Rabu , Oktober 21 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Menyoroti Pola Hidup Boros
KLIK UNTUK BERINFAK

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros

                Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk melahirkan sikap hidup konsumtif. Hal ini menjadikan manusia berlomba dengan waktu sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak ada habis-habisnya. Ironinya keadaan itu menjadi pemicu tidak adanya sikap qona’ah dalam hidup ini dan melahirkan gaya hidup yang boros dan materialis.

Menghamburkan harta dikenal dalam istilah syar’I dengan nama Isrof. Isrof secara bahasa bermakna melampaui batas[1] . Secara Istilah adalah melampaui batas dalam membelanjakan harta melebihi ukuran standar dan keperluan[2]. Sebagaimana dapat terjadi dalam hal yang buruk, Isrof juga dapat terjadi pada sesuatu yang baik. Alloh Ta’ala berfirman:

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (QS. Al An’aam: 141).

Sebagaimana juga Isrof ini dilakukan oleh orang kaya, orang faqir pun dapat terjatuh ke dalamnya karena sifatnya relatif. Oleh karena itu diantara do’a yang diajarkan oleh Nabi :

وَ أَسْأَلُكَ الْقَصْدَ في الْفَقْرِ وَ الْغِنَى

Dan aku memohon sikap pertengahan tatkala faqir dan kaya (Shohihul Jaami’ 1301).

Isrof dapat terjadi dalam hal ukuran dan penggunaan. Sufyan ats Tsaury berkata: “Apa saja yang engkau infakkan pada selain ketaatan kepada Alloh termasuk isrof sekalipun sedikit”[3]

Ibnu ‘Abbas pernah berkata : “Barangsiapa yang berinfak satu dirham  tetapi tidak dengan cara yang benar maka termasuk Isrof” [4].

Antara Isrof (Menghamburkan harta) dan Tabdzir (Pemborosan)

Ibnu Abidin berkata : “Istilah Tabdzir digunakan secara umum dengan makna Isrof, padahal keduanya terdapat perbedaan yaitu Isrof adalah Membelanjakan harta dalam hal yang baik tetapi melebihi kebutuhan sedangkan Tabzir adalah membelanjakan harta pada sesuatu yang tidak semestinya” [5].

Berkata al Mawardi : “Tabdzir adalah ketidaktahuan tentang kemana membelanjakan harta sedangkan Isrof adalah ketidaktahuan tentang ukuran yang harus dibelanjakan” [6].

Berkata ar Roghib al Ashfahani : “Sebenarnya tabdzir lebih jelek dari Isrof karena menyebabkan ada hak orang yang lain yang ditelantarkan dan dizholimi (karena membelanjakannya dalam hal maksiat)” [7]. Alloh Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan (QS. Al Israa’: 27).

Fenomena Hidup Boros

Berkata Muhammad bin Hasan as Syaibani : “Termasuk Isrof adalah makan melebihi kekenyangan, Memperbanyak sesuatu yang mubah dan warna, Meletakkan di atas meja makan berbagai macam hidangan melebihi apa yang dibutuhkan, Memakan bagian tengah roti dan membuang bagian pinggirnya, Memakan roti pada bagian yang terbuka saja dengan anggapan itu yang paling lezat, Mengusap roti setelah makan dan tidak memakan apa yang diusap tersebut, Tidak memakan apa yang jatuh dari tangannya (selama tidak kotor)[8]…kemudian beliau menyebutkan hal yang sama dalam berpakaian.”

Berkata Abul Hasan al Mawardi : ” Termasuk tabdzir  adalah membelanjakan hartanya pada apa-apa yang tidak ada manfaatnya di dunia dan tidak juga ada pahalanya di akhirat, bahkan justru sebaliknya di dunia ia tercela dan di akhirat mendapat dosa seperti membelanjakan untuk sesuatu yang diharamkan, membeli minuman keras (termasuk rokok-pen) atau mengerjakan perbuatan zina. Termasuk juga memberikan upah kepada para penyanyi, pemain (permainan yang sia-sia) dan pelawak. Tabdzir dapat juga berupa menggunakan harta  untuk membangun villa atau rumah yang tidak ia butuhkan bahkan tidak pernah ditempati dan ditelantarkan begitu saja sehingga lapuk ditelan waktu. Diantara bentuk tabdzir juga adalah mmbelanjakan harta untuk membeli kasur yang empuk dan perabot emas dan perak yang mudah pecah, yang tidak lama umurnya serta tidak ada manfaatnya…Semua yang dibelanjakan oleh seseorang untuk mendapatkan pahala dan menaikkan derajatnya dan dianggap oleh orang-orang yang berilmu sebagai suatu yang terpuji maka itu adalah bentuk kedermawanan bukanlah tabdzir walaupun banyak dan jumlahnya besar. Dan segala yang dibelanjakan oleh seseorang dalam bermaksiat kepada Alloh sehingga mendapatkan dosa serta termasuk perbuatan tercela menurut orang-orang yang alim maka itu termasuk tabdzir sekalipun sedikit dan dianggap remeh” [9]

Penyebab  Hidup Boros

  1. Tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang glamour dan suka boros. Oleh karena itu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan seorang suami atau istri disuruh untuk mencari pasangan yang baik agamanya bukan hanya yang banyak hartanya (QS. An Nuur: 32).
  2. Mendapatkan kelapangan hidup setelah sebelumnya kesusahan dan kekurangan. Orang seperti ini tidak sadar bahwa dunia ini selalu berganti. Tatkala hidup apa adanya bahkan serba kekurangan ia masih bisa bersabar dan khusyu’ dalam beribadah. Namun tatkala diuji dengan keluasan harta ia malah tidak bisa bersabar seolah tidak mengetahui bahwa kesudahan dari hidup boros adalah penyesalan dan kerugian (QS. Al Isro’: 29).
  3. Pengaruh teman dan iklan. Karena pengaruh iklan, tidak sedikit manusia yang hanya melihat orang yang di atasnya dalam masalah harta. Setiap kali bertemu dengan sahabatnya –walaupun di tempat kajian- yang dibicarakan hanyalah masalah dunia sedangkan buku catatannya bersih dari coretan ilmu agama. Tidak jarang pula yang menuntut suaminya untuk membelikan apa yang menjadi impiannya karena minder dengan sahabat-sahabatnya.
  4. Senang ketenaran dan berbangga-banggaan di hadapan manusia karena riya’ dan sum’ah supaya dikatakan sebagai orang yang dermawan dan agar tidak dikatakan orang yang bakhil. Dan seseorang itu lebih tahu tentang kata hatinya sekalipun ia mengemukakan alasan-alasan di hadapan manusia (QS. al Qiyamah: 14-15).

Dampak negatif Hidup Boros

Sikap hidup boros ini akan mendatangkan bahaya seperti : Penyakit pada tubuh, kerasnya hati, buntunya pikiran, penggerak kepada kemaksiatan dan perbuatan jelek, tidak bersabar tatkala mendapatkan musibah dan ujian, tidak ada perhatian dan kepedulian dengan orang lain, pendorong untuk melakoni profesi atau perkejaan yang diharamkan, termasuk saudara-saudara syaitan, tidak mendapatkan kecintaan Alloh dan akan ditanya nanti di hari kiamat tentang perbuatannya tersebut. Alloh Ta’ala berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu) (QS. at Takatsur: 8).

Berkata Umar bin Khoththob : “Hati-hati dari berlebih-lebihan dalam makan dan minum karena akan merusak tubuh, menimbulkan penyakit, menyebabkan malas untuk sholat dan hendaknya kalian pertengahan saja karena itu lebih baik untuk kesehatan dan lebih jauh dari menghamburkan harta” [10].

Pengobatan dari penyakit Boros

  1. Hendaknya membelanjakan harta dengan cara yang tepat dengan mempertimbangkan antara manfaat dunia dan akhirat serta membatasi pengeluaran sehingga tidak merasa butuh untuk berhutang kepada orang lain. Rasululloh bersabda: “Satu bagian untuk dirinya, satu bagian untuk istrinya, satu bagian untuk tamu dan yang keempat untuk syaitan” (HR. Muslim 2084).
  2. Menekan ambisi jiwa dengan membiasakannya untuk merasakan lapar. Para ulama menyebutkan manfaat dari lapar diantaranya membersihkan hati, mempertajam ilmu, menghilangkan kecongkakan, selalu mengingat hukuman dan siksaan Alloh, menghilangkan syahwat yang diharamkan, membiasakan diri terus beribadah dan melahirkan rasa peduli terhadap sesama dengan memberikan kelebihan hartanya[11].
  3. Menanamkan keyakinan kepada jiwa bahwa kekayaan hakiki adalah kekayaan hati. Rasululloh pernah bertanya kepada Abu Dzar :’Apakah engkau menganggap banyaknya harta itu merupakan kekayaan? Ia menjawab: “Ya”. Rasululloh bertanya lagi: “Apakah engkau menganggap sedikitnya harta termasuk kefakiran? Ia menjawab : “Ya”. Rasululloh berkata: “Sesungguhnya kekayaan itu adalah kekayaan hati dan kemiskinan itu adalah miskin hati”[12]. Maknanya adalah tidak mengambil harta dari semua arah dan membelanjakannya ke semua arah dan tanpa ukuran. Rasululloh juga bersabda: “Barangsiapa yang belajar menahan diri maka Alloh akan membuatnya bisa menahan diri, barangsiapa yang belajar untuk merasa cukup maka Alloh akan membuatnya cukup serta barangsiapa yang belajar sabar maka Alloh akan memberikannya kesabaran[13].

Potret Salafus Shalih dalam menjauhi Perilaku Hidup Boros

Dari Nafi’ ia berkata: “Dahulu Ibnu ‘Umar tidaklah makan sampai didatangkan kepadanya orang miskin untuk menemaninya makan. Pernah aku mendatangkan seseorang yang ia makan sangat banyak bersama Ibnu ‘Umar. Maka Ibnu ‘Umar berkata: “Jangan datangkan orang ini kepada saya karena saya pernah mendengar Rasululloh bersabda: “Orang mukmin makan dalam satu lambung sedangkan orang kafir makan dalam tujuh lambung”[14].

Pernah ‘Umar bin Khoththob mengunjungi putranya Abdulloh-rodhiyallohu ‘anhuma- kemudian beliau melihat daging. Umar bertanya: “Daging apa ini ?”. Abdulloh menjawab: “Aku sangat ingin makan daging”. Umar berkata: “Apakah setiap kamu menginginkan sesuatu kamu memakannya?! Cukuplah seseorang itu dikatakan Isrof jika ia memakan semua yang diinginkannya…”[15]

S’ad bin Abi Waqqosh pernah menulis surat kepada ‘Umar untuk meminta izin membangun rumah. Maka ‘Umar membalasnya seraya berkata: “Bangunlah rumah sekedar bisa menutupimu dari matahari dan melindungimu dari hujan, sesungguhnya dunia adalah tempat berbekal”[16]


[1] Lisanul Arob 11/48

[2] aj Jurjani dalam at Ta’rifaat hal. 38, Hasyiyah Minhajit Tholibin Isa al halabi (3/248), Hasyiyah Roddul Mukhtar Ibnu Abidin (5/484).

[3] Al Mufrodat fi Gharibil Qur’an hal. 230

[4] Tafsir al Qurthubi (13/72).

[5] Hasyiyah Raddil Mukhtar, Ibnu Abidin (5/484)

[6] Adabud Dunya wad din, al Mawardi hal. 187, tahqiq Mustafa.

[7] Adz Dzari’ah ila makarimisy syari’ah  hal. 216.

[8] Al Kasbu, as Syaibani hal. 79-83).

[9] Nasiihatul Muluk, Abul Hasan al Mawardi hal.36, tahqiqi Khidir Muhammad Khidir.

[10] al Adab as Syar’iyyah (3/201).

[11] Al Juu’ Ibnu abi Dunya hal.20-60.

[12] HR. Ibnu HIbban (685), Shohih at Targhib (827).

[13] HR. al Bukhori (1400), Muslim (1053).

[14] HR. al Bukhori (5078), Muslim (2060).

[15] Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dan Ahmad dalam az Zuhd, Hayataus Shahabah 2/284-285. Dikeluarkan juga oleh Ibnul Mubarok dalam az Zuhd 769.

[16] Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya, Hayatus Shahabah 2/286

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *