Sabtu , Oktober 24 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Menghindari Virus Hasad
KLIK UNTUK BERINFAK

Menghindari Virus Hasad

Menghindari Virus Hasad

Hasad adalah penyakit hati yang banyak menghancurkan manusia dan sedikit sekali yang selamat darinya. Ia adalah dosa pertama yang dilakukan di langit dan di bumi.  Iblis hasad kepada Adam dan Qobil hasad kepada saudaranya Habil. Oleh karena itu Alloh Ta’ala mencela virus ganas ini karena tidak hanya menggerogoti orang awwam bahkan para penuntut ilmu tidak luput dari wabahnya. Alloh Ta’ala berfirman:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ 

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? (QS. An Nisaa’: 54).

Rasululloh bersabda: “…Jangan kalian saling hasad…”[1]. Dari Dhomuroh bin Tsa’labah, Rasululloh bersabda: “Senantiasa manusia itu dalam kebaikan selama mereka tidak saling hasad”[2]

Pengertian Hasad

Berkata Ibnul Atsir : “Hasad adalah seseorang melihat suatu nikmat pada diri orang lain dan senang supaya nikmat tersebut hilang dan orang tersebut berada lebih rendah darinya”[3].

An Nawawi berkata : Hasad adalah berangan-angan hilangnya suatu nikmat dari pemiliknya baik itu nikmat agama maupun dunia[4].

Berkata Ibnu Hajar : ”Hasad adalah berangan-angan lenyapnya suatu nikmat dari orang yang berhak mendapatkannya”[5].

Pada hakekatnya hasad adalah tidak senang dengan pemberian Alloh kepada seseorang sekalipun ia tidak mengangan-angankan hilangnya nikmat tersebut pada diri orang itu. Berbeda dengan hasad yang terpuji (Ghibthoh) yang hanya sekedar ingin mendapatkan nikmat seperti orang lain tanpa mengangan-angankan hilangnya nikmat tersebut dari orang tersebut dan ia pun tidak benci dengan pemberian Alloh kepada orang tersebut.

Rasululloh bersabda: “Tidak ada hasad pada dua perkara yaitu seseorang yang diberikan harta oleh Alloh kemudian ia belanjakan di jalan yang haq dan seseorang yang diberikan hikmah (ilmu) oleh Alloh kemudian ia berhukum dengannya dan mengamalkannya[6].

Penyebab Hasad

Telah dimaklumi bahwa tabiat manusia adalah ingin lebih dari yang lain sehingga tatkala ada yang lebih  tinggi darinya maka ia akan merasa tidak senang. Berkata Ibnu Qudamah: “Ketahuilah bahwasanya suatu kemarahan jika ditahan maka ia tidak akan bisa ditumpahkan. Dalam kondisi ini ia akan mengendap di dalam hati sehingga berubah menjadi kedengkian. Cirinya  adalah ia selalu membenci orang  tersebut dan menjauh darinya. Kedengkian adalah buah dari kemarahan dan hasad adalah buah dari kedengkian”[7].

Syaikhul Islam berkata:Tidak ada tubuh yang bersih dari hasad namun orang yang tercela akan menampakkannya dan orang yang mulia akan menyembunyikannya”.

Pernah ditanyakan kepada Hasan al Bashri : “Apakah orang mukmin itu bisa hasad… ? Beliau menjawab: “Apakah kamu lupa dengan saudaranya Yusuf ? Yang demikian itu engkau sembunyikan di dalam hatimu dan tidak akan menjerumuskanmu selama tidak kamu nampakkan dengan lisan maupun tanganmu”[8]. Berkata Ibnul Qoyyim ; ”Kejelekan hasad ini adalah dari jiwa orang tersebut dan perangainya. Bukanlah sifat ini diperoleh dari orang lain namun ia adalah wujud keburukan dan kejelekan jiwanya”[9]. Secara umum penyebab hasad diantaranya adalah tidak ridho dan qona’ah dengan pemberian dari Alloh, Sombong dan bangga diri, kejelekan jiwa, keberhasilan orang yang dihasadi dan ketidakmampuan orang yang hasad untuk mencapainya, ambisi  jabatan dan popularitas, berlomba-lomba dalam satu pekerjaan atau profesi, khawatir tidak tercapai tujuannya dan terkadang muncul karena sebab orang dihasadi yang terlalu berlebihan menampakkan nikmat yang diberikan kepadanya.

Dari Mu’adz, Ali, Ibnu ‘Abbas dan Abi Burdah secara mursal, Rasululloh bersabda: “Minta bantuanlah dalam memenuhi kebutuhan kalian dengan menyembunyikannya karena semua pemilik nikmat selalu dihasadi”[10]

Perbedaan antara Hasad dan ‘Ain

  1. Hasad lebih umum dari ‘Ain. ‘Ain adalah hasad yang khusus. Semua a’in termasuk hasad dan tidak semua hasad itu ‘ain. Oleh karena itu dalam surah al falaq kita diminta berlindang dari orang yang hasad karena termasuk di dalamnya ‘ain[11].
  2. Hasad muncul dari sifat dengki, marah dan ingin supaya nikmat itu hilang dari orang lain sedangkan ‘ain muncul karena ta’jub, keheranan dan kekaguman.
  3. Hasad dan ‘ain sama-sama berpengaruh terhadap korbannya. Terkadang ‘ain dapat menimpa sesuatu yang tidak dihasadi seperti benda, hewan, tanaman, harta dan bahkan bisa mengenai dirinya sendiri[12]. Syaikh Utsaimin pernah menceritakan bahwa mesin air ataupun kendaraan bisa macet gara-gara penyakit ‘ain[13]
  4. Hasad dapat menimpa sesuatu yang belum terjadi pada diri orang dihasadi dan sekalipun yang dihasadi berada di tempat yang jauh. Adapun ‘ain tidaklah menimpa kecuali orang yang berada di depan matanya (QS. Al Qolam: 51).
  5. Seseorang tidak akan hasad kepada dirinya atau hartanya namun dapat menyebabkan dirinya sendiri tertimpa penyakit ‘ain.
  6. Hasad secara umum terjadi pada diri orang yang jiwanya jelek sedangkan ‘ain terkadang muncul dari orang yang sholih tanpa disadarinya sebagaimana yang terjadi pada sahabat ‘Amir bin Robi’ah rodhiyallohu ‘anhu.

Fenomena hasad antara Ulama dan Penuntut Ilmu

Hasad diantara ulama termasuk jenis hasad kepada sejawat yang muncul karena berkumpulnya mereka dalam satu hal yaitu menuntut ilmu.

Berkata Ibnul Jauzi : “Saya meneliti hasad yang terjadi diantara ulama maka saya melihat bahwa sebabnya adalah cinta dunia karena Ulama akhirat mereka saling mencintai tidak saling hasad (lalu beliau menyebutkan surah al hasyr: 9-10). Dahulu Abu Darda’ mendoakan sebagian ikhwannya setiap malam.

Berkata Imam Ahmad kepada salah seorang anak Imam Sfafi’i: “Bapakmu termasuk enam orang yang saya doakan setiap malam di waktu sahur”. Perbedaan antara kedua kelompok itu; Ulama dunia melihat kepada kepemimpinan dan senang banyaknya jama’ah dan pujian sedangkan ulama akhirat sangat menghindari hal tersebut, mereka sangat takut dengannya dan kasihan terhadap orang yang tertimpa penyakit tersebut.

Berkata Abdul ‘Aziz Abu Hazim : “Dahulu jika ada seorang ulama bertemu dengan orang yang lebih alim darinya maka itu dianggap hari ghanimah. Jika bertemu dengan orang yang setara ilmunya maka mereka mudzakaroh (saling mengingatkan) dan apabila bertemu dengan orang yang di bawahnya mereka tidak merendahkannya; berbeda dengan di zaman ini yang mana seseorang mencela orang yang lebih alim darinya dengan maksud agar menjauhinya sehingga manusia tidak butuh lagi dengannya, tidak mengingatkan orang yang setara ilmunya dan sombong dengan orang yang dibawahnya sehingga masyarakat menjadi hancur”[14].

Bahaya Penyakit Hasad

  1. Hasad dapat merusak dan menghancurkan agama seseorang. Dari Zubair bin al ‘Awwam Rasululloh bersabda: ”Akan menjangkiti kalian penyakit ummat sebelum kalian yaitu hasad dan saling membenci yang itu adalah pemotong (agama)…”[15].
  2. Akan menafikan keimanan yang sempurna. Dari Abu Hurairoh bahwasanya Rasululloh bersabda: “Tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba antara iman dan hasad”[16].
  3. Menyebarnya permusuhan di dalam masyarakat.
  4. Orang yang bersifat hasad hidup dalam kesusahan dan kesedihan. Berkata as Samarqondi: “Tidak ada keburukan yang lebih jelek dari hasad karena akan mengakibatkan lima bencana bagi orang yang hasad sebelum sampai kepada orang yang dihasadi : Kesedihan yang tidak berujung, musibah yang tidak berpahala, kehinaan yng tidak disukai, kemurkaan Robb dan ditutupnya pintu-pintu taufik baginya”[17]. Berkata al Ashmu’I kepada seorang Badui: “Apa yang menyebabkan umurmu panjang ?” Ia menjawab: “Aku meninggalkan hasad sehingga aku masih ada”. Berkata seeorang kepada Syuraih al Qodhi: “Saya hasad kepadamu karena kesabaranmu menghadapi orang yang memusuhimu…”. Beliau menjawab: “Alloh tidak memberikan manfaat kepadamu dengan hal itu, tidak juga memudhoratkan saya”. Berkata al Jahidz: “Hasad adalah penyakit yang merusak jasad, menghancurkan kecintaan, dan pengobatannya sangat sulit…”[18].
  5. Orang yang hasad akan dijauhi dan dibenci.

Benteng dari  Penyakit Hasad

Berkata Ibnul Qoyyim: “Kejelekan orang yang hasad dapat dicegah dengan sepuluh sebab:

  1. Berta’awwudz kepada Alloh dari kejelekannya dan menjadikan Alloh sebagai benteng dan tempat berlindung.
  2. Bertaqwa kepada Alloh dengan menjaga perintahNya dan menjauhi laranganNya (QS. Yusuf: 24). Rasululloh berkata kepada Ibnu ‘abbas: “Seandainya ummat berkumpul untuk memudhorotkanmu dengan sesuatu maka mereka tidak akan bisa memudhorotkanmu kecuali yang telah ditetapkan oleh Alloh”[19]
  3. Bersabar terhadap orang yang memusuhinya, tidak memeranginya maupun mengadukannya.
  4. Bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupinya.
  5. Tidak menyibukkan hati dengannya dan tidak memikirkannya.
  6. Menghadapkan hati kepada Alloh dan Ikhlas untukNya
  7. Memurnikan taubat kepada Alloh dari dosa-dosa yang menjadikan musuhnya membencinya.
  8. Bersedekah dan berbuat baik semampunya.
  9. Memadamkan api hasad, kejahatan dan pengganggu dengan berbuat baik kepadanya (QS. Fushshilat: 34-36).
  10. Mentauhidkan Alloh yang semurni-murninya[20].
  11. Menutupi kebaikan dan keistimewaan orang yang akan dikhawatirkan terkena hasad atau ‘ain.

Pengobatan orang yang tertimpa hasad

  1. Membaca al fatihah dan ayat kursi
  2. Membaca surah al Ikhlas, al Falaq dan an Naas tatkala akan tidur da tatkala paid an sore.
  3. Menjaga dzikir pagi dan petang
  4. Meruqyah diri sendiri dengan ruqyah yang syar’I dan banyak berdo’a.

 

 

 

[1] HR. al Bukhori (6065), Muslim (2559).

[2] HR. at Thobroni (8/309 no. 8157), Silsilah as Shohihah (9/172)

[3] An Nihayah (1/383).

[4] Riyadush shalihin hal. 466

[5] Fathul Bari (10/481).

[6] HR. al Bukhori (73), Muslim (816).

[7] Mukhtashor Minhajil Qoshidin hal. 174

[8] Majmu’ Fataawa (10/124-125).

[9] At Tafsir al Qoyyim hal. 583.

[10] HR. at Thobroni (20/94, no. 183 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohihul Jaami’ no.943.

[11] At Tafsi al Qoyyim hal. 759

[12] Bada’I’ul fawaid (2/231)

[13]Silakan lihat Penjelasan beliau dalam Tafsirnya tatkala mentafsir surah al falaq.

[14] Jaami’u bayanil ‘Ilmu wa Fadhlihi (2/151-152).

[15]Shohih at Tirmidzi (2038).

[16] Shohih an Nasa’I (2912).

[17] Al Mustathrof, Syihabuddin Abul Fath (1/458).

[18] Risalah al hasid wal Mahsud hal.8.

[19] HR. Ahmad, at Tirmidzi, Shohih.

[20] At Tafsir al Qoyyim hal. 585-594.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *