Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Pendidikan Islam / Menjadi Pendidik Yang Bijaksana
KLIK UNTUK BERINFAK

Menjadi Pendidik Yang Bijaksana

Menjadi Pendidik Yang Bijaksana

Definisi Bijaksana

Bijaksana (الْحِكْمَةُ) secara bahasa yaitu  Menyesuaikan al haq (kebenaran) dengan ilmu dan akal (al Mufrodat Fi Gharibil Qur’an, al Ashfahani 127).

Secara Istilah Hikmah adalah  Kebenaran dalam ucapan dan perbuatan serta menempatkan sesuatu pada tempatnya (al Hikmah Fid Da’wah ilalloh, Syaikh al Qohthoniy hal. 34).

Macam-Macam Sifat Bijaksana

Bijaksana ada dua macam:

  1. Bijaksana secara Ilmiyyah yaitu mencermati rahasia dari sesuatu dan mengetahui hubungan antara sebab dan akibatnya.
  2. Bijaksana secara ‘Amaliyah yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya (Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim 2/478).

Bijakasana secara ‘Amaliyah ada tiga tingkatan:

  1. Menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak melampaui batas, tidak mendahulukan dari waktu semestinya atau mengundurkannya.
  2. Mengetahui keadilan Alloh dalam semua ancamanNya, kebaikanNya dalam semua janjiNya dan keadilanNya dalam semua hukum syar’i dan kauniy yang berlaku terhadap semua makhlukNya.
  3. al Bashiroh yaitu kekuatan pengetahuan, kepintaran, ilmu dan pengalaman (Mu’jamul Wasith 1/59).

Rukun- Rukun Bijaksana

Seseorang belumlah bisa dikatakan bijaksana sampai terdapat dalam dirinya tiga hal:

a. Berilmu (الْعِلْمُ)

Seorang pendidik tidak akan dapat bijaksana tanpa ilmu dan ilmu tidak bermanfaat jika tidak diamalkan.  Rasululloh ^ bersabda: “Tidak ada hasad kecuali terhadap dua orang, seseorang yang Alloh berikan harta kemudian ia habiskan pada sesuatu yang al haq dan seseorang yang diberikan hikmah yang dengannya ia memutuskan sesuatu dan ia pun mengajarkannya” (HR. al Bukhori 73 dan Muslim 816).

b. Lapang dada (الْحِلْمُ)

Lapang dada adalah dapat menahan diri dan tabiat jiwa dari hawa amarah (al Mufrodat 129). Langkah pertama dari orang yang lapang dada adalah belajar untuk menahan marah dan ini butuh usaha yang luar biasa. Jika sifat ini (menahan marah) sudah melekat pada dirinya dan menjadi tabiatnya barulah dikatakan ia lapang dada.

Rasululloh r pernah bersabda: “Bukanlah orang kuat itu yang kuat bertarung tetapi orang kuat itu adalah yang bisa menahan dirinya tatkala marah” (HR. al Bukhori 5763).

Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kebanyakan manusia dimangsa oleh syaithon tatkala marah dan syahwat” (at Tibyan fi Aqsamil qur’an 265).

c. Tenang dan Berhati-hati (الأَنَاةُ)

Hati-hati yang dimaksud adalah perilaku bijaksana antara terburu-buru dan lamban (al Akhlak al Islamiyyah, Abdurrahman al Maidany 2/352). Kehati-hatian merupakan bagian dari sifat sabar karena tidak cepat menghukumi sesuatu sebelum mencari kejelasan terlebih dahulu.  Berkata ‘Amr Ibnul Ash: “Senantiasa seseorang akan memetik buah dari ketergesa-gesaan yaitu penyesalan” (Tuhfatul Ahwadzi 6/153).

Dari Abdulloh Ibnu Sarjas al Muzani bahwa Rasululloh ^ bersabda: “Pribadi yang baik, kehati-hatian dan pertengahan (dalam semua urusan) merupakan satu bagian dari 24 bagian kenabian” (HR. at Tirmidzi 2010, Shohih at Tirmidzi 2/195).

Potret Sikap Bijaksana Nabi…

Bijaksana dalam melihat Tipe Orang yang dihadapi

  1. Beliau mengkhususkan sebagian sahabat dengan berita rahasia seperti rahasia nama-nama orang Munafiq dan para pembuat fitnah hanya untuk sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman karena dia dapat menjaga rahasia dan kabar gembira beliau bagi Mu’adz bahwasanya siapa saja yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Alloh maka ia akan masuk surga dan Nabi melarang untuk memberitahukan yang lain. Beliau juga menugaskan orang-orang tertentu untuk tugas penting karena memang hanya mereka yang dapat melaksanakannya.

Berkata as Syatibi: “Tidak semua yang haq harus disebarkan yang berkaitan dengan ilmu syar’i, ada diantaranya yang harus disebarkan (inilah yang dominan), ada yang dilarang untuk disebarkan secara muthlak, atau tidak disebarkan karena keadaan tertentu, waktu tertentu atau orang tertentu” (al Muwafaqot 4/189).

  1. Nabi tidak memberitahukan beberapa perkara yang dikhawatirkan akan salah persepsi.

Nabi sangat mengenal pribadi para sahabat sehingga terkadang beliau tidak memberitahukan sesuatu yang bisa salah dipahami. Beliau pernah berkata kepada ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha: “Seandainya bukan karena Quraisy akan melampaui batas maka aku akan beritahukan tentang apa yang Alloh telah siapkan untuk mereka” (HR. Ahmad 6/158).

‘Ali bin Abi Tholib juga tidak mau memberitahukan tentang banyaknya keutamaan orang yang mati syahid melawan kaum khawarij (teroris) karena khawatir para sahabat akan ‘ujub (bangga diri). Oleh karena itu sebagian sahabat menyalahkan Anas bin Malik karena memberitahukan hadits ‘Uroniyyin kepada Hajjaj bin Yusuf sehingga ia menumpahkan darah 125.000 para sahabat karena salah persepsi dengan hadits tersebut.

  1. Variasi jawaban Nabi kepada Para Penanya walaupun pertanyaannya sama.

  Dari Abu Hurairoh ia berkata: “Ada seseorang yang datang kepada Nabi tentang mubasyaroh (saling menyentuh /mencium istri) tatkala puasa maka beliau membolehkannya. Kemudian datang orang lain bertanya dengan yang sama maka beliau melarangnya. Ternyata yang beliau bolehkan adalah orang tua dan yang beliau larang adalah pemuda” (HR. Abu Dawud 2387).

  1. Variasi wasiat Nabi melihat siapa yang meminta.

Tatkala datang kepada Nabi seseorang yang meminta wasiat, beliau berkata: “Jangan marah”, karena beliau mengetahui orang tersebut tukang marah (Fathul baary 1/520). Ada seorang Arab Baduiy datang kepada Nabi meminta ditunjukkan amalan yang bisa membuatnya masuk surga, maka Nabi menjawab: “Beribadahlan kepada Alloh, jangan menyekutukanNya, dirikan sholat wajib, tunaikan zakat wajib dan puasalah Romadhon”. Beliau hanya menyebutkan amalan-amalan fardhu tanpa menyuruhnya melakukan yang sunnah karena orang tersebut baru masuk Islam dan Nabi tidak mau memberatkannya (Fathul Baary 3/265). Ketika Nabi ditanya “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau terkadang menjawab: “Memberi makan”, “Sholat di awal waktu”, “Berbakti kepada orang tua”, “Beriman kepada Alloh dan RasulNya”, “Jihad di jalan Alloh”…

Berkata Ibnul Qoyyim: “Di sini ada sesuatu yang harus dipahami bahwasanya amalan tertentu  lebih afdhol bagi orang lain. Orang yang kaya, shodaqoh dan kedermawanannya lebih utama daripada sholat malam dan puasa sunnah, orang yang pemberani dan kuat yang bisa menggentarkan musuh, diamnya dia di barisan depan lebih afdhol dari haji, puasa dan shodaqoh sunnah, orang ‘alim yang mengetahui sunnah, halal dan haram, jalan kebaikan dan keburukan, hidupnya bersama masyarakat, mengajarkan dan menasehati masyarakat lebih baik daripada mengasingkan diri dan konsentrasi sholat, membaca al Qur’an dan bertasbih, Waliyul Amri (pemimpin)  yang telah dimanati untuk mengadili antara hamba, duduknya sebentar meneliti kedzholiman dan menolong orang yang terdzholimi, menegakkan hudud (hukuman), menolong yang haq dan memberantas yang bathil lebih baik baginya daripada ibadah bertahun-tahun, barangsiapa yang dikalahkan oleh syahwat kepada wanita, puasa adalah jawaban terbaik baginya daripada menyebut ibadah yang lainnya” (‘Uddatus Shobirin wa Dzakhirotus Syakirin, Muhammad Ibnu Abi Bakr az Zar’iy, tahqiq Zakariyya ‘Ali Yusuf hal. 93).

Bijaksana dalam Metode Menghadapi Orang

Nabi terkadang menggunakan cara yang lembut, keras, mengancam atau juga memotivasi tergantung kondisi orang yang sedang dihadapi. “Bukanlah termasuk bijaksana hanya menggunakan satu cara dalam amar ma’ruf nahi munkar antara orang tua dan anak kecil, laki-laki dan perempuan, orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan, pejabat dan rakyat, orang yang temperamen dan tenang, tetapi hendaknya metode juga harus bervariasi disesuaikan dengan umur, pendidikan, tabiat dan lingkungan tempat mereka tinggal.

Bijaksana Dalam Bercanda

Canda disukai oleh semua orang baik anak kecil maupun orang tua karena itulah fitrah manusia. Islam pun menganjurkannya selama tidak ada kebohongan dalam canda tersebut. Berkata Syaikhul Islam: “Barangsiapa yang menggunakan suatu yang mubah (diperbolehkan) untuk dapat menyampaikan kebenaran maka termasuk amal sholih” (Majmu’ fatawa 28/396). Berkata al Hafidz Ibnu Hajar: “Apabila bercanda itu dimaksudkan untuk menghibur hati orang yang diajak bicara maka sangat dianjurkan” (Fathul Baary 10/527). Namun janganlah mencandai semua orang tanpa melihat situasi dan kondisi karena orang alim dan orang tua memilki hak untuk dihormati dan janganlah mencandai orang dungu karena akan cepat tersinggung.

Sebagaimana juga Nabi mencandai anak kecil beliau juga mencandai orang tua.  Dari Anas ia berkata: “Ada seseorang yang mendatangi Nabi lantas ia berkata: “Wahai Rasululloh, bawalah saya”. Nabi ^ berkata: “Kami akan membawamu dengan anak unta”. Orang itu berkata: “Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta?”. Maka Nabi berkata: “Bukankah unta itu berasal dari anak unta?” (HR. Abu Dawud 4998).   

Demikian uraian singkat tentang sikap bijaksana yang harus dilakoni oleh seorang Pendidik, semoga Alloh memudahkan kita untuk berhias denga sifat ini. Wallohul Muwaffiq ila Sabilir Rosyad.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *