersama mereka maka tidak pantas mereka dihukum karena ulah tetangga mereka karena suatu jiwa tidaklah menanggung dosa orang lain karena pelanggaran itu hanya terbatas dilakukan orang tersebut” (Dzakhirotul Uqba fi Syarhi al Mujtaba, Muhammad ibnu ‘Ali al Ayyubi 36/258).

Maka tidak pantas jika karena ulah satu orang, semua anak didik dikenakan hukuman.

  1. Menyesuaikan hukuman dengan kondisi pelaku baik dari jenis maupun jumlah hukuman.

Dari Hisyam ibnu Hakim ibnu Hizam bahwasanya ia pernah melewati beberapa orang yang sedang dijemur diterik matahari dan kepalanya dituangkan dengan minyak maka ia bertanya: “Apa ini?” Ada yang menjawab: “Mereka sedang disiksa” Hisyam berkata: “Saya pernah mendengar Rasululloh r bersabda: “Sesungguhnya Alloh akan menyiksa orang-orang yang menyiksa orang lain di dunia” (HR. Muslim 2613).

Dari Abu Hurairoh Rasululloh r bersabda: “Barangsiapa yang dzhalim dalam memukul di dunia maka ia akan dibalas nanti pada hari kiamat” (HR. al Bukhori dalam ‘Al Adabul Mufrod’ 186).

Berkata Ibnul Qoyyim al Jauziyyah: “ Hukuman berbeda-beda jenis dan sifatnya tergantung jenis pelanggaran apakah besar atau kecil dan disesuaikan dengan kondisi pelakunya” (at Thuruqul Hukmiyyah fis Siyasah as Syar’iyyah hal.234).

  1. Pertengahan dalam menghukum maupun memuji anak didik

Seorang pendidik haruslah memberikan porsi yang seimbang dalam menghukum maupun menyanjung. Janganlah karena seorang anak pernah melakukan kesalahan lantas ia tidak suka bahkan membenci anak tersebut selamanya. Sebaliknya anak yang ia sukai berlebihan dipuji di depan teman-temannya sehingga terkadang menutup mata dari kesalahan anak emasnya tersebut.

Rasululloh menuntun kita untuk selalu pertengahan dalam semua urusan. Beliau r bersabda: “Tidak ada yang berlebihan dalam urusan agama kecuali ia pasti akan kalah” (HR. al Bukhori 39). Al Hasan al Bashri pernah berkata: “Jiwa kalian ini adalah perbekalan kalian, maka perbaikilah jiwa-jiwa kalian niscaya ia akan menyampaikan kalian kepada Robb” (Fathul Baari, Ibnu Rojab 1/140).

Dari Abi Bakroh ia berkata: “Ada seseorang yang memuji orang lain di dekat Nabi maka Nabi berkata: “Celaka engkau, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu (beliau mengucapkannya berulang kali). Kemudia beliau berkata: “Barangsiapa yang mau ndak mau memuji saudaranya maka ucapkanlah: “Menurut saya si fulan; dan Alloh yang lebih mengetahuinya dan aku tidak merekomendasikan seseorang pun atas Alloh… (HR. al Bukori 2519). Berkata Ibnu Baththol : “Beliau mengatakan seperti itu agar seseorang tidak terpedaya dengan banyaknya pujian dan merasa memiliki keagungan di tengah manusia sehingga ia pun lalai dari menambah kebaikan. Hal itu membuka peluang bagi syaithon sehingga ia  tidak tawadhdhu’ (Syarh Shohih al Bukhori 8/48).

  1. Adil dalam memberikan hukuman

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha Rasululloh r bersabda: “ Yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah jika yang mencuri orang-orang terpandang mereka biarkan dan jika yang mencuri orang-orang jelata maka diberlakukan hukuman, demi Alloh seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri akan saya potong tangannya” (HR. al Bukhori 3288).

Seorang pendidik hendaknya lebih mengutamakan teladan daripada perasaan, lebih mendahulukan pedoman daripada keseganan. Janganlah karena si anak didik adalah anaknya Kepala Sekolah, Mudir (Pimpinan), Pengurus Yayasan atau pejabat lantas berat untuk dihukum atau hukumannya diringankan. Di satu sisi, pihak orang tua jangan memberikan kesempatan kepada anaknya untuk merasa dirinya ‘aman’ dari sanksi gurunya  karena akan mengancurkan anaknya sendiri. ‘Umar bin al khoththob pernah mengumpulkan kelurganya dan berkata: “Demi Alloh tidaklah aku mendapati salah seorang kalian melakukan (yang terlarang)  melainkan aku akan lipatgandakan hukumannya” (Taarikhul umam wal muluk at Thobary  2/68, al Kaamil fit taarikh ibnul Atsir 3/31).

  1. Bertahap dalam memberikan hukuman

Diantara tahapan yang harus dilalui seorang pendidik dalam memberikan hukuman adalah:

a. Menasehati dan memberikan arahan

Seorang anak terlahir dalam keadaan fitroh (lurus). Tatkala ia menyimpang maka yakinlah ia akan bisa diluruskan lagi dengan nasehat yang bijak. Janganlah seorang pendidik beranggapan bahwa tidak ada cara yang jitu untuk menghadapi anak yang  bermasalah selain menghukumnya.

Nabi pernah menasehati ‘Umar ibnu Abi Salamah yang masih kecil yang makan sembarangan: “Wahai nak, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah yang terdekat” (HR. al Bukhori 5061).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan nasehat kepada anak didik:

  1. Memahami dan menentukan tujuan dalam memberikan nasehat.

Berkata Syaikhul Islam: “(Orang yang menasehati) hendaklah memiliki tiga hal yaitu berilmu, lembut, dan sabar. Berilmu sebelum amar ma’ruf nahi munkar, lembut dalam melakukannya dan bersabar setelahnya” (al Hasbah fil Islam hal. 84).

  1. Ikhlas dalam menasehati agar berpengaruh ke dalam hati sang anak.

Berkata Ibnu Qoyyim: “Ikhlas adalah pembersih jiwa dari segala kotorannya” (Madaariijus Salikin 2/93).

  1. Yang memberikan nasehat adalah orang yang bisa dijadikan teladan dalam ucapan dan perbuatannya.

Berkata Hamdan ibnu Suhail al Balkhi: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang jika dilihat oleh orang lain maka orang-orang akan berdzikir kepada Alloh; selain al Qon’abi” (Siyar ‘Alaam an Nubalaa 10/262). Hal tersebut karena kepribadian al Qon’abi yang sangat memberikan pengaruh kepada siapa saja yang melihatnya.

  1. Menasehati empat mata.

Dari Abdulloh ibnu Malik ibnu Buhainah ia berkata: “ Rasululloh pernah melewati seseorang yang sedang sholat sedangkan sudah diiqomati maka Nabi mengajaknya berbicara dengan sesuatu yang kami tidak tahu. Tatkala sholat telah usai kami pun mengelilingi orang tersebut sambil bertanya: “Apa yang Rasululloh katakan kepadamu?” Beliau berkata kepadaku: “Hampir-hampir kalian ini sholat subuh empat roka’at” (HR. Muslim 711).

  1. Menasehati secara tidak langsung (sindiran).

Rasululloh terkadang memakai sindiran untuk menasehati para sahabatnya. Dari Abu Hurairoh bahwasanya Rasululloh melihat dahak di arah kiblat lantas beliau menghadap orang-orang seraya bekata:  “Kenapa salah seorang kalian  berdiri menghadap Robbnya kemudian meludah ke depannya…?” (HR. Muslim 550).

Berkata Nujaib Kholid ‘Amir: “Mengatasi kekeliruan dengan sindiran akan menjaga harga diri anak didik diantara teman-temannya sehingga berguna untuk mengantisipasi keminderan yang dapat menyebabkan penyakit jiwa yang berbahaya” (Min Asalibir Rosul fit Tarbiyyah, Nujaib ‘Amir  hal. 30).

  1. Menasehati secara langsung dengan lemah lembut.

Jika dengan sindiran belum membuahkan hasil, diperkenankan menasehati secara langsung dan tidak hanya sekali dalam menasehati.

  1. Mengarahkan pengganti dari akhlak yang tidak baik tersebut.

Dari ‘Ammi Abi Rofi’ al Ghifari ia berkata: “Ketika masih kecil, saya melempar kurma milik orang Anshor kemudian saya dibawa kepada Nabi dan beliau berkata: “Nak, kenapa engkau melempar pohon kurma itu?” Ia pun menjawab: “Untuk saya makan!”. Beliau berkata: “Jangan melemparnya dan makanlah yang jatuh di bawahnya saja”. Kemudian beliau mengusap kepalanya seraya berdo’a: “Ya Alloh kenyangkanlah perutnya” (HR. Abu Dawud 2622).

  1. Nasehat harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak.

Dari Anas bin Malik bahwasanya ada seseorang pernah bertanya kepada Nabi: “ Wahai Nabi, bagaimana orang kafir akan dibangkitkan di atas wajah mereka nanti pada hari kiamat?” Beliau menjawab: “ Bukankah Alloh yang membuat mereka bisa berjalan di atas kakinya kuasa juga untuk menjalankan mereka di atas wajahnya?” (HR. al Bukhori 4482). Berkata Imam as Syafi’i menceritakan tentang guru beliau Muhammad bin al Husain: “ Seandainya Muhammad bin al Husain menjelaskan kita sesuai dengan pemahamannya maka kita tidak akan memahaminya namun karena ia menjelaskan sesuai dengan tingkat pemahaman kita akhirnya kita pun menjadi paham” (al Adab as Syar’iyyah 2/151).

  1. Memilih waktu yang tepat

Berkata Abdul ‘Aziz as Sulamy: “Nasehat jika terlalu banyak tidak akan berbekas pada jiwa sehingga mayoritasnya seperti angin lalu” (Qowa’idul Ahkam fi Ishlahil Anaam 2/343).

b. Membenarkan kesalahan dengan praktek langsung

Hal ini dicontohkan oleh Nabi sebagaimana dalam riwayat al Imam al Bukhori dari Abu Hurairoh bahwasanya Rasululloh r memasuki masjid kemudian ada seseorang memasuki masjid lalu sholat. Orang itu mengucapkan salam kepada Nabi dan nabi pun menjawabnya dan berkata: “Kembalilah sholat karena engkau belum sholat!”. Kemudian ia kembali sholat dan menemui nabi seraya mengucapkan salam. Nabi berkata: “Kembalilah sholat karena engkau belum sholat!”. Hal itu berulang sampai tiga kali. Orang itu pun berkata: “Demi Alloh yang mengutusmu dengan kebenaran aku tidak bisa selain itu, ajarkanlah aku”. Nabi berkata: “Jika engkau akan sholat maka bertakbirlah…(beliau pun menjelaskan tata cara sholat yang benar) (HR. al Bukhori 274).

c. Metode Kritik

Metode ini bisa dalam bentuk memberikan respon berupa ketidaksenangan atau tidak terima dengan perbuatan anak didik tersebut atau kritik disertai peringatan.

Dari Abdulloh ibnu Zaid ibnu ‘Ashim ia berkata: “Tatkala Alloh memberikan harta rampasan perang Hunain kepada RasulNya, beliau membagi-bagikannya kepada orang-orang yang dijinakkan hatinya untuk memeluk Islam dan tidak memberikan sedikitpun bagi kaum Anshor. Hal itu membuat ada sesuatu di dada mereka. Maka Nabi berkhutbah kepada mereka: “Wahai kaum Anshor, bukankah kalian dahulu sesat lalu Alloh memberikan kalian petunjuk karena saya!” , Dahulu kalian berpecah belah lalu Alloh menyatukan hati kalian karena saya!”,  Kalian dahulunya miskin maka Alloh memberikan kekayaan karena saya!”, setiap kali Nabi berkata  sesuatu mereka menjawab: “Kami beriman kepada Alloh dan RasulNya”… “Apakah kalian suka jika orang-orang itu pergi membawa kambing dan unta-unta itu sementara kalian kembali ke kampung kalian bersama saya?”…(HR. al Bukhori 4075). 

Demikian pula Nabi pernah mengkritik keras perbuatan Usamah bin Zaid yang membunuh seseorang yang mengucapkan “Laa ilaaha illalloh” hanya karena prasangka orang tersebut mengucapkannya agar tidak dibunuh. Beliau berkata kepadanya: “Wahai Usamah apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa ilaaha illalloh…!?” Beliau terus mengulangi perkataannya tersebut…

Namun dalam hal mengkritik janganlah berlebihan. Anas bin Malik berkata: “Nabi bukanlah orang yang suka mengumpat, berkata kotor dan suka  melaknat…” (HR. al Bukhori 5684).

d. Metode Ancaman

Beberapa variasi metode ancaman dalam al Qur’an dan Sunnah Nabi diantaranya:

  1. Ancaman ma’nawi

Dari Abdulloh ibnu ‘Umar dan Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhuma bahwasanya mereka berdua pernah mendengar Nabi r bersabda; diantara tiang mimbarnya-,: “Hendaknya berhenti orang-orang yang meninggalkan sholat jum’at atau Alloh akan menutup hati mereka sehingga mereka termasuk orang-orang yang lalai” (HR. Muslim 865).

  1. Ancaman materi

Tatkala Ghoilan ibnu Tsalamah ats Tsaqofi membagi-bagi warisan dengan anaknya dan menceraikan istri-istrinya agar mereka tidak mendapat bagian, ‘Umar pun mengancamnya seraya berkata: “Demi Alloh! Kamu segera ruju’ dengan istri-istrimu dan memberikan mereka bagian hartamu atau aku yang akan mewariskan mereka (secara paksa) dan aku akan memerintahkan untuk menggali kuburanmu dan engkau akan dirajam sebagaimana kuburnya Abu Righal” (HR. Ahmad 8/252 dengan sanad yang shohih). Abu Righal adalah penunjuk jalan raja Abrahah ketika menyerang al Haram sehingga orang-orang Arab merajam (melempari) kuburannya.

  1. Ancaman untuk mengusir dan mengisolasinya

Dari ibunda ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha bahwasanya telah sampai berita kepada beliau tentang sebagian orang yang menyimpan permainan dadu di rumahnya. Maka ‘Aisyah mengingkarinya dengan keras seraya berkata: “Jika mainan itu tidak kalian keluarkan maka kalian yang akan saya keluarkan dari rumahku!” (Shohih al Adabul Mufrod 962).

  1. Ancaman dengan hukuman fisik

Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma berkata bahwasanya: “Nabi menyuruh untuk menggantungkan cambuk di dalam rumah” (Shohih al adabul Mufrod 933).

e. Metode Hajr (Mencuekin)

Beberapa bentuk dari cara ini adalah:

  1. Pura-pura tidak mendengar

Dari Sa’d ibnu Abi Waqqash bahwasanya Rasululloh pernah memberi sekelompok orang dimana saat itu Sa’d sedang duduk. Rasululloh tidak memberikan seseorang yang aku anggap lebih pantas menerimanya. Maka saya berkata: “Wahai Rasululloh, Mengapa engkau tidak memberikan si fulan?”, “Demi Alloh saya melihatnya seorang mu’min atau muslim”. Beliau terdiam sejenak (kemudian Sa’d mengulangi lagi ucapannya itu sampai tiga) dan beliau pun diam. Kemudian Nabi berkata: “Wahai Sa’d, aku memberikan seseorang atau yang lainnya lebih aku sukai daripada ia dilemparkan ke neraka” (HR. al Bukhori 27).

  1. Tidak mau menemuinya

Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma ia berkata: “Nabi mendatangi rumah Fatimah namun tidak mau masuk. Datanglah ‘Ali bin Abi Thalib kemudian menanyakan perihal itu. Nabi berkata: “ Saya melihat di pintunya ada tirai yang berbordir”, Apa yang aku butuhkan dari dunia ini”?…(HR. al Bukhori 2471). Berkata al Mihlab: “Nabi tidak menyukai bagi puterinya apa yang tidak disukai bagi dirinya berupa disegerakannya kemewahan di dunia bukan karena tirai haram” (Fathul Baari 5/548).

  1. Tidak menjawab salam

Sebagaimana Nabi tidak menjawab salam tiga orang sahabat yang tidak ikut perang Tabuk dan peristiwa-peristiwa yang lainnya.

Disyaratkan Metode hajr ini :

  • Jika berpotensi membuahkan hasil dengan melihat dampak positif dan negatifnya.
  • Tidak didasarkan emosi pribadi
  • Dilakukan dengan cara yang baik
  • Tidak boleh melebihi tiga hari jika dalam waktu tersebut terjadi perubahan. Berkata Ibnul Qoyyim: “Jangan melebihi ukuran dan aturan karena tujuan menghajr adalah mendidik bukan menghancurkan” (Zaadul Ma’ad 3/506).

f. Hukuman Fisik (Memukul)

Diantara bentuk-bentuk hukuman fisik:

  1. Menahan atau memenjarakan dalam waktu tertentu

Hal ini dipraktekkan oleh Nabi tatkala mengikat Tsumamah ibnu Utsal di masjid selama tiga hari sampai akhirnya Tsumamah memeluk Islam (HR. al Bukhori 4114). Dari Bahaz ibnu Hakim dari Mu’awiyyah dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya “Nabi pernah menahan seseorang yang dijadikan tersangka karena suatu kasus beberapa jam kemudian membebaskannya” (HR. al Baihaqi 6/53, Shohih Sunan Abi Dawud 3630).

  1. Menarik atau Menjewer telinga

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma bahwasanya ia menceritakan dirinya yang pernah ikut sholat tahajjud bersama Nabi ia berkata: “Lalu aku pun bangun dan mengikuti beliau. Aku berdiri di samping beliau kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku kemudian menjewer telinga kananku…”(HR. al Bukhori 181). Dalam riwayat yang lain ia berkata: “Setiap kali aku tertidur beliau menarik daun telingaku” (Syarh Muslim an Nawawi 6/42). Menjewer atau menarik di sini tidaklah dilakukan dengan keras terutama pada anak-anak, cukup dengan menekankan ujung jari jemari agar ia sadar dan kembali konsentrasi (al Asaalib at Tarbawiyyah hal. 353).

  1. Memukul telapak tangan dengan tangan.

Dari Tsauban ia berkata: “Telah datang Bintu Hubairoh kepada Rasululloh dan di tangannya ada cincin emas yang mahal maka Rasululloh memukul tangannya” (Shohih Sunan An Nasa’i 5155).  Beliau melakukan hal tersebut agar bintu Hubairoh zuhud dengan dunia bukan maksud beliau perhiasan emas haram bagi wanita.

  1. Memukul pundak dengan tangan

Dari  Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma ia berkata: “Aku pernah bermain dengan anak-anak kemudian datanglah Rasululloh, lantas aku bersembunyi di balik pintu kemudian beliau memukul ringan pundakku sekali seraya berkata: “Pergilah panggilkan saya Mu’awiyyah…”(HR. Muslim 2604).

  1. Memukul di atas dada dengan tangan

Rasululloh pernah keluar ke kuburan Baqi’ pada malam hari untuk mendo’akan penghuninya. Kemudian ‘Aisyah diam-diam menguntit dari belakang. Tatkala Nabi pulang beliau mengetahui jika ‘Aisyah yang mengikutinya lantas beliau pun memukul dada ‘Aisyah karena tidak suka dengan perbuatan tersebut sebagaimana dalam riwayat Muslim (974). Memukul di sini adalah dengan menghentakkan tangan ke dada (an Nihayah fi Ghoribil Hadits hal. 211). 

Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma ia berkata: “Rasululloh bersabda: “Izinkan wanita malam hari ke masjid”. Berkata anaknya yang bernama Waqid: “Kalau begitu itu adalah sumber kerusakan!”. Maka Ibnu ‘Umar memukul dada anaknya seraya berkata: “Aku menyampaikan hadits Rasululluh sementara engkau mengatakan:”Tidak!?” (HR. Muslim 442).

  1. Memukul tangan dengan tongkat

Dari Abi Idris bahwasanya “Nabi pernah melihat di tangan seorang laki-laki cincin emas maka Nabi memukul jarinya dengan tongkat sampai orang itu melempar cincin tersebut” (Shohih Sunan an Nasa’i  5208).

Beberapa syarat dalam memukul anak:

a. Pukulan untuk mendidik anak yang masih kecil maksimal 3 kali. Jika umurnya lebih besar boleh ditambah namun tidak boleh melebihi 10 kali.

Dari  Abi Burdah bahwasanya Rasululloh bersabda: “Tidak boleh memukul lebih dari sepuluh kali kecuali jika dalam hukuman Had” (HR. al Bukhori 6456). ‘Umar bin Abdil ‘Aziz pernah menulis surat ke daerah-daerah yang isinya: “Tidak boleh seorang pengajar memukul lebih dari tiga kali karena akan membuat anak ketakutan”. Ad dhohak berkata: “Tidaklah seorang guru memukul anak lebih dari tiga kali kecuali itu adalah bentuk Qishos” (Syurutu Dorbi atbThifli Fis Sunnah wa salaf )

b. Pukulan tersebut tidak boleh menimbulkan luka

Memukul ibarat garam dalam masakan. Sedikit sudah cukup sedangkan banyak akan merusak. Rasululloh bersabda: “…Pukullah mereka dengan tidak menimbulkan luka” (HR. at Tirmidzi 1163).

c. Tidak boleh memukul wajah, kemaluan, kepala, perut dan tempat-tempat vital lainnya karena tujuannya mendidik bukan membinasakan. Nabi bersabda: “Jika kalian memukul maka hindarilah wajah” (HR. abu Dawud 4493). Sebagian salaf berpendapat bahwasanya tempat paling berpengaruh untuk dipukul adalah tangan dan kaki.

d. Alat yang dipakai memukul adalah pertengahan tidak boleh keras atau tajam, tidak juga terlalu ringan seperti spon dan tidak terlalu basah tidak juga terlalu kering (lapuk).

Berkata as Sulami : “Tongkat (kayu) untuk memukul bukanlah yang tajam sehingga melukai kulit bukan pula tidak terasa sama sekali” (Qowa’idul Ahkam fi Ishlahil Anam 2/344).

e. Tidak boleh memukul tatkala marah

Dari abi Bakroh bahwasanya Rasululloh bersabda: “Tidaklah seorang hakim memutuskan perkara antara dua orang dalam keadaan marah” (HR. al Bukhori 6739). Termasuk dalam larangan ini adalah memukul anak tatkala marah besar dan dalam pikiran yang kacau, susah, sedih, sakit karena semua ini termasuk penghalang bersihnya pikiran dan perilakunya tidak akan sesuai dengan koridor kebenaran (al Mabsuth, as Syaibani 16/67).

f. Tata cara memukul

Berkata Syaikh Syamsuddin al Anbaani dalam “Kaifiyatu Dorbi Shobiy”:

  1. Hendaknya tempat memukulnya terpisah bukan pada satu tempat.
  2. Ada jarak antara dua pukulan tersebut.
  3. Tidak boleh mengangkat kedua lengannya sampai kelihatan ketiaknya. Berkata ‘Umar kepada orang yang ditugaskan memukul: “Jangan mengangkat ketiakmu”, maksudnya jangan sampai mengerahkan seluruh tenaga dan melampiaskan kemarahan sehabis-habisnya.

Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa para pendidik muslim kita. Wallohul muwaffiq.

 

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *