Rabu , Oktober 21 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Menjaga Muru’ah
KLIK UNTUK BERINFAK

Menjaga Muru’ah

Menjaga Muru’ah

Muru’ah (الْمُرُوْءَةُ) adalah etika jiwa yang dapat mengantarkan seseorang kepada  akhlaq yang baik dan kebiasaan yang terpuji (al Misbahul Muniir 8/446). Berkata Ibnu ‘Arofah: “Muru’ah adalah penjagaan terhadap suatu perbuatan yang mubah yang jika ditinggalkan akan mendapat celaan menurut ‘urf…atau tidak melakukan suatu perbuatan yang mubah yang jika dilakukan akan mendapat celaan menurut ‘urf (Syarh Hudud ibnu ‘Arofah hal.591).

Hakekat Muru’ah

Muru’ah secara umum terbagi dua yaitu menjauhi perangai yang tidak disukai Alloh dan kaum muslimin dan menerapkan perangai yang dicintai Alloh dan kaum muslimin (Raudhotul ‘Uqola’ hal.232).

Berkata Ibnul Qoyyim: “Hakekat muru’ah adalah menjauhi hal-hal rendahan  dan hina baik dalam perkataan, akhlak maupun perbuatan” (Madarijus Salikin 3/151-152).

Muru’ah dalam al Qur’an

Banyak sekali dalam al Qur’an yang menyebutkan tentang muru’ah yang dibangun di atas dua rukun  yaitu Inshof (menerima kebenaran untuk diri sendiri) dan tafadhdhul (melakukan kebaikan buat orang lain) semata karena Alloh.

Alloh Ta’ala berfirman:

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh (QS. al A’raaf:199).

Demikian pula Alloh Ta’ala menyifati ibadurrahman (hamba-hamba pilihan-Nya) dengan sifat muru’ah yang tinggi sebagaimana dalam surah al Furqon (63-76). Alloh ‘azza wa jalla juga mempersaksikan bahwasanya pemilik muru’ah adalah orang-orang yang beruntung sebagaimana dalam surah al Mukminun: 1-10. Demikian juga Alloh mengisahkan tentang  Luqman yang mengajarkan anaknya tentang muru’ah sebagaimana dalam surah Luqman 17-19.

Muru’ah dalam Sunnah

Dari Abu Hurairoh t ia berkata: “Rasululloh r pernah ditanya tentang orang yang paling mulia?”Beliau menjawab: “Yang paling bertaqwa”. Mereka berkata:”Bukan itu yang kami tanyakan”. Beliau menjawab lagi: “Yusuf ibnu Nabiyulloh ibnu Nabiyulloh ibnu Nabiyulloh ibnu Kholilulloh”. Mereka berkata: “Bukan itu yang kami tanyakan”. Beliau berkata: “Kalian bertanya tentang harta pusaka Arab?

خِيَارُهُمْ فِى الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِى الإِسْلاَمِ إِذَا فَقِهُوا

Sebaik-baik mereka pada waktu jahiliyyah adalah yang paling baik dalam Islam jika mereka paham (agama)” (HR. al Bukhori 3374, Muslim 2378).

Ibunda Khadijah rodhiyallohu ‘anha pernah berkata menenangkan Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di awal turunnya wahyu tatkala beliau gemetar karena peristiwa yang dialami di gua Hiro : “Sekali kali tidak, Demi Alloh, Alloh tidak akan menyia-nyiakanmu, engkau selalu menyambung silaturrahim, menolong orang yang kesusahan, membantu yang tidak punya, memuliakan tamu dan menunjuki orang yang kebingungan” (HR. al Bukhori 3).

Bentuk-bentuk Muru’ah dan adab-adabnya

  1. Hendaknya tenang dan santun, tidak menampakkan ketergesa-gesaan dan kegaduhan dalam gerak geriknya seperti banyak menoleh di jalanan, dan berjalan cepat di luar kebiasaan orang.
  2. Berbicara dengan pelan dan jelas, tidak nyerocos (sehingga tidak ada titik koma). Menjelaskan sesuatu dengan baik, dengan bahasa terang dan tidak membingungkan pendengar.
  3. Menahan diri dari ledakan amarah dan luapan kegembiraan yang berlebihan. Hendaknya pertengahan tatkala senang maupun susah.
  4. Memiliki pendirian yang jelas, tidak menampakkan persaudaraan kepada musuh atau merekomendasikan seseorang itu baik padahal orang tersebut menyeleweng.
  5. Tidak melakukan sesuatu di tempat yang sunyi yang jika dinampakkan di depan orang akan dianggap sebagai bentuk ketergelinciran dan aibnya.
  6. Bertemu orang lain dengan wajah yang cerah, lisan yang baik dan tidak mencari-cari apa yang ada di dada orang lain apakah suka ataukah benci.
  7. Pelit dengan waktunya jika hanya untuk menggunjing orang lain atau menyinggung kehormatan orang lain.
  8. Menjauhi untuk membebani orang yang berkunjung ke rumahnya atau tamunya. Berkata ‘Umar bin Abdil “Aziz: “Bukan termasuk muru’ah jika seseorang memperkerjakan tamunya”.
  9. Mendengarkan dengan seksama orang yang menceritakannya sesuatu sekalipun ia mungkin lebih mengetahui cerita tersebut.
  10. Berusaha menanggung beban hidup; tidak menghalangi dia rasa malu dan kedudukannya di masyarakat untuk mencari kelapangan rizki.
  11. Menjauhi persangkaan yang tidak baik terhadap kejadian- kejadian yang menimpanya.
  12. Menjaga amanah baik berupa rahasia maupun harta dan tidak memperlihatkannya kecuali kepada pemiliknya.
  13. Berusaha menyerasikan antara ucapan dengan perbuatannya sesuai dengan ‘urf yang berlaku di masyarakat yang tidak menyimpang dari syari’at.
  14. Memperlakukan orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang… dan lainnya (al Muru’ah wa Zowahiruha as Shodiqoh Muhammad Khudri Husain dinukil dari “al muru’ah al ghooibah” Muhammad Ibrohim hal. 120-123 dengan ringkasan).

Rusaknya Muru’ah

Muru’ah dapat rusak pada seseorang karena rusaknya akal, kurangnya agama dan rasa malu (‘Adalatus Syaahid fil Qodho’ al Islamy, syuwaisy Hazza hal. 356-357).

Rusaknya muru’ah terbagi dua macam; ada yang menurut syar’i dan menurut ‘Urf (adat istiadat). Karena syari’at tidak dapat berubah dan diganti maka ia tidak terpengaruh oleh tempat maupun zaman. Siapapun yang menerjang syari’at maka ia dikatakan telah rusak muru’ahnya seperti berkata kasar atau berbuat tidak senonoh karena setiap muslim tidak pantas seperti itu. Adapun ‘Urf sangat bergantung kepada waktu dan tempat. Sebagai contoh: membuka penutup kepala (peci atau lainnya), di sebagian tempat itu termasuk tercela dan  mempengaruhi ‘adalah (kredibilitas) seseorang namun di tempat lain termasuk hal yang wajar saja sehingga tidak mengurangi ‘adalah seseorang. Oleh karena itu hendaknya diperhatikan adat istiadat di tempat tersebut (Jarhu ar ruwaat wa ta’diluhum oleh Mahmud ‘Aidan hal.108).

Para Ulama sepakat bahwasanya seseorang yang rusak muru’ahnya tidak diterima persaksiannya. Adapun perkataan dan perbuatan yang dapat merusak muru’ah adalah:

  1. Perbuatan haram yang termasuk dosa besar baik haram dzatnya maupun karena sebab yang lain.
  2. Perbuatan makruh yang dianggap dosa kecil jika terus menerus dilakukan.
  3. Perbuatan mubah yang dapat mengantarkan kepada perbuatan haram atau terus menerus dikerjakan sehingga menjadi makruh atau menyerupai orang fasiq kalau mengerjakannya (al Muru’ah wa khowarimuha, Syaikh Masyhur Hasan Salman hal.345).

Termasuk juga seseorang yang sering memakai celana panjang tatkala sholat, terlalu sering keluar rumah memakai baju dalam, sering nongkrong di warung, sering menunjuk memakai tangan kiri,- di daerah-daerah tertentu termasuk mengurangi muru’ah seseorang. Oleh karena itu hendaknya jeli dalam melihat ‘urf yang baik pada suatu tempat agar jangan dilanggar. Wallohu a’lam. Wallhamdulillahi robbil ‘alaamin.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *