Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Kaidah-kaidah menuntut ilmu bag.2
KLIK UNTUK BERINFAK

Kaidah-kaidah menuntut ilmu bag.2

Ketiga : Memperhatikan ushul(dasar) dan kaidah ilmu.

Merupakan sesuatu yang telah diketahui, apabila seseorang bermaksud pergi ke sebuah tempat, maka dia harus mengetahui jalan menuju tempat tersebut, dan jika jalannya berbilang, maka dia mencari jalan yang paling dekat dan mudah. Oleh karena itu, merupakan sesuatu yang penting bagi seorang penuntut ilmu agar membangun ilmunya yang dia tuntut di atas sebuah ushul dan janganlah dia bertindak serampangan, karena barangsiapa yang tidak memantapkan dasarnya, maka dia akan terhalang untuk mencapainya.

Berkata nadzim :

– وبعد فالعلم بحور زاخره  ***  لن يبلغ الكادح فيه آخره.

– لكن في أصوله له تسهيلا  ***  لنيله فاحرص تجد سبيلا.

– اغتنم القواعد الأصولا  ***   فمن تفته يحرم الوصولا.

Ushul(dasar) ilmu adalah ilmu itu sendiri, dan permasalahan-permasalahan adalah cabang, seperti pohon dan ranting-rantingnya, apabila rantingnya tidak berada di pohon yang baik, maka ia akan menjadi layu dan mati.

Akan tetapi, apa ushul itu?apakah dalil-dalil yang shohih?atau kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan?atau keduanya?

Ushul(dasar) adalah dalil-dalil dari Al Quran, hadits, kaidah dan ketentuan yang diambil dengan metode penelitian dan membaca Al Quran dan hadits.Inilah sesuatu terpenting bagi seorang penuntut ilmu.

Syaikh Ibnu Utsaimin – rahimahullah – berkata dalam Washiyyatun Dzahabiyyah liabna’I Al Ummah Al Islamiyyah: “Kemudian saya menganjurkan kalian untuk memperhatikan kaidah-kaidah, kaidah ilmu dan ketentuannya, kaidah syar’I yang agung, yang dia seperti gunung, tidak tersingkirkan oleh angin, karena barangsiapa yang tidak memantapkan dasarnya,maka dia akan terhalang untuk mencapainya, maksudnya kamu mengambil(mempelajari) satu persatu permasalahan ilmiah, ini adalah sesuatu yang bagus, akan tetapi jangan kamu berpaling menjadi orang awam, yang memahami ilmu dengan satu permasalahan ke permasalahan yang lain, akan tetapi jika kamu mempunyai ushul, kamu dapat membangun kebaikan yang banyak di atasnya, karena ushul yang kamu jadikan pondasi ini dapat kamu bangun di atsanya permasalahan yang kamu hadapi atau belum di kemudian hari nanti.

Maka saya menganjurkan penuntut ilmu di semua tempat dan dalam segala moment, agar memperhatikan kaidah-kaidah dan ushul-ushul, karena itu adalah ilmu yang sebenarnya”.

Keempat : Adanya perhatian untuk menghafal matan ringkas dalam bidang ilmu yang dia tuntut.

Misalnya, dalam Aqidah, menghafal matan Ath Thohawiyah dan matan Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Dalam ilmu Mustholah, menghafal Alfiyah As Suyuthi apabila mampu.Jika semangatnya rendah, maka menghafal matan ringkas pilihan yaitu Al Mughniyah fi Ilmil Mustholah.

Dalam ilmu Nahwu, menghafal matan Alfiyah Ibni Malik.Jika semangatnya rendah, maka menghafal Al Mulihhah karya Al Hariri.

Dalam ilmu Hadits, menghafal matan Umdah dan Bulughul Maram,
setelah itu apabila mudah baginya, menghafal Shohih Muslim, kemudia kitab satuan dari Shohih Bukhari, apabila dia menambah menghafal matan Shohih Musnad milik Syaikh kami, maka sungguh dia telah memperoleh kebaikan yang banyak.

Inilah yang dia lakukan di setiap bidang ilmu yang dia tuntut, sebagaimana nanti akan datang penjelasan tambahan tentang hal ini, insyaAllah.

Al ‘Allamah As Sa’di berkata : “Seorang penuntut ilmu hendaknya bersungguh-sungguh untuk menghafal ringkasan dari bidang ilmu yang sedang dia geluti, apabila dia berhalangan atau susah untuk menghafalnya, maka dia menghafal 1(satu) lafadz, kemudian mengulang-ulangnya dengan merenungi maknanya, hingga makna tersebut tertancap kuat di hatinya. Kemudian dia membaca sisa kitab lainnya seperti kitab tafsir, syarah dan cabang-cabang dari berbagai ushul yang dia ketahui.

Karena jika seseorang menghafal ushul, maka dia akan mempunyai kemampuan sempurna untuk mengetahuinya, dan dia tidak memerlukan kitab yang kecil maupun yang besar dalam bidang ilmu tersebut.Barangsiapa yang menyia-nyiakan ushul, maka dia akan terhalang untuk mencapainya.

Maka barangsiapa yang bersemangat untuk mengerjakan sesuatu yang telah kami sebutkan, dan dia meminta pertolongan kepada Allah, maka Allah akan menolongnya dan memberkahi ilmu serta jalan yang ia tempuh.

Dan barangsiapa yang menempuh selain jalan yang bermanfaat ini dalam menuntut ilmu, maka waktunya akan banyak yang terlewatkan, dan dia tidak memperoleh kecuali rasa letih, sebagaimana hal ini telah diketahui dari kenyataan yang ada dan dengan percobaan, dan kenyataanlah yang menyaksikannya.Apabila Allah memberi kemudahan kepada pengajar untuk memperbagus cara mengajar dan metode-metode untuk memahamkan, maka telah sempurnalah sebab yang mengarahkan kepada tercapainya ilmu(insyaAllah)”.(selesai perkataan beliau).

Syaikh Al Utsaimin – rahimahullah – berkata : “Seorang penuntut ilmu harus memperhatikan  beberapa perkara ini ketika sedang menuntut ilmu apa saja :

  1. Menghafal matan ringkas dalam ilmu tersebut.
  2. Memantapkan dan meminta penjelasan kepada seorang syaikh yang berkompeten, dan memperjelas lafadz-lafadz kepadanya pula, baik lafadz tambahan atau yang kurang.
  3. Tidak menyibukkan diri dengan kitab-kitab besar yang berjilid-jilid.Ini adalah point penting bagi penuntut ilmu, dia harus memantapkan ringkasan terlebih dahulu, sehingga ilmu tertancap kuat di kepalanya, kemudia menggeluti kitab-kitab besar.Akan tetapi sebagian mereka terkadang berbuat keanehan, mereka mulai menelaah kitab-kitab besar, kemudian apabila dia duduk di suatu majelis, dia berkata: “Pengarang kitab ini telah berkata dst, pengarang kitab itu telah berkata dst”, agar telihat dia adalah seorang yang banyak menelaah, ini adalah sebuah kesalahan.Kami mengatakan, mulailah dengan kitab ringkasan, hingga ilmu tertancap kuat di kepalamu, kemudian apabila Allah memberi anugerah kepadamu, maka sibukkanlah dirimu untuk mempelajari kitab-kitab besar.
  4. Jangan berpindah dari satu ringkasan ke ringkasan yang lain tanpa ada sebab yang mengharuskan. Karena ini termasuk sesuatu yang membuat gelisah, ini adalah penyakit besar yang memutus kegiatan penuntut ilmu dan membuang waktunya.

Al ‘Allamah Az Zarnuji berkata dalam kitabnya yang menyenangkan, Ta’limul Muta’allim Thoriqot Ta’allum hal.15 : “Seyogyanya bagi penuntut ilmu untuk teguh dan bersabar pada satu kitab sampai dia tidak meninggalkannya begitu saja, dan  bersabar pada satu bidang ilmu hingga tidak menyibukkan diri dengan bidang ilmu lainnya sebelum dia memantapkan yang pertama, kemudian bersabar pada satu negeri sampai tidak berpindah ke negeri yang lain tanpa keperluan mendesak, karena semua hal ini akan mencerai-beraikan perkara yang lain, menyibukkan hati, menyia-nyiakan waktu, menyakiti pengajar, maka seharusnya dia bersabar terhadap keinginan jiwa dan nafsunya. Seorang penyair berkata :

– إن الهوى لهوى الهوان بعينه.

                              وصريع كل هوى صريع هوان.

Sesungguhnya hawa nafsu adalah kehinaan itu sendiri

Dan tempat jatuhnya hawa adalah kehinaan

Hendaknya dia bersabar atas ujian dan musibah, telah dikatakan : Perbendaraan anugerah berada di jembatan ujian. Saya bersyair – dikatakan ini adalah perkataann Ali bin Abi Thalib – :

Ketahuilah, ilmu tak dapat diraih kecuali dengan 6(enam) hal

Saya akan mengabarkannya semuanya padamu dengan penjelasan

Kecerdasan, semangat, kesabaran, biaya

Pengarahan ustadz, waktu yang lama.

  1. Mengambil intisari dari faidah-faidah dan ketentuan ilmiah.Yaitu berupa faidah-faidah yang hampir tidak terpikirkan atau jarang disebutkan dan muncul, atau permasalahan kontemporer yang memerlukan penjelasan, inilah yang diambil intisarinya, ikatlah faidah-faidah tersebut dengan tulisan. Jangan katakan : “Ini adalah permasalahan yang telah saya ketahui, saya tidak perlu menulisnya”, justru inilah yang cepat terlupa. Berapa banyak faidah yang dilalui penuntut ilmu, kemudian dia mengatakan : “Ini mudah, tidak perlu ditulis”, tidak beberapa lama kemudian, dia berusaha mengingatnya akan tetapi tidak mendapatkannya.

 

Sumber Artikel : Kaidah dalam menuntut ilmu (Karya : Syaikh Abul Hasan Arrozihi Yaman)

Alih Bahasa : Ustadzah Ummu Hisyam Yanuarizki W.A

dikoreksi oleh : Ustadz Bahrul Ulum Ahmad

Tentang Penulis Bahrul Ulum Ahmad Makki

Bahrul Ulum Ahmad Makki -hafidzahullah-. Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana ) Aktifitas : Pengasuh dan pengajar di pondok Tahfidz Al-Mahmud Al-Islamy, Pembina Yayasan Al-Hakam NTB, Pengasuh Web alhakam.com

Silahkan Pilih Yang Lain

Jika Sedekah Tidak Sampai Kepada Orang Yang Kita Inginkan ( Riyadus shalihin, Bab Ikhlas, Hadits ke-5)

Jika Sedekah Tidak Sampai Kepada Orang Yang Kita Inginkan ( Riyadussholihin, Bab Ikhlas, Hadits ke-5) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *