Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Faedah Ilmu / Kaidah Menuntut Ilmu / Kaidah-kaidah dalam menuntut ilmu bag.3
KLIK UNTUK BERINFAK

Kaidah-kaidah dalam menuntut ilmu bag.3

Kelima : Bertekad untuk menuntut ilmu, dan jangan goyah.

  • Bertekadlah untuk menuntut ilmu selama anda rela bahwa ini adalah jalanmu.
  • Juga, bertekadlah untuk dapat berkembang, jangan duduk diam saja, berpikirlah bagaimana agar ilmumu dapat berkembang,  dengan menambah dalil-dalil dan permasalahan-permasalahan, sehingga kemampuanmu dapat berkembang sedit demi sedikit.
  • Mintalah bantuan kepada teman-teman atau saudara-saudaramu yang anda percayai, ketika ada suatu permasalahan membutuhkan penjelasan orang lain, dan jangan malu untuk mengatakan : “Wahai fulan, bantulah saya untuk memecahkan masalah ini dengan membuka-buka beberapa kitab”, dengan malu, tidak seorang pun dapat meraih ilmu, karena ilmu tak dapat diraih oleh orang yang malu dan orang sombong.
  • Az Zarnuji berkata dalam kitab Ta’limul Muta’allim hal.16 : “Adapun memilih teman belajar, maka hendaknya memilih seorang yang bersungguh-sungguh(dalam menuntut ilmu), yang wara’, yang memiliki tabiat lurus, yang menjauhi orang pemalas, pengangguran, yang gemar bersaing dalam kekayaan, perusak, dan pemfitnah. Seorang penyair berkata :

Tentang seseorang, jangan tanya tentangnya, tetapi lihatlah temannya

Karena setiap orang mencontoh temannya

Apabila temannya buruk, maka ia akan cepat terpengaruh

Apabila temannya baik, maka ia akan mencontohnya

Saya bersyair :

Jangan berteman dengan pemalas di kebanyakan waktunya

Berapa banyak orang sholih rusak karena orang lain

Orang bodoh cepat untuk menjadi orang sabar

Seperti bara yang diletakkan di pasir, pasti cepat membeku

Dan dikatakan :

Jika engkau mencari ilmu dari asalnya

Atau engkau memberi kabar kepada orang yang tidak hadir

Maka pahamilah sebuah daerah melalui namanya

Dan pahamilah seseorang melalui temannya

Keenam : Termasuk hal yang seharusnya diperhatikan oleh penuntut ilmu : Menimba ilmu dari para syaikh(guru). Karena dengan demikian,ia akan mendapatkan beberapa manfaat :

  1. Mempersingkat waktu. Daripada dia membolak-balik kitab-kitab dan melihat mana pendapat yang rajih(kuat), apa sebab rajihnya pendapat itu, mana pendapat yang lemah, dan apa sebab kelemahannya, semua itu akan dipaparkan guru dengan cara yang mudah.
  2. Cepat memahami. Jika seorang penuntut ilmu belajar kepada seorang guru, maka dia akan lebih cepat memahami daripada membaca kitab sendiri, karena apabila dia membaca kitab sendiri, dia akan menemukan kalimat-kalimat susah dan rumit,
    maka dia harus merenungi dan mengulang-ulang kalimat tersebut yang tentunya ini memakan waktu yang banyak dan akan merasa letih, mungkin saja dia memahaminya dengan pemahaman yang salah, kemudian mengamalkannya.
  3. Adanya hubungan antara penuntut ilmu dan ulama yang alim. Karena belajar kepada ulama lebih mantap dan utama daripada membaca sendiri.

Syaikh Utsaimin berkata : “Penuntut ilmu wajib meminta pertolongan kepada Allah – azza wa jalla -, kemudian kepada ulama, karena mencukupkan diri dengan membaca dan menelaah, membutuhkan waktu yang panjang, berbeda dengan orang yang duduk di majelis ulama yang menjelaskan pelajaran dan memberi penerangan kepadanya. Oleh karena itu dikatakan : Barangsiapa yang penunjuknya adalah kitabnya, maka salahnya lebih banyak daripada benarnya. Maka jalan yang lebih utama adalah dengan menimba ilmu dari syaikh(guru).

Beliau – rahimahullah – berkata : “Menuntut ilmu harus dengan menimbanya dari seorang  guru yang dipercaya keilmuan dan agamanya, dan ini adalah jalan yang paling cepat dan lebih memantapkan ilmu. Karena menimba ilmu dari kitab, terkadang dapat menyesatkan seorang penuntut ilmu, sedang dia tidak menyadarinya, bisa karena buruknya pemahaman, rendahnya ilmu, atau selain itu. Adapun menimba ilmu dari syaikh(guru), padanya terdapat diskusi, mengambil atau menolak ilmu syaikh, maka terbukalah baginya pintu untuk memahami.

Ketujuh : Menghadirkan hati sebelum mulai pelajaran . Tidak diragukan, sesungguhnya menghadirkan hari sebulum mulai pelajaran terdapat faidah yang agung, karena seseorang yang menelaah pelajaran, dan menghadirkan hati sebelum pelajaran akan tergambar dalam pikirannya sedilit dari pengetahuan-pengetahuan dan nampak baginya sedikit dari sesuatu yang bermasalah, maka pelajaran telah tergambar sebelum dimulai. Maka ketika pelajaran telah dimulai , akan tertancap kuat sesuatu yang telah dia pahami, dan akan memperbaiki pemahamann yang salah, dan sesuatu yang bermasalah ada jalan keluarnya.

  • Ibnu Badron – rahimahullah – berkata : “Ketahuilah,  sesungguhnya kami memperoleh beberapa kaidah ketika menuntut ilmu, yaitu :
  • Kami mempelajari matan terlebih dahulu, dengan mengambil beberapa kalimat yang cukup untuk dipelajari, lalu kami mulai sibuk memecahkan kalimat tersebut, tanpa melihat penjelasan matan tersebut, kami tidak berpindah  ke matan lain hingga kami menduga bahwa kami telah memahaminya, kemudian kami beralih ke penjelasan matan, pertama, kami menelaahnya untuk menguji pemahaman, jika kami mendapati kesalahan dalam pemahaman kami, maka diluruskan.
  • Kami beralih untuk memahami penjelasan matan dengan cara memahami matan. Apabila kami mendugabahwa kami telah memahaminya, kami merujuk ke catatan kaki, sebagai pengulangan(murajaah) untuk menguji pikiran. Maka apabila kami telah memahami pelajaran, kami tinggalkan kitab, dan kami mulai sibuk menggambarkan permasalahan-permasalahan pelajaran tadi, maka kami menghafal permasalahan itu dengan hafalan pemahaman dan penggambaran bukan dengan menghafal kata demi kata, kemudian kami berusaha untuk mengamalkan maknanya dengan kalimat kami sendiri, tidak sama dengan kata-kata muallif.
  • Kemudian kami menemui syaikh untuk membaca pelajaran, di sana kami menguji pikiran untuk memecahkan(memahami) pelajaran dan meluruskan kesalahpahaman jika ada. Dan kami menghimpun semangat untuk (mendengarkan) apa yang disampaikan syaikh berupa penjelasan tambahan yang tidak ada di matan dan syarah.
  • Dan kami berpendapat, bahwa orang yang membaca satu kitab dalam satu bidang ilmu dengan metode ini, maka semua kitab dalam bidang ilmu tersebut akan menjadi mudah, baik kitab yang ringkas maupun yang panjang, dan kaidah-kaidahnya akan tertancap kuat di otaknya, demikainlah kenyataannya.

Sumber Artikel : Kaidah dalam menuntut ilmu (Karya : Syaikh Abul Hasan Arrozihi Yaman)

Alih Bahasa : Ustadzah Ummu Hisyam Yanuarizki W.A

dikoreksi oleh : Ustadz Bahrul Ulum Ahmad

Tentang Penulis Bahrul Ulum Ahmad Makki

Bahrul Ulum Ahmad Makki -hafidzahullah-. Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana ) Aktifitas : Pengasuh dan pengajar di pondok Tahfidz Al-Mahmud Al-Islamy, Pembina Yayasan Al-Hakam NTB, Pengasuh Web alhakam.com

Silahkan Pilih Yang Lain

Nasehat akhir tahun

Nasehat akhir tahun إِنَّ اْلحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *