Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Istiqomah dan Penghalangnya
KLIK UNTUK BERINFAK

Istiqomah dan Penghalangnya

Istiqomah dan Penghalangnya

Termasuk rahmat dan anugerah yang sangat besar jika seseorang selalu terjaga dalam kehidupannya dan senantiasa intropeksi diri. Ia takut tergelincir dan tersesat setelah mendapatkan petunjuk. Siang dan malam ia selalu mawas diri dari kelalaian karena ia tahu bahwasanya panggilan Alloh setiap saat akan datang dan ia khawatir menghadapNya dalam keadaan belum bersuci. Itulah cermin dari istiqomah yang mudah diucapkan namun berat untuk dilakoni kecuali bagi yang dirahmati Alloh Ta’ala.

a. Istiqomah

Istiqomah adalah lurusnya seseorang di atas syari’at Alloh sebagaimana yang Dia perintahkan[1]

b. Faedah Istiqomah:

  1. Memperoleh kehidupan yang baik di dunia ( Al Jin 72 : 16).
  2. Mendapat husnul khotimah ( Fushshilat 41 : 30). Ini adalah berita gembira bagi seorang mukmin tatkala ruhnya akan dicabut, dengan surga dan ampunan Alloh [2].
  3. Akan diberikan keamanan di akhirat dan tatkala terjadinya kiamat ( Al Anbiyaa’{21}: 103).

c. Penghalang Istiqomah

  1. Syaithon

Alloh Ta’ala melarang kita untuk melupakan permusuhan dengan syaithon selama-lamanya agar tidak terjerembab mengikuti langkah-langkahnya. Alloh ‘Azza wa jalla berfirman  yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu [3].

Perintah untuk menjadikan syaithon sebagai musuh merupakan peringatan agar mengerahkan seluruh usaha untuk  menghancurkan dan melawannya seolah-olah ia adalah musuh yang tidak pernah jemu dan lelah menghancurkan para hamba sebanyak hembusan nafas [4]. Semua perbuatan maksiat adalah termasuk langkah-langkah syaithon baik maksiat karena menerjang yang haram maupun meninggalkan kewajiban [5].

  1. Ambisi dunia

Dari ‘Amr bin ‘Auf bahwa Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Demi Alloh, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan atas kalian tetapi jika dunia ini dibentangkan sebagaimana dibentangkan buat orang-orang sebelum kalian. Kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba dan dunia itu membinasakan kalian  sebagaimana membinasakan mereka [6]. Dari Abdulloh Mas’ud, ia berkata: “Sekiranya ahlul ilmi menjaga ilmu dan meletakkan kepada pencari ilmu maka akan lurus penduduk di zamannya namun mereka mencurahkan ilmu itu buat ahli dunia untuk memperoleh keuntungan dunia sehingga memudahkan mereka. Aku mendengar Nabi kalian bersabda:

« مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِى أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِى أَىِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَك»

Barangsiapa yang menjadikan motivasi-motivasinya menjadi satu yaitu motivasi akhirat maka Alloh akan mencukupkan motivasi dunianya dan barangsiapa yang motivasinya bercabang-cabang (hanya) dalam urusan dunia maka Alloh tidak peduli di lembah  yang mana ia celaka” [7].

  1. Lisan

Dari Abdulloh Ats Tsaqofi Radhiallahu ‘Anhu ia berkata:  “Wahai Rasululloh, beritahukan saya sesuatu yang dengannya saya berpegang”. Beliau menjawab: “Katakanlah Robbku adalah Alloh kemudian istiqomahlah”. “Aku berkata: “Wahai Rasululloh apa yang paling engkau takutkan terhadap kami?” Maka beliau memegang lisannya seraya berkata :”Ini” [8].

Dari lisan akan keluar banyak sekali perbuatan dosa seperti mengolok-olok, ghibah, namimah, berbohong, debat kusir, bertengkar, kata-kata kotor, menuduh tanpa haq, perkataan yang mengandung kesyirikan dan perbuatan bid’ah. Yang lebih parah lagi jika olok-olokan atau ghibah dijadikan sebagai suatu budaya atau tradisi, wal ‘iyadzubillah. Rasululloh bersabda:

وَ إِنَّ سُوْءَ الْخُلُقِ يُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ

Dan akhlaq yang jelek akan merusak amal sebagaimana cuka akan merusak madu (HR. at Thobroni 3/209/2, Silsilah as Shohihah no. 906).

Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:  Jangan memperbanyak pembicaraan selain dzikrullah karena banyak bicara yang bukan dzikrullah membuat hati keras dan manusia yang paling jauh dari Alloh adalah hati yang keras [9].

Berkata Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu :’ Tidak ada di dunia ini yang sangat butuh untuk terus dipenjarakan selain lisan’ [10]

  1. Hawa Nafsu

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Tiga hal yang menghancurkan : kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan dan ujub dengan diri sendiri. Dan tiga hal yang menyelamatkan adalah takut kepada Alloh secara rahasia dan terang-terangan, sederhana baik ketika faqir maupun kaya dan adil tatkala marah dan senang [11].

Dari Abu Hurairah, Rasululloh bersabda:

الْمُؤْمِنُ غِرٌّ كَرِيمٌ وَالْفَاجِرُ خِبٌّ لَئِيمٌ

Orang mu’min itu bukanlah pembuat makar sedangkan orang kafir itu bakhil, keras kepala lagi jelek akhlaqnya (HR. Abu Dawud 4790, at Tirmidzi 1964 dan dihasankan oleh Syaikh Albani rahimahulloh).

  1. Sahabat dan lingkungan yang buruk

Dari Abu Sa’id al Khudri Radhiallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Jangan bersahabat kecuali dengan orang beriman dan jangan memakan makananmu kecuali orang bertakwa [12].  Berkata al Khoththobi: “ Maksudnya adalah makanan undangan bukan makanan yang menjadi kebutuhan orang (QS. Al Insan: 8) karena telah dimaklumi bahwa tawanan para sahabat adalah orang-orang kafir yang tidak beriman dan bertaqwa (tetapi mereka tetap diberikan makanan), yang diperingatkan oleh Nabi adalah supaya jangan berteman dengan orang yang tidak bertaqwa karena makan bersama akan menyebabkan kecintaan di dalam hati (Aunul Ma’bud jilid 7, 23/131).

Maka hendaklah seseorang itu melihat siapa teman dekatnya karena tabiat manusia adalah hasil meniru orang lain.

d. Faktor pendorong Istiqomah

Karena penghalang istiqomah berasal dari dua sumber pokok yaitu syubhat dan syahwat maka ada beberapa hal yang bisa ditempuh agar kita semua tetap istiqomah di atas kebenaran:

  1. Banyak berdo’a kepada Alloh Ta’ala karena Dialah yang memberikan istiqomah tersebut ke dalam dada hamba yang Ia kehendaki. Diantara do’a yang harus sering kita panjatkan adalah:

يَا مُقََلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلىَ دِيْنِكَ

  1. Meniti jejak para sahabat dalam beragama yaitu dengan memperdalam ilmu syar’I yang sesuai dengan pemahaman mereka.
  2. Berhati-hati dan tidak ceroboh dalam segala hal. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

التُّؤَدَةُ فِى كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ فِى عَمَلِ الآخِرَةِ

Berhati-hati/tidak terburu-buru (merupakan kebaikan) dalam segala urusan kecuali dalam amalan akhirat (HR. Abu Dawud 4810, as Shohihah 1794).

  1. Berusaha untuk bersahabat dengan ahlul ilmi dan orang yang istiqomah.
  2. Zuhud dalam urusan dunia dan selalu mengingat kematian.
  3. Memperbanyak ibadah dan amal sholih. Tidaklah seorang hamba menunaikan yang fardhu kemudian menyertainya dengan amalan nafilah kecuali ia akan mendapat kecintaan Alloh Ta’ala sebagainana dalam hadits qudsi.
  4. Melarikan diri dari sumber fitnah baik itu fitnah syahwat maupun syubhat.
  5. Berusaha menghidupkan suasana ilmu dan ibadah di dalam keluarga.
  6. Menghidupkan amar ma’ruf nahi munkar.

e. Buah dari Istiqomah

Berkata Abu Nu’aim : “Mujahid bin Jabr[13] meninggal dalam keadaan sujud”[14].

Ibnu Khulkan menceritakan tentang salah seorang ulama Andalusia yaitu Abu Ishaq Ibrohim bin Yusuf yang dikenal dengan Ibnu Qurqul : “bahwa ia sholat jumat di masjid Jami’, tatkala akan dijemput oleh maut ia membaca surat Al Ikhlas berulang kali dan bersyahadat tiga kali kemudian jatuh tersungkur meninggal dalam keadaan sujud”[15].

Yazib bin Abdi Robbihi berkata: ‘ Aku dan pamanku Ali bin Muslim menjenguk Abu Bakr Al Ghassani yang sedang sakratul maut lalu aku berkata: ‘Semoga Alloh merahmatimu, sekiranya engkau mau meneguk setetes air’. Abu Bakr  menolak dengan mengisyaratkan tangannya. Lalu datanglah maghrib. Kemudian ia bertanya: “Apakah sudah adzan? Kami menjawab: “Ya”. Setelah itu kami meminumkan beberapa teguk air ke mulutnya. Setelah itu ia meninggal…[16]

Al Hafidz Ibnu Katsir menceritakan tentang Al Allamah Abu Hakim Abdulloh bin Ibrohim Al Khobary (wafat 476 H) bahwasanya ia sedang menyalin kitab sebagaimana kebiasaannya. Tiba-tiba penanya jatuh. Setelah itu ia berkata: ‘Jika ini adalah kematian, maka ini adalah kematian yang bagus’. Kemudian beliau meninggal…[17]

Berkata Ubaid bin Hisan :’Ketika ‘Umar bin Abdul Aziz sedang sakratul maut ia berkata kepada orang-orang di dekatnya:” Keluarlah kalian dari sini!” Kemudian keluarganya keluar kecuali istrinya Fathimah dan pembantunya Maslamah yang berdiri di dekat pintu. Keduanya mendengar ‘Umar bin Abdul Aziz berkata: “Selamat datang wajah-wajah ini, bukan wajah manusia atau jin” kemudian ia membaca:

تِلْكَ ٱلدَّارُ ٱلْءَاخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al Qashas: 83). Kemudian beliau wafat, semoga Alloh merahmatinya…[18]

 

 

[1] Syarh Riyadus Sholihin ,Syaikh Ibnu Utsaimin (9/1).

[2] Tafsir Ibnu Katsir (4/281)

[3] QS. Al Baqarah{2}: 208

[4] Zaadul Ma’ad (3/6)

[5] Ar Rosail An Naafi’ah (116)

[6] HR. Muslim (2961)

[7] HR. Ibnu Majah (257) dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shohih Sunan Ibnu Majah (209)

[8] HR. at Tirmidzi (2410), Ibnu Majah (3972), Shohih At Tirmidzi (1965)

[9] HR. at Tirmidzi (4/607)

[10] Jaami Al ‘Ulum wal Hikam ( 340)

[11] HR. Al Bazzar dalam Kasyful Astar (80,82), dengan sanad yang hasan. silakan lihat Silsilah As Shohihah (1802)

[12] HR. Abu dawud  (4832), Shohih Sunan Abu Dawud (4045)

[13] Al Imam Al Mufassir wafat tahun 130 H.

[14] Thobaqot Ibnu Sa’d (5/467).

[15] Wafayatul A’yan (1/62).

[16] Siyar A’lam An Nubala (2/496).

[17] Al Bidayah wan Nihayah (12/153). Ibnu Katsir menyebutnya Akhu Abi Hakim Al Khaiiry yang benar adalah Abu Hakim Al Khobary sebagaimana dalam Siyar A’lam An Nubala (18/558).

[18] Siroh Umar bin Abdul Aziz hal. 325-326

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *