Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Faedah Ilmu / Kaidah Menuntut Ilmu / Kaidah-kaidah dalam menuntut ilmu bag.4
KLIK UNTUK BERINFAK

Kaidah-kaidah dalam menuntut ilmu bag.4

Kedelapan : Mengulang pelajaran setelah belajar.

Mengulang pelajaran merupakan perkara yang telah disepakati oleh para ulama terdahulu dan sekarang. Mengulang pelajaran bagaikan air, maka apabila air terputus dari tanah, maka tanamannya akan menjadi kering.

Syaikh Utsaimin – rahimahullah – berkata : “Diantara perkara yang seharusnya diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu adalah mudzakaroh(mengulang pelajaran). Mudzakaroh ada 2(dua) macam :

  1. Mengulang pelajaran dengan diri sendiri: yaitu anda duduk seorang diri, kemudian keluarkan satu permasalahan dari berbagai permasalahan yang ada, atau permasalahan yang telah anda lalui, lalu mulailah berusaha mentarjih(menguatkan berdasarkan dali) pendapat-pendapat yang ada dalam permasalahan ini. Hal ini mudah dan membantu untuk berdiskusi dengan teman.
  2. Mengulang pelajaran bersama orang lain. Ini sudah jelas, dengan memilih teman-teman yang dapat membantu untuk belajar dan memberikan faidah kepadanya, kemudian duduk bersamanya mengulang dan membaca pelajaran yang telah mereka hafal, masing-masing dari mereka membacakan sedikit dari pelajaran kepada temannya, atau mereka saling mengingat-ingat permasalahan dengan mengulang-ulang atau dengan saling memahamkan jika mampu, maka sesungguhnya hal ini dapat menumbuhkan dan menambah ilmu, akan tetapi janganlah menimbulkan kegaduhan dan menyombongkan diri, karena ini tidak ada manfaatnya.

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata : “Bersenang-senanglah dengan mengulang pelajaran dan berdiskusi bersama orang yang cerdas, karena sesungguhnya hal ini dapat menambah semangat untuk menelaah, mengasah otak, menguatkan ingatan, selama dia berlaku adil dan lembut, tidak mendzolimi orang lain, tidak membuat kegaduhan, tidak berbicara serampangan. Hati-hatilah, cara ini dapat menyingkap aib orang yang tidak jujur, apabila orang yang ilmunya rendah, otaknya beku, maka ini adalah penyakit dan dapat membuat kawannya kabur. Adapun jika anda mengulang pelajaran semdirian dan mulai mengeluarkan permasalahan-permasalahan,  maka sudah pasti ini boleh dilakukan, dikatakan : menghidupkan ilmu dengan mengulangnya.

Kesembilan : Jika anda mulai mempelajari atau membaca sebuah kitab, maka jangan katakan bahwa anda akan mengulangi membacanya.

Ketahuilah, bahwa tekad untuk mengulang membaca suatu kitab yang sedang dipelajari, dapat membuat anda meremehkan pelajaran dan tidak memperhatikan penjelasan, dan dapat menyia-nyiakan waktu serta membuat bosan.

Ibnu Badron meriwayatkan dari syaikhnya, Muhammad bin Utsman, berkata : “Tidak seharusnya bagi seseorang yang membaca sebuah kitab untuk berkeinginan membacanya yang kedua kalinya, karena tekad ini menghalanginya dari memahami isi kitab, bahkan dia membayangkan tidak
akan mengulang untuk membacanya yang kedua kali, dan dia berkata : “Setiap kitab mengandung permasalahan yang lebih mudah dari kitab tadi atau lebih rumit”. Maka dia menetapkan untuk membaca kitab yang lebih mudah, karena kamu sangat bersemangat untuk memahami kitab lain.
Kesepuluh : Berusaha, bersungguh-sungguh, membiasakan diri, dan bersikeras untuk mendapatkan ilmu.

Syaikh Bakr Abu Zaid – rahimahullah – berkata : “Termasuk diantara tabiat islam adalah berhias dengan besarnya kemauan, yang menentukan kelakuan negatif atau positif pada kepribadianmu, yang mengawasi gerak-gerikmu. Dengan besarnya kemauan, anda akan memperoleh kebaikan yang tidak terputus  – dengan izin Allah -, agar dapat meningkat menuju derajat kesempurnaan, maka mengalirlah dalam urat anda darah kecerdasan, dan lari di medan ilmu dan amal, manusia tidak melihatmu berpijak kecuali di pintu-pintu keutamaan, dan tidaklah mengerahkan tanganmu kecuali untuk sesuatu yang penting”.(selesai perkataan Syaikh).

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan perkataan ini : “Ini adalah sesuatu terpenting yang harus dimiliki seseorang ketika menuntut ilmu. Sehingga dia akan memiliki tujuan, akan tetapi bukan maksudnya menghabiskan waktu dengann menuntut ilmu, akan tetapi dia harus memiliki kemauan yang besar. Termasuk kemauan yang paling penting yang dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah dia berkeinginan untuk mengajarkan ilmunya kepada kaum muslimin, dan merasa bahwa derajat ini dicapai secara perlahan-lahan hingga dapat mencapainya, dan jika demikian keadaannya, maka dia akan melihat bahwa hal ini adalah perantara untuk menyampaikan syariat antara Allah azza wa jalla dan hamba, ini adalah  keistimewaan kedua. Apabila dia merasakan  hal ini, maka dia akan terus bersemangat untuk mengikuti Al Quran dan hadits dan mengabaikan pendapat selain ulama, akan tetapi dia tetap mendengarkannya, dan dengan pendapat-pendapat tersebut dia jadikan perantara untuk memgetahui kebenaran, karena ucapan para ulama  – rahimahumullah – adalah ilmu, dan tidak diragukan  bahwa di sana terdapat pintu bagi kita, jika bukan  karena mereka, kita tidak akan bisa mengeluarkan sebuah hukum dari nash-nash, atau mengetahui pendapat yang rajih dan marjuh, dan yang semisalnya.

Yang terpenting adalah seseorang itu mempunyai kemauan. Jika dia berniat seperti tadi, dengan izin Allah ta’ala, Dia akan menolongnya untuk mencapai cita-citanya tersebut.

Setelah itu wahai saudaraku, sesungguhnya tidak ada cara menuju kesuksesan seorang penuntut ilmu – semoga Allah menjadikannya bermanfaat – kecuali dengan membiasakan belajar dan mencoda hal ini, banyak mengulang pelajaran dan berjaga malam untuk belajar, selalu dalam keadaan terjaga dan selalu memahami, bersama adanya ketakwaan dan berpijak pada agama yang kuat, bersikap adil dan sering mendatangi majelis ulama, mencari kebenaran, dan memantapkan pelajaran. Jika anda tidak melakukannya :

Tinggalkanlah kitab, karena anda bukan termasuk bagiannya

Walaupun anda melumuri wajah dengan tinta

Allah ta’ala berfirman :

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون (النحل : 43).

Artinya : Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.(Q.S An Nahl 43)

Kesebelas : Bersabar atas panjangnya perjalanan menuntut ilmu.

Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya ilmu tidak diraih dengan badan yang bersantai-santai, dan tidak diraih dengan harapan panjang atau berlebihan. Ilmu tidak diperoleh dengan kemauan yang rendah dan tekad yang lemah, harus dengan terus menerus belajar, kerja keras dan tidak berpindah dari satu bidang ke bidang ilmu yang lain kecuali setelah memantapkannya dan adanya kebutuhan mendesak, demikian pula, tidak berpindah dari satu kitab yang belum diselesaikan ke kitab yang lain, atau dari syaikh ke syaikh yang lain kecuali ada kebutuhan mendesak yang dengan berpindah ke syaikh lain dapat meningkatkan ilmu anda.

Syaikh Utsaimin – rahimahullah – berkata : “Seorang penuntut ilmu harus mengerahkan kekuatan untuk mendapatkan ilmu, dan bersabar. Hendaknya dia menjaga ilmu setelah mendapatkannya, karena ilmu tidak diraih dengan badan yang bersantai-santai. Maka seseorang yang belajar, menempuh semua jalan yang dapat mengantarkannya menuju ilmu, dann bersikeras untuk mendapatkannya, bersungguh-sungguh, berjaga di kebanyakan malam, dan meninggalkan hal-hal yang dapat memalingkannya dari belajar atau menyibukkannya, pada usaha keras salafussholih terdapat kisah-kisah yang terkenal.

Beliau – rahimahullah – berkata : “Termasuk adab yang paling penting, yang wajib atas seorang penuntut ilmu untuk berhias dengannya adalah : ats tsabat, artinya adalah bersabar dan berusaha keras, tidak bosan, tidak berkeluh kesah, tidak mempelajari sedikit dari suatu kitab atau mengambil sepotong dari satu bidang ilmu kemudian meninggalkannya, karena hal ini membahayakannya dan dapat menghabiskan hari-harinya tanpa faidah.

Misalnya : Sebagian pelajar sesekali membaca dalam bidang fiqh : Zadul Mustaqni’, sesekali membaca Umdatul Fiqh, sesekali Al Mughni, sesekali Syarah Muhadzzab, demikianlah dia membaca di setiap kitab , dan seterusnya.

Hal ini – kebanyakan- tidak dapat menghasilkan ilmu, dan jika menghasilkan ilmu, maka menghasilkan permasalahan bukan ushul(dasar ilmu)”.

Kemudian beliau berkata : “Tetaplah membaca kitab yang sedang anda baca, atau anda ulang, dan tetaplah belajar kepada syaikh yang anda menimba ilmu darinya. Jangan menjadi orang yang suka mencoba-coba, setiap pekan berada di seorang syaikh … , setiap bulan berada di syaikh … .”

Sumber Artikel : Kaidah dalam menuntut ilmu (Karya : Syaikh Abul Hasan Arrozihi Yaman)

Alih Bahasa : Ustadzah Ummu Hisyam Yanuarizki W.A

dikoreksi oleh : Ustadz Bahrul Ulum Ahmad

Tentang Penulis Bahrul Ulum Ahmad Makki

Bahrul Ulum Ahmad Makki -hafidzahullah-. Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana ) Aktifitas : Pengasuh dan pengajar di pondok Tahfidz Al-Mahmud Al-Islamy, Pembina Yayasan Al-Hakam NTB, Pengasuh Web alhakam.com

Silahkan Pilih Yang Lain

Nasehat akhir tahun

Nasehat akhir tahun إِنَّ اْلحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *