Sabtu , Oktober 24 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Larangan Islam terhadap sesuatu yang memudhoratkan
KLIK UNTUK BERINFAK

Larangan Islam terhadap sesuatu yang memudhoratkan

Larangan Islam terhadap sesuatu yang memudhoratkan

Diantara kaidah dalam agama Islam adalah “Tidak boleh membahayakan atau menyusahkan diri sendiri maupun orang lain tanpa hak”. Kaidah ini merupakan kaidah emas yang diambil dari hadits Nabi yang menunjukkan betapa agama Islam sangat melarang dari perbuatan yang bisa menimbulkan kerusakan dan gangguan baik untuk pribadi maupun masyarakat. Tidaklah hal itu mengherankan karena Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam.

Diantara bentuk dhoror (bahaya) yang dilarang dalam Islam dalah:

  1. Berwasiat kepada sebagian ahli waris dengan menambah bagian warisan yang telah ditetapkan dalam Islam sehingga merugikan ahli waris yang lain atau berwasiat untuk memberikan ajnabi (orang lain yang bukan ahli warisnya) lebih dari sepertiga. Dari Abu Umamah, ia mendengar Rasululloh bersabda: “Sesungguhnya Alloh telah memberikan yang punya hak haknya, tidak ada wasiat bagi ahli waris” (HR. Abu Dawud 2870, Shohihul jaami’2669).
  2. Ruju’ dengan maksud untuk memudharatkan sang istri (QS. Al baqoroh: 231). Sebagaimana hal ini dilakukan di zaman jahiliyyah dimana sang suami menthalaq istrinya kemudian jika mendekati akhir masa iddahnya ia meruju’nya setelah itu dithalaq lagi. Mereka melakukannya berulang-ulang kali tidak ada batasannya. Oleh karena praktek semacam ini membuat sang istri menjadi susah karena menjadi “menggantung”. Oleh karena itu Alloh ta’ala menetapkan bahwasanya thalaq itu adalah tiga kali tidak boleh lebih.
  3. Dalam masalah Ila’ (suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya) dapat memudhratkan sang istri sehingga Islam memberikan tempo hanya empat bulan. Jika dalam tempo tersebut ia menggauli istrinya maka itulah taubatnya. Namun jika ia tetap bersikap seperti itu maka berarti ia telah menthalaq sang istri (QS. Al Baqoroh: 226-227).
  4. Tatkala sudah bercerai, sang suami tidak boleh untuk mengambil paksa anaknya yang masih dalam masa penyusuan dari mantan istrinya karena akan menyusahkan sang anak dan juga membuat sedih mantan istrinya. Dalam keadan itu sang suami tetap memberikan nafkah kepada anak dan mantan istrinya. Namun jika sang mantan istri sudak tidak mau lagi menyusui anaknya atau ia meminta upah yang terlalu tinggi maka bagi sang suami untuk mencarikan wanita lain untuk menyusuinya (al Baqoroh: 233).
  5. Demikian pula dalam masalah jual beli, Islam melarang dari jual beli yang ada unsur paksaan dan spekulasi maupun tipuan dengan berbagai macam coraknya. Sebagaimana pula diperbolehkan untuk mengembalikan barang yang ada aibnya dan adanya hak khiyar agar tidak merugikan salah satu pihak.
  6. Dalam hubungan bertetangga, seseorang tidak boleh melakukan sesuatu yang dampak negatifnya akan merambah kepada tetangga sekalipun ia tidak bermaksud seperti itu. Contohnya: membakar sampah yang membuat tetangganya akan terganggu dengan asapnya, saluran got atau pembuangan merembes ke halaman tetangga sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap, menggali sumur di dekat sumur tetangga sehingga volume air sumur tetangga menjadi berkurang, menganggu tetangga dengan suara, membiarkan pohon atau rantingnya menjulur ke halaman tetangga sehingga merepotkan tetangga dalam membersihkannya dan hal-hal lainnya.
  7. Dalam hal yang menjadi kebutuhan vital bersama, Islam melarang untuk tidak memberikan atau menimbunnya karena akan memudharatkan banyak orang. Dari Abu Hurairoh Rasululloh bersabda: “Janganlah mencegah (untuk memberikan) kelebihan dari air dengan tujuan agar tidak tumbuh tumbuhan” (HR. al Bukhori 2227). Dalam riwayat Ibnu Majah :”Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal yaitu air, rumput dan api (HR. Ibnu Majah 2432, al Irwa’ 1552).
  8. Dalam medan dakwah, seorang da’I harus melihat maslahat dan mafsadat sebelum mengingkari suatu kemungkaran. Karena mengingkari kemungkaran akan berkonsekwensi pada empat keadaan:
  9. Kemungkaran tersebut akan hilang dan berganti dengan kebaikan
  10. Kemungkaran tersebut berkurang sekalipun tidak bisa hilang sekaligus
  11. Kemungkaran tersebut akan berganti dengan kemungkaran yang sama
  12. Kemungkaran tersebut akan bertambah menjadi kemungkaran yang lebih besar.

Maka pada kondisi (a) dan (b), kemungkaran tersebut dianjurkan untuk diingkari. Pada kondisi (c) merupakan tempat ijtihad seorang da’I dan pada kondisi (d) diharamkan untuk mengingkari kemungkaran. Oleh karena itu tatkala para sahabat meminta izin kepada Rasululloh untuk memerangi para pemimpin yang mengakhirkan sholat, beliau melarang seraya mengatakan :”Tidak boleh, selama mereka tetap sholat”, dalam riwayat yang lain :”Barangsiapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang tidak disukai maka hendaknya bersabar dan jangan sekali-kali memberontaknya” (HR. al Bukhori 6646). Kenapa dilarang? Karena akan meyebabkan bahaya yang lebih besar berupa korban dari pihak rakyat yang tidak terhitung sebagaimana yang telah terjadi di berbagai belahan bumi ini. Oleh karena itu suatu kemudaharatan tidak boleh dirubah dengan kemudharatan yang lain.

Demikian pula jika engkau melihat orang-orang jahat (perampok atau pencuri), para pemabuk dan orang-orang fasik sedang bermain catur atau domino, maka jika engkau bisa mengajaknya kepada keta’atan kepada Alloh maka itu yang lebih utama. Namun jika diingkari mereka justru akan kembali berbuat jahat maka mengingkarinya termasuk kedangkalan dalam ilmu agama dan tidak ada hikmah di dalam berdakwah.  Rasululloh melihat suatu kemungkaran yang sangat besar di Makkah dan beliau ingin untuk merubah ka’bah dan mengembalikannya ke pondasi yang dibangun oleh Ibrohim. Namun karena beliau khawatir akan terjadi kemungkaran yang lebih besar terhadap kaum Quraisy yang baru masuk Islam maka beliau justru tidak melakukannya. Demikian pula beliau tidak memerintahkan membunuh kepala tokoh munafik Abdulloh bin ‘Ubay bin Salul karena ada mudaharat di balik itu.

13. Termasuk keindahan syari’at Islam dalam kaidah ini adalah Islam tidaklah membebankan seseorang untuk melakukan sesuatu yang memberatkan atau memudharatkan mereka (QS. Al Baqarah: 185) seperti digugurkannya kewajiban bersuci menggunakan air bagi mereka yang sakit, Bolehnya bagi mereka yang sakit untuk melakukan sesuatu yang dilarang dalam ihram seperti memotong rambut, kuku dan menggantinya dengan fidyah.

Seseorang baru  akan merasakan mudharat dalam Islam jika ia melanggar batasan-batasan Alloh maka ia dihukum sesuai dengan pelanggarannya tersebut atau mendzholimi orang-orang lain sehingga ia harus diqishos atau diadili. Maka ini adalah jenis dhoror yang diizinkan syari’at (al baqoroh: 194). Walhamdulillah.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *