Rabu , Oktober 21 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Fiqih / Keutamaan Berwudhu’ (Wajah,Kedua kaki dan Tangan Bercahaya Pada Hari Kiamat) Umdatul Ahkam Hadits ke-10
KLIK UNTUK BERINFAK

Keutamaan Berwudhu’ (Wajah,Kedua kaki dan Tangan Bercahaya Pada Hari Kiamat) Umdatul Ahkam Hadits ke-10

Umdatul Ahkam Hadits ke-10

Keutamaan Berwudhu’ (Wajah,Kedua kaki dan Tangan Bercahaya Pada Hari Kiamat)

عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ : ( إنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ غُرّاً مُحَجَّلِينَ مِن آثَارِالْوُضُوءِ ) . فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ .

Dari Nu’aim Al-Mujmir, dari Abu Hurairah -Radhiyallahu ‘Anhu-, dari Nabi -Shallallahu Alaihi wa Sallam-, beliau bersabda : “Sesungguhnya umatku dipanggil pada hari Kiamat dalam keadaan putih dan bercahaya disebabkan bekas-bekas wudhu’. Maka barangsiapa di antara kalian bisa memanjangkan cahayanya, hendaklah dia melakukannya.”

وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ : ( رَأَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ , فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ حَتَّى كَادَ يَبْلُغُ الْمَنْكِبَيْنِ , ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى رَفَعَ إلَى السَّاقَيْنِ , ثُمَّ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ : إنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرَّاً مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ ) فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ وَتَحْجِيلَهُ فَلْيَفْعَلْ.

Dalam lafazh lain disebutkan, “Aku melihat Abu Hurairah berwudhu’, lalu membasuh wajahnya dan kedua tangannya, hingga hampir mencapai kedua bahunya, kemudian dia membasuh kedua kakinya hingga naik sampai ke kedua betis, kemudian dia berkata, Aku pernah mendengar -Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam- bersabda, “Sesungguhnya umatku dipanggil pada hari Kiamat dalam keadaan putih dan bercahaya disebabkan bekas-bekas wudhu’. Maka barangsiapa di antara kalian bisa memanjangkan cahayanya, hendaklah dia melakukannya.”

 وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: سَمِعْتُ خَلِيلِي يَقُولُ: ( تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنْ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوُضُوءُ ) .

Dan, dalam lafazh Muslim disebutkan, “Aku mendengar kekasihku, Rasulullah -Shallallahu Alaihi wa Sallam- bersabda, “Perhiasan seorang mukmin sampai pada bagian-bagian yang terkena air wudhu’.”

Penjelasan dan Fiqih Hadits :

  1. Nu’aim Al-Mujmir adalah Nu’aim bin Abdullah Al-Mujmir, dijuluki Al-Mujmir karena beliau dan bapaknya mengasapi masjid Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, dengan dupa/bukhur. Beliau duduk menuntut ilmu di majlisnya Abu Hurairah selama 20 tahun.
  2. Ghurrah merupakan jama’ dari aghar. Makna asalnya adalah warna putih pada dahi seekor kuda, yang kemudian dipakai untuk cahaya wajah ummat Nabi Muhammad –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-,.
  3. Muhajjalin berasal dari kata at-tahjil artinya warna putih pada kaki kuda. Yang dimaksudkan di sini ialah cahaya yang muncul pada anggota wudhu’ pada hari Kiamat.
  4. Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang berwudhu’.

Hadits-hadits tentang keutamaan berwudhu’ sangatlah banyak, diantaranya :

  • Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda :

( اَلطَّهُوْرُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ ) رواه مسلم

“Bersuci sebagian dari iman.” (HR. Imam Muslim)

  • Dalam hadits yang lain Rasulullah juga bersabda, :

( مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ ) رواه مسلم

“Tidaklah seorang muslim ketika waktu shalat wajib telah datang, kemudian ia membaguskan wudhunya, ia khusyu’ dalam shalatnya, dan menyempurnakan ruku’ nya, melainkan hal itu akan menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama seseorang itu tidak melakukan dosa besar dan ini berlaku sepanjang waktu.” (HR. Muslim).

  • Dan sabda Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, :

(إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ – أَوِ الْمُؤْمِنُ – فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ) رواه مسلم .

“Jika seorang hamba yang muslim atau mukmin berwudhu, kemudian membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya tersebut semua kesalahan yang dilakukan oleh pandangan kedua matanya bersama dengan air atau bersama tetesan air terakhir (yang mengalir darinya). Ketika dia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya tersebut semua kesalahan yang dilakukan oleh kedua tangannya bersama dengan air  atau bersama tetesan air terakhir (yang mengalir darinya). Ketika dia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari kedua kakinya tersebut semua kesalahan yang dilakukan oleh kedua kakinya, bersama dengan air atau bersama tetesan air terakhir (yang mengalir darinya), sehingga dia keluar dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Muslim).

  1. Para ‘Ulama berbeda pendapat tentang syariat wudhu’, apakah menjadi kekhususan ummat ini (Ummat Nabi Muhammad) atau wudhu’ juga syariat ummat-ummat sebelum kita?

Pendapat Pertama : Wudhu’ merupakan kekhususan Ummat Nabi Muhammad –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-. Karena Nabi dalam hadits mengkhususkan cahaya pada wajah dan anggota wudhu’ lainnya khusus unntuk ummat Nya. Dalam riwayat Imam Muslim, Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, juga bersabda :

( … سِيْمَا لَيْسَتْ لِأَحَدِكُمْ … ) رواه مسلم

“ Tanda yang tidak ada pada ummat selain kalian.” (HR. Imam Muslim)

Pendapat Kedua : Bahwa wudhu’ bukan kekhususan ummat ini, yang menjadi kekhususannya adalah cahaya pada wajah dan pada anggota wudhu’ lainnya. Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar –Rahimahulla-.karena beberapa hadits dari Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-. Diantaranya hadits riwayat Abu Hurairah –Radhiallahu ‘Anhu-, Bahwa Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda :

( كَانَ رَجُلٌ فِي بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ يُقَالُ لَهُ جُرَيْج يُصَلِّي ، فَجَاءَتْهُ أُمُّهُ فَدَعَتْهُ فَأَبَى أَنْ يُجِيْبَهَا … اَلْحَدِيْثُ وَفِيْهِ : فَتَوَضَّأَ وَصَلَّى ، ثُمَّ أَتَى الْغُلَامُ ، فَقَالَ: مَنْ أَبُوْكَ ؟ قَالَ: اَلرَّاعِي ) رواه البخاري

“Ada seorang laki-laki dari Bani Israil bernama Juraij sedang mendirikan sholat, kemudian ibunya mendatanginya dan memanggilnya, dia enggan untuk memenuhi panggilan ibunya …..(diantara isi hadits tersebut) kemudian dia berwudhu’ dan sholat, lalu datanglah bayi laki-laki itu, dan dia bertanya kepadanya, siapa bapakmu? Bayi itu berkata, bapakku sang pengembala.” (HR. Bukhari)

Dan inilah pendapat yang kuat in Sya Allah.

  1. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum melebihkan basuhan anggota wudhu’ dari batasan yang telah ditetapkan Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-.

Pendapat pertama : Hal itu disunnahkan, dan ini pendapat jumhur ‘Ulama dari kalangan madzhab Syafi’I, Hanafi dan riwayat yang masyhur dari Imam Ahmad.

Dalil-dalil yang mereka kemukakan antara lain :

  • Hadits bab ini.

فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

“Maka barangsiapa di antara kalian bisa memanjangkan cahayanya, hendaklah dia melakukannya.”

  • Atsar dari Abu Hurairah –Radhiallahu ‘Anhu-, bahwa beliau melebihkan basuhan anggota wudhu’nya.
  • Atsar dari Ibnu ‘Umar sebagaimana dyiriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dengan sanad yang shohih, bahwa Ibnu ‘Umar melebihkan basuhan anggota whudu’nya.

Pendapat Kedua : Hal itu tidak di syari’atkan. Ini adalah madzhabnya Imam Malik, salah satu riwayat Imam Ahmad dan pendapat yang dipilih oleh syaikhul islam, Ibnul Qayyim dan As-Sa’dy –Rahimahumullah-.

  • Melebihkan basuhan anggota wudhu’ dari batasan yang telah ditetapkan dengan alasan ibadah, maka ini membutuhkan dalil, dan hadits diatas tidak menunjukkan demikian, tapi Rasulullah mengabarkan tentang cahaya anggota wudhu’ pada hari kiamat. Apa yang dilakukan Abu Hurairah –Radhiallahu ‘Anhu-, merupakan pemahaman individual terhadap hadits ini.
  • Setiap sahabat yang menjelaskan sifat wudhu’ Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, tidak pernah menyebutkan bahwa beliau melebihkan membasuh wajah, kedua tangan, kedua kaki dari batasan yang diwajibkan. Dan beliau tidaklah meninggalkan sesuatu yang utama dan afdhol dalam wudhu’Nya.

Dan inilah pendapat yang kuat In Sya Allah.

  1. Hadits ini menunjukkan keutamaan ummat ini.
  2. Cahaya pada wajah dan anggota wudhu’ yang lainnya merupakan kekhususan ummat Nabi Muhammad –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-.
  3. Hadits ini menunjukkan keutamaan bagi orang yang menyempurnakan wudhu’.
  4. Tentang perkataan,

فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

“Maka barangsiapa di antara kalian bisa memanjangkan cahayanya, hendaklah dia melakukannya.” Tambahan ini dimasukkan ke dalam hadits, yang berasal dari perkataan Abu Hurairah dan bukan perkataan Nabi -Shallallahu Alaihi wa Sallam

Imam Ibnu Hajar –Rahimahullah-, berkata dalam kitabnya fathul bari :

وَلَمْ أَرَ هَذِهِ الْجُمْلَةَ فِي رِوَايَةِ أَحَدٍ مِمَّنْ رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ مِنَ الصَّحَابَةِ وَهُمْ عَشَرَةٌ ، وَلَا مِمَّنْ رَوَاهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ غَيْرَ رِوَايَةِ نُعَيْمٍ هَذِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

“Saya tidak melihat kalimat ini dalam riwayat seseorang yang meriwayatkan hadits ini dari shahabat, yang jumlah mereka mencapai sepuluh orang, tidak pula yang meriwayatkan dari Abu Hurairah, selain riwayat Nu’aim ini.”

Syaikh Abdurrahman As-Sa’dy –Rahimahullah-, berkata :

هَذِهِ اللَّفْظَةُ لَا يُمْكِنُ أَنْ تَكُوْنَ مِنْ كَلَامِ رَسُوْلِ اللهِ –صلى الله عليه وسلم-، فَإِنَّ الْغُرَّةَ لَا تَكُوْنُ فِي اْليَدِ، وَلَا تَكُوْنُ إِلَّا فِي الْوَجْهِ، وَإِطَالَتِهِ غَيْرُ مُمْكِنَةٌ، إِذْ تَدْخُل فِي الرَّأْسِ، فَلَا تُسَمَّى تِلْكَ غُرَّةٌ

“Perkataan ini tidak mungkin berasal dari perkataan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena ghurrah (cahaya wajah) tidak terjadi di tangan, tapi hanya di wajah, sehingga memanjangkannya jelas tidak mungkin. Sebab jika memanjang hingga ke rambut, maka tidak lagi disebut ghurrah.

  1. Ini merupakan perkara gaib yang Allah perlihatkan kepada NabiNya –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, dan ini menunjukkan bukti kenabian beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-.

Refrensi :

  1. Fathu Dzil Jalali Wal Ikrom Syarh Bulugul Maram Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
  2. Syarah Umdatul Ahkam Syaikh Sulaiman Al-Luhaimid
  3. Taisir ‘Allam Syarh Umdatul Ahkam Syaikh Abdullah Al-Bassam
  4. Ihkamul Ahkam Imam Ibnu Daqiq ‘Id Asy-Syafi’i
  5. http://majles.alukah.net/t113723/
  6. http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/omdah/09.htm
  7. https://islamqa.info/ar/answers/277556

Ponpes Tahfidz Putri Al-Mahmud Al-Islamy , Rabu 10Jumadal Ula 1440 H / 16 Januari 2019

Bahrul Ulum Ahmad Makki

Tentang Penulis Bahrul Ulum Ahmad Makki

Bahrul Ulum Ahmad Makki -hafidzahullah-. Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana ) Aktifitas : Pengasuh dan pengajar di pondok Tahfidz Al-Mahmud Al-Islamy, Pembina Yayasan Al-Hakam NTB, Pengasuh Web alhakam.com

Silahkan Pilih Yang Lain

Nasehat akhir tahun

Nasehat akhir tahun إِنَّ اْلحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *