Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Keistimewaan  Ekonomi Islam
KLIK UNTUK BERINFAK

Keistimewaan  Ekonomi Islam

Keistimewaan  Ekonomi Islam

Islam adalah agama rahmat dan keadilan dalam semua lini kehidupannya. Termasuk dalam aspek ekonomi, Islam adalah jawaban dari semua krisis ekonomi yang berkepanjangan. Namun mengapa justru ummat Islam malah terpuruk?  Penyebabnya adalah jauhnya mereka dari Islam itu sendiri, salah satunya adalah karena rusaknya system perekonomian mereka sebagaimana Nabi bersabda yang artinya: “Jika kalian jual beli dengan system ‘inah (riba)…Alloh akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian”(HR. Abu Dawud 3462, As Shohihah 11). Padahal jika ditilik dengan seksama Sistem Ekonomi Islam yang begitu indah adalah solusi  untuk memajukan perekonomian  yang dengannya akan membuka mata manusia bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Diantara keistimewaan ekonomi Islam :

1.Asas dari ekonomi Islam dibangun di atas beberapa pondasi:

a. Keadilan

Urusan manusia akan langgeng di dunia ini selama ditegakkan keadilan. Adil dalam darah, harta, nasab dan kehormatan. Oleh karena itu negeri yang adil akan tegak sekalipun penduduknya kafir dan tidak mendapat bagian di akhirat, sebaliknya negeri muslim tidak akan tegak jika penuh dengan kedzholiman (Mabadi’ al Iqtisod al Islamiyyah hal. 35).  

b. Kejujuran

Kejujuran adalah asas semua kebaikan sedangkan kedustaan adalah asas dan penopang semua kejelekan (Majmu’ Fataawa 20/74,75).

c. Kesabaran

Sabar dalam melaksanakan amalan yang baik dan meninggalkan semua yang dilarang. Termasuk di sini sabar terhadap semua gangguan dan cobaan. Dan  ini tidak akan bisa dilakoni jika tidak ada yang menenangkannya, menghiburnya dan menstimulasinya yaitu Keyakinan (Al Hasbah 101).

2. Perbankan islami bertujuan agar kaum muslimin dan semua manusia secara umum mendapatkan penghidupan yang halal, maju dan sejahtera. Perbedaan asasi dari perbankan Islami dan ribawi adalah:

Bahwasanya perbankan Islami dialah sebenarnya pelaku usaha; dialah pedagang, petani, penambang, yang memproduksi barang atau usaha-usaha halal lainnya. Dana dari nasabah yang menitipkan uangnya untuk dikelola oleh bank sebagai pelaku usaha akan dinikmati bersama dan jika rugi kedua belah pihak pun sama-sama rugi. Ini tentunya adil karena pihak perbankan terjun langsung ke dunia usaha bermodal keahlian sedangkan nasabah bermodal uang dan tidak ikut capek mengelola usaha. Berbeda dengan perbankan ribawi, dimana mereka sekedar “memutar” uang nasabah saja dan sebagai “makelar” antara nasabah dengan produsen (pelaku usaha) dengan balas jasa dalam bentuk bunga kepada nasabah. Sebagai contoh: Jika orang ingin kredit KPR atau mobil/motor maka ia harus berhubungan dengan bank. Kenapa? Karena pihak developer atau dealer telah mengadakan kesepakatan dengan bank agar keuntungannya lebih banyak[1]. Lalu pihak bank sebagai apa dalam system ini? Hanya sebagai wakil dari nasabah. Dia bukan pelaku usaha yang terjun langsung dan bukan pula penyandang modal. Ironisnya lagi jika terjadi krisis mereka tidak mau rugi…! Yang menelan pahit hanya nasabah karena uangnya tidak bisa kembali utuh. Berbeda dengan bank islami. Oleh karena itu mereka terjatuh pada tiga larangan Nabi:  memperjualbelikan sesuatu yang tidak dimiliki, Adanya dua transaksi dalam satu jual beli dan menerapkan system bunga (riba).

3. Dalam bermuamalah ummat Islam tidak hanya mengejar keuntungan materi semata. Tatkala mereka harus berhadapan dengan orang yang butuh bantuan maka yang harus dikedepankan adalah keuntungan ukhrowi yaitu surga tanpa ada tujuan mengharapkan lebih dari itu karena “Semua pinjaman yang mengalir manfaat (bunga) di sana maka termasuk riba” .Oleh karena itu lembaga finansial[2] yang bergerak memberikan pinjaman kepada para petani, pedagang, dllnya yang tidak punya modal dengan menerapkan system bunga maka justru merekalah rentenir yang mencekik ummat ini…Adapun dalam Islam tidak diperbolehkan mensyaratkan adanya bunga. Nabi bersabda: “Senantiasa Alloh akan menolong seseorang selama orang tersebut menolong saudaranya” (HR. Muslim 1888). Adapun jika si peminjam  mengembalikan lebih sesuai kehendaknya sendiri maka itulah yang lebih dianjurkan  (lebih afdhol).

4. Untuk mendapatkan kesempatan mewujudkan kesehteraan individu dan masyarakat, Islam mengatur system ta’awwun (kerja sama) syar’i.

Diantara bentuk-bentuknya adalah:

a. Mudhorobah yaitu akad antara dua pihak dimana salah satu pihak memberikan modal dan pihak yang lain bekerja sebagai pelaku usaha. Adapun keuntungan diatur berdasarkan kesepakatan.

b. Muzharo’ah yaitu salah satu pihak menyerahkan tanah untuk digarap oleh pihak lain dengan persentase hasil tanaman yang telah disepakati bersama.

c. Musaqoh yakni salah satu pihak menyerahkan tanaman /perkebunan kepada pihak kedua untuk ia kelola dengan persentase hasil tanaman yang disepakati bersama.

Dalam tiga system di atas tidak diperbolehkan salah satu pihak mensyaratkan jumlah tertentu dari tanaman, hasil tanaman, hasil bidang tanah atau pohon tertentu saja, dan jumlah tertentu dari keuntungan karena  akan merugikan salah satu pihak. Oleh karena itu Nabi melarang system  Mukhobaroh yang seperti ini (Majmu’ Fataawa 30/104-105,108,141).

d. Syirkah (Serikat) yaitu berkumpulnya dua orang atau lebih dalam satu usaha untuk mendapatkan keuntungan. Syirkah bisa dalam bentuk kepemilikan, akad dan badan. Syirkah badan seperti dalam pabrik banyak mendatangkan kemaslahatan bagi kaum muslimin.

5. Tatkala manusia dijadikan ada yang kaya dan miskin maka di sana ada maslahat yang tidak akan bisa sempurna kecuali dengan memenuhi kebutuhan orang-orang miskin. Oleh karena itu Islam mensyari’atkan zakat untuk menutup kefakiran mereka dan mengharamkan riba yang menyusahkan mereka. Dan zakat ini tidaklah dikeluarkan kecuali dari harta yang berkembang saja.

6. Islam melarang semua jual beli yang ada unsur tipuan, spekulasi dan riba.

 


[1] Sebagian mereka menamakannya dengan system Murobahah (bagi hasil) padahal kenyataannya itu termasuk system ribawi. Berkata ‘Alauddin Abu Bakr al Kasany al Hanafi :”Murobahah adalah  menjual sesuatu dengan harga awal (modal) dengan adanya tambahan keuntungan” (Badai’us Shonai’ 5/220).

[2] Termasuk system pegadaian yang ada sekarang tidak lepas dari riba ini. Betulkah mereka menyelesaikan masalah tanpa masalah? Jawabannya ada pada anda.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *