Rabu , Oktober 21 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Akhlaq / Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah
KLIK UNTUK BERINFAK

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi para pencintanya. Bulan penuh rahmat dan ampunanNya. Bulan dibelenggunya syaiton dan dibukanya pintu surga. Bulan ibadah nan mulia. Bulan dibebaskannya orang-orang beriman dari neraka. Semua orang beriman gembira dengan kedatangannya tetapi sedikit yang memahami cara menyambut dan mengisinya. Oleh karena itu perlu kiranya kita mengetahui cara menggapai berkah dan kelezatan ibadah di bulan yang sangat istimewa bagi orang-orang bertaqwa.

a. Kiat-kiat berpuasa romadhon

Lezatnya berpuasa akan diperoleh seorang mukmin tatkala ia benar-benar menjalankan puasa dengan ikhlas, penuh ketundukan dan mengikuti sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Oleh karena itu Aloh Ta’ala benar-benar memuliakan orang-orang yang sungguh-sungguh dalam berpuasa sebagaimana dalam hadits Qudsi :

الصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِى

Puasa itu adalah untukKu dan Aku yang akan mengganjarnya (karena) ia meninggalkan syahwatnta, makan dan minumnya karena Aku (HR. al Bukhori 7054).

Bukanlah yang dimaksud berpuasa hanya menahan lapar dan dahaga semata, namun puasa yang berpahala adalah tatkala seseorang mempuasakan penglihatan, pendengaran, perkataan dan perbuatannya dari sesuatu yang diharamkan. Cermatilah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ

Terkadang orang yang berpuasa itu tidak mendapat (pahala) dari puasanya selain lapar saja (Shohihul Jaaami’ 3488).

Tatkala seseorang dapat menahan lapar dan haus namun masih suka berbohong, ghibah, mengumpat, menuduh tanpa kebenaran, bertengkar, menikmati lagu dan musik, pacaran atau berhubungan dengan lawan jenis yang tidak halal baginya (baik melalui face book maupun yang lain), menonton sinetron yang mempertontonkan aurat dan perbuatan lain yang diharomkan dalam agama (lebih-lebih meninggalkan sholat), maka Alloh tidak akan menerima puasa orang tersebut. Dari Abu Hurairoh Radhiallahu ‘Anhu Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan Zuur (berdusta, menuduh, bekata kotor) dan mengerjakan Zuur serta berbuat rendahan maka Alloh tidak butuh orang tersebut meninggakan makan dan minumnya (HR. al Bukhori 5710).

b. Kiat-kiat Khusyu’ dalam sholat

Kelezatan dalam sholat akan diperoleh jika telah terpenuhi 6 hal dalam diri seseorang :

  1. Menghadirkan hati yakni mengosongkan hati dari semua hal yang bisa melalaikan dari sholat sehingga pikiran selalu bergandengan dengan setiap ucapan dan gerakan dalam sholat. Dan ini bisa terwujud dengan kemauan yang kuat untuk dapat khusyu’ dengan menghilangkan segala gangguan yang nampak maupun yang tersembunyi berupa terpecahnya perhatian dan pikiran ke arah lain.
  2. Memahami, yaitu hati hadir memahami makna dari setiap ucapan atau bacaan.
  3. Mengagungkan; dan ini tercapai setelah menghadirkan hati dan memahami.
  4. Takut; merupakan buah dari pengagungan kepada Alloh Ta’ala.
  5. Berharap yakni berharap pahala dari sholatnya sebagaimana ia takut jika termasuk orang yang lalai dalam sholatnya.
  6. Malu dengan keterbatasan dirinya melaksanakan perintah Alloh dan mengakui dosa-dosanya.

Ketidakhadiran beberapa hal inilah yang membuat manusia ini bertingkat-tingkat pahalanya dalam melaksanakan sholat. Ada yang mendapat pahala hanya sebagian bahkan ada yang tidak mendapatkan apa-apa. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Sesungguhnya seseorang benar-benar keluar dari sholatnya (salam) namun tidaklah ditulis pahala baginya kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, setengah dari sholatnya (HR. Abu dawud 796, Shohih at Targhib 537). Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:

وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

Dan terkadang orang yang sholat (malam atau Tarowih) tidak mendapatkan bagian pahala dari sholatnya selain bergadang saja (HR. Ibnu Majah 1690).

c. Kiat- kiat Tilawah al Qur’an di bulan Romadhon

Nikmatnya membaca al Qu’an belum akan dapat dirasakan seseorang manakala tidak melakoni beberapa adab dalam membaca, diantaranya:

  1. Memahami asal dari al Qur’an adalah tidak lain kalamulloh Ta’ala.
  2. Menghadirkan dalam hatinya keagungan Dzat yang berfirman dalam al Qur’an tersebut yang seandainya diturunkan kepada gunung maka ia akan hancur karena takut kepada Alloh Ta’ala. Hendaknya dihadirkan dalam hati tentang ‘Arsy Alloh, kursi Alloh, langit dan bumi serta semua makhluq yang berada dalam pengaturan Alloh sehingga akan menumbuhkan pengagungan kepada Alloh yang membuahkan pengagungan terhadap al Qur’an itu sendiri.
  3. Menghadirkan hati tatkala membaca dan tidak berbicara baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain.
  4. Tadabbur yakni menghadirkan hati dengan memahami apa yang dibaca. Oleh karena itu disunnahkan membaca tartil (pelan) agar dapat ditadabburi. Jika harus  butuh diulang maka hendaknya diulang sebagaimana yang dilakukan para salaf. Tadabbur akan melahirkan berupa amalan nyata dalam kehidupannya.
  5. Menghindari penghalang-penghalang untuk memahami makna al Qur’an seperti terlalu mementingkan makhrojnya dan alunan suaranya (apalagi memberatkan diri untuk  meniru-niru lagu Syaikh tertentu). Perhatikan sabda Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut:

إِنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ صَوْتًا بِالْقُرْآنِ إِذَا سَمِعْتَهُ يَقْرَأُ رَأَيْتَ أَنَّهُ يَخْشَى اللهَ تَعَالىَ

Sesungguhnya sebaik-baik suara seseorang membaca al Qur’an adalah jika kamu mendengarnya membaca maka kamu mengira bahwasanya ia takut kepada Alloh (HR. at Thobroni dalam “Al Mu’jamul Kabir”, dan Ibnu Majah 1339 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohih at Targhib 1450, As Shohihah 1583).

  1. Tidak melepaskan diri dari perbuatan dosa yang terus-menerus dilakukan. Semakin kuat hatinya bergantung kepada syahwat maka semakin besar penghalang dari memahami al Qu’an. Hati ibarat kaca, syahwat dan dosa ibarat debu yang menempel dan makna al Qur’an ibarat gambar yang ada di cermin tersebut. Alloh Ta’ala berfirman:

 وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَن يُنِيبُ

dan Tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah) (QS. Ghaafir: 13).

  1. Memahami bahwa dirinya termasuk yang menjadi obyek setiap perintah dan larangan dalam al Qur’an. Tatkala ia membaca kisah para Nabi atau orang-orang terdahulu maka hendaknya dapat mengambil pelajaran dari kisah tersebut.
  2. Melihat kekurangan yang melekat pada dirinya. Dikala ia membaca ayat-ayat tentang nikmat dan janji Alloh buat orang-orang sholih maka ia merasa dirinya sangat jauh dengan mereka dan manakala ia membaca ayat-ayat tentang siksa dan ancaman Alloh bagi orang-orang yang lalai dan pelaku dosa maka ia akan menganggap dirinya termasuk orang-orang tersebut. ‘Umar bin Khoththob t pernah berdo’a: “Ya Alloh, ampunilah kedholiman dan keingkaranku”. Ada yang bertanya: ‘Kalau dholim tidak masalah tetapi kalau ingkar ?! Maka beliau membaca ayat :

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (QS. Ibrohim: 34). Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallohu Ta’ala A’lam.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *