Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Akhlaq / Manusia Bukan Obyek Bully…
KLIK UNTUK BERINFAK

Manusia Bukan Obyek Bully…

Manusia Bukan Obyek Bully…

 Islam telah mendudukkan manusia sebagai makhluk yang sangat mulia terlebih apabila dia adalah orang beriman. Haram darah, kehormatan dan hartanya untuk didzolimi baik dengan ucapan, perbuatan maupun perasaan. Menghancurkannya tanpa alasan yang benar sama seperti menghancurkan seluruh manusia di alam semesta ini. Alloh ta’ala berfirman:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32).

Sa’id bin Jubair berkata, ““Barangsiapa menghalalkan darah seorang muslim, maka ia seakan-akan menghalalkan darah manusia seluruhnya. Barangsiapa mengharamkan darah seorang muslim, maka ia seakan-akan mengharamkan darah manusia seluruhnya.

Awalnya Saling Mengolok dan Mencaci…

عن أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: (الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالَا فَعَلَى الْبَادِئِ، مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ)

Dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rasululloh bersabda: “Dua orang yang saling umpat (caci) akan menanggung dosa umpatan (caciannya) dan bagi  yang memulai menanggung dosa (keduanya) selama yang diumpat tidak melampaui batas (dalam membalas)” (HR. Muslim 2587).

Berkata an Nawawi rohimahulloh: “Maknanya, dosa umpatan antara dua orang khusus diperoleh oleh orang yang memulai kecuali jika pihak yang kedua menambah dari ucapan orang pertama. Ini adalah dalil bolehnya membalas dan tidak ada pertentangan dalam masalah ini” (al majmu’ 16/141).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “ Demikian pula apabila diumpat maka boleh membalas mengumpat atau balas melaknat kalau dilaknat. Jika dicaci dengan ucapan: “Semoga Alloh menjelekkanmu” maka boleh dibalas “Semoga Alloh menjelekkanmu”, Jika diumpat: “Wahai Anjing, wahai babi!” maka boleh dibalas “Wahai anjing, wahai babi!” (Majmu’ fatawa 34/162). Yang membalas tidak boleh melebihi dalam kualitas dan kuantitas, mis: Dia dicaci: “Wahai Kodok!”, maka tidak boleh menambah: “ Wahai anjing, babi…dst” karena level kodok di bawah anjing dan ia mengumpat dua kali maka yang membalas berdosa juga. Demikian pula apabila ditampar, ditempeleng diperbolehkan membalas di depan hakim (yang berwenang) seukuran tamparan dan tempelengan tersebut. Namun bersabar dan memaafkan tentunya lebih baik.

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ  (النحل:126).

Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar (QS. An Nahl: 126).

Kemudian Dia Memukulku…

Sungguh nyawa dan darah seorang muslim sangatlah mahal di sisi Alloh dan amalan yang pertama kali dihisab hubungannya dengan sesama hamba adalah masalah darah. Mari kita lihat diyat (tebusan) jiwa dan raga seorang muslim.

Jiwaku  melayang….

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُّتَعَمِّداً فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An Nisa: 93)

  • Diyat nyawa seorang muslim adalah setara 100 ekor unta (HR. Malik 5/253 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani). atau 200 ekor sapi atau 2000 ekor kambing atau 1000 dinar emas (atau 3400 gr emas tatkala harga standard an jika harganya tinggi setara dengan 4250 gram emas) ,12.000 dirham (atau 23.800 gr perak di waktu harga standard an jika harga naik kurang lebih 35.700 gram). Jika asumsi kita harga emas sekarang Rp. 500.000,00 per gram maka jumlah diyat nyawa seorang muslim adalah Rp. 1.700.000,00 jika harga standar dan jika harga tinggi Rp. 2. 125.000.000,00.  Namun disebabkan harga unta melambung maka pemerintah Saudi melalu al Mahkamah al Ulya no.  14/07/1431 H menaikkan diyat untuk pembunuhan disengaja 400.000 real dan pembunuhan tidak sengaja 300.000 real. Jika satu real sama dengan Rp.4000,00 maka diyat pembunuhan  disengaja 1.700.000,00 + 1.600.000.000,00= 3.300.000.000,00 atau jika harga tinggi  725.000.000,00 dan pembunuhan tidak disengaja  2.800.000.000,00 atau 3.325.000.000,00.
  • Diyat perempuan setengah diyat laki-laki dan diyat anak-anak sama dengan dewasa. Diyat orang kafir dzimmiy dan musta’man (diberi jaminan keamanan di negeri muslim) adalah setengah diyat muslim (HR. abu dawud 4541, at Tirmidzi 1413 dan dihasankan oleh Syaikh albani dalam al Irwa’ 7/307).
  • Diyat pembunuhan yang tidak disengaja dibebankan kepada ‘Aqilah (Keluarga pelaku dari arah bapak), masing-masing urunan sesuai dengan kemampuannya dan boleh diangsur selama 3 tahun (Riwayat al Bukhori 1681, lihat al Mughni Ibnu Qudamah 7/770-771). Walaupun diyatnya dibayarkan ‘Aqilah-nya, sang pelaku tetap membayar kaffaroh dari hartanya sendiri yaitu membebaskan budak beriman sebagaimana dalam surah an Nisaa’: 92 atau jika tidak mendapatkan budak hendaknya puasa 2 bulan berturut-turut. Jika ‘Aqilah-nya tidak mampu maka diambilkan dari baitul mall.
  • Boleh bagi kelurga korban untuk berdamai dengan tidak mengambil diyat keseluruhan atau sebagian sebagaimana firman Alloh Ta’ala yang artinya: “Kecuali jika mereka mau bershodaqoh” (QS. An Nisaa’: 92).
  • Adapun pembunuhan yang bersengaja harus diqishos kecuali jika sang pelaku mati atau salah seorang kelurga korban memaafkannya. Sebagai gantinya sang pelaku harus membayar diyat dari hartanya sendiri bukan urunan ‘Aqilah dan tidak boleh ditunda pembayarannya. Diyat ini pun terkadang berlipat-lipat sebagai ganti dari qishos yang tidak jadi dilakukan.

Aku pun terluka….

Hukum diyat selain kasus pembunuhan

  • Bila penganiayaan itu dilakukan dengan sengaja maka harus diqishos kecuali jika keluarga korban memaafkannya maka harus membayar diyat. Jika keluarga korban tidak menghendaki diyat maka cukup dengan permintaan maaf.
  • Jika dilakukan tanpa kesengajaan maka ia membayar diyat dan tidak diqishos. Alloh Ta’ala berfirman:

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (المائدة: 45)

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim (QS. Al Maaidah: 56).

Diyat Selain Pembunuhan ada tiga macam:

  1. Diyatnya Anggota Badan dan Fungsinya

a. Anggota badan yang jumlahnya tunggal diyatnya seperti satu jiwa (100 ekor unta) seperti (menghilangkan) hidung, lidah, janggut, Dzakar (kemaluan) demikian juga jika penciuman, lidah, janggut dan kemaluan menjadi tidak berfungsi (walaupun masih ada)  maka diyatnya 100 ekor unta.

b. Anggota badan dobel seperti dua mata, dua telinga, dua bibir, dua tangan, dua kaki, dua alis, dua rahang, dua pantat, dua buah testis, dua payudara, dan semisalnya…diyat kedua-duanya adalah 100 ekor unta. Jika salah satunya yang hilang/putus atau tidak berfungsi maka diyatnya 50 ekor unta. Jika keduanya tidak berfungsi maka 100 ekor unta.

c. Anggota badan yang terdiri dari empat bagian (seperti kelopak mata) jika hilang salah satunya diyatnya ¼ dan jika keempatnya hilang maka diyatnya sempurna (100 ekor unta).

d. Anggota badan yang terdiri dari 10 seperti jari tangan dan jari kaki, masing-masing diyatnya adalah 1/10 (10 ekor unta). Jika kesepuluhnya hilang atau menjadi tidak berfungsi lagi maka diyatnya sempurna. Setiap ruas jari diyatnya 1/3 dari satu jari. Adapun ruas ibu jari setiap ruas diyatnya ½ diyat satu jari.

e. Gigi Manusia berjumlah 32 buah. Setiap buah gigi diyatnya 5 ekor unta. Apabila semua giginya copot maka diyatnya melebihi diyat satu nyawa yaitu 160 unta.

f. Diyat sempurna juga berlaku jika semua rambut manusia hilang seperti rambut kepala, bulu jenggot, bulu alis dan bulu mata. Satu bulu alis diyatnya ½ dan salah satu bulu mata diyatnya ¼.

g. Jika salah satu tangan terputus maka diyatnya ½ baik itu putusnya dari telapak tangan, siku atau pundak demikian pula satu kaki diyatnya ½ baik itu putusnya dari mata kaki, lutut atau pangkal paha.

h. Dua rongga hidung diyatnya 2/3 dan pembatas antara dua rongga tersebut diyatnya 1/3.

i. Setiap indera memiliki diyat sempurna. Misalnya: pendengaran, penglihatan, penciuman (hidung), perasa (lisan), dan indera rangsangan (kulit). Dari abu Muhallab ia berkata: “Seseorang dilempar dengan batu dan mengenai kepalanya sehingga hilang (tidak berfungsi) pendengarannya, lisannya, akal dan kemaluannya, ia tidak bisa mendatangi (istrinya) lagi maka Umar memutuskan 4 diyat sempurna” (HR. Ibnu abi Syaibah dan dihasankan oleh Syaikh Albany dalam al Irwa’ 2279).

 

  1. Diyat Luka- luka

a. Al Haridhoh : luka yang menggores kulit luar, diyatnya di bawah 1 ekor unta. Sebagian ulama menyebut 1/5 unta.

b. Ad Damiyah/ad Dami’ah/al Bazilah: luka yang menggores kulit dan menampakkan darah atau darahnya menetes seperti air mata, diyatnya 1 ekor unta.

c. Al Baadhi’ah: luka yang menembus kulit dan sampai di permukaan daging. Diyatnya 2 ekor unta.

d. Al Mutalaaahimah: Luka yang merobek kulit dan masuk ked aging. Diyatnya 3 ekor unta.

e. As Samhaq: luka yang merobek/menembus kulit dan daging serta sampai ke kulit tipis pembungkus tulang. Diyatnya 4 ekor unta. Al Haridhoh sampai as Samhaq tidak ada diyat tertentu secara syar’I dan dikembalikan kepada Hakim. Adapun Imam Ahmad cenderung memilih ijtihad Zaid dengan pembagian diyat di atas.

f. Al Muwaddhihah: Luka yang menembus kulit dan daging dan pembungkus tipis tulang. Diyatnya 5 ekor unta (Berdasarkan riwayat an Nasa’I dan lainnya).

g. Al Haasyimah: Luka yang menembus kulit, daging, pembungkus tulang dan menggores tulang. Diyatnya 10 ekor unta.

h. Al Munaqqolah/al Manquulah: Luka yang mulai mematahkan tulang atau membuat tulang keluar ke arah lain. Diyatnya 15 ekor unta.

i. Al Ma’muumah: Luka yang menembus kulit, daging serta mematahkanya dan sampai ke otak. Diyatnya 1/3 diyat sempurna (33 1/3 unta).

Apabila luka tersebut sampai ke bagian dalam perut, dada, pundak, leher maka diyatnya 1/3 diyat sempurna . Apabila tidak sampai organ dalam maka diserahkan putusannya ke Hakim.

  1. Diyat Tulang

a. Jika salah satu tulang rusuk patah dan harus digips maka diyatnya satu ekor unta.

b. Salah satu tulang belikat (tulang antara leher dan pundak)patah dan digips diyatnya 1 ekor unta.

c. Tulang punggung patah dan digips diyatnya diserahkan ke Hakim dan jika tidak bisa disambung diyatnya sempurna.

d. Jika Tulang-tulang yang lainnya patah maka diserahkan kepada putusan Hakim.

Catatan:

a. Harga unta bervariasi dari 2000-12.000 real /ekor.

b. Diyat tersebut dibayar setelah sang korban sembuh dari dari luka dan setelah ada otopsi dari dokter. Jika sudah sembuh tidak ada luka sedikitpun namun hanya merasakan sakit saja maka tidak ada diyatnya namun pelaku harus membayar biaya pengobatan dan otopsi dokter.

Rasululloh bersabda:

لاَ يُسْتَقَادُ مِنَ الْجُرْحِ حَتَّى يَبْرَأَ

“Tidak boleh diqishos suatu luka sampai sembuh terlebih dahulu” (HR. at Thohawy dan dihasankan oleh Syaikh Albaniy dalam Irwa’ul Ghalil 7/299).

Begitulah mahalnya seorang manusia di sisi Alloh. Apabila seseorang lolos dari pengadilan di dunia maka ia tidak akan bisa lari dari pengadilan akhirat. Semoga Alloh Ta’ala melindungi kita dari keburukan amalan kita dan semoga kita bukan termasuk orang yang bangkrut di akhirat. Amiin…

 

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *