Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Kenapa harus cerai ?
KLIK UNTUK BERINFAK

Kenapa harus cerai ?

Kenapa harus cerai ?

Islam adalah agama yang adil dalam semua lini kehidupan karena ia adalah agama yang diturunkan oleh Robb yang Maha Mengetahui tentang kemaslahatan manusia baik individu maupun masyarakat. Terlebih lagi dalam tatanan kehidupan rumah tangga, Islam adalah solusi dari semua pemasalahannya.

Di dalam mengarungi bahtera rumah tangga tentunya laut itu tidak akan selamanya tenang. Sesekali waktu akan terjadi badai dan gelombang pasang. Begitu pula dengan kehidupan suami istri tentunya akan selalu ada masalah sebagai bumbu kehidupan dan sebaik-baik keluarga adalah yang bisa memecahkan masalah yang dihadapi tersebut sesuai dengan tuntutan syari’at. Karena hidup berkeluarga penuh dengan masalah maka Alloh Ta’ala memerintahkan para suami untuk lebih banyak bersabar. Alloh ta’ala berfirman:

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (QS. an Nisaa’: 19).

Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga berpesan: “Janganlah laki-laki beriman membenci perempuan yang beriman karena jika ia tidak suka suatu perangai darinya maka tentu ia akan suka akhlak yang lainnya”(HR. Muslim 1469).

Beliau r menjelaskan tentang hikmah seorang yang beriman itu selalu ditimpa ujian dan cobaan yang bertubi-tubi. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah seorang beriman itu ditimpa luka yang berkepanjangan, letih, penyakit, kesedihan, kesusahan yang membuatnya gundah gulana kecuali semua itu sebagai penyebab gugurnya dosa-dosa” (HR. Muslim 2573).

Demikian pula para istri dilarang untuk meminta cerai kepada suaminya hanya karena pelampiasan amarah saja, Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa ada sebab syar’I maka haram baginya mencium bau surga” (HR. Shohih Sunan Tirmidzi 948).

Tatkala terjadi sengketa antara suami istri maka Islam memberikan tahapan-tahapan syar’I dalam memecahkan masalah. Apabila masalah tersebut timbul karena perangai yang tidak baik dari istri seperti meninggalkan kewajibannya atau membangkang kepada suaminya bahkan membenci dan menghina suami  maka hendaknya suami menasehatinya dengan cara yang baik. Jika tidak mempan maka membelakanginya di tempat tidur (tidak menggaulinya) dan didiamkan tidak diajak bicara (dan ini dilakukan di dalam rumah). Jikalau tetap tidak ada pengaruhnya maka melangkah ke tahap yang ketiga yaitu memukulnya dengan pukulan yang tidak menimbulkan luka (HR. Muslim 1218).

Diperbolehkan juga bagi suami untuk tidak memberikannya nafkah selama ia masih nusyuz (berpaling dari kewajibannya sebagai seorang istri) ((Majmu’ fatawa 32/278). Apabila dengan salah satu cara- cara tersebut ada perubahan pada diri sang istri maka tidak diperbolehkan bagi sang suami untuk mencari gara-gara lagi (Silahkan lihat Qur’an surah an Nisaa’: 34).  

Adapun jika yang nusyuz  adalah dari pihak suami misalnya ia sudah tidak cinta lagi kepada sang istri atau sang istri sudah tidak bisa lagi memenuhi kewajibannya,- sehingga ingin menceraikannya maka hendaknya kedua belah pihak mengadakan perdamaian mana yang terbaik (QS. an Nisaa’: 128).

Jika memungkinkan sang istri memberikan sebagian haknya kepada istri yang lainnya maka hendaknya dilakukan daripada harus bercerai sebagaimana Saudah memberikan sebagian gilirannya kepada ‘Aisyah (HR.al Bukhori 5212).

Dikala cara-cara di atas tidak memberikan solusi dan masalah justru bertambah maka ditempuhlah cara yang selanjutnya yaitu menyerahkannya kepada hakim yang terpercaya dari pihak laki-laki dan hakim dari pihak perempuan untuk memeriksa pihak mana yang bersalah dan bila perlu akan memberikan keputusan apakah kedua belah pihak ini akan berdamai ataukah harus berpisah (QS. An Nisaa’: 35).

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa perceraian di dalam Islam adalah dilarang jika tidak ada sebab syar’I dan sifatnya darurat karena ia adalah solusi terakhir dari semua cara. Karena tatkala kehidupan suami istri sudah sangat berantakan dan jika akan dilanjutkan nyata-nyata akan membahayakan salah satu pihak maka dalam kondisi kritis seperti ini barulah Islam mengizinkan kedua belah pihak untuk bercerai. Hal itu tidak lain karena tujuan dasar dalam berumah tangga adalah agar suami istri mendapatkan ketenangan, kebahagiaan, kasih sayang dan dapat menciptakan rumah tangga yang Islami (QS. Ar ruum:21).

Tatkala hal tersebut tidak dapat tercipta maka tidak mengapa keduanya berpisah jika mereka yakin obat pahit itu lebih menenteramkan bukan malah lebih menggelisahkan dan membuat keduanya tambah bersedih. Apalagi jika dikhawatirkan anak-anak akan terlantar jika kedua orang tuanya berpisah maka suami istri pun harus berpikir seribu kali untuk bercerai karena hal-hal yang sepele.

Bertolak dari hal tersebut maka Islam memberikan adab-adab yang harus dilakoni tatkala harus bercerai, diantaranya:

  1. Hendaknya melihat maslahat dan mudharatnya dari perceraian tersebut.
  2. Perceraian tersebut dilakukan jika khawatir tidak bisa menegakkan hukum-hukum Alloh sehingga memudharatkan salah satu pihak.
  3. Thalaq tersebut bukan untuk memudharatkan sang istri karena hal itu diharamkan.
  4. Faktor pendorong perceraian adalah karena sebab syar’I semisal suami atau istri suka berzina, tidak bisa diamanahi menjaga harta dan rahasia keluarga, tidak bisa menjaga kehormatan keluarga atau tidak mau ta’at kepada suaminya.
  5. Hendaknya tidak thalaq tiga sekaligus (QS. Al baqarah: 229).
  6. Hendaknya thalaq tersebut dipersaksikan sebagaimana ruju’ dipersaksikan(QS. At Thalaq: 1-2).
  7. Perceraian tersebut tidak dilakukan ketika sedang marah sebagaimana sabda Nabi “Tidak ada thalaq dalam keadaan marah” (HR.Shohih Sunan Abi dawud 1919).
  8. Thalaq tersebut memang sudah diniatkan (QS. Al Baqarah: 227).
  9. Thalaq tersebut diizinkan secara syar’I bukan thalaq yang diharamkan seperti menceraikan istri tatkala haid.
  10. Hendaknya menceraikannya dengan cara yang baik bukan dengan kebencian, permusuhan atau perkataan yang kotor.
  11. Hendaknya suami memberikan pesangon bagi istri yang diceraikan tersebut (QS. Al baqarah: 241). (Dari al mausu’ah al Fiqhiyyah, Syaikh Husain al audah 5/372-382).

Apakah setelah bercerai, jalan untuk bersatu kembali sudah terputus?

Termasuk ajaran Islam jika suami istri bercerai, dianjurkan bagi sang istri untuk menyelesaikan masa ‘iddahnya di rumah sang suami  dan tetap mendapatkan nafkah (Shohih sunan an Nasa’I 3186). Suami tidak berhak untuk mengeluarkan atau mengusir sang istri kecuali jika sang istri berbuat dosa yang nyata seperti berzina atau menghina keluarga sang suami dengan kata-kata ataupun dengan perbuatan (QS. at Thalaq: 1).

Hikmah dari syari’at ini adalah untuk memberikan kesempatan bagi suami istri untuk ruju’ kembali dikala amarah telah reda dan sebagai bahan introspeksi diri atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan terdahulu kalau memang ruju’ itu dianggap yang terbaik.

Demikianlah ajaran Islam yang berada pertengahan antara ajaran Yahudi yang membolehkan thalaq tetapi tidak boleh ruju’ kembali dan ajaran nashara yang tidak membolehkan perceraian sekalipun kedua belah pihak ditimpa mudaharat (walaupun pada kenyataannya mereka pun banyak yang bercerai!?) . Walhamdulillah.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *