Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Keluwesan Islam dalam profesi dan mata pencaharian
KLIK UNTUK BERINFAK

Keluwesan Islam dalam profesi dan mata pencaharian

Keluwesan Islam dalam profesi dan mata pencaharian

Seiring dengan berlalunya waktu, sistem kehidupan manusia pun semakin maju dan penuh dengan dinamika perkembangan terutama dalam mencari penghidupan. Profesi manusia juga semakin beraneka ragam baik di bidang pertanian, perdagangan, industri, jasa dan lainnya.

Pada dasarnya Islam membolehkan semua jenis profesi selama profesi itu bukan sesuatu yang haram atau mengantarkan kepada yang haram yang dapat merusak agama, jiwa, keturunan, akal dan harta. Oleh karena itu di dalam Islam tidak pernah dikenal istilah “nganggur” baik di rumah maupun di dalam masjid hanya untuk beribadah. Bahkan para nabi pun yang diutus oleh Alloh Ta’ala semuanya memiliki profesi dan mata pencaharian tertentu. Alloh Ta’ala berfirman tentang Nabi Dawud ‘alaihis salam:

أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ

Buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya (QS. Saba’:11).

Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda tentang Nabi Zakariya :

كَانَ زَكَرِيَّاءُ  نَجَّارًا

Zakariya dahulunya adalah seorang tukang kayu (HR. Muslim 2379).

Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerangkan profesinya sebagai penggembala kambing:

كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لأَهْلِ مَكَّةَ

Dahulu saya menggembala kambing dengan upah beberapa dinar untuk penduduk Makkah (HR. al Bukhori 2143).

Demikian pula para sahabat, tabi’in dan salafus sholih yang lainnya rodhiyallohu ‘anhum tidak mau ketinggalan dengan profesinya. Abu Bakr, Abdurrahman bin ‘Auf, Tholhah bih ‘Ubaidillah dan Muhammad bin Sirrin adalah penjual bibit dan rempah-rempah. Umar bin Khaththob menjual kulit sedangkan Utsman bin ‘Affan selain berdagang juga memproduksi makanan dan menjualnya. Zubair bin Al Awwam, ‘Amr bin Al Ash dan Abu Hanifah semuanya pedagang dan penjual sutera. Ali bin Abi Tholib terkadang beliau menjadi buruh dan berkerja kepada orang Yahudi sampai tangannya berbekas lecet. Utsman bin Tholhah adalah seorang penjahit sedangkan Sa’d bin Abi Waqqosh membuat panah dan mengambil upah dari merautnya (Talbis Al Iblis 345, Al Mabsuth 30/248, At Tobaqot Ibnu Sa’d 3/184, Al Hilyah 1/70, lihat Ahkamul Hirfah, Aziz bin Farhan hal.76).

Faedah Mencari Pekerjaan atau Profesi

Islam menyuruh pemeluknya untuk mencari pekerjaan atau profesi adalah demi kebahagiaan mereka dunia dan akhirat. Disamping itu ada beberapa tujuan mulia dari hal ini yaitu:

1. Menjaga kehormatan manusia

Hal itu dengan menciptakan kehidupan yang mulia dan menjauhkan diri dari kehinaan dengan mengemis kepada orang lain. Hal ini diajarkan oleh Nabi dengan dua cara :

a. Menjelaskan tentang haramnya meminta-minta tanpa ada daruratnya atau sekedar untuk memperbanyak harta. Dari Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallohu anhuma Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersaba:

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

Senantiasa seseorang itu meminta-minta kepada manusia sampai nanti ia akan datang pada hari kiamat tidak ada pada wajahnya sekeratpun daging (HR. al Bukhori 1405, Muslim 1040).

Abdulloh bin Umar rodhiyallohu ‘anhuma berkata: ‘Sekiranya aku mati karena usahaku sendiri untuk mencukupi kebutuhanku lebih aku sukai daripada mati berperang di jalan Alloh’ (Talbis Al Iblis , Ibnul Jauzi hal.454). Bahkan bagaimana kehormatan diri mereka sangat dijaga salah seorang sahabat yaitu Tsauban maula Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mau meminta orang lain memunguti cemetinya yang terjatuh ke tanah.

b.Menjelaskan tentang keutamaan seorang mukmin yang kuat dari mukmin yang lemah karena Islam tidaklah mengajarkan ummatnya untuk menjadi sampah dan beban masyarakat. Langit tidaklah menurunkan emas dan rupiah, oleh karena itu sifat malas harus dibuang untuk menjadi manusia yang bermartabat. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan hasil tangannya sendiri (HR .al Bukhori 1966). Ummul Mukmini rodhiyallohu ‘anha berkata:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عُمَّالَ أَنْفُسِهِمْ

Para sahabat Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah pekerja untuk diri mereka (HR. al Bukhori 1965).

2. Menciptakan masyarakat islam yang kuat

Sebagaimana mengemisnya seseorang merupakan kehinaan maka ketergantungan suatu bangsa kepada bangsa lainnya merupakan bukti lemahnya bangsa tersebut. Sebaliknya adanya industri, teknologi dan informasi yang maju merupakan pertanda kuatnya bangsa atau masyarakat tersebut. Alloh Ta’ala berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang yang dengannya kamu menggetarkan musuh Alloh, musuhmu dan orang-orang selain mereka (QS. Al Anfaal: 60).

Tidak mungkin suatu ummat bisa menggetarkan dan membuat takut musuhnya kecuali dengan kesungguhan mereka untuk membuat alat-alat persenjataan canggih yang menunjukkan kekuatan akal, ilmu dan  badan mereka. Disebutkan dalam sejarah bagaimana Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus para sahabatnya seperti Urwah bin Mas’ud dan Gailan bin Salamah untuk mempelajari bagaimana penggunaan dabbabat (alat perang yang terbuat dari kulit dan kayu yang dimasuki oleh beberapa orang, sejenis tank di zaman ini) dan minjaniq (alat perang yang digunakan untuk melempar batu, panah atau yang lainnya ke arah musuh) kemudian mempraktekkannya pada perang Thoif (Siroh An Nabawiyah Ibnu Hisyam 2/478, Imta’ul Asma’, Al Muqrizy 1/366).

3. Ta’awwun (tolong-menolong) dalam mencari penghidupan

Sesungguhnya Alloh Ta’ala menciptakan makhluq dan menjadikan mereka pemakmur bumi ini. Diantara mereka ada yang diberikan keluasan rizqi dan diantaranya juga ada yang hanya diberikan sekedarnya saja untuk sebuah hikmah yaitu agar satu sama lain saling bantu-membantu. Alloh ta’ala berfirman:

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا

Kami telah membagi penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan kami mengangkat sebagian mereka beberapa derajat agar mereka saling memperbantukan (QS. Az Zukhruf: 32).

Berkata As Syaukani rohimahulloh menerangkan hikmah tersebut: ’Hal itu adalah perbedaan antara mereka. Alloh menjadikan sebagiannya lebih utama dari yang lain di dunia dalam masalah rizqi, kepemimpinan, kekuatan, kemerdekaan, akal, ilmu kemudian Alloh Ta’ala menyebutkan hikmahnya :”Agar mereka saling bantu membantu” yaitu satu sama lain slaing memperbantukan. Yang kaya memperbantukan yang faqir, pemimpin memperbantukan rakyat, yang kuat memperbantukan yang lemah, yang merdeka memperbantukan yang budak, yang pintar memperbantukan yang kurang pintar, yang alim memperbantukan yang tidak alim dan ini adalah keumuman dalam urusan dunia yang dengannya sempurnalah kemaslahatan mereka, terpenuhilah penghidupannya dan satu sama lain tercapai keinginannya. Semua produk dunia ada yang bisa diproduksi dengan bagus oleh suatu kaum sedangkan yang lain tidak bisa sehingga sebagiannya membutuhkan kepada yang lainnya untuk memperoleh persamaan dalam dalam penghidupan dunia…(Fathul Qodir 4/554).

Walhamdulillahi robbil ‘alamin.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *