Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Pendidikan Islam / Kekeliruan Dalam  Mendidik Anak
KLIK UNTUK BERINFAK

Kekeliruan Dalam  Mendidik Anak

Kekeliruan Dalam  Mendidik Anak

Anak adalah hasil usaha orang tua. Jika baik dalam memelihara maka bahagia yang akan dirasa. Namun jika salah langkah maka hanya kesusahan yang akan melanda. Seringkali orang tua hanya menyalahkan anak padahal “kenakalan anak” justru salah satu penyebabnya adalah kekeliruan orang tua dalam mengasuhnya.

Tatkala Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada para sahabat : “Apa pendapat kalian tentang orang mandul ?” Para sahabat menjawab: “Mereka yang tidak mempunyai anak”. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata:

لَيْسَ ذاكَ بِالرَّقُوْبِ، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئاً

Bukan begitu yang dinamakan Mandul, tetapi orang yang mandul adalah orang tua  yang tidak bisa memberikan sesuatu kepada anaknya (HR. Al Bukhori dalam ‘Al Adabul Mufrod 153,  Ahmad 1/382, As Shohihah 3406).

Tentunya pemberian terbesar yang diberikan kepada sang anak adalah pengasuhan dan pendidikan sehingga anak terhindar dari api neraka (QS. At Tahrim: 6). Tatkala metode mendidiknya tidak sesuai dengan cara yang dianjurkan Nabi maka anak justru akan menjadi musuh orang tuanya sendiri (QS. At Taghabun: 14).

Oleh karena itu, kami akan menyebutkan beberapa kekeliruan orang tua yang banyak terjadi seputar pendidikan anak-anaknya:

  1. Mendidik anak untuk takut kepada manusia dan hanya sekedar mencari ridho mereka. Seharusnya ditanamkan kepada anak untuk mencari ridho Alloh dalam semua aktivitasnya, bukan yang penting orang suka. Hal ini akan membuat sang anak sulit untuk menerima kebenaran tatkala tidak bersesuaian dengan adat kebiasaan manusia. Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha Rasululloh r bersabda:

مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

Barangsiapa yang mencari kesenangan Alloh dengan kemarahan manusia maka Alloh akan menjaganya dari gangguan manusia dan barangsiapa yang mencari kesenangan manusia dengan kemarahan Alloh maka Alloh akan menyerahkannya kepada manusia (sehingga manusia  akan mengganggu dan mendzholiminya) (HR. at Tirmidzi 2414)

  1. Mendidik anak sejak dini dengan hal-hal yang kurang bermanfaat. Sebagai sebuah renungan bagi kita para orang tua adalah kisah yang dituturkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata: “Saya berada di suatu barisan pada Perang Badar. Tatkala saya menoleh ternyata disebelah kanan dan kiri saya dua anak kecil, Saya khawatir dengan (keselamatan) kedua anak ini. Salah satunya bertanya kepada saya :’Wahai paman, tunjukkan saya Abu Jahl. Saya bertanya :’Apa yang akan kamu lakukan terhadapnya?’. Ia menjawab : ‘Saya berjanji kepada Alloh, jika saya melihatnya, saya akan membunuhnya atau saya yang terbunuh’…sampai akhir kisah dimana kedua anak itu yang membunuh Abu jahl. Dimanakah generasi muda muslim yang gandrung sepakbola, hura-hura, suka nongkrong di play station, di taman-taman, dan waktunya habis untuk sms-an dan internetan..!! Kemanakah orang tua yang hanya membiarkan anak-anaknya dalam hidup sia-sia seperti ini …??!!.
  2. Terlalu mementingkan dunia dan melalaikan akhirat.

Seringkali orang tua tidak memperdulikan pergaulan dan pendidikan anaknya di sekolah-sekolah yang bercampur antar jenis yang penting bisa menjadi “orang besar”, “kaya” dan “berpangkat”. Padahal rizqi itu di dapat bukan dengan gelar tetapi dengan ketakwaan. Alloh Ta’ala berfirman (artinya) :

Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya (QS. Thalaq: 3)

  1. Mendidik anak putri dengan hanya mementingkan penampilan semata. Seyogyanya anak putri diajar hidup sederhana dan mandiri sehingga tatkala berkeluarga nanti ia sudah terbiasa qona’ah (menerima apa adanya).
  2. Menyuruh anak sekedar melakukan amalan tertentu tanpa mengajarkannya niat yang benar. Tatkala sang anak misalnya pergi mengaji atau belajar hendaknya orangtua mengingatkan untuk mengkikhlaskan amalannya itu hanya untuk Alloh.
  3. Melarang anaknya untuk bergaul atau ikut majelis orang tua. Seringkali ketika ada tamu datang, orang tua justru melarang anaknya untuk ikut menyambut tamu tersebut bahkan menyuruhnya pergi. Seharusnya orang tua sejak dini mengajarkan bagaimana menyambut tamu dan menyuruh anaknya untuk sering bersama orang-orang tua yang sholih agar dapat mengambil teladan dari akhlaq dan ilmunya. Abu Bakroh Radhiallahu ‘Anhu berkata :’Saya melihat Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkhutbah di atas mimbar sementara Hasan bin ‘Ali (cucu beliau) berada di sampingnya. Terkadang ia menghadap ke orang banyak dan menghadap Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.’ Demikian pula Abdulloh bin ‘Umar yang masih kecil diajak bapaknya (‘Umar bin Khoththob Radhiallahu ‘Anhu) untuk meenghadiri majelis para sahabat Nabi (HR. al Bukhori 106). Demikian pula Rasululloh menyuruh anak-anak laki untuk sholat berjama’ah di masjid tatkala berumur 7 tahun dan menyuruh memukulnya jika tidak sholat ketika sudah berumur 10 tahun agar mereka bisa meniru cara ibadah orang tua.
  4. Tidak memberikan contoh teladan yang baik kepada anak. Ketika anak disuruh mengaji, menuntut ilmu dan perbuatan baik lainnya sementara orang tuanya tidak bisa mencontohkannya maka sama saja kita telah menanamkan ketidakpercayaan anak kepada orang tuanya.
  5. Tidak mau memberikan kepercayaan kepada sang anak. Seringkali orang tua menganggap anaknya tetap sebagai “anak” yang belum bisa dipercayai sesuatu amanah. Sejatinya, orang tua untuk mengajarkan bagaimana memegang amanah agar tatkala menginjak usia baligh sang anak sudah siap untuk diamanahi sesuatu oleh orang lain. Di sisi lain hal ini akan menjadikan mereka untuk menjadi orang yang percaya diri.
  6. Berlebihan dalam memukul. Terlalu sering memukul anak akan membuat sang anak menjadi pemurung, bodoh, merasa hina dan cenderung untuk suka bermusuhan karena ia akan menganggap bahwa semua permasalahan akan selesai dengan pemukulan dan perkelahian.
  7. Kesemrawutan dalam keluarga dalam hal ketidakrapian di dalam rumah akan menjadikan anak tidak suka yang rapi dan bersih.
  8. Hubungan antara kedua orang tua yang tidak harmonis seperti seringnya orang tua bertengkar di hadapan anak-anaknya akan membuat anak tersebut menjadi penakut dan tidak betah tinggal di rumah. Terlebih lagi jika orang tua mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak baik untuk di dengar anak-anaknya. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang beriman itu bukan tukang laknat, tukang cela, tidak berkata kotor dan kasar” (HR. Ahmad 1/416).
  9. Tidak menyeleksi siapa yang menjadi teman bergaul anaknya. Yang menjadi masalah terbesar orang tua di zaman ini adalah pengaruh yang sangat besar terhadap kepribadian negatif anak dari dua faktor yaitu teman dan tontonan. Maka sudah menjadi kebutuhan bagi para orang tua untuk memberikan ekosistem (lingkungan) islami bagi anak-anaknya sebagai perwujudan pelaksaan perintah Alloh untuk menjauhkan mereka dari api neraka.
  10. Tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap anak dengan alasan belum baligh. Hal ini bertentangan dengan pola para salafus sholih dalam mendidik anak-anak mereka.
  11. Tidak adanya kerjasama antara ibu dan bapak dalam mengingkari kesalahan anaknya. Seringkali tatkala sang anak dinasehati atau dimarahi bapaknya karena melakukan kesalahan justru ibu-nya membela sang anak (atau sebaliknya). Hal ini akan membuat anak tersebut kurang ajar karena merasa ada yang membela kesalahannya

Wallohul Musta’an.

 

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *