Sabtu , Oktober 24 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Kikir dengan Waktu
KLIK UNTUK BERINFAK

Kikir dengan Waktu

Kikir dengan Waktu

Seorang musafir berjalan mengarungi padang pasir yang menghijau di sekitarnya. Nampaknya ia sangat kelelahan karena harus menempuh perjalanan panjang. Sedangkan waktu yang sangat pendek menuntutnya untuk cepat sampai tujuan. Sehingga ia pun tidak terlalu menikmati daerah sekelilingnya yang mempesona…Itulah ibarat seorang mukmin di zaman  ini. Perputaran waktu yang sangat cepat di tengah  gemerlapnya dunia yang begitu memikat, menuntutnya untuk memanfaatkan waktu yang sangat singkat karena dunia memang bukan tempat istirahat. Alloh Ta’ala berfirman tentang hikmah semua ini:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

Dialah Alloh yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau bersyukur (QS. Al Furqon: 62).

Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda mengingatkan umatnya:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ خِصَالاً سِتًّا: إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ وَكَثْرَةَ الشُّرَطِ وَقَطِيعَةَ الرَّحِمِ وَبَيْعَ الْحُكْمِ وَاسْتِخْفَافاً بِالدَّمِ وَنَشْئاً يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ يُقَدِّمُونَ  الرَّجُلَ لَيْسَ بِأَفْقَهِهِمْ وَلاَ أَعْلَمِهِمْ مَا يُقَدِّمُونَهُ إِلاَّ  لِيُغَنِّيَهُمْ

Bersegeralah melakukan amal sholih sebelum terjadi enam perkara: Kepemimpinan orang-orang bodoh, banyaknya polisi, pemutusan silaturrahmi, jual beli hukum, penumpahan darah, dan generasi yang menjadikan Al Qur’an sebagai seruling (nyanyian) mereka mempersilahkan seseorang menjadi imam yang bukan orang paling faqih dan paling ‘alim diantara mereka tidaklah mereka mengedepankannya kecuali untuk bernyanyi buat mereka (HR. Ahmad 3/494 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Silisilah As Shohihah no. 979).

” يكونن في هذه الأمة خسف و قذف و مسخ ، و ذلك إذا شربوا الخمور و اتخذوا القينات و ضربوا بالمعازف ” سلسلة الصحيحة :2203

Terlebih tanda-tanda hari kiamat kecil sudah hampir nampak semuanya maka hendaknya seorang muslim berusaha mengatur waktu sebaik-baiknya agar hidupnya yang singkat ini dapat diisi dengan ibadah yang maksimal. Beberapa hal yang dapat ditempuh diantaranya:

1. Mengoptimalkan penggunaan waktu dengan sebaik-baiknya dan menghindarkan diri dari menghabiskan waktu dengan sesuatu yang tidak bermanfaat karena waktu adalah modal utama seorang muslim. Tatkala seseorang membuang waktunya percuma maka ia jatuh dalam beberapa kerugian:

a. Habisnya umur tanpa faedah yang berarti. Inilah diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua nikmat yang manusia banyak dilalaikan di dalamnya yaitu kesehatan dan waktu kosong (HR. Al Bukhori 6049).

b. Mendapatkan kehinaan di dunia

Yang demikian itu karena manusia jika tidak disibukkan dengan kebaikan maka ia akan mengerjakan kebalikannya yaitu kejelekan dan kesia-siaan dan itu merupakan kehinaannya di hadapan makhluk dan di sisi Alloh. Alloh ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu maka baginya penghidupan yang sempit (QS. Thoha: 124)

c. Membuat hati menjadi keras

Membuang waktu akan menjadikan seseorang lalai dari introspeksi diri atau membersihkan jiwanya sehingga jiwanya menjadi kering dan mati. Alloh Ta’ala berfirman:

فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ

Maka berlalulah atas mereka waktu yang lama maka hati-hati mereka menjadi keras (QS. Al Hadid: 16).

d. Penyesalan yang mendalam di hari kiamat.

Bagaimana tidak menyesal, ia akan menjumpai Robbnya dengan sesuatu yang tidak diridhoiNya sedangkan tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia. Alloh Ta’ala berfirman:

أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ

Supaya jangan ada yang mengatakan ;’Amat besar penyesalanku atas kelalaian dalam (menunaikan kewajibanku) terhadap Alloh (QS. Az Zumar: 56).

2. Melakukan persiapan sedini mungkin untuk mempertanggungjawabkan umurnya di dunia nanti di hadapan Alloh Ta’ala. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ…

Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan… (HR. At Tirmidzi 2417 dan ia berkata :hadits hasan shohih).

3. Bercermin dengan para salafus sholih dalam usahanya memanfaatkan waktu.

  • Adalah Abu Bakr Al Anbari dikala sakit akan meninggal dunia, datanglah dokter memeriksa air seninya dan ia berkata :’Engkau telah melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan orang lain’. Kemudian Al Anbari ditanya:’ Apa yang engkau pernah kerjakan?’ Maka ia menjawab: ‘Aku mengulangi (menelaah) setiap minggu sepuluh ribu kertas (Al Waqtu, Ammar au dammar, Jasim Al Muthawwa’ 1/45).
  • Istri Al Hafidz Az Zuhri mengeluhkan suaminya yang sangat gandrung dengan kitab-kitab dan lamanya ia menelaah kitab tersebut sampai istrinya itu berkata: ‘Demi Alloh, sesungguhnya kitab-kitab ini lebih berat bagiku daripada tiga orang madu’ (Syudzurutudz Dzahab, Ibnul ‘Imad 1/63).
  • Al Khatib Al Baghdadi menceritakan tentang Ibnu Jarir At Thobari (wafat 310 H) bahwasanya ia menulis kitab sebanyak 40 lembar setiap hari (Wafayaatul A’yan 4/131).
  • Al Mundziri menceritakan tentang Ishaq bin Ibrohim :’Aku tidak pernah melihat dan mendengar ada seseorang yang lebih bersungguh-sungguh dalam kesibukan daripadanya. Ia terus sibuk siang dan malam. Aku pernah menjadi tetangganya di Kairo selama 12 tahun. Tidaklah aku bangun di malam hari kecuali selalu kulihat nyala lampu rumahnya. Ia sibuk dengan ilmu sampai-sampai ketika makan kitab-kitabnya berada di tangannya’ (Al Waqtu ‘Ammar au dammar 1/51-52).
  • Abu Utsman, salah seorang guru Imam Al Bukhori berkata:’Tidaklah ada seseorang yang memintaku dengan suatu keperluan kecuali aku kerjakan sendiri. Jika tidak mampu aku menggunakan hartaku. Jika tidak mampu aku meminta bantuan saudara yang lain dan jika tetap tidak bisa aku meminta bantuan penguasa’ (Al Waqtu 1/32).

Dan masih banyak kisah lainnya yang membuat kita seperti berada di dasar sumur sedangkan mereka di atas gunung tinggi menjulang tidak terukur.

4. Menghilangkan panjang angan-angan atau menunda-nunda amalan yang bisa dikerjakan hari ini. Dari Abdulloh bin ‘Amr rodhiyallohu ‘anhuma Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

صَلاَحُ أَوَّلِ هَذِهِ الأُمَّةِ بِالزُّهْدِ ، وَالْيَقِيْنِ ، وَيُهْلِكُ آخِرُهَا بِالْبُخْلِ وَالأَمَلِ

Baiknya generasi pertama ummat ini adalah dengan zuhud dan yakin dan yang menghancurkan akhir dari ummat ini adalah kikir dan panjang angan-angan (HR. Ahmad dalam Az Zuhd hal. 16 dan dihasan oleh Syaikh Albani dalam As Shohihah 3427).  ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu berkata:

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ

Dunia beranjak pergi dan akhirat kian mendekat. Diantara keduanya ada pengikut maka jadilah pengikut akhirat dan jangan menjadi pengikut dunia. Hari ini adalah amal tidak ada hisab sedangkan besok yang ada hanya hisab tidak ada amal (Dikeluarkan oleh Al Bukhori 11/239 secara mu’allaq).

Berkata Ibnul Qoyyim rohimahulloh : ‘Tahun itu ibarat pohon, bulan-bulan adalah cabangnya, hari-hari adalah rantingnya, jam adalah adalah daunnya dan nafas adalah buahnya. Jika nafasnya dalam ketaatan maka buah pohon tersebut bagus dan barangsiapa nafasnya dalam kemaksiatan maka buahnya pahit. Panen itu adalah pada hari yang dijanjikan (akhirat) maka akan jelaslah di sana mana buah yang manis dan yang pahit’. (Ar Rosail An Nafi’ah, Abdul hadi ibnu Hasan Wahbi hal.266).

5. Mengukur kemampuan diri sendiri.

Janganlah seseorang terjun ke dalam sesuatu yang bukan bidang dan keahliannya atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pantas buat dirinya karena akan berakibat kerusakan dan membuang waktu percuma. Termasuk kebagusan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya. Ketika sampai kabar kepada ‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah bahwa anaknya membeli cincin seharga 1000 dirham maka Umar menulis surat kepadanya:’Jika sampai kepadamu tulisan ini maka juallah cincin itu dan kenyangkanlah 1000 perut dan buatlah cincin dari dua dirham dan buatlah mata cincinnya dari besi cina dan tulislah diatasnya:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً عَرَفَ قَدْرَ نَفْسِهِ

Semoga Alloh merahmati seseorang yang tahu diri (Ar Risalah Al Qusyairiyyah, Al Qusyairy 1/70).

Al Hafidz Abu Nu’aim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu ‘Ali Al Warroq bahwasanya ia berkata:’Barangsiapa yang tidak mengetahui kemampuan dirinya maka ia akan mendzholimi dirinya dan orang lain. Celakanya manusia disebabkan oleh sedikitnya pengetahuan tentang dirinya sendiri’ (Hilyatul Aulia’ 10/360 no.645).

6. Bermusyawarah dan bertanya jika menemukan permasalahan yang tidak bisa dipecahkan sendiri. Yang demikian itu dapat mengefisienkan waktu dan sebagai perwujudan firman Alloh Ta’ala:

فَاسْأَلُوا  أَهْلَ  الذِّكْر ِ إِنْ  كُنْتُمْ  لَا  تَعْلَمُون

7. Melakukan perencanaan sebelum memulai suatu kegiatan.

8. Berupaya meraih husnul khotimah dengan kikir terhadap waktu. Dari Sahl bin Sa’d rodhiyallohu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Sesungguhnya amalan itu tergantung dari akhirnya (HR. al Bukhori 6493,6607).

Karena seorang muslim tidak tahu kapan ia meninggal maka hendaknya ia berusaha supaya akhir amalannya di atas keta’atan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ كَالْوِعَاءِ إِذَا طَابَ أَسْفَلُهُ طَابَ أَعْلاَهُ وَإِذَا فَسَدَ أَسْفَلُهُ فَسَدَ أَعْلاَه

Sesungguhnya amalan itu seperti wadah, jika baik dasarnya maka baik pula bagian atasnya dan jika bagian bawahnya rusak maka rusak pula atasnya (HR. Ibnu  Majah 4199 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohih Ibni Majah 3385). Umur tergantung penutupnya dan amal tergantung bagian akhir (ujungnya). Allohummar zuqna khusnal khotimah. Wallohul Muwaffiq.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *