Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Akhlaq / Menjadi orang tua yang adil
KLIK UNTUK BERINFAK

Menjadi orang tua yang adil

Menjadi orang tua yang adil

Sesungguhnya Alloh mengutus rasulNya dan menurunkan kitabNya agar manusia menegakkan keadilan di muka bumi ini. Keadilan mencakup pemenuhan semua hak Alloh, RasulNya dan hak manusia secara menyeluruh baik dari tingkat masyarakat (negara) maupun tingkat terkecil yaitu keluarga.

Kebanyakan orang hanya menilai tentang keadilan para pemimpin bangsa dan masyarakat dan tidak menilai dirinya sendiri bagaimana sebaiknya berbuat adil terhadap anak-anaknya. Betapa banyak keluarga berantakan dan terurai cinta kasihnya karena menyepelekan masalah ini, berapa anak yang membenci saudara dan orang tuanya bahkan memutuskan tali silaturrahim karena buah dari ketidakadilan orang tua. Maka sudah selayaknya kita mulai berbuat adil terhadap anak-anak.

Makna Adil

Adil secara bahasa adalah pertengahan dalam segala urusan (as Shihah fil lughoh, al Jauhari 5/1760). Secara istilah adil merupakan ungkapan tentang sikap istiqomah di atas jalan yang benar dengan menghindarkan diri dari sesuatu yang terlarang secara syar’i (at Ta’rifaat al Jurjani hal. 147).

Dalil tentang wajibnya berbuat adil

 Alloh Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ  

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu (QS. an Nisaa’: 135).

Dari ‘Ubadah bin shomit ia berkata: “Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membait kami untuk mendengar dan ta’at di kala senang atau susah, giat maupun malas dan agar kita tidak mencabut suatu urusan dari pemiliknya dan supaya mengatakan sesuatu dengan adil dimana saja kita berada dan tidak takut celaan orang” (HR. Ahmad 3\441, an Nasa’i  4153, Shohih an Nasa’i 4164).

Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang adil pada hari kiamat berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sebelah kanan ar Rahman- dan kedua tanganNya adalah kanan-, yaitu orang-orang yang adil dalam hukumnya, keluarganya dan apa-apa yang mereka urus” (HR. Muslim 1827).

Dalil wajibnya adil terhadap anak-anak

Dari Nu’man bin basyir Radhiallahu ‘Anhu bahwasanya ia berkata: “Aku diberikan sesuatu pemberian dari bapakku, maka ibuku berkata: “ Saya tidak ridho sampai engkau mempersaksikan kepada Rasululloh. Maka ia (bapakku) mendatangi Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seraya berkata: “Saya memberikan anak laki-laki saya yang dari ‘Umroh binti rowahah suatu pemberian lalu ia menyuruhku untuk mempersaksikan engkau wahai Rasululloh. Maka beliau berkata: “Apakah engkau memberikan anakmu yang lainnya semisal ini ?” Ia menjawab: “Tidak”. Maka nabi r bersabda:

فاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُم

Bertaqwalah kepada Alloh dan berbuat adillah diantara anak kalian

Kemudian ia kembali dan mengambil kembali pemberiannya (HR. al Bukhori 2447, Muslim 1623).

Berbuat adil kepada anak dalam mu’amalah yang bukan harta

Mu’amalah non harta bisa berbentuk dzhohir dan bathin. Adapun yang dzhohir semisal mengkhususkan salah seorang mereka (yang sudah mumayyiz) untuk bermalam dengannya, berbicara lembut dengannya, sering mengajaknya jalan-jalan, sering mencium dan membelainya yang itu tidak dilakukan terhadap anak-anaknya yang lain. Hal ini tidak diperbolehkan.

Berkata Ibrohim an Nakho’i : “Mereka (para sahabat) menyukai jika seseorang berbuat adil terhadap anak-anaknya sampai dalam masalah ciuman” (HR. Ibnu Abi Syaibah 7/317).

Umar bin Abdil ‘Aziz pernah memeluk anaknya yang sangat dicintainya seraya berkata: “Wahai fulan, demi Alloh saya sangat mencintaimu namun aku tidak bisa mengutamakanmu dari sudara-saudaramu yang lain sekalipun hanya satu suap” ( Dikeluarkan oleh Ibnu Abi ad Dunya 1/177 dalam kitabnya “al ‘Iyaal”  dan ia berkata: “sanadnya maqbul”).

Adapun mu’amalah bathin seperti kecintaan dan kecendrungan hati kepada salah satu anak maka tidak akan dapat dihindarkan karena orang tua tidak akan mampu membagi kecintaaan kepada semua anak secara adil sebagaimana yang terjadi pada Ayyub ‘alaihis salam yang hatinya lebih condong kepada Yusuf ‘alaihis salam. Alloh berfirman tentang perkataan saudara-saudara Yusuf yang artinya:

(yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, Padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat) (QS. Yusuf : 8).

Hukum berbuat adil dalam mu’amalah harta seperti hadiah, pemberian (nihlah), shodaqoh, hibah dan lainnya

Pendapat yang paling kuat adalah wajib sebagaimana hadits Nu’man bin Basyir di atas. Bahkan dalam riwayat yang lain Nabi bersabda:

فَلاَ أَشْهَدُ عَلَى جَوْر

Saya tidak akan mempersaksikan sesuatu yang tidak adil (HR. Muslim 4270).

Berkata as Syaukani : “Yang kuat bahwasanya membagi rata hukumnya wajib dan melebihkan diharamkan” (Nailul author 9/221). Pendapat ini dikuatkan juga oleh Ibnul Qoyyim dalam Tuhfatul Maudud (hal. 124) dan Ighotsatul Lahfan (1/365).

Hanya saja sebagian ulama membolehkan tidak sama pada pemberian yang sepele atau remeh yang tidak akan menimbulkan permusuhan antar anak atau pemberian yang banyak namun dengan seizin anak-anaknya yang lain (al Mughni 5/387, Kasyful Qina’ 4/309).       

Hukum melebihkan pemberian kepada anak karena suatu sebab atau kebutuhan

  1. Melebihkan pemberian kepada anak karena agamanya tidak diperkenankan menurut sebagian ulama karena akan membuat iri saudaranya yang lain sebagaimana kisah ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha tatkala diberikan 20 wasaq kurma oleh Abu Bakr rodhiyallohu ‘anhu namun kemudian di kembalikan (Dikeluarkan oleh Imam Malik dalam al Muwaththo’ 2/752, abdurrozzaq dalam Mushannafnya 9/101). Namun jika orang tua mengatakan kepada salah seorang anaknya yang fasiq: “Saya tidak akan memberikanmu seperti saudaramu yang lain sampai kamu bertaubat!”maka ini lebih baik dan jika ia betul bertaubat maka harus diberikan semisal yang lainnya (al Fataawa al Kubro, Syaikhul Islam 5/435).
  2. Melebihkan pemberian karena bakti anak yang lebih menonjol maka diperinci; jika waktu sang anak banyak tersita untuk melayani dan berbuat baik kepada orang tuanya maka diperbolehkan untuk diberikan lebih asalkan tidak berlebihan walaupun yang terbaik hendaknya sang anak hanya mengharap pahala atas amalannya tersebut (al ‘Adlu bainal aulad Syaikh faishol ibnu Sa’id hal. 35).
  3. Jika terdapat perbedaan kebutuhan masing-masing anak maka diperbolehkan bagi orang tua untuk tidak memberikannya serempak namun jika anak yang lain membutuhkannya di waktu yang lain maka harus diberikan. Ukurannya pun berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan mereka, waktu dan tempat. Misalnya menuntut ilmu, biaya menikah, sakit dan yang semisalnya (al Umm 5/94, al Mughni 5/388, Fathul Qodiir 4/411).
  4. Cara berbuat adil kepada anak perempuan adalah dengan memberikannya setengah bagian laki-laki sebagaimana pembagian harta warisan (Badail fawa’id 3/672). Namun jika anak perempuan tersebut sangat membutuhkan maka boleh untuk disamakan bahkan dilebihkan dari anak laki-laki sebagaimana point c di atas.
  5. Para ulama sepakat bahwasanya wajib memberikan nafkah kepada anak yang belum baligh yang tidak mempunyai harta (al Ijma’ hal.144) sebagaimana mereka juga sepakat bahwa anak yang kaya tidak wajib diberikan nafkah (al Istidzkar 7/302). Mereka juga bersepakat bahwa wajib memberikan nafkah kepada anak yang sudah baligh namun tidak memiliki harta atau tidak bisa mencari penghasilan sendiri karena sakit, gila, cacat, buta dan kondisi tidak normal lainnya ( al Mabsuth 5/223, al Umm 5/94, Fathul Qodiir 4/410). Disunnahkan juga bagi orang tua untuk memberikan nafkah kepada anaknya yang sudah baligh atau sudah menikah dan mampu mencari nafkah namun ia miskin sebagaimana keumuman sabda Nabi r : “Yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu” (HR Muslim 1661). Wallohu a’lam.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *