Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Keluarga / Menjaga Perasaan Pasangan
KLIK UNTUK BERINFAK

Menjaga Perasaan Pasangan

Menjaga Perasaan Pasangan

Berkata al Imam Abu Hatim Ibnu Hibban rohimahulloh:

مَنْ لَمْ يُعَاشِرِ الناسَ على لُزُوْمِ الإِغْضَاءِ عَمَّا يَأْتُوْنَ مِنَ الْمَكْرُوْهِ، وَتَرْكِ التَّوَقُّعِ لِمَا يَأْتُوْنَ مِنَ الْمَحْبُوْبِ؛ كَانَ إِلىَ تَكْدِيْرِ عَيْشِهِ أَقْرَبُ مِنْهُ إِلىَ صَفَائِهِ، وَإِلىَ أَن يَدْفَعَهُ الْوَقْتُ إِلىَ الْعَدَاوَةِ وَالْبَغْضَاءِ أَقْرَبُ مِنْهُ إِلىَ أَن يَنَالَ مِنْهُمْ الوِدَادَ وَتَرْكَ الشحْنَاءِ

“Barangsiapa yang tidak bisa berinteraksi dengan orang lain -dengan menahan diri dari kelakuan mereka yang tidak terpuji dan  menghargai  kebaikan  merek bawa- maka kehidupan yang keruh lebih pantas baginya daripada hidup yang bening, waktu akan mengantarkannya  ke dalam permusuhan dan kebencian lebih dominan daripada mendapatkan kecintaan mereka dan tidak berselisih” (Raudhotul ‘Uqola’ hal. 72).

 Alangkah indahnya perkataan tersebut dan alangkah manisnya jika diterapkan dalam hidup bermasyarakat terlebih di dalam hidup berumahtangga. Kita menjumpai sebagian rumah tangga cuacanya sungguh menyeramkan. Ributnya sangatlah kacau dan diamnya sangat menakutkan…Sang istri tidak lagi bahagia apabila berucap di depan suaminya dan begitupula suami enggan lagi berkicau di depan istrinya. Tidak ada lagi kata-kata lembut, “kasih” dan “sayang” yang menyejukkan.

Diantara suami -semoga Alloh memberikan hidayah kepada mereka- ada yang terlalu sering mencela istrinya dan mengkritiknya baik dalam hal sepele maupun yang besar. Sedikit sekali kata “terimakasih” dan “jazakillahu khoiron” kepada sang istri yang lelah berjibaku dengan pekerjaan sehari-harinya. Meributkan masalah makanan yang disuguhkan istrinya lah …, terkadang istrinya yang dihukum jika si kecil rewel, sering merengut lagi cemberut dan berlebihan melecehkan istri apabila ia lupa atau tidak beres pekerjaannya…

Ironinya lagi jika sang istri dicela dalam perkara yang ia tidak sanggupi seperti mencelanya karena mandul, atau melahirkan anak laki-laki saja atau perempuan saja dan menyalahkannya jika melahirkan anak yang cacat…Sudah istrinya sakit fisik ditambah dengan sakit hati yang bertubi-tubi.

Suami yang baik tidaklah mencela istrinya karena kesalahan sepele dan tidak lantas menghukumnya namun berusaha mencari udzur dan berusaha berfikir positif. Seandainya harus mengritik bisa dilakukan dengan kritikan yang lembut dan samar namun bisa meluruskan kekeliruannya tanpa harus mengoyak kehormatannya dan melupakan kebaikannya yang begitu banyak…

Di sisi lain terkadang istri -semoga Alloh memberikan hidayah kepada mereka- juga tidak menghargai perasaan suami. Diantara mereka ada yang sering merengut dan sedikit-dikit marah, kurang bersyukur dan memuji Alloh, hilang rasa qona’ah-nya dan tidak ridho dengan apa yang diperoleh dari suaminya. Apabila ditanya tentang keadaannya mulailah ia banyak mengeluh, mencaci dan membanding-bandingkan dirinya dengan wanita lain. Pelit sekali ia mengucapkan “jazakallohu khoiron” dan “terima kasih” kepada suaminya. Satu kesalahan suaminya akan selalu diingat sampai mati padahal kebaikan suaminya sepenuh bumi…  

 Istri yang baik adalah yang selalu menjaga perasaan dan keadaan suaminya. Ia tidak banyak menceritakan berita yang tidak disukai suaminya, tidak juga banyak menuntut… Ia berusaha memahami “tipe suaminya” agar dapat menjaga perasaannya. Berusaha mengajak suaminya tukar pikiran dan merendahkan suaranya… Menjaga waktu makan, tidur, membaca, muroja’ah suaminya dan selalu perhatian dengan kebersihan dan kenyamanan rumahnya…Tidak guyon tatkala suaminya sedih dan tidak menampakkan kesedihan dikala suaminya semangat bercanda… Membuat suasana tenang tatkala suami istirahat dan mencari waktu yang tepat jika ingin “curhat”…

Mari kita saksikan bagaimana para salaf menjaga perasaan pasangannya…

قال عَطَاءُ رحمه اللهُ: قَالَتِ امْرَأَةُ سَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ: “مَا كُنَّا نُكَلِّمُ أَزْوَاجَنَا إِلاَّ كَمَا تُكَلِّمُوْنَ أُمَرَاءَكُمْ: أَصْلَحَكَ اللهُ…عَافَاكَ اللهُ…”

Berkata ‘Atho’ rohimahulloh : “Berkata istri Sa’id Ibnul Musayyib: “Tidaklah kami berbicara dengan suami kami kecuali seperti kalian berbicara dengan pembesar kalian (seraya mendo’akannya)”: “Semoga Alloh memperbaiki (urusanmu)…semoga Alloh memaafkanmu…” (Tahdzib al Hilyah 2/186).

قال ابْنُ الْجَوْزِي رحمه اللهُ : “قِيْلَ لِأَبِي عُثْمَانَ النَّيْسَابُوْرِي : مَا أَرْجَى عَمَلِكَ عِنْدَكَ ؟ قال : كُنْتُ فِي صَبْوَتِي يَجْتَهِدُ أَهْلِي أَنْ أَتَزَوَّجَ فَآبَي ، فَجَاءَتْنِي امْرَأَةٌ فَقَالَتْ : يَا أَبَا عُثْمَانَ إِنِّي قَدْ هَوَيْتُكَ … وَأَنَا أَسْأَلُكَ بِاللهِ أَنْ تَتَزَوَّجِنِي . فَأَحْضَرَتْ أَبَاهَا ، وَكَانَ فَقِيْراً ، فَزَوَّجَنِي وَفَرِحَ بِذَلِكَ . فَلَمَّا دَخَلَتْ إِليَّ ؛ رَأْيْتُهَا عَوْرَاءَ عَرْجَاءَ مُشَوِّهَةً ، وَكَانَتْ لِمَحَبَّتِهَا لِي تَمْنَعُنِي مِـنَ الْخُرُوْجِ ؛ فَأَقْعُد حِفْظاً لِقَلْبِهَا ، وَلاَ أُظْهِرُ لَهَا مِنَ الْبُغْضِ شَيْئاً ، وَكَأَنِّي عَلىَ جَمْرِ الْغَضَا مِنْ بُغْضِهَا . فَبَقِيَتْ هَكَذَا خَمْسَ عَشَرَةَ سَنَةً حَتَّى مَاتَتْ … فَمَا مِنْ عَمَلِي هُوَ أَرْجَى عِنْدِي مِنْ حِفْظِي قَلْبَهَا”.

Berkata Ibnul Jauzy rohimahulloh : “Pernah ditanyakan kepada Abu Ustman an Naisabury: “Amalan apa yang paling engkau harapkan (diterima Alloh ta’ala)? Ia menjawab: “Dahulu tatkala aku membujang, keluargaku berusaha supaya aku menikah aku namun aku menolaknya. Kemudian datanglah seorang perempuan sambil berkata: “Wahai Abu Utsman, sungguh aku tertarik denganmu dan aku memohon dengan nama Alloh agar engkau sudi menikahiku. Wanita tersebut mendatangkan ayahnya. Ayahnya adalah seorang yang faqir lantas ia pun mengawinkan saya dan ia sangat gembira. Tatkala sang wanita masuk menemuiku, aku melihatnya…ternyata ia perempuan yang juling, pincang lagi buruk rupa… Saking cintanya dia kepadaku aku dilarangnya keluar rumah maka aku pun diam demi menjaga perasaannya…Aku tidak menampakkan sedikitpun kebencian kepadanya seolah tidak berdaya membencinya. Aku bertahan seperti itu selama lima belas tahun sampai ia meninggal…Tidak ada amalanku yang lebih aku harapkan dari menjaga perasaannya…” (Shoidul Khootir hal. 635-636).

Menjaga Perasaan Anak

Terkadang kita hanya memperhatikan perasaan pasangan namun tidak peduli dengan perasaan anak-anak. Sebagian orangtua -semoga Alloh memberikan hidayah kepada mereka- bersikap keras kepada anak-anaknya secara berlebihan dengan tujuan mengajarkan kedisiplinan namun ia tidak sadar justru membuat anak tidak menyukai dan membencinya. Tidak sedikit anak dipacu dan dipaksa belajar bak robot supaya menaikkan prestise orangtua dan tidak memalukan orangtua apabila tidak naik kelas atau tidak dapat juara. Sebagian lagi ada yang berlebihan dalam memarahi, mengumpat dan mencaci anak sehingga anaknya justru mencari kasih sayang di luar rumahnya. Tidak jarang juga orangtua meng”anak emaskan” sebagian anak dalam pemberian, hadiah, canda dan perhatian. Sebagian mereka juga tidak bisa menyesuaikan tingkat umur anak dan tidak pernah memberikan penghargaan atas pendapat dan kebaikan anak-anaknya. Ironisnya, sebagian orangtua masih “ikut campur” urusan pribadi anak-anaknya yang sudah berkeluarga baik perkara kecil ataupun besar…

قال إبراهيمُ النَّخَعِي رحمه اللهُ: “:كَانُوا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يَعْدِلَ الرَّجُلُ بَيْنَ وَلَدِهِ حَتَّى فِي الْقُبَلِ”

Dari Ibrohim an Nakho’I rohimahulloh ia berkata: “Dahulu mereka (para salaf) menyenangi jika seseorang berbuat adil kepada anaknya sampai dalam masalah ciuman” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “al Mushannaf” 6/234).

عَنِ الْحَسَنِ رحمه اللهُ أَنَّهُ دَخَلَ مَنْزِلَهُ، وَصِبْيَانُ يَلْعَبُوْنَ فَوْقَ الْبَيْتِ، فَنَهَاهُمْ رَجُلٌ مَعَهُ، فَقَالَ الْحَسَنُ: “دَعْهُمْ فَإِنَّ اللَّعْبَ رَبِيْعُهُمْ”

Dari al Hasan al Bashri bahwasanya beliau masuk ke dalam rumah sementara anak-anak bermain di atas rumah maka seseorang melarangnya.

Berkata al Hasan : “Biarkan, karena bermain adalah kesenangan mereka” (Mausu’ah Ibnu Abi Dunya 8/131).

عَنْ نَافِعٌ  قال:” كاَنَ ابْنُ عُمَرَ  رضي الله عنهما إِذَا لَقِيَ ابْنَهُ سَالِماً قَبَّلَهُ, وَيَقُوْلُ: شَيْخٌ يُقَبِّلُ شَيْخاً “

Dari Nafi’ ia berkata : “Ibnu ‘Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- apabila bertemu anaknya Salim ia menciumnya dan berkata: “Syaikh mencium syaikh…” (Mausu’ah Ibnu Abi Dunya 8/44).

عن الأَشْجَعِي قال: كُنَّا مَعَ سُفْيَانَ الثَّوْرِي رحمه اللهُ فَمَرَّ ابْنُهُ سَعِيْدٌ, فَقَالَ: تَرَوْنَ هَذَا؟ مَا جَفَوْتُهُ قَطّ…”

Dari Asyja’I rohimahulloh ia berkata : “Kami pernah bersama Sufyan ast Tsaury rohimahulloh kemudian lewatlah anaknya Sa’id, beliau berkata: “Kamu lihat ini…? Aku tidak pernah berlaku kasar sedikitpun kepadanya…” (Mausu’ah Ibnu abi Dunya 8/47).

Menjaga Perasaan Mertua dan Menantu

Dalam realita tidak sedikit para menantu -semoga Alloh memberikan hidayah kepada mereka- yang membenci, merendahkan mertuanya, mencacinya dan menganggap ibu mertuanya sebagai saingan dalam mendapatkan haknya dari suami, bahkan tidak jarang merasa senang jika suaminya mendurhakai orang tuanya. Hal ini membuat suami sesak dadanya, hilang kebahagiaanya dan sirna ketentraman hidupnya. Bagaimana tidak, ibu yang dicintainya dimaki-maki dan direndahkan di depannya. Tentunya ini adalah perangai wanita yang kurang bertakwa, kurang pendidikan, sempit hati dan akalnya.

Di sisi lain terkadang para mertua -semoga Alloh memberikan hidayah kepada mereka- berlaku tidak baik terhadap menantunya baik dengan membesar-besarkan aib menantunya, membanding-bandingkan dengan menantunya yang lain dan membeberkan hal itu kepada karib kerabat yang lain. Seorang mertua yang baik tentunya yang berlaku adil kepada semua menantunya dan menyimpan perasaan yang tidak enak jika memang ada sesuatu yang tidak disukai dari menantunya dan berusaha “memposisikan” dirinya sebagai orang tua yang bijak tanpa harus memaksakan pendapat pribadinya dan terlalu ikut campur dalam dalam urusan pribadi anak-anaknya.  

عن عائشة رضي الله عنها قالت: سألت النبيَ: أي الناس أعظم حقا على المرأة؟ قال: “زوجها”, قلتُ: فعلى الرجل؟ قال: “أمه” (أخرجه أحمد والنسائي وصححه الحاكم ووافقه الذهبي والبزار بإسناد حسن).

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha ia berkata : “Aku bertanya kepada Nabi: “Siapa yang paling besar haknya atas seorang perempuan?” Beliau menjawab: “Suaminya”. Aku berkata: “kalau bagi laki-laki?” Beliau menjawab: “Ibunya” (Dikeluarkan oleh Ahmad, an Nasa’I dan ia menshohihkannya, al Hakim dan al bazzar dengan sanad hasan dan disepakati oleh adz Dzahabiy).

Berkata Dr. Muhammad as Shibbag hafidzhohulloh : “Sesungguhnya seorang wanita yang mulia tidaklah lupa bahwa wanita itu (ibu mertuanya) yang ia anggap sebagai saingan adalah ibu dari sang suami. Sebodoh apapun seorang suami tidak akan sanggup jika ibunya dilecehkan karena ia adalah wanita yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dan memberikannya makanan dari sir susunya serta memeliharanya sampai menjadi laki-laki dewasa.  Ketahuilah wahai para istri bahwa suami lebih mencintai keluarganya daripada keluargamu sebagaimana engkau lebih mencintai keluargamu dari keluarga suamimu maka janganlah mencela, merendahkan, menghina mereka karena itu akan membuat suami menjauh darimu. Kurang menghormati mertua pada dasarnya sama dengan kurang menghormati suami. Sekalipun suami tidak bisa memberikan apa-apa namun kecintaannya kepada ibunya tidak akan berkurang. Sesungguhnya laki-laki yang mencintai keluarganya dan berbakti kepada kedua orangtuanya adalah orang sholih yang mulia dan pantas untuk dihormati oleh seorang istri dan diharapkan kebaikannya. Termasuk keadilan Alloh dan ketetapanNya yang telah berlaku bahwa hukuman sesuai dengan jenis perbuatan tersebut. Jika seorang perempuan buruk perlakuannya terhadap mertuanya maka ia akan dihukum tatkala ia pikun dan tua renta dengan cara Alloh menimpakan buruknya perlakuan menantu (istri anak-anaknya) kepadanya sebagai balasan yang setimpal!” ( Nadzharot fil Usroh al Islamiyyah hal. 87-88).

حَكَى الإمامُ أبو الْفَرَجِ بْنُ الْجَوْزِي عَنْ عَابِدَةَ أَنَّها قَالَتْ لِزَوْجِهَا: “أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ أَنْ لاَ تَدْخُلُ النَّارَ مِنْ أَجْلِي، بِرَّ أُمَّكَ، صِلْ رَحِمَكَ، لاَ تَقْطَعْهُمْ، فَيَقْطَعُ اللهُ بِكَ” (صفة الصفوة 4\437).

al Imam Abul Faroj Ibnul Jauzy meriwayatkan dari ‘Abidah rohimahalloh bahwasanya ia berkata kepada suaminya: “Aku bersumpah  kepadamu bahwa engkau tidak akan masuk neraka gara-gara saya, berbaktilah kepada ibumu, sambunglah tali silaturrohim dan jangan engkau memutuskannya sehingga Alloh akan memutusnya karenamu” (Sifatus Sofwah 4/437).

Menjaga Perasaan Orang Tua

Sebagian anak – semoga Alloh memberikan hidayah kepada mereka- kurang menjaga perasaan orangtuanya. Begitu acuh dengan ucapan dan perbuatannya yang membuat orang tua bersedih dan  menangis. Tidak sedikit yang selalu cemberut di depan orangtuanya, menghardik dan membentaknya. Di luar sana ia menampakkan akhlak yang lembut nan berseri namun di rumah wajahnya kecut dan tidak simpati terlebih jika orang tua sudah renta tak berdaya lagi.

Sebagian anak –walaupun sudah berkeluarga- bernada tinggi jika sedang berbicara dengan orangtuanya, selalu membawa persoalan keluarganya kepada orangtua, merendahkan keduanya di hadapan orang lain dan malu ditahu siapa orangtuanya jika mereka berdua bukan orang terhormat dan termasuk kaum melarat.

Beginilah para salaf menjaga perasaan orangtua mereka:

قيل لِعَلي بنِ الحُسين رحمه اللهُ: “أَنْتَ مِنْ أَبَرِّ النَّاسِ وَلاَ نَرَاكَ تُؤَاكِلُ أُمَّكَ”. قَالَ: “أَخَافُ أَنْ تَسِيْرَ يَدِي إِلىَ مَا قَدْ سَبَقَتْ عَيْنُها إِلَيْهِ فَأَكُوْنَ قَدْ عَقَقْتُها” (عيون الأخبار 3\101).

Pernah ditanyakan kepada ‘Ali Ibnul Husain rodhiyallohu ‘anhu: “Engkau adalah orang yang paling berbakti tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu”! Beliau menjawab: “Aku takut tanganku akan mengambil makanan yang sudah dilirik duluan oleh ibuku sehingga aku telah mendurhakainya….” (‘Uyunul akhbar 3/101).

وَعَنْ بَعْضِ آلِ سِيْرِيْنَ قال: “وَمَا رَأَيْتُ مُحَمَّدَ بْنَ سِيْرِيْنَ يُكَلِّمُ أُمَّهُ قَطُّ إِلاَّ وَهُوَ يَتَضَرَّعُ ” (حلية الأولياء  2\273).

Dari sebagian keluarga Sirin ia berkata: “Aku tidak pernah melihat Muhammad Ibnu Sirin berbicara dengan ibunya sedikitpun kecuali dengan menunduk” (Hilyatul Auliya’ 2/273).

عن بكْرِ بْنِ عَيَّاشٍ رحمه اللهُ قال: “رُبَّمَا كُنْتُ مَعَ مَنْصُوْرٍ فِي مَنْزِلِهِ جَالِساً فَتَصِيْحُ بِهِ أُمُّهُ, وَكاَنَتْ فَظَّةَ غَلِيْظَةً, فَتَقُوْلُ: “يَا مَنْصُوْرُ! يُرِيْدُكَ ابْنُ هُبَيْرَةَ عَلىَ الْقَضَاءِ فَتَأْبَى, وَهُوَ وَاضِعٌ لِحْيَتَهُ عَلىَ صَدْرِهِ مَا يَرْفَعُ طَرْفَهُ إِلَيْهَا” (البر والصلة لابن الجوزي 1\89).

Dari bakr Ibnu Ayyasy rohimahulloh ia berkata: “Terkadang saya duduk bersama Manshur di rumahnya, kemudian ibunya meneriakinya dan ia adalah wanita yang keras lagi kasar. Ia berkata: “Wahai Manshur! Ibnu Hubairoh menginginkan kamu menjabat hakim tetapi kamu menolaknya…! Sementara Manshur meletakkan jenggotnya di atas dadanya, sama sekali ia tidak mengangkat pandangan kepada ibunya” (al Birru wa as Shilah, Ibnul jauzy 1/89).

قِيْلَ لِعُمَرَ بْنِ ذَرٍّ رحمه اللهُ: كَيْفَ كَانَ بِرُّ ابْنِك بِكَ؟ قَالَ: مَا مَشَيْتُ نَهَاراً قَطّ إِلاَّ مَشَى خَلْفِي, وَلاَ لَيْلاً إِلاَّ مَشَى أَمَامِي, وَلاَ رَقَي سَطْحاً وَأَنَا تَحْتَهُ (عيون الأخبار 3\101).

Pernah ditanya kepada ‘Umar Ibnu dzar, “Bagaimana baktinya anakmu kepadamu?” Ia menjawab: “Tidaklah aku berjalan di siang hari melainkan ia berjalan di belakangku, tidaklah aku berjalan di malam hari kecuali ia berjalan di depanku dan ia tidak pernah naik ke lantai atas sementara aku di bawahnya” (‘Uyunul Akhbar 3/101).

Disarikan dari kitab “Faqrul Masya’ir, Syaikh Muhammad Ibnu Ibrohim al hamd, Dar Ibnu Khuzaimah cet. I tahun 1426H/2005M dengan penyesuaian dan penambahan dari penulis.

Wallohul Musta’an wal muwaffiq.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *