Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Keluarga / Kewajiban Suami Istri
KLIK UNTUK BERINFAK

Kewajiban Suami Istri

Kewajiban Suami Istri

Sebuah biduk akan meluncur dengan selamat selama penumpangnya bisa memposisikan diri. Menuntut hak sendiri tanpa memperhatikan kewajiban bukanlah hal terpuji. Terlebih manusia tempat salah dan lupa diri. Menuntut kesempurnaan adalah keniscayaan yang tidak pernah terjadi, Maka saling mengerti antar suami istri adalah sebuah konsekwensi. Jika setiap orang memperturutkan ego sendiri maka kehancuran pastilah terjadi karena pernikahan sejatinya bukanlah untuk sehari namun untuk menggapai ridho Ilahi dan meraih surga Ilahi … Anugerah anak bukanlah beban bagi pasutri namun ladang pahala yang kelak akan dinanti maka berbahagialah bagi yang selalu berbagi meskipun haknya selalu terkurangi…

Berikut adalah kewajiban pasutri dalam membina rumah tangga Islami:

a. Saling berwasiat di atas yang haq, saling membantu dalam menta’ati Alloh dan saling mengingatkan dengan ketakwaan.

Fitnah dan ujian seorang mukmin di zaman ini sangatlah besar sementara jaminan tetapnya keimanan tidaklah ada. Jika suami istri tidak bahu membahu menggapai surga dan enggan saling mengingatkan maka lambat laun  istiqomah akan melemah dan tidak mustahil akan sirna dan padam. Rasululloh memuji suami istri yang saling menolong dalam keta’atan dan ibadah kepada Alloh. Beliau bersabda:

« رَحِمَ اللهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، ثُمَّ أَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا المَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، ثُمَّ أَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ المَاءَ»

“Semoga Alloh merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari kemudian sholat, setelah itu ia membangunkan istrinya lantas sang istri sholat, jika ia enggan, sang suami memercikkan di wajahnya air. Dan semoga Alloh merahmati seorang wanita yang bangun sholat di malam hari kemudian membangunkan suaminya dan jika sang suami enggan, ia memercikkan air ke wajah sang suami” (HR. Abu Dawud 1308, an Nasa’I 1610 dan dihasan shohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohihul  Jaami’).

Adalah Riyah Ibnu ‘Amr al Qoisy adalah seorang tabi’in mulia. Abu Yusuf al Bazzaz rohimahulloh bercerita tentang beliau dan istrinya:

رياحُ بْنُ عَمْرٍو القَيْسي، تابعيٌّ جَلِيْلٌ، تَزَوَّجَ امْرَأَةً يُقَالُ لَهَا: (ذِؤَابَة)، فَلَمَّا جَاءَ النَّهَارُ أَرَادَ أَنْ يَخْتَبِرَها، فَقَامَتْ تعجن عَجِيْنَها، فَقَالَ: “أُحْضِرْ لَكِ أَمَةً”، قَالَتْ: “أَنَا تَزَوَّجْتُ رِيَاحًا، وَمَا تَزَوَّجْتُ جَبَّارًا عَنِيْدًا”، فَلَمَّا جَاءَ اللَّيْلُ تَنَاوَمَ رِيَاحٌ، فَقَامَتْ رُبُعَ اللَّيْلِ، فَقَالَتْ: “يَا رِيَاحُ، قُمْ”، فقال: “أَقُوْمُ”، وَظَلَّ نَائِمًا، فقامتْ الرُّبُعَ الثَّانِي وَقالتْ: “يَا رِيَاحُ، قُمْ”، فقال: “أَقُوْمُ”، فَمَضَى الرُّبُعُ الثالثُ، فقالتْ: “يَا رِيَاحُ، قُمْ”، فقال: “أَقُوْمُ”، فَدَخَلَ الرُّبُعُ الرَّابِعُ، فقالت: “يَا رِيَاحُ، قَدْ عَسْكَرَ الْمُعَسْكِرُوْنَ، وَفَازَ الْمُحْسِنُوْنَ، يَا لَيْتَ شِعْرِي، مَنْ غَرَّنِي بِكَ”، وَكَانَتْ إِذَا دَخَلَ اللَّيْلُ فِي أَجْمَلِ هَيْئَةٍ، فَإِذَا كَانَ لَهُ بِهَا حَاجَةٌ أَصَابَهَا، ثُمَّ تَفَرَّغَا لِعِبَادَةِ اللهِ تَعَالىَ

Riyah Ibnu ‘Amr al Qoisiy adalah seorang tabi’in mulia. Ia menikahi seorang gadis yang dinamakan Dzi’abah. Tatkala siang hari ia ingin menguji sang istri. Sang istri mulai mengaduk adonan rotinya lalu Riyah berkata: “Maukah aku bawakan pembantu…?” Ia menjawab: “Aku menikah dengan Riyah bukan dengan seorang yang angkuh dan keras kepala”. Tatkala malam hari Riyah pura-pura tidur. Sang istri bangun pada seperempat malam (pertama) lalu ia berkata: “Wahai Riyah, bangunlah”. Riyah menjawab: “Ya, aku akan bangun”. Namun Riyah terus tidur. Tatkala seperempat malam kedua sang istri bangun sambil berujar: “Bangunlah wahai Riyah..” Riyah menjawab: “Ya, aku akan bangun”. Berlalulah seperempat malam ketiga dan Riyah masih tertidur. Sang istri berkata: “Wahai Riyah bangunlah…”Riyah menjawab: “Ya, aku akan bangun”.Berlalulah seperempat malam terakhir dan Riyah masih tertidur. Sang istri berkata: “Wahai Riyah pasukan sudah berkumpul dan orang-orang muhsin telah meraup keberuntungan. Duhai  seandainya engkau tahu perasaanku, siapa yang membuatku cemburu dengan (sikapmu ini)”. Biasanya sang istri apabila malam menjelang berdandan dengan cantik, apabila Riyah berhasrat maka ia menumpahkannya kemudian mereka berdua fokus beribadah kepada Alloh Ta’ala” (Sifatus Sofwah 4/43-44).

Demikian pula tatkala suami melihat ada tanda nusyuz (meninggalkan kewajiban)  pada  diri sang istri maka hendaknya ia nasehati dan menyuruhnya bertaqwa serta diingatkan tentang kewajiban berbuat baik kepada suami dan nasehat lain yang bisa menyentuh hatinya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ﴾ [النساء: ٣٤]

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka” (QS. An Nisaa’: 34).

Sebaliknya jika suami nusyuz dan melakukan pelanggaran syar’I maka hendaknya sang istri menasehatinya agar bertaqwa dan kembali ke jalan yang lurus sebagaimana salah seorang wanita salaf menasehati suaminya :

«اتَّقِ اللهَ فِيْنَا وَلاَ تَأْتِنَا بِرِزْقٍ مِنْ حَرَامٍ؛ فَإِنَّا نَصْبِرُ عَلىَ الْجُوْعِ فِي الدُّنْيَا، وَلاَ نَصْبِرُ عَلَى نَارِ جَهَنَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

Bertaqwalah kepada Alloh pada kami dan jangan berikan kami rizki yang haram karena kami masih bisa bersabar lapar di dunia namun kami tidak bisa bersabar dengan neraka jahannam pada hari kiamat” (Quutul Qulub, 2/409).

b. Mewujudkan kasih sayang antar suami istri

Hendaknya suami istri memberikan cinta kasih yang jujur kepada pasangannya sehingga membuahkan sikap saling memaafkan kesalahan dan khilaf pasangannya, saling menghibur tatkala sedih dan papa, saling menguatkan dikala cobaan hidup menerpa dan melanda dan saling merangkul untuk meraih ridhoNya. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ١٧ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ١٨﴾   

Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.  Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan (QS. Al balad: 17-18).

Berkata Abu darda’ rodhiyallohu ‘anhu:

«إِذَا رَأَيْتِنِي غَضِبْتُ فَرَضِّينِي، وَإِذَا رَأَيْتُكِ غَضْبَى رَضَّيْتُكِ … وَإِلَّا لَمْ نَصْطَحِبْ»

“Jika engkau (suatu waktu) melihatku marah maka ridholah kepadaku dan apabila aku melihatmu marah maka aku akan berusaha meridhoimu…Jika tidak begitu kita tidak akan bisa bersama lagi…” (Raudhotul ‘Uqola’ (72)).

Lihatlah bagaimana kasih sayang yang dibangun di atas keimanan akan tetap langgeng sampai mati…

عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ ، أَنَّهَا قَالَتْ : ” اللَّهُمَّ إِنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ خَطَبَنِي فَتَزَوَّجَنِي فِي الدُّنْيَا ، اللَّهُمَّ فَأَنَا أَخْطُبُهُ  إِلَيْكَ وَأَسْأَلُكَ أَنْ تُزَوِّجَنِيهِ  فِي الْجَنَّةِ ، فَقَالَ لَهَا أَبُو الدَّرْدَاءِ فَإِنْ أَرَدْتِ ذَلِكَ فَكُنْتُ أَنَا الأَوَّلَ فَلا تَتَزَوَّجِي بَعْدِي ، قَالَ : فَمَاتَ أَبُو الدَّرْدَاءِ وَكَانَ لَهَا جَمَالٌ وَحُسْنٌ فَخَطَبَهَا مُعَاوِيَةُ ، فَقَالَتْ : لا وَاللَّهِ لا أَتَزَوَّجُ زَوْجًا فِي الدُّنْيَا حَتَّى أَتَزَوَّجَ أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فِي الْجَنَّةِ ”  

Dari Ummu darda’ rodhiyallohu ‘anha ia berkata: “Ya Alloh sesungguhnya Abu darda’ telah meminangku dan Engkau menikahkanku dengannya di dunia maka Ya Alloh aku meminangnya kepadaMu dan aku memohon agar Engkau menikahkanku dengannya di surga”. Maka Abu darda’ (rodhiyallohu ‘anha) berkata: “ Jika dirimu menginginkan seperti itu dan akulah suami pertamamu maka janganlah menikah sepeninggalku”. Maka Abu darda’ meninggal dan Ummu darda’ adalah seorang yang cantik lagi baik kemudian Mu’awiyyah meminangnya namun ia menjawab: “Tidak demi Alloh aku tidak akan menikah lagi di dunia sampai aku menikah dengan Abu darda’ insyaAlloh di surga” ( Hilyatul Auliya’ 225).

c. Saling percaya dan Berbaik sangka dengan pasangannya

Tidak diperbolehkan berburuk sangka dan menuduh pasangannya berkianat tanpa ada bukti yang jelas dan meyakinkan karena hal ini merupakan penyebab terbesar retaknya kasih sayang dan hancurnya rumah tangga.  Pada asalnya kehormatan seorang muslim  harus dijaga sebagaimana firman Alloh Ta’ala:         

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا. {الأحزاب: 58}         

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata (QS. Al Ahzab: 58).

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ ، أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ“.

Dari Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘anhuma ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasululloh bersabda: “Barangsiapa yang mengatakan pada diri seorang mukmin sesuatu  yang tidak sesuai (dengan yang sebenarnya)  maka Alloh akan menempatkannya di cairan perasan  penduduk neraka sampai ia menarik kembali ucapannya” (HR. Abu dawud 3/305 no. 3597,, at Thobroni 12/388 no. 13435, al Hakim2/32 no. 2222 ia berkata: “Sanadnya shohih”, al baihaqiy 6/82 no.11223, Ahmad 2/70 no. 5385 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohihul Jaami’ no. 6196).

d. Berhias dengan Kesabaran dan Tahan Derita

Hidup berkeluarga mustahil tanpa problematika karena sejatinya ia adalah ujian dunia. Lebih-lebih hidup di akhir zaman yang kerusakannya lebih dominan dari kebaikannya. Tatkala pasutri merasakan kebahagiaan maka setelah itu akan datang kesedihan dan kesusahan. Begitulah asam garam kehidupan.

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) (QS. Ali Imron: 140). Maka mengedepankan kesabaran dan lapang dada adalah suatu kemestian jika mendambakan kebahagiaan.

Alloh Ta’ala berfirman:

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah Telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar (QS. Fushshilat: 34-35).

e. Bahu membahu dalam mendidik putera dan puterinya

Berkata Ibnul Qoyyim -Rahimahullah-, : “Sebagian ulama berkata: “Alloh Ta’ala akan bertanya kepada kepada orang tua tentang anaknya sebelum anaknya ditanya tentang orang tuanya, karena masing-masing punya kewajiban”… “Wasiat Alloh kepada orang tua tentang anaknya lebih dahulu daripada nasehat kepada anak tentang orang tuanya. Alloh Ta’ala berfirman: “Jangan  kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin” (QS. Al Isro’: 31). Barangsiapa yang melalaikan pendidikan anak-anaknya maka ia telah menyia-nyiakannya . Kebanyakan anak menjadi menyimpang disebabkan kedua orang tua yang melalaikannya, tidak mengajarkan perkara-perkara agama yang wajib dan  sunnah sehingga si anak tidak dapat mengambil manfaat untuk dirinya sendiri di waktu kecil dan tidak juga memberikan manfaat bagi orang tuanya di waktu besar, sebagaimana sebagian anak mencela orang tuanya dengan berkata: “Engkau telah mendurhakaiku di waktu kecil maka aku pun mendurhakaimu dikala aku dewasa dan engkau menyia-nyiakan aku di waktu kecil maka aku pun menyia-nyiakanmu di saat engkau tua(!?)” (Mausu’atu kutubi ibnil Qoyyim 234/5).

f. Mempergauli pasangan dengan baik (Mu’asyaroh bil Ma’ruf)

Islam sangat menekankan suami istri untuk berkeluarga dengan cara yang patut sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di tempatnya selama tidak bertentangan dengan syari’at. Allloh ‘azza wa jalla berfirman:

﴿وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ﴾ [النساء: ١٩]

Dan bergaullah dengan mereka secara patut (QS. An Nisaa’:19).

Diantara bentuk mu’asyaroh bil ma’ruf antara pasangan suami istri:

g. Bertutur kata yang lembut dan memperbagusi penampilan di hadapan pasangannya.

Berkata Ibnu Katsir rohimahulloh mensifati bagaimana Nabi mempergauli istri-istri beliau:

«وكان مِنْ أخلاقِه صلَّى الله عليه وسلَّم أنه جميلُ العِشْرةِ دائمُ البِشْرِ، يُداعِبُ أهلَه ويتلطَّفُ بهم، ويُوسِّعُهم نَفَقَتَه، ويُضاحِكُ نساءَه، حتَّى إنه كان يُسابِقُ عائشةَ أمَّ المؤمنين يتودَّدُ إليها بذلك»

“Diantara akhlak beliau shallallohu ‘alaihiw a sallam bahwasanya beliau sangat baik mempergauli keluarganya, senantiasa berseri, mencandai dan mengasihi mereka, berusaha melapangkan nafkahnya, membuat istri-istri beliau tertawa sampai beliau bertanding dengan ‘Aisyah ummul mukminin demi menunjukkan kecintaan beliau kepadanya” (Tafsir Ibnu katsir  1/466).

Disamping istri dituntut untuk berhias buat suaminya maka suami juga dianjurkan berhias untuk istrinya. Berkata Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma:

 «إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ كَمَا أُحِبُّ أَنْ تَزَّيَّنَ لِي؛ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: ﴿وَلَهُنَّ مِثۡلُ ٱلَّذِي عَلَيۡهِنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ﴾ [البقرة: ٢٢٨]»

“Aku suka untuk berhias buat istri sebagaimana aku suka dia berdandan buatku karena Alloh Ta’ala berfirman: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf” (QS. Al baqarah: 228).

Berkata al Qurthuby rohimahulloh menafsirkan ayat di atas:

فَزِيْنَةُ الرِّجَالِ عَلىَ تَفَاوُتِ أَحْوَالِهِمْ وَأَعْمَارِهِمْ؛ فَإِنَّهُمْ يَعْمَلُوْنَ عَلىَ تَحْقِيْقِ اللياقة والحذق والوفاق بِالْمَلْبَسِ اللاَّئِقِ وَالطِّيْبِ وَتَطْهِيْرِ الْفَمِ وَمَا بَيْنَ الأَسْنَانِ مِنْ فُضُوْلِ الطَّعَامِ بِالسِّوَاكِ وَمَا شَابَهَهُ، وَإِزَالَةِ مَا عَلِقَ بِالْجِسْمِ مِنْ أَدْرَانٍ وَأَوْسَاخٍ، وَإِزَالَةِ فُضُوْلِ الشَّعْرِ، وقَلْمِ الأَظَافِرِ، وَالْخِضَابِ لِلشُّيُوْخِ، وَالْخَاتِمِ وَغَيْرِهَا مِمَّا فِيْهِ ابْتِغَاءُ الْحُقُوْقِ؛ لِيَكُوْنَ عِنْدَ امْرَأَتِهِ فِي زِيْنَةٍ تَسُرُّهَا وَيُعِفَّهَا عَنْ غَيْرِهِ مِنَ الرِّجَالِ

“Berhiasnya laki-laki tergantung dari keadaan dan umur. Hal itu sesuai dengan kepantasan, kecocokan dan keserasian dengan pakaian yang layak, menggunakan minyak wangi, membersihkan mulut dan sisa-sisa makanan diantara gigi dengan siwak dan semisalnya, membersihkan noda-noda dan kotoran yang menempel di tubuh, mencukur rambut yang panjang, memotong kuku dan memakai inai rambut bagi yang sudah berusia senja, memakai cincin dan pelaksanaan hak-hak istri yang lainnya sehingga dapat membahagiakannya dan membuatnya tidak butuh lagi kepada lelaki yang lainnya” (Tafsir al Qurthuby 3/124).

h. Saling bercanda dan memahami usia masing-masing pasangan

Terkadang umur suami dengan istri terpaut jauh atau sebaliknya maka dalam kondisi ini saling memahami dapat melanggengkan keharmonisan rumah tangga.

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha ia berkata:

«كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم، وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي، فَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ، فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي

“Aku pernah bermain boneka (dari kapas atau wol) di  sisi  Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam dan aku mempunyai  teman-teman bermain. Apabila Rasululloh masuk  kamar mereka bersembunyi kemudian mereka berhamburan kepadaku dan bermain denganku” (Dikeluarkan oleh al Bukhori dalam “al Adabul  Mufrod” 6130 dan Muslim no. 2440).

Tatkala Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama, beliau bergegas pulang dengan menggigil dan takut. Maka khadijah yang usianya lebih tua dari Nabi berusaha menjadi seorang istri yang bijak seraya mengatakan:

كلَّا أبشِرْ فواللهِ لا يُخزيك اللهُ أبدًا إنَّك لَتصِلُ الرَّحمَ وتصدُقُ الحديثَ وتحمِلُ الكَلَّ وتَقري الضَّيفَ وتُعينُ على نوائبِ الحقِّ

‘Sekali-kali janganlah takut! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sungguh engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahmi, pemikul beban orang lain yang susah, pemberi orang yang miskin, penjamu tamu serta penolong orang yang menegakkan kebenaran’ (HR. al Bukhori 6982).


i. Berusaha menyenangkan dan mendengar isi hati pasangannya

Berkata Ibnu Katsir rohimahulloh:

«ويجتمع نساؤُهُ كُلَّ ليلةٍ في بيتِ التي يبيت عندها رسولُ الله صلَّى الله عليه وسلَّم، فيأكلُ معهنَّ العَشاءَ في بعض الأحيان، ثمَّ تنصرف كُلُّ واحدةٍ إلى منزلها، وكان يَنامُ مع المرأةِ مِنْ نسائه في شعارٍ واحدٍ، يَضَعُ عن كتفَيْهِ الرداءَ وينامُ بالإزار، وكان إذا صلَّى العِشاءَ يدخل منزلَه يَسْمُرُ مع أهله قليلًا قبل أَنْ ينام، يُؤانِسُهم بذلك صلَّى الله عليه وسلَّم»

“Istri-istri beliau berkumpul setiap malam di rumah istri tempat menginapnya beliau shallalohu ‘alaihiw a sallam, beliau terkadang makan malam bersama mereka kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing. Beliau tidur bersama istrinya dalam satu selimut, beliau menanggalkan baju dan tidur memakai pakaian bawah. Jika telah selesai sholat isya’ beliau masuk rumah dan bergadang sebentar bersama istri sebelum tidur untuk menyenangkan mereka (shallallohu ‘alaihi wa sallam)” (Tafsir Ibnu Katsir 1/466).


j. Berusaha untuk tutup mata dengan aib pasangannya selama tidak melampaui batas

Seorang yang adil adalah yang bisa menghargai dan bersyukur atas kebaikan pasangannya walaupun kebaikan tersebut menurutnya masih sangat sedikit. Bukankah tidak akan bisa bersyukur kepada Alloh orang yang tidak berterimakasih kepada manusia…? Tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi sekalipun akalnya sempurna lalu bagaimana lagi yang akalnya tidak sempurna. Kebengkokan istri adalah isyarat bahwasanya akan ada hak-hak suami yang akan berkurang atau tidak bisa dipenuhi sebagaimana mestinya. Demikian pula tatkala Nabi berkata tentang Abu jahm : “Ia tidak pernah melepas tongkat dari pundaknya” (suka memukul) dan ucapan beliau tentang Mu’awiyyah: “ Miskin, ia tidak punya harta”,…menunjukkan bahwa tidak ada lelaki yang sempurna dari semua sisi…? Ini semua karena hidup di dunia ini adalah ajang ujian bukan tempat kekekalan, keabadian dan kesempurnaan. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا ١٩﴾ [النساء]  

Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An Nisaa’: 19).

Berkata Ibnu Katsir rohimahulloh:

«أي: فعسى أَنْ يكون صبرُكم مع إمساكِكم لهنَّ وكراهتِهِنَّ فيه خيرٌ كثيرٌ لكم في الدنيا والآخرة، كما قال ابنُ عبَّاسٍ في هذه الآية: هو أَنْ يعطف عليها، فيُرْزَق منها ولدًا، ويكون في ذلك الولدِ خيرٌ كثيرٌ»

“Maknanya bisa jadi kesabaranmu dengan tetap mempertahankannya padahal engkau tidak suka kepadanya, terdapat kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat sebagimana perkataan Ibnu ‘abbas tentang ayat ini: “Sang suami tetap berlaku baik kepadanya kemudian ia diberikan rizqi berupa anak dan pada anak tersebut terdapat kebaikan yang banyak” (Tafsir Ibnu Katsir 1/466)

k. Berusaha saling membantu pekerjaan masing-masing

‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha pernah ditanya tentang kegiatan Nabi di rumahnya…? Ibunda menjawab:

«كَانَ بَشَرًا مِنَ الْبَشَرِ: يَفْلِي ثَوْبَهُ، وَيَحْلُبُ شَاتَهُ، وَيَخْدُمُ نَفْسَهُ»

“Beliau seperti manusia yang lain, beliau mencuci bajunya, memerah susu kambingnya dan mengerjakan keperluan beliau sendiri” (HR. al Bukhori 676).

Dalam riwayat Ibnu Hibban:

«مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِأَهْلِهِ: يَخْصِفُ نَعْلَهُ، وَيَخِيطُ ثَوْبَهُ، وَيَرْقَعُ دَلْوَهُ»

“Seperti yang kalian lakukan di rumah seperti menambal sandalnya, menjahit bajunya dan menimba air” (HR. Ibnu Hibban 5676 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam at Ta’liqot al Hisan 5647).

Demikian pula wanita sahabat sangat memperhatikan peranan pentingnya sebagai ibu rumah tangga, ladang tempat menuai pahala berlimpah. Berikut cerita Asma’ Binti Abi Bakr rodiyallohu anhuma:

«تَزَوَّجَنِي الزُّبَيْرُ وَمَا لَهُ فِي الأَرْضِ مِنْ مَالٍ وَلَا مَمْلُوكٍ وَلَا شَيْءٍ غَيْرَ فَرَسِهِ، قَالَتْ: فَكُنْتُ أَعْلِفُ فَرَسَهُ وَأَكْفِيهِ مَئُونَتَهُ وَأَسُوسُهُ، وَأَدُقُّ النَّوَى لِنَاضِحِهِ وَأَعْلِفُهُ، وَأَسْتَقِي المَاءَ وَأَخْرُزُ غَرْبَهُ وَأَعْجِنُ، وَلَمْ أَكُنْ أُحْسِنُ أَخْبِزُ وَكَانَ يَخْبِزُ لِي جَارَاتٌ مِنَ الأَنْصَارِ وَكُنَّ نِسْوَةَ صِدْقٍ، قَالَتْ: وَكُنْتُ أَنْقُلُ النَّوَى مِنْ أَرْضِ الزُّبَيْرِ الَّتِي أَقْطَعَهُ رَسُولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّم عَلَى رَأْسِي وَهِيَ عَلَى ثُلُثَيْ فَرْسَخٍ»

“Aku menikah dengan Zubair sementara ia tidak memiliki harta apa-apa dan budak selain kudanya”. Asma berkata: “Aku yang memberi makan kudanya, mencukupkan keperluannya dan merawatnya, aku yang menumbuk biji-bijian untuk digiling, aku yang memberi minum (kuda dan hewan yang menggiling gandum), aku yang menjahitkan baju anak-anaknya dan mengaduk adonan tepung. Aku sendiri tidak pandai memasak roti sehingga wanita- wanita Anshor yang memasakkan buatku dan mereka adalah wanita-wanita yang sangat baik hati”. Asma’ melanjutkan kisahnya: “Dahulu aku memikul  biji-bijian di atas kepalaku sejauh 2/3 farsakh (± 4 km) dari tanah Zubair yang diberikan oleh Rasululloh” (HR. al Bukhori 5224, Muslim 2182)

l. Saling menjaga perasaan pasangan

Seorang yang akhlaknya baik akan berusaha untuk berkata yang baik dan menyenangkan orang lain dan berhati-hati dalam berbicara jangan sampai menyinggung perasaan lawan bicaranya. Berkata Abu Hassan Asma’ Ibnu Jariyah al fazary (salah seorang tabi’in mulia)  menasehati anak gadisnya yang akan ke pelaminan:

«يَا بُنَيَّةُ، إِنَّكِ خَرَجْتِ مِنَ العُشِّ الَّذِي فِيهِ دَرَجْتِ، فَصِرْتِ إِلَى فِرَاشٍ لَمْ تَعْرِفِيهِ، وَقَرِينٍ لَمْ تَأْلَفِيهِ؛ فَكُونِي لَهُ أَرْضًا يَكُنْ لَكِ سَمَاءً، وَكُونِي لَهُ مِهَادًا يَكُنْ لَكِ عِمَادًا، وَكُونِي لَهُ أَمَةً يَكُنْ لَكِ عَبْدًا، وَلَا تُلْحِفِي بِهِ فَيَقْلَاكِ، وَلَا تَبَاعَدِي عَنْهُ فَيَنْسَاكِ، وَإِنْ دَنَا مِنْكِ فَادْنِي مِنْهُ، وَإِنْ نَأَى عَنْكِ فَابْعُدِي عَنْهُ، وَاحْفَظِي أَنْفَهُ وَسَمْعَهُ وَعَيْنَهُ… فَلَا يَشُمَّنَّ مِنْكِ إِلَّا طَيِّبًا، وَلَا يَسْمَعْ إِلَّا حَسَنًا، وَلَا يَنْظُرْ إِلَّا جَمِيلًا…»

 ‘Wahai anakku, engkau akan keluar dari peraduanmu menuju tempat tidur yang engkau belum tahu sebelumnya dan pendamping yang belum engkau kenal, maka jadilah engkau bumi baginya (merendahlah) maka engkau akan menjadi langit, jadilah engkau tikar baginya maka engkau akan menjadi tiang, jadilah engkau budaknya maka ia akan menjadi pesuruhmu, janganlah terlalu menuntut karena ia akan membencimu, janganlah menjauh sehingga ia melupakanmu, jika ia mendekatimu maka dekatilah ia, bila ia menjauhimu maka menjauhlah, jagalah penciumannya, pendengaran dan kedua matanya…Janganlah ia mencium kecuali yang harum, janganlah ia mendengar selain yang baik dan janganlah ia melihat kecuali sesuatu yang indah…”(Daairoh Ma’arifil Usroh al Muslimah 46/206).

Wallohul Muwaffiq ila sawai at Thoriq…

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *