Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Menghiasi jiwa dengan Husnudz Dzhon
KLIK UNTUK BERINFAK

Menghiasi jiwa dengan Husnudz Dzhon

Menghiasi jiwa dengan Husnudz Dzhon

Tatkala era globalisasi dan informasi melaju pesat kehidupan manusia pun terasa semakin dekat. Peristiwa dan berita terdengar dan disaksikan begitu cepat tanpa ada yang menghambat. Al hasil, dalam waktu yang relatif singkat desas-desus dan berita burung menyebar dengan singkat. Ironinya terkadang kabar tersebut tidak akurat sehingga meresahkan masyarakat. Dalam hitungan detik kehormatan seorang muslim bisa ternoda hanya karena prasangka yang tidak sesuai syari’at. Oleh karena itu hendaknya setiap muslim bertaqwa kepada Alloh Ta’ala dan selalu mengecek kebenaran berita tersebut serta selalu mendandani jiwanya dengan husnudz dzhon (berbaik sangka) khususnya kepada kaum mukmin agar tidak terjatuh dalam lumpur kedzhaliman dan maksiat.

Tips-tips meraih jiwa husnudz dzhon

1. Membina Aqidah yang benar yang buahnya berupa husnudz dzhon kepada Alloh, RasulNya dan orang-orang beriman.

Husnudz  dzhon kepada Alloh dan RasulNya merupakan tuntutan tauhid sedangkan su’udz dzhon kepada Alloh dan RasulNya adalah bentuk dari kekufuran.  Sebagaimana juga husnudz dzhon kepada  kaum mukmin merupakan cabang keimanan dan su’udz dzhon kepada mereka tanpa alasan yang benar merupakan cabang kemunafikan.  Dari Jabir bin Abdillah t ia berkata: ‘Aku mendengar Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda tiga hari sebelum meninggalnya:

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Janganlah salah seorang kalian meninggal kecuali harus berbaik sangka kepada Alloh ‘Azza wa jalla (HR. Muslim 2877).

2. Membiasakan Adab-adab islami dalam menghukumi sesuatu permasalahan dengan mencari kejelasan suatu berita atau desas-desus. Beberapa metode yang bisa diterapkan dalam  tasabbut atau tabayyun (mencari kejelasan suatu permasalahan) :

a. Mengembalikan permasalahan yang muncul kepada Alloh, RosulNya dan para alim ‘ulama. Alloh Ta’ala berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ 

Jika datang suatu berita dari keamanan atau ketakutan mereka menyiarkannya. Sekiranya mereka menyerahkannya kepada Rosul dan Ulil ‘Amri diantara mereka maka tentulah orang-orang yang ingin mencari kebenaran akan mendapatkan dari mereka (QS. An Nisaa’: 83).

Berkata Al Imam Ibnu Katsir : ’Ini adalah pengingkaran terhadap orang yang terburu-buru memutuskan suatu permasalahan sebelum mengeceknya terlebih dahulu dimana ia memberitahukan orang lain, menyiarkan dan menyebarkannya padahal terkadang tidak sesuai dengan realita’. Lalu beliau mendatangkan hadits Nabi :

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar (HR. Muslim 5 ).

Kisah yang memberikan teladan dalam masalah ini salah satunya adalah kisah Al Wazir Abu Qosim bin Maslamah salah seorang menteri Bani Abbas bersama seorang Yahudi di abad ke-5 Hijriyyah. Orang-orang Yahudi menunjukkan sebuah kitab (tulisan) dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  dimana di dalamnya ada penghapusan tentang Jizyah bagi Yahudi Khaibar. Di dalamnya ada persaksian beberapa sahabat. Al Wazir tidaklah lekas memberikan keputusan sebelum mengecek kebenaran berita tersebut. Maka ia menyerahkan kitab tersebut kepada Syaikhnya ulama Baghdad yaitu Al Khatib Al Bagdadi (wafat 465 H). kemudian beliau menelitinya lalu berkata:’ Ini bohong’. Al Wazir bertanya :’Apa alasannya kalau itu bohong?’. Maka Al Khatib menjawab: ‘Karena di dalamnya ada persaksian Mu’awiyah bin Abi Sufyan sementara ia belum masuk Islam pada Perang Khaibar sedangkan Khaibar terjadi pada tahun ke-7 Hijriyyah dan Mu’awiyah masuk Islam pada Fathu Makkah. Di dalam kitab itu juga ada persaksian Sa’d bin Mu’adz  padahal beliau meninggal sebelum Khaibar yaitu pada tahun terjadinya Perang Khondaq tahun ke-5 Hijriyyah’. Maka orang-orang terkagum-kagum dan Al Wazir pun mengurungkan untuk menerapkan kitab tersebut (Mu’jam Al Udaba’, Yakut Al Hamwa 4/18).

 

b. Bertanya atau berdialog langsung dengan pelaku utama kisah atau suatu berita. Hal ini sangat efektif untuk mengetahui benar tidaknya suatu kabar sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tatkala Hatib bin Abi Balta’ah menulis surat kepada penduduk Makkah yang isinya memberitahukan tentang rencana penyerangan Nabi ke Makkah. Kemudian Alloh Ta’ala memberitahukan hal tersebut kepada NabiNya lalu beliau menyuruh ‘Ali, Zubair dan Miqdad untuk merampas surat tersebut. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  memanggil Hathib seraya bertanya:”Wahai Hathib, surat apa ini ?”. Hathib menjawab: ‘Wahai Rasululloh, Janganlah menghukumku karena sesungguhnya aku adalah orang yang asing dikalangan Muhajirin (tidak punya sanak kerabat) sedangkan aku mempunyai anak dan saudara di Makkah sehingga aku menulis surat tersebut agar bisa melindungi mereka. Aku tidaklah melakukan hal tersebut karena murtad dari agamaku dan ridho dengan kekafiran setelah aku memeluk Islam’. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikannya udzur dan memaafkannya karena ia termasuk orang yang ikut perang badar (Muslim 2494). Al Hafidz Abu Nu’aim meriwayatkan dengan sanadnya dari Kholid bin Ma’dan bahwasanya ia berkata: ‘’Umar bin Khoththob menyerahkan mandat kekuasaan buat kami di Himsho kepada Sa’id bin ‘Amir. Ketika ‘Umar berkunjung ke Himsho ia bertanya: ‘Wahai penduduk Himsho bagaimana pemimpinmu ?’. Maka mereka mengeluhkannya sambil berkata: ‘Kami mengeluhkan empat hal: ‘Ia tidak keluar melayani kami kecuali jika sudah siang’, Ia tidak meladeni seorangpun di waktu malam, Dalam satu bulan ada satu hari yang ia tidak pernah keluar rumah dan Ia sering tidak sadarkan diri diantara hari-hari itu’. ‘Umar tetap husnudz zdhon dan mengumpulkan antara mereka dengan Sa’id bin Amir seraya berdo’a: ‘Ya Alloh, janganlah Engkau menjadikan aku keliru dalam memutuskan urusan ini’. Maka Sa’id pun mengajukan alasannya : ‘Demi Alloh sebenarnya aku tidak suka menyebutkannya, Keluargaku tidak mempunyai pembantu sehingga aku membantu mengaduk tepung lalu aku duduk menunggu sampai menjadi ragi lalu aku membuat roti kemudian aku wudhu dan menemui mereka. (Kedua) ‘Aku menjadikan siang untuk mereka dan waktu malam untuk Alloh, (Ketiga) Aku tidak mempunyai pembantu yang mencucikan pakaianku dan aku tidak punyai pakaian ganti yang lain sehingga aku duduk menunggu sampai pakaian tersebut kering kemudian aku keluar menemui mereka di akhir siang, (Keempat) Aku pernah menyaksikan Hubaib Al Anshory di Makkah dimana dagingnya diiris-iris oleh Quraisy dan ia diikat di batang kurma. Orang-orang Quraisy berkata:’Apakah engkau ingin jika Muhammad mengganti tempatmu sekarang ?’. Ia menjawab: ‘Demi Alloh, aku tidak suka berada bersama istri dan anakku sedangkan Muhammad ditusuk dengan duri’. Kemudian Sai’d berteriak:’Wahai Muhammad senantiasa aku mengingat peristiwa hari itu dan aku tidak menolongmu di waktu aku masih musyrik belum beriman kepada Alloh, sehingga aku menganggap aku tidak akan diampuni karena dosaku itu. Itulah yang membuatku sering pingsan tidak sadarkan diri. Maka ‘Umar berkata :’Segala puji bagi Alloh yang menjadikan firasatku tidak meleset’ (Hilyatul Auliya’ 1/131).

c. Memperhatikan dengan seksama tatkala diceritakan suatu berita dan bertanya jika ada suatu permasalahan yang terasa belum jelas. Teladan dalam masalah ini adalah tatkala Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyerahkan bendera perang kepada ‘Ali bin Abi Tholib pada perang Khaibar. Beliau berkata: ‘Pergilah berperang jangan menoleh sampai Alloh memenangkanmu ‘. Kemudian ‘Ali beranjak sebentar kemudian berhenti dan bertanya :’Wahai Rasululloh Atas dasar apa aku memerangi orang-orang itu?’ Maka Nabi menjawab: ‘Perangilah sampai mereka bersaksi bahwa tidak yang berhak diibadahi dengan benar selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh…(HR. Muslim 2405). Sesuatu yang belum jelas dipahami atau keliru dalam mendengar akan membawa kepada salah pengertian yang berbuntut kepada su’udz dzhon.

d. Tidak terburu-buru memberikan penilaian kepada seseorang sebelum mengenal hal ikhwal atau keadaan orang tersebut. Adalah Sa’d bin Abi Waqqos tatkala terjadi fitnah kekuasaan ia justru sibuk dengan kambingnya. Maka datanglah anaknya ‘Umar kemudian berkata:’Engkau sibuk dengan unta dan kambingmu dan meninggalkan orang-orang yang meributkan masalah kekuasaan ?!’ Maka Sa’d berkata: ‘Diamlah karena aku pernah mendengar Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِى

Sesungguhnya Alloh mencintai seorang hamba yang bertaqwa, kaya (hati) dan Al Khofi (sibuk dengan ibadah dan urusan pribadinya) (HR. Muslim 2965). Jika terhadap orang tua yang merupakan manusia paling dekat dan sangat dikenal hal ikhwalnya masih perlu bertanya kenapa ia melakukan hal seperti itu maka bagaimana lagi jika orang tersebut tidak pernah dikenal ataupun belum jelas permasalahannya ?.

e. Menggabungkan keterangan dari beberapa pihak sebelum memutuskan atau mengomentari suatu berita maupun permasalahan. Metode ini pernah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada ‘Ali bin Abi Tholib ketika beliau mengutusnya untuk Hakim di Yaman. Maka ‘Ali berkata: ‘Wahai Rasululloh, engkau mengutusku sedangkan aku masih hijau dan tidak tahu menahu tentang kehakiman?’. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya Alloh akan menunjuki hatimu dan menguatkan lisanmu maka jika datang dua orang yang bersengketa kepadamu maka janganlah memutuskan sampai kamu mendengar dari pihak yang kedua sebagaimana kamu mendengar dari yang pertama karena itu akan  lebih tepat dalam memberikan keputusan (HR. Abu dawud 3582,  tahqiq Syaikh Albani : ‘hadits hasan’).

f. Mengulangi pertanyaan kepada pelaku kisah dalam rentang yang cukup lama untuk menguatkan kebenaran berita tersebut. Dari ‘Urwah ia berkata: ‘Abdulloh ibnu ‘Umar datang menunaikan haji dan aku mendengar ia berkata:’Aku mendengar Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh tidaklah mencabut ilmu sekaligus namun Ia mencabutnya dengan matinya para ulama sehingga tersisalah manusia yang bodoh, mereka diminta fatwa lalu mereka berfatwa tanpa ilmu,, mereka sesat dan menyesatkan”. Maka aku memberitahukan ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha. Kemudian pada tahun depannya Abdulloh bin ‘Umar kembali berhaji maka ‘Aisyah berkata:’ Wahai keponakanku, pergilah ke Abdulloh bin ‘Umar dan mintalah penjelasan lagi tentang hadits yang engkau beritahukan dahulu kepadaku’. Maka ‘Urwah mendatangi Abdulloh bin ‘Umar dan bertanya lagi hadits tentang ilmu kemudian dijawab oleh Abdulloh seperti yang dahulu diceritakan  lalu disampaikan ke ‘Aisyah. Maka ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha kagum sambil berkata: ‘Demi Alloh Abdulloh ibnu ‘Umar adalah benar (tidak menambah dan mengurangi)’ (HR. Al Bukhori 6877).

 

3. Berusaha memadamkan celah-celah munculnya fitnah dan menjelaskannya kepada yang lain. Sebagai contoh:

  • Jika anda sedang bersama mahrom atau istri anda sedangkan orang lain belum mengenalnya maka hendaknya dijelaskan.
  • Jika anda telah sholat berjama’ah di masjid daerah anda kemudian anda pergi dengan suatu urusan dan singgah di masjid yang lain sedangkan mereka sedang sholat maka sholatlah bersama mereka sebagai sholat sunnah bagi anda dan untuk menghindari anggapan orang awwam bahwa anda tidak sholat (Ihkamul Ahkam 2/57, Fathul Bari 4/280).

4. Selalu bertaqwa dan muroqobah (mawas diri) karena pada dasarnya harga diri dan kehormatan seorang muslim sangat besar di sisi Alloh Ta’ala sehingga tidak semestinya untuk dilecehkan.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Muslim itu adalah orang yang kaum muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya (HR. Al Bukhori 10, Muslim 41). Alloh Ta’ala berfirman:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا

Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu, orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri (QS. An Nuur: 12).

5. Berusaha untuk menghindari lingkungan yang terbiasa su’dz dzhon dan membiasakan diri bergaul dengan orang-orang sholih.

6. Selalu mengingat kesudahan yang buruk karena su’udz dzhon yaitu mendzholimi sesama muslim jika tidak sesuai dengan kenyataan dan semua itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Alloh kelak. Alloh Ta’ala berfirman:

وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ

Perintahkan mereka untuk berhenti karena mereka akan ditanya (QS. As Shaffat: 24).

7. Berusaha melawan dan menepis buruk sangka yang muncul dalam hati. Dari Abu Hurairoh Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَجَاوَزَ لأُمَّتِى عَمَّا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَكَلَّمْ بِه

Sesungguhnya Alloh A’zza wa jalla mengampuni untuk ummatku apa yang terbetik dalam hatinya selama ia tidak mewujudkannya atau membicarakannya (Muslim 127).  Ya, Alloh karuniailah kami akhlaq yang baik. Wallohul musta’an.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *