Sabtu , Oktober 24 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Fiqih / Ketika Menghukum jadi pilihan…
KLIK UNTUK BERINFAK

Ketika Menghukum jadi pilihan…

Ketika Menghukum jadi pilihan…

Sesungguhnya syariat Islam dibangun untuk mencapai maslahat dan meminimalisasi kerusakan dan kehancuran umat manusia. Bahkan dalam hal menghukum pun syariat telah mengaturnya dengan ideal sehingga tidak ada unsur mendholimi satu sama lain. Namun belakangan ini kita merasa miris dengan diadopsinya sistem-sistem barat (baca: kafir) dalam hal tata cara menghukum yang lebih mengedepankan akal perasaan dan hak asasi manusia menurut anggapan mereka sehingga manusia terutama  generasi muda khususnya lagi anak didik terpola dengan kebebasan mutlak sehingga berkembanglah gaya hidup bebas, lepas tanpa batas. Jauh sebelum adanya slogan hak asasi manusia dan perlindungan terhadap anak Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan dengan indah bagaimana menerapkan hukuman dalam rangka mendidik umat. Diantara cara menghukum dalam Islam adalah:

  1. Islam memberlakukan hukuman pukul sebagai jalan terakhir untuk mendidik anak agar terbiasa melakukan keta’atan dengan syarat tidak menimbulkan luka atau cedera. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata: ‘Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ ».

Perintahkanlah anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah jika tidak mengerjakan sholat kalau berumur 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka (HR. Abu Dawud  495, Shohih Al Jami’ 5867). Berkata Syaikh Abu Toyyib: ‘Pukulan yang dimaksud adalah pukulan yang tidak menimbulkan luka dan harus menghindari wajah’ (Tuhfatul Ahwadzi 1/442).

  1. Syariat yang mulia ini memberikan beberapa tahapan bagi para suami untuk mengobati kedurhakaan para istri yaitu menasehatinya, pisah ranjang dan jika tetap tidak berubah barulah dengan pukulan yang bersifat mendidik dengan syarat menghindari wajah, tidak melukai dan yakin akan bisa merubah perilakunya yang tidak baik.

Diantara wanita ada yang cepat menerima nasehat dan bersegera untuk memperbaiki kesalahannya, maka dalam kondisi ini tidak boleh untuk menghajr (memboikotnya) dan memukulnya. Alloh Ta’ala berfirman (Artinya) :

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar (QS. An Nisaa’: 34).

Dari Mu’awiyah Al Qusyairi bahwasanya Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ »

Janganlah memukul wajah, jangan menjelek-jelekkan dan jangan kamu hajr kecuali di dalam rumah (HR. Abu Dawud  2144).

Namun tidak diperbolehkan bagi suami untuk menjadikan pukulan sebagai kebiasaan karena ini bertentangan dengan sunnah Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam. Perhatikan bagaimana Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam mempraktekkan hal ini. Dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha berkata: ‘Aku tidak pernah melihat Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam memukul pembantunya sedikitpun tidak pula istrinya dan beliau tidak pernah menggunakan tangannya untuk memukul sesuatu kecuali jika sedang berjihad di jalan Alloh’ (HR. Tirmidzi dalam As Syamail 331, Ibnu Majah 1984). Bahkan beliau mencela Abu Jahm karena suka memukul wanita. Beliau berkata kepada Fatimah binti Qois ketika menasehatinya dalam memilih jodoh : “Adapun Abu Jahm ia suka memukul wanita” (HR. Muslim 1480, Abu Dawud 2284).

  1. Dalam hal hukuman yang tidak batasan dan qishos tertentu Islam telah memberlakukan apa yang dinamakan dengan Ta’zir yaitu hukuman yang disyariatkan atas pelanggaran –pelanggaran yang tidak ada ketentuan hukumnya dan kebijakannya diserahkan kepada ulil amri tau pihak berwenang. Telah datang dari Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam beberapa bentuk dari ta’zir ini seperti :
  2. Menghancurkan benda-benda mungkar jika jelas digunakan untuk kemungkaran seperti perintah Nabi untuk menumpahkan minuman keras dan memecahkan bejananya, alat-alat musik dan gambar-gambar makhluk bernyawa. Dari Abi Tholhah Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَهْرِقِ الْخَمْرَ وَاكْسِرِ الدِّنَانَ

Tumpahkanlah khomer (minuman keras) dan pecahkanlah gucinya (HR. Tirmidzi 1340, Shohih Sunan Tirmidzi 3/293). Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk memotong kepala patung, tirai yang bergambar makhluk hidup dan mengeluarkan anjing dari lingkungan rumah (Silsilah As Shohihah 356).

5. Mendenda sebagaimana yang Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam berlakukan bagi pencuri buah yang belum mencapai taraf hukuman potong tangan.

6. Memenjarakan seperti Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam pernah memenjarakan seorang laki-laki yang dituduh bersaksi dusta kemudian beliau membebaskannya (HR. Abu dawud 3630, Ahmad 5/2). Berkata Syaikhul Islam :’ Sesungguhnya menahan yang syar’I bukanlah dipenjara yang sempit namun dengan mempersempit ruang gerak orang tersebut baik di rumah, masjid….Tidak ada di zaman Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr tempat khusus untuk menahan orang tetapi tatkala rakyat semakin banyak di zaman Umar bin Khottob maka dibelilah rumah di Makkah untuk dijadikan penjara” (Majmu’ Fatawa 35/398).

7. Mengasingkan sebagaimana firman Alloh Ta’ala (artinya) :

Atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya) (QS. Al Maaidah: 33).

Hukuman pengasingan pernah diterapkan di zaman Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam buat para waria (bencong) dan para pemuda belum menikah yang berzina. Ibnu Abbas berkata: ‘ Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam melaknat para waria dari kalangan pria dan waria dari kalangan wanita’. Beliau shallallohu ‘alaihi wa sallam berkata: “Keluarkanlah mereka dari rumah kalian”.( HR. Bukhori 5886).

Berkata Al Mihlab : ‘ Laknat Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam para waria dari kalangan pria dan wanita serta perintah beliau untuk mengasingkannya menunjukkan peniadaan semua orang yang dikhawatirkan membuat fitnah terhadap manusia baik dalam agama maupun dunianya’ (Syarh Bukhori, Ibnu Baththal  16/3). Oleh karena itu Umar rodhiyallohu ‘anhu pernah mengasingkan Nashr Ibnu Hajjaj karena membuat para wanita terfitnah. 

Berkata An Nawawi menjelaskan tentang laknat tersebut :’ Yaitu mereka yang asal penciptaannya bukan seperti itu namun berusaha berpenampilan dengan gerak-gerik wanita, model jalannya, mode pakaian, gaya bicara dan berhias dengan perhiasan wanita maka inilah yang tercela yang dilaknat’ (Syarh Muslim 7/317).

Hikmah dibalik hukuman ini…

Tidak disangkal lagi kalau manusia cenderung untuk menuruti hasrat dan ambisi kelezatan dunia dan akan berusaha untuk mencapainya terutama bagi yang imannya lemah baik itu minum minuman keras, narkoba, berzina, membunuh dan tindak kriminal lainnya sehingga Alloh mensyariatkan hukuman-hukuman ini agar membendung kerusakan dan mengancam para pelakunya karena suatu hukuman jika tidak ditegakkan dalam suatu tatanan bermasyarakat maka akan terjadi kekacauan sehingga tujuan dasar dari adanya hukuman ini tidak lain adalah mencegah bahaya bagi manusia (Ibnu Abidin 3/140). Tentunya Alloh ta’ala Sang Pembuat Undang-Undang lebih tahu dengan kemaslahatan manusia dari zaman- ke zaman karena Dia yang menciptakan manusia dan memberikannya hati dan akal pikiran.

Dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu: Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِقَامَةُ حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ مَطَرِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً فِى بِلاَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Penegakan hukum-hukum Alloh lebih baik dari hujan selama 40 malam di negeri Alloh ‘Azza wa jalla (HR. Ibnu Majah 2634, Silsilah As Shohihah 231).

Berkata Thibi rohimahulloh : ‘Hal itu karena dalam menegakkan hukum-hukum Alloh terdapat peringatan bagi manusia untuk menjauhi maksiat dan dosa yang menjadi penyebab dibukanya pintu langit dengan turunnya hujan dan enggan dalam menegakkan hukum-hukum Alloh dan membiarkan maksiat akan menyebabkan musim paceklik dan binasanya makhluk’ (Syarh Sunan Ibni Majah 1/182). Wallohul muwaffiq.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *