Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Itsar ( Mendahulukan Orang Lain Daripada Diri Sendiri )
KLIK UNTUK BERINFAK

Itsar ( Mendahulukan Orang Lain Daripada Diri Sendiri )

Itsar ( الإيثار )

a. Pengertian Itsar

Itsar secara bahasa bermakna mendahulukan atau mengkhususkan. Secara istilah mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri pada sesuatu yang bermanfaat baginya dan memberikannya pada orang lain dan ini termasuk puncak persaudaraan ( at Ta’riifat, aj Jurjani 1/59, Mu’jam lugotil fuqoha 1/116). Berkata Ibnu Miskawaih :”Itsar adalah Keutamaan jiwa yang dengannya ia menahan diri dari sebagian hajatnya sampai ia memberikan kepada orang yang berhak menerimanya” (Tahdzibul akhlaq hal. 19).

b. Perbedaan antara Itsar dan dermawan ( اَلْجُوْدُ )

Itsar lebih tinggi derajatnya daripada dermawan. Dermawan adalah memberikan sesuatu yang banyak dengan menyisakan sedikit untuk dirinya atau menyisakan yang sama dengan yang diberikan. Adapun Itsar mengutamakan orang lain padahal ia membutuhkannya (Madarijus salikin 2/292).

c. Dalil-dalil tentang Itsar

Alloh Ta’ala memuji kaum kaum Anshor dengan sifat itsar-nya. Alloh Ta’ala berfirman:

ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة 

Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan (QS. al Hasyr: 9).

Berkata Ibnu Katsir: “Mereka mendahulukan orang-orang yang sangat membutuhkan daripada kepentingan pribadi” (Tafsir Ibnu katsir 8/70). Berkata Ibnu Taimiyyah: “Adapun mengutamakan orang lain padahal ia sedang kesusahan lebih utama daripada sekedar bersedekah dengan senang hati karena tidak semua orang yang bersedekah itu senang hati lagi kesusahan” (Minhajus Sunnah 7/129).

Dari Abu Musa al Asy’ari t bahwasanya Rasululloh r bersabda: “Sesungguhnya keluarga Asy’ari jika perbekalan makanan mereka habis tatkala berperang atau keluarga mereka kekurangan makanan di Madinah mereka mengumpulkan makanan yang ada di kain kain mereka kemudian meletakkan di sebuah nampan lalu membaginya sama rata, mereka termasuk saya dan saya juga termasuk mereka” (HR. al Bukhori 2486, Muslim 2500).

Berkata Abul ‘Abbas al Qurtuby: “Hadits tersebut menunjukkan bahwasanya sifat yang dominan dari keluarga Asy’ari adalah itsar dan berbagi rata tatkala sama-sama membutuhkan” (al Mufhim lima Asykala min Talhisi kitabi Muslim 6/452).

Dari Jabir t bahwasanya Rasululloh r bersabda: “Makanan untuk satu orang bisa mencukupi dua orang, makanan untuk dua orang bisa mencukupi empat orang dan makanan untuk empat orang bisa mencukupi delapan orang” (HR. Muslim 2059).

Berkata al Muhallab: “Maksud hadits ini adalah anjuran untuk saling berbuat baik dalam hal makan dan berbagi rata serta mendahulukan orang dari diri sendiri”(Syarh Shohih al Bukhori Ibnu Baththol 9/471).

d. Macam-macam Itsar

  1. Itsar ditinjau dari keterkaitannya dengan yang lain dibagi dua macam:

a. Itsar yang berhubungan dengan Kholiq (Sang Pencipta)

Berkata Ibnul Qoyyim: “Itsar yang berhubungan dengan Kholiq lebih mulia dan lebih afdhol daripada itsar yang berhubungan dengan makhluk yaitu mendahulukan ridho Alloh daripada ridho makhluk, mengutamakan kecintaan Alloh daripada kecintaan makhluk, mendahulukan rasa takut dan roja’ (berharap) kepadaNya daripada takut dan berharap kepada makhluk, lebih mendahulukan penghinaan diri, ketundukan dan merendahkan diri kepadaNya daripada kepada makhluk dan lebih mengutamakan meminta dan memohon kepadaNya daripada bergantung kepada selainNya”(Thoriqul Hijrotain wa babus sa’adatain 1/449).

b. Itsar yang berhubungan dengan makhluk

Adapun Itsar yang berhubungan dengan makhluk adakalanya haram, makruh atau mubah dan mubah.

Haram jika engkau mendahulukan orang lain dalam sesuatu yang wajib engkau kerjakan karena itu sama saja telah menggugurkan kewajiban tersebut atasmu, (Misalnya: Mendahulukan orang lain untuk sholat, puasa dan kewajiban-kewajiban syariat lainnya sementara ia sendiri tidak mengerjakannya).

Makruh atau mubah jika engkau mendahulukan orang lain dalam hal-hal yang mubah yang sebagian ulama memakruhkannya dan sebagian membolehkannya.

Itsar yang mubah yaitu mendahulukan orang lain dalam perkara-perkara yang bukan termasuk ibadah (Syarh Riyadus Sholihin, Syaikh Ibnu Utsaimin 3/416-417).

Ibnul Qoyyim menyebutkan syarat-syarat Itsar yang berkaitan dengan makhluk yang bisa memindahkannya dari hukum haram atau makruh menjadi hukum mubah: Tidak menyia-nyiakan waktu muatstsir (orang yang berbuat Itsar) tersebut, tidak menyebabkan keadaannya menjadi rusak (gara-gara mendahulukan orang lain), tidak menyebabkan hancur agamanya, tidak menyebabkan tertutupnya pintu kebaikan bagi muatstsir.

Jika syarat-syarat ini terpenuhi maka mendahuluan orang lain mencapai puncak keutamaannya, namun jika terdapat salah satu dari hal-hal di atas maka mendahulukan diri sendiri lebih utama. Mendahulukan orang lain yang terpuji adalah mendahulukan orang lain dengan dunia bukan dengan waktu, agama dan hal-hal yang membuat baiknya hati (Thoriqul Hijrotain 1/446).

  1. Itsar ditinjau dari faktor pendorongnya

a. Fitroh dan kasih sayang seperti mendahulukan bapak, ibu dan orang-orang yang dicintai daripada selain mereka. Ibunda ‘Aisyah pernah berkata: “Telah datang seorang wanita miskin bersama dua orang anaknya lalu aku memberikan mereka makan dengan tiga biji kurma. Ibu itu memberikan anaknya masing-masing sebiji. Tatkala wanita ini mengangkat tangannya hendak memasukkan sebiji kurma itu ke mulutnya kedua anaknya meminta kembali. Kemudian satu biji kurma itu dibelah dua. Aku sangat kagum dengan ibu itu lalu aku menceritakan perihal tersebut kepada Nabi lalu beliau bersabda: “Sungguh Alloh telah mewajibkan wanita itu masuk surga karena perbuatannya tersebut atau Alloh membebaskannya dari api neraka” (HR. Muslim 2630).

b. Pendorongya adalah iman dan senang kebaikan bagi orang lain sebagaimana yang banyak dilakukan oleh salafus sholih ummat ini.

e. Potret Itsar Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Para Sahabat

Dari Sahl bin Sa’d  ia berkata: “Pernah datang seorang perempuan membawa Burdah kepada Nabi. Nabi r berkata: “Tahukah kalian burdah apa ini?” Ada yang menjawab: “Ya, pakaian yang dibordir bagian bawahnya”. Perempuan itu berkata: “Wahai Rasululloh aku telah membordirnya sendiri untukmu”. Maka Nabi mengambilnya karena beliau sangat membutuhkannya. Kemudian beliau keluar memakainya untuk pakaian bawah. Berkatalah seseorang : “Wahai Rasululloh, pakaikanlah aku! Beliau r menjawab: “Ya”.  Nabi duduk di majelis kemudian keluar dengan menggenggam burdah tersebut kemudian menyuruh untuk memberikan orang tersebut. Orang-orang berkata kepadanya: “Alangkah baiknya engkau, engkau meminta kepada beliau padahal engkau tahu beliau tidak pernah menolak orang yang meminta”. Orang itu berkata: “Demi Alloh, tidaklah saya memintanya kecuali agar itu menjadi kafan saya jika meninggal”. Berkata Sahl: “Ternyata itulah kafannya” (HR. al Bukhori 2093).

Berkata al Hafidz Ibnu Hajar: “Yang jelas Nabi r sangat mengutamakan orang lain. Dalam as shohihain telah shohih bahwasanya jika Rasululloh diberikan kemenangan pada Khaibar atau tempat yang lain, beliau menyimpan (fa’i atau ghanimah) buat makanan pokok keluarganya untuk beberapa waktu kemudian sisanya untuk fisabilillah dan jika ada keperluan mendadak atau tamu datang maka beliau mengisyaratkan kepada keluarganya untuk mendahulukan orang lain sehingga habis semua atau sebagian besar simpanan makanan beliau (Fathul Baari 11/280).

Adapun Itsar para sahabat dan generasi terbaik ummat ini sangatlah banyak. Cukuplah mereka sebagai sebab turunnya ayat al Qur’an dalam surat al Hasyr : 9.

Wallohul muwaffiq.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *