Sabtu , September 22 2018
Breaking News
Home / Bahasa Arab / Ilmu Nahwu / Syarah Matan Jurumiyah / Kaidah-Kaidah Nahwu : ‘Amil-Amil Yang Menashobkan Fi’il Mudhori’

Kaidah-Kaidah Nahwu : ‘Amil-Amil Yang Menashobkan Fi’il Mudhori’

نواصب الفعل المضارع

‘Amil-Amil Yang Menashobkan Fi’il Mudhori’ [1]

فالنواصب عَشَرَةٌ وَهِيَ أَنْ وَلَنْ وَإِذَنْ وَكَيْ وَلَامُ كَيْ وَلَامُ اَلْجُحُودِ وَحَتَّى وَالْجَوَابُ بِالْفَاءِ وَالْوَاوِ وَأَوْ

‘Amil Nashob yang sepuluh dibagi dua (2) bagian, yaitu :

  • Menashobkan fi’il mudhori’ dengan sendiri-nya 4 huruf,   (أَنْ, لَنْ إِذَنْ,كَيْ ) .
  • Menashobkan fi’il mudhori’ dengan ( أَنْ ) yang tersembunyi setelah huruf yang 6 yaitu : ( لَامُ كَيْ, لَامُ اَلْجُحُودِ, حَتَّى, الْجَوَابُ بِالْفَاءِ, الْوَاوِ, أَوْ )

‘Amil-‘Amil yang menashobkan fi’il mudhori’ dengan sendiri-nya ada 4(empat) huruf, yaitu [1]:

  • أَنْ ( حَرْفُ مَصْدَرٍ ونَصْبٍ واسْتِقْبَالٍ ) :

أَنْ Menshabkan fi’il mudhori’ dengan syarat tidak didahului oleh ( عَلِمَ ) atau yang semakna dengan-nya, seperti ( رَأى ، تحَقَّقَ ، تَبَيَّنَ ) contoh :

Namun apabila أَنْ didahului oleh ( عَلِمَ ) atau yang semakna dengan-nya, seperti ( رَأى ، تحَقَّقَ ، تَبَيَّنَ ) maka ( أَنْ ) hukum-nya seperti ‘An Mukhoffafah Minatsaqilah ( أَنْ المخَفَّفَة منَ الثَّقِيْلَة ) yaitu menashobkan isim dhomir yang terbuang dan merofa’kan jumlah (baik jumlah ismiyah atau jumlah fi’liyah) [1]contoh :

  • لَنْ ( حَرْفُ نَفْيٍ وَنَصْبٍ وَاسْتِقْبَالٍ Contoh :

  • (حرف جواب وجزاء ونصب), Contoh : 

Idzan ( إِذَنْ ) menashobkan Fi’il Mudhori’ dengan 3(tiga) syarat, yaitu [1]:

  • Idzan ( إِذَنْ ) harus berada diawal kalimat jawab.
  • Fi’il mudhori’ yang jatuh setelah Idzan harus bermakna Istiqbal ( اِسْتِقْبَالٌ ).
  • Tidak ada pemisah antara fi’il mudhori’ dengan Idzan kecuali Qosam(huruf sumpah), Nida(huruf untuk memanggil) dan La naafiyah(penafian), contoh :

  • (كَيْ ( حَرْفُ مَصْدَرٍ وَنَصْبٍ

    كَيْ menashobkan fi’il mudhori’ dengan syarat harus didahului oleh ( لام التعليل ) Lam Ta’lil secara lafadz atau secara taqdir, contohnya :

Apabila ( كَيْ ) tidak didahului oleh Lam Ta’lil ( لام التعليل ) secara lafadz atau secara taqdir, maka ( كَيْ ) adalah huruf  jar dan huruf ta’lil, dan menashobkan fi’il mudhori’ dengan ( أَنْ )yang tersembunyi yang berada setelah ( كَيْ ), contoh seperti pada tabel diatas.

Amil-‘Amil yang menashobkan fi’il mudhori’ melalui perantara ( أَنْ ) yang tersembunyi setelah-nya terbagi 2(dua) yaitu :

  • Boleh menampakkan ( أَنْ ) atau menyembunyikan-nya, yaitu pada 1(satu) huruf saja(لام كي/لام التعليل/لام الجرِّ ).

  • Lam ( لام ) disandarkan dengan ( كَيْ ) karena ( كَيْ ) bisa menggantikan posisi ( لام ) dan sama-sama menunjukkan makna ( تعليل ) penjelasan sebab/alasan.contoh :

  • Wajib menyembunyikan ( أَنْ ) setelah-nya, yaitu pada 5(lima) huruf :
    1. ( أيْ لامُ النَّفْيِ لَامُ الجُحُوْدِ ) Lam Juhud atau Lam Nafyu dengan syarat didahului oleh kata ( ماَ كَانَ / لَمْ يَكُنْ ) contoh :

2. ( حَتَّى ) Hatta , dengan syarat fi’il yang berada setelah Hatta ( حَتَّى ) harus menunjukkan makna akan datang ( مُسْتَقْبَلاً ), apabila fi’il setelah Hatta ( حَتَّى ) menunjukkan makna sekarang ( حَالاً ) maka fi’il mudhori’ setelah-nya di rofa’-kan [1]. contoh :

– Al-Goyah ( الْغَايَةُ ) definisinya :

 أنَّ ماَ قَبْلَهَا يَنْتَهِيْ بِحُصُوْلِ مَا بَعْدَهَا

“ Bahwa sebelum Hatta ( حَتَّى ) terhenti dengan tercapai-nya setelah Hatta ”.

Tandanya : Posisi Hatta ( حَتَّى ) boleh digantikan ( إِلَى ), contoh :

At-Ta’lil ( الْتَّعْلِيْلُ ) definisinya :

 أنَّ ماَ قَبْلَهَا عِلَّةٌ لِحُصُوْلِ مَا بَعْدَهَا

“ Bahwasanya sebelum Hatta penyebab tercapai-nya setelah Hatta”.

Tandanya : Posisi Hatta ( حَتَّى ) boleh digantikan ( كَيْ ), contoh :

3. ( فَاء السَّبَبِيَّة / الفاء فى الجواب ) Fa’ sababiyah ialah :

أنَّ ماَ قَبْلَهَا سَبَباً لِمَا بَعْدَهَا

“ Bahwasanya sebelum Fa’ sababiyah penyebab terhadap (terjadinya) setelah Fa’ sababiyah”.

 

4. (وَاوُ الْمَعِيَّة / الْوَاوُ فِيْ الْجَوَابِ ) Wawu ma’iyyah ialah :

 هِيَ الَّتِيْ تُفِيْدُ مَعْنَى ( مَعَ ) وَ يَكُوْنُ مَا قَبْلَهَا وَمَا بَعْدَهَا وَاقِعَيْنِ فِيْ زَمَانٍ وَاحِدٍ .

“ Wawu ma’iyyah menunjukkan makna bersama( مَعَ ), dan sebelum wawu ma’iyyah dan sesudahnya terjadi pada waktu yang sama”.

  • (وَ وَاوُ الْمَعِيَّةِ فَاءُ السَّبَبِيَّة ) Fa’ sababiyah dan Wawu ma’iyyah, keduanya menashobkan fi’il mudhori dengan beberapa syarat, yaitu :

a. Harus didahului oleh Tholab ( الطَّلَبُ ), dan tholab ini mencakup :

b. Harus didahului oleh Nafyu ( النَّفْيُ ), contoh :

5. ( أَوْ ) Au ,dengan syarat boleh digantikan kedudukannya oleh ( إِلَى ) atau ( إِلاَّ ), contoh :

 

[1] . Ad-Durrah Al-bahiyyah Hal.345

[1] . Hulal Dzahabiyah Hal.121, Ad-Durah Bahiyah Hal. 338

[1] . Mengamalkan amalan (إنَّ   ) dan saudara-nya.

[1] .Ad-Duroh Al-Bahiyah Hal. 335-338

[1] .’Amil yang menashobkan fi’il mudhori’ menurut ‘Ulama Kufiyyun 10 ‘amil, sedangkan menurut ‘Ulama Bashroh 4(empat) ‘amil yaitu ( أنْ ، لنْ ، إذنْ ، كيْ ), adapun sisa dari yang empat tidak menashobkan fi’il mudhori’ dengan sendiri-nya, akan tetapi oleh ( أنْ ) yang tersembunyi setelah-nya.lihat Mumti’ syarh jurumiyah Hal.50

Please follow and like us:
0

About Bahrul Ulum Ahmad Makki

Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pondok Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana )

Check Also

‘Umdatul Ahkam : Cara Menentukan Awal Bulan Ramadhan (Hadits 179)

‘Umdatul Ahkam : Cara Menentukan Awal Bulan Ramadhan (Hadits 179) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Please like this page and share it