Sabtu , Oktober 24 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Manfaat Waqaf dalam Islam
KLIK UNTUK BERINFAK

Manfaat Waqaf dalam Islam

Manfaat Waqaf dalam Islam

Waqaf adalah menahan suatu benda dan memanjangkan manfaat serta buahnya sebagai bentuk taqarrub kepada Alloh Ta’ala. Waqaf disyariatkan dalam agama Islam karena akan membawa manfaat yang sangat banyak baik bagi yang mewaqafkan maupun orang lain. Terlebih lagi waqaf merupakan shodaqoh yang paling utama. Waqaf memiliki kekhususan dan manfaat yang sangat besar bagi manusia.

Diantara kekhususan aturan waqaf dalam Islam adalah:

  1. Waqaf adalah aturan robbani bukan aturan manusia. Oleh karena itu waqaf hanya ada dalam ajaran Islam. Berkata Imam as Syafi’i: “Orang-orang jahiliyyah tidak pernah mewaqafkan rumah dan tanah-sepengetahuanku-. Yang mewaqafkan hanya orang Islam” (al Umm 4/52).
  2. Aturan waqaf adalah aturan yang universal dan sangat luas.

Dalam masalah waqaf akan ditemukan ragam dan jenis waqaf yang banyak sekali. Ada jenis waqaf yang berupa non materi seperti keahlian  dan ada juga yang berupa materi yang mencakup semua kebaikan dunia dan akhirat baik itu berupa masjid, jalan, rumah sakit, perumahan, sekolah, sumur dan lain-lain. Bahkan obyek waqaf tidak hanya untuk kaum muslimin tetapi juga untuk non muslim dalam rangka membantu dan menolong mereka dan melunakkan hati mereka. Tidak hanya itu waqaf juga mencakup hewan.

  1. Kesinambungan waqaf. Dasar dari suatu waqaf adalah agar bendanya tetap dan manfaatnya juga berkelanjutan. Rasululloh bersabda: “Jika anak Adam meninggal maka akan terputus amalannya kecuali tiga hal : Shodaqoh yang mengalir,ilmu yang dimanfaatkan dan anak sholih yang mendoakannya” (HR. Muslim 1631). Tidak diragukan lagi bahwa waqaf adalah shodaqoh yang paling langgeng pahalanya.
  2. Aturan waqaf adalah aturan yang berdiri sendiri dan tidak dicampuri oleh pihak lain. Jika seseorang telah mewaqafkan sesuatu untuk kepentingan orang banyak maka tidak diperkenankan bagi orang lain untuk mengambil alih pemanfaatannya baik dengan menjualnya, menghadiahkannya maupun mewariskannya. Dari Ibnu ‘Umar rodhiyalohu ‘anhuma ia berkata: “Umar mendapatkan bagian tanah pada perang Khaibar lalu ia mendatangi Nabi seraya berkata: “ Saya tidak pernah mendapatkan harta yang lebih berharga dari tanah tersebut. Apa perintahmu bagiku?”. Nabi menjawab: “Jika engkau mau kamu tahan tanah tersebut dan engkau bersedekah dengan hasilnya”. Ibnu ‘Umar berkata: “Umar kemudian bershodaqoh (dengan mensyaratkan) bahwa tanah tersebut tidak boleh dijual, tidak boleh dihadiahkan dan tidak boleh diwarisi. ‘Umar bershodaqoh dari hasilnya untuk kaum faqir, kerabat, membantu membebaskan budak, buat fi sabilillah, musafir yang kehabisan bekal dan untuk tamu. Tidak mengapa bagi yang mengurusnya untuk menikmatinya dengan cara yang ma’ruf atau memberikan makanan sahabatnya dengan tanpa menimbunnya“ (HR. al Bukhori 2586, Muslim 1632). Ini akan berpengaruh positif bagi kemajuan dan kemuliaan kaum muslimin di negerinya sendiri dan tidak bergantung kepada yang lain.
  3. Waqaf adalah sarana untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan ummat di setiap zaman. Aturan waqaf melihat dan menyesuaikan dengan kebutuhan ummat. Tidaklah ia jumud pada satu hal saja. Bagi orang yang akan mewaqafkan sesuatu hendaknya memperhatikan waqaf yang lebih dekat kepada keridhoaan Alloh dan kecintaanNya dan yang lebih bermanfaat bagi seluruh hambaNya dan hendaknya berusaha mencari sesuatu yang hasilnya lebih besar dan lebih menyeluruh dan bermanfaat (Majmu Fatawa 31/237).

 

Diantara manfaat dari waqaf adalah:

  1. Sebagai wujud peribadahan kepada Alloh Ta’ala. Karena waqaf adalah bentuk taqarrub kepada Alloh dan termasuk amalan yang dicintai Alloh maka menjadilah ia ibadah yang mulia. Tatkala seseorang menyerahkan harta yang dicintainya untuk kepentingan orang banyak maka itulah bentuk ketaqwaan di dalam hatinya dan menunjukkan ia seorang mukmin sejati.
  2. Bentuk penunaian amanah sebagai khalifah di muka bumi. Alloh Ta’ala berfirman:

آمنوا بالله ورسوله وأنفقوا مما جعلكم مستخلفين فيه فالذين آمنوا منكم وأنفقوا لهم أجر كبير

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya (QS. Al Hadid: 7) . Waqaf dengan berbagai jenisnya merupakan upaya memakmurkan bumi karena manfaatnya berkelanjutan.

  1. Waqaf dapat menunjang perekonomian negara yang tangguh dan mandiri. Ummat Islam dapat berkembang sebagai ummat yang tangguh dari generasi ke generasi dengan banyaknya waqaf. Berkata as Syafi’i: “Telah sampai berita kepadaku bahwa lebih dari delapan puluh orang sahabat Anshor berwaqaf”. Kebanyakan rumah-rumah di Makkah adalah waqaf” (al Umm 4/53).
  2. Waqaf dapat melanggengkan kekuasaan dan kemenangan ummat Islam di muka bumi ini. Alloh Ta’ala menjanjikanNya dengan firmanNya yang artinya: “ dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa…” (QS. An Nuur: 55). Dengan waqaf ilmu dan ulama dapat disebarkan, pasukan kaum muslimin dapat disantuni dan dikuatkan baik dari sisi peralatan perang maupun kesejahteraannya.
  3. Wujud saling membantu dan saling menolong diantara kaum muslimin sebagai ummat yang satu. Berapa banyak kaum muslimin yang kesusahan dapat tertolong dengan waqaf ini baik itu orang tua, para janda, orang cacat, faqir miskin dan yang lainnya. Dengan mewaqafkan rumah sakit atau apotek maka orang-orang yang tidak mampu berobat dapat tertolong.
  4. Waqaf merupakan hadiah kaum muslimin bagi non muslim dan sarana mendakwahi mereka. Dengan diterjemahkannya mushaf al Qur’an dan buku-buku Islam ke dalam berbagai bahasa sangat memungkinkan untuk sampainya ajaran Islam ini kepada mereka. Demikian pula berdirinya Pusat-pusat pengkajian Islam dan badan-badan sosial yang menyantuni orang kafir yang tidak mampu, semua ini adalah pintu-pintu yang sangat lebar yang membuka hidayah bagi non muslim untuk memeluk Islam. Alloh Ta’ala berfirman:

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (QS. Al baqoroh: 195).

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *