Rabu , Oktober 28 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Menjadi  teladan yang baik
KLIK UNTUK BERINFAK

Menjadi  teladan yang baik

Menjadi  teladan yang baik

Sesugguhnya perangai dan tingkah laku manusia adalah hasil meniru orang lain. Jika yang ditiru baik maka akan berbuah kebaikan dan sang teladan akan mendapatkan bagian pahalanya. Jika sebaliknya maka musibah-lah yang melanda. Tinggal sekarang apakah kita ingin menjadi teladan yang baik ataukah yang buruk…??!

Macam-macam teladan

Teladan ada dua macam:

a. Teladan yang baik yaitu meneladani Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam manhaj dan perilaku serta mencontoh bagaimana beliau menerapkannya dalam kehidupan. Orang yang meneladani beliau hanyalah orang yang mengharapkan perjumpaan dengan robnya dan hari akhir dan iman telah meresap dalam hatinya. Ia mengamalkan at tanzil (al Qur’an), takut kepada al Jalil (Yang Maha Mulia) dan mempersiapkan diri untuk yaumur rohiil (hari kematian) (Tafsir as Sa’di 4/153). Alloh Ta’ala berfirman yang artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah (QS. al Ahzab: 21).

Meneladani seseorang selain Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersifat terbatas. Kapan saja ia mengkuti Rasululloh dan para salafus sholih maka ia berhak diteladani dan bilamana ia salah dan keliru tidak boleh diikuti karena selain Nabi tidak ada yang ma’shum.

b. Teladan yang tidak baik yaitu meneladani ahlus suu’ (orang yang buruk agama dan akhlaqnya) dan mengikuti seseorang tanpa dalil dan hujjah yang benar sebagaimana perkataan kaum musyrikin :

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka” (az Zukhruf: 23)

Pentingnya Teladan yang Baik[1]

a. Permisalan dan teladan dari orang yang hidup akan memberikan pengaruh yang besar terhadap jiwa orang yang berakal dimana ia akan simpati, kagum, hormat dan mencintai orang tersebut. Hal itu akan membuat dirinya terus berusaha dan mencontoh orang yang dikagumi tersebut sehingga mencapai derajat yang setinggi-tingginya yang pada akhirnya ia akan menjadi orang yang istiqomah.

b. Teladan yang baik yang dihiasai dengan kelebihan-kelebihan akan membuat orang menjadi puas dan tenang karena ternyata hal itu bisa juga bisa mereka capai karena sama-sama manusia. 

c. Sesungguhnya para pengikut dan obyek dakwah memperhatikan seorang da’i atau gurunya dengan sangat teliti tanpa sepengetahuannya. Jika orang yang belum paham akan melihat guru melakukan suatu perbuatan yang tidak disyari’atkan  atau bahkan melanggar syari’at mereka akan menilai bahwa perbuatan tersebut sah-sah saja dan ini tentunya sangat berbahaya.Oleh karena itu hendakny seorang da’i, guru atau orang tua  menghiasi dirinya dengan ilmu.

Lihatlah keteguhan dari imam Ahmad. Tatkala sahabatnya al Mirwazi menjenguknya pada masa fitnah (kholifah al Ma’mun memaksa dan menyiksa imam Ahmad untuk mengatakan al Qur’an adalah makhluq), ia berkata: “Wahai ustadz, sesungguhnya Alloh berfirman: “janganlah engkau membunuh dirimu sendiri”. Imam Ahmad berkata: “Wahai Mirwazi, keluarlah dan perhatikan apa yang engkau lihat!”. Maka Mirwazi berkata: “Aku keluar ke depan rumah kholifah ternyata aku melihat kerumunan orang yang tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Alloh dan di tangan mereka lembaran-lembaran dan pena serta tinta di lengan mereka. Al Mirwazi bertanya kepada mereka: “Apa yang kalian kerjakan?” Mereka menjawab: “Kami menunggu apa yang akan dikatakan oleh Imam Ahmad kemudian kami akan tulis”. Maka al Mirwazi berkata:”Diamlah di tempat!”. Maka ia masuk menemui Imam Ahmad seraya berkata: “Sungguh saya melihat massa yang banyakdengan lembaran-lembaran di tangan mereka dan pena serta tinta di lengan mereka”. Berkatalah Imam Ahmad: “Apakah aku akan menyesatkan mereka semua…?! “Biarlah aku terbunuh asalkan mereka tidak tersesat…”.

d. Level pemahaman manusia berbeda-beda terhadap suatu perkataan namun mereka sama dalam hal memahami apa yang dilihat sehingga apa yang disaksikan dari seorang guru atau da’i lebih mengena daripada sekedar teori saja.

Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma pernah berkata: “Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memakai cincin dari emas sehingga orang-orang membuat cincin dari emas. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku pernah memamakai cincin dari emas”, kemudian beliau melemparnya seraya berkata: “Aku tidak akan memakainya lagi selamanya”! Maka orang-orang pun melempar cincinya” (HR. al Bukhori 6868, Muslim 3091). Berkata Ibnu Baththol: “Hal itu menunjukkan bahwasanya perbuatan lebih berpengaruh daripada perkataan” (Fathul Baari 13/275).

e. Nabi r telah memperingatkan kepada para da’i, guru maupun orang tua agar jangan menyelisihi apa yang ia katakan. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Pada malam saya di Isro’ kan saya mendatangi sekelompok orang yang digunting bibirnya dengan gunting dari api. Setiap kali terpotong dikembalikan lagi seperti semula. Aku bertanya: “Siapa mereka wahai Jibril?”. Ia menjawab: “Mereka adalah para khotib dari ummatmu, mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, mereka membaca kitabulloh tetapi tidak mengamalkannya” (HR. al Baihaqi 2/283, Ahmad 32/120, 231, 239 dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shohih al Jaami’ as Shoghir 128).

f. Semua para Nabi dan Rasul adalah teladan bagi kaumnya menunjukkan betapa pentingnya teladan yang baik. Nabi Syu’aib berkata:

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ

Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan (QS. Huud: 88).

g. Sebagaimana orang-orang melihat kepada perbuatan dan gerak gerik seorang da’i, mereka pun sangat memperhatikan kepada keluarga sang da’i; seberapakah mereka menerapkan dan mengamalkan apa yang diseru oleh da’i tersebut. Oleh karena itu hendaknya seorang da’i atau guru berusaha memperbaiki keluarganya dan mendakwahkannya terlebih dahulu sebelum orang lain.

‘Umar bin al khoththob apabila beliau naik mimbar dan melarang sesuatu, beliau kemudian mengumpulkan kelurganya dan berkata: “Sesungguhnya aku telah melarang orang-orang dari itu dan ini dan mereka memperhatikan kalian seperti burung (pemangsa) yang melihat daging. Aku bersumpah, demi Alloh tidaklah aku mendapati salah seorang kalian melakukannya melainkan aku akan lipatgandakan hukumannya” (Taarikhul umam wal muluk at Thobary  2/68, al Kaamil fit taarikh ibnul Atsir 3/31).

Dasar-dasar untuk menjadi Teladan Yang Baik

  1. Baik dan lurus dalam aqidah, ibadah dan mu’amalah sesuai dengan aqidah dan ibadah Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat.
  2. Berhias dengan akhlaq yang mulia terutama lima perangai dasar yaitu jujur, sabar, kasih sayang, tawadhu’ dan lemah lembut.
  3. Menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan. Alloh Ta’ala berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. al Baqarah: 44).

Alloh Ta’ala tidak mencela seseorang berdakwah amar ma’ruf nahi munkar bahkan sangat menganjurkannya , Alloh hanya mencela jika ia sendiri tidak melakukannya atau justru menerjang yang munkar tersebut. Wallohul musta’an.

 


[1] Disarikan dari “al khuluqul hasan fi dhauil kitabi was sunnah” Syaikh Sa’d al Qohthoni hal. 47-49, al Qudwah mabaadi’ wa namadzuj , Syaikh Sholih ibnu ‘Abdillah ibnu Humaid  hal. 6-8.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *