Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Akhlaq / Kasih Sayang Islam terhadap Pembantu
KLIK UNTUK BERINFAK

Kasih Sayang Islam terhadap Pembantu

Kasih Sayang Islam terhadap Pembantu

Dalam kehidupan sehari-sehari tentunya manusia tidak bisa untuk hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Terlebih lagi jika itu adalah kebutuhan rumah tangga yang tidak dapat ditangani sendiri oleh suami istri. Dalam keadaan seperti itu mereka memerlukan bantuan seorang pembantu yang nantinya bisa meringankan beban pekerjaan di dalam rumah tangga. Namun ironisnya, sebagian majikan menganggap pembantu sama dengan budak yang bisa dibeli atau disewa dengan materi semata sehingga tidak jarang mereka menganggap rendah para pembantu. Padahal kalau ditilik secara hukum syar’I pembantu tidaklah sama dengan budak dan bahkan peran pembantu sangat penting dalam pendidikan anak serta pembinaan akhlak mereka bahkan bisa jadi merekalah madrasah pertama bagi anak-anak majikannya. Oleh karena itu Islam sangat memberikan perhatian terhadap para pembantu. Diantara bentuknya:

  1. Lemah lembut kepada para pembantu. Dari Anas bin Malik ia berkata: “Rasululloh adalah orang yang paling baik akhlaqnya. Suatu hari beliau pernah mengutusku untuk suatu keperluan. Maka saya berkata: “Demi Alloh aku tidak akan pergi”, namun dalam hatiku aku akan pergi karena itu adalah perintah Nabiyulloh. Maka aku keluar sampai melewati sekelompok anak kecil yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasululloh memegang tengkukku dari belakang. Kemudian saya menoleh kepada beliau sedangkan beliau tertawa seraya berkata: “Wahai Anas kecil, engkau sudah pergi mengerjakan apa yang aku suruh?”. Aku menjawab: “Ya, saya akan pergi wahai Rasululloh”. (Anas) berkata: “Demi Alloh, saya menjadi pembantu beliau selama sembilan tahun, tidak pernah beliau mengatakan jika saya melakukan sesuatu, “Kenapa kamu berbuat begini dan begitu?!”, atau tatkala saya tidak melakukan sesuatu “Kenapa kamu tidak melakukan begini dan begitu?!” (HR. Muslim 2310).
  2. Lapang dada terhadap kekurangan pembantu

Mengurus pekerjaan rumah tangga adalah sesuatu yang berat yang tidak semua orang bisa melakukannya. Demikian pula seorang pembantu suatu ketika ia bisa capai, lelah atau mempunyai tabiat agak lambat dalam bekerja. Oleh karena itu seorang majikan yang arif adalah yang penuh pengertian terhadap pembantunya. Jika ada seseorang yang mencela pembantu Rasululloh karena tidak beres dalam bekerja maka Rasululloh hanya mengatakan :”

دَعُوْهُ ! فَلَوْ قُدِّرَ أَنْ يَكُوْنَ كَانَ!

Biarkanlah ! Jika sudah ditaqdirkan maka pasti akan terjadi (HR. Ahmad dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Dzhilaul Jannah (355).

  1. Anjuran untuk banyak memaafkan pembantu.

Pembantu sebagaimana juga majikan adalah manusia biasa. Jika ia melakukan kesalahan maka itu sesuatu yang wajar. Yang tidak wajar jika seseorang tidak mau memaafkan pembantunya dan menganggap bahwa pembantunya tersebut tidak boleh melakukan kesalahan. Dari Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma ia berkata: “Pernah datang seseorang kepada Nabi seraya berkata: “Wahai rasululloh, berapa kali kita memaafkan pembantu? Maka nabi diam. Orang tersebut kembali bertanya dan Nabi tetap diam. Tatkala bertanya ketiga kalinya barulah Nabi menjawab:

اعْفُوا عَنْهُ فِى كُلِّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً

Berikanlah maaf kepadanya setiap hari tujuh puluh kali (HR. Abu Dawud 4496, shohih at Tirmidzi 2031).

  1. Larangan memukul pembantu.

Memukul pembantu, selain dilarang juga dikenai sanksi atau denda atau hukuman yang sesuai dari ulil amri. Dari “Aisyah rodhiyallohu ‘anha ia berkata: “Rasululloh tidak pernah sama sekali memukul pembantu dan perempuan” (HR. Abu Dawud 4154, Ibnu Majah 1974, Mukhtasor Syama’il Muhammadiyah hal.182).

  1. Anjuran Rasululloh untuk memberikan makan kepada pembantu. Dari Miqdad bin Ma’di Karib ia berkata: “Rasululloh pernah bersabda :

مَا أَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَمَا أَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَمَا أَطْعَمْتَ زَوْجَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَمَا أَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ”

Makanan yang engkau berikan untuk dirimu sendiri termasuk shodaqoh, makanan yang engkau berikan kepada anakmu adalah shodaqoh, makanan yang engkau berikan kepada istrimu adalah shodaqoh dan makanan yang engkau berikan untuk pembantumu termasuk shodaqoh (HR.  Ahmad 16550, an Nasa’I 9204, As Shohihah 452). Hendaknya seorang majikan memberikan makanan kepada pembantunya sebagaimana apa yang ia makan. Janganlah ia memberikan makanan yang jelek sedangkan ia sendiri tidak menyukainya (QS. Al baqoroh: 267). Termasuk sunnah Rasululloh adalah mengajak pembantu untuk makan bersama. Dari abu Hurairoh Rasululloh bersabda: “Jika salah seorang pembantu kalian membuatkan kalian makanan kemudian datang membawanya dan makanan tersebut sudah hilang panasnya maka hendaknya ia menyuruh sang pembantu duduk dan mengajaknya makan. Jika makanan tersebut berupa panggangan yang sedikit maka hendaknya ia memberikan sesuap atau dua suap di tangan pembantunya” (HR. Muslim 3142).

  1. Larangan mendoakan kejelekan bagi pembantu. Dari Jabir bin Abdillah Rasululloh bersabda:

“لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى خَدَمِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى سَاعَةَ نَيْلٍ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ”

Janganlah kalian mendo’akan kejelekan untuk dirimu, jangan pula untuk anak-anakmu, pembantumu dan hartamu dan janganlah do’amu tersebut bertepatan dengan suatu waktu yang Alloh kabulkan do’a pada waktu tersebut sehingga do’amu benar-benar dikabulkan (HR. Muslim 3009, Shohih at Targhib 1654).

  1. Larangan mencela dan memaki pembantu. Alloh Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan (QS. Al Hujurat: 11).

Rasululloh menyifati orang yang beriman dengan sabdanya :”Seorang yang beriman itu bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berbuatu kotor dan berperangai kasar” (HR. Ahmad 1/4040-405, as Shohihah 320).

  1. Anjuran untuk memilih pembantu yang sholih atau sholihah dan baik akhlaqnya karena agama pembantu –khususnya baby sitter- akan berpengaruh kepada agama anak-anak asuhannya. Karena pembantu adalah kepanjangan tangan dari majikannya maka merekapun dituntut memiliki bekal agama yang cukup. Jika tidak, maka sang majikan harus mengajarkan mereka agama dan adab-adab islami. Rasululloh bersabda: “Kalian semua adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya” (HR. al Bukhori 853).

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *