Rabu , Oktober 21 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Husnul Khotimah Dan Tanda-Tandanya
KLIK UNTUK BERINFAK

Husnul Khotimah Dan Tanda-Tandanya

Husnul Khotimah

1.Definisi Husnul Khotimah

Husnul  Khotimah adalah suatu keadaan dimana seorang  hamba diberikan  taufiq  sebelum kematiannya  untuk dapat menahan dirinya dari segala yang dimurkai Alloh Ta’ala, bertaubat dari dosa dan maksiat serta senantiasa mengamalkan keta’atan dan kebaikan dan ia mati dalam keadaan yang baik tersebut [1] .

 Makna ini terkandung dalam hadits Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu :

« إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْراً اسْتَعْمَلَهُ ». قَالُوا وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ « يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ »

Jika Alloh menghendaki bagi seorang hamba suatu kebaikan maka ia menjadikannya beramal.  (Para sahabat bertanya): ‘Bagaimana cara Alloh Ta’ala menjadikannya beramal?’ Beliau menjawab:’Ia memberikannya taufiq untuk mengerjakan amalan sholih sebelum meninggalnya’[2].

2.Tanda-tanda husnul khotimah

Husnul khotimah dapat diketahui melalui salah satu dari ciri-ciri berikut:

a. Mengucapkan kalimat syahadat ketika akan meninggal. Ucapan ini akan keluar dari mulut seseorang yang mempraktekkan tauhid dengan sebenar-benarnya dan menjauhi perbuatan syirik berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  :

مَنْ لَقِىَ اللَّهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّار

Barangsiapa yang menemui Alloh dalam keadaan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu maka ia akan masuk surga dan barangsiapa yang menemuiNya dalam keadaan menyekutukanNya dengan sesuatu maka ia akan masuk neraka[3].  

b. Meninggal dalam keadaan dahi berkeringat. Dari Buraidah bin Hashib Radhiallahu ‘Anhu bahwasanya ia pernah menjenguk saudaranya yang sakit lalu ia mendapatinya sudah meninggal dengan keringat di dahinya, maka ia berkata:’Allohu akbar,aku pernah mendengar Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: Kematian seorang yang beriman adalah dengan keringat dahinya [4]. Berkata Abul ‘Ala’ :’Berkata Ibnu Al Malak:’ Maksudnya adalah beratnya maut bagi orang yang beriman yang mana dahinya menjadi berkeringat untuk menghapus dosa-dosanya atau menambah derajatnya’.[5] .

c. Meninggal pada malam atau hari jum’at. Dari Abdulloh bin ‘Amr dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: Tidaklah ada seorang muslim mati pada hari jum’at atau malam jum’at kecuali Alloh akan menjaganya dari ujian kubur [6].

d. Meninggal fisabilillah (di jalan Alloh)

Yang termasuk fisabilillah diantaranya:

  1. Meninggal dalam jihad meninggikan kalimat Alloh. Termasuk di dalamnya meninggal atau terbunuh dalam menuntut ilmu dan mendakwahkan agama Alloh ( Ali Imraan {3}: 169-171). Dari Abu Hurairah t bahwa Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda:

مَنْ قُتِلَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Barangsiapa yang terbunuh di jalan Alloh maka ia syahid dan barangsiapa yang mati di jalan Alloh maka ia syahid  [7].

Berkata Abu Darda : ‘Barangsiapa yang berpandangan bahwa pulang pergi dalam menuntut ilmu bukan termasuk jihad maka akal dan pendapatnya tidak beres’. Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma berkata: ‘Jihad yang paling afdhol adalah orang yang membangun masjid kemudian ia mengajarkan Al Qur’an, Fiqh dan Sunnah di dalamnya’[8].

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّه

Barangsiapa yang mendatangi masjidku ini, ia tidak mendatanginya kecuali karena kebaikan yang ia pelajari atau ajarkan maka kedudukannya seperti mujahid fisabilillah[9]

  1. Meninggal dalam beberapa keadaan sebagaimana hadits berikut:

Dari Ka’b bin ‘Ujroh t ia berkata: ‘Seorang laki-laki melewati nabi r kemudian para sahabatnya melihat bagaimana kuat dan rajinnya laki-laki tersebut lalu mereka berkata: ‘Wahai Rasululloh r seandainya hal ini di jalan Alloh’. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: Jika ia keluar berkerja untuk menghidupi anaknya yang masih kecil maka dia fi sabilillah (di jalan Alloh), jika ia keluar berkerja untuk kedua orang tuanya yang telah lanjut usia maka ia fi sabilillah, jika ia keluar bekerja untuk menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta maka ia fi sabilillah dan jika ia keluar karena riya’ dan sombong maka ia di jalan syaiton[10].

  1. Orang yang meninggal dalam keadaan meminta kepada Alloh untuk diberikan syahid dengan jujur dari dalam hatinya. Dari Sahl bin Hunaif dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: Barangsiapa yang meminta kepada Alloh kesyahidan dengan jujur maka Alloh akan menyampaikannya ke derajat para syahid sekalipun ia mati di atas ranjangnya [11].
  2. Meninggal dalam keadaan ihram. Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma bahwasanya ada seorang laki-laki tersungkur dari untanya sehingga lehernya patah kemudian meninggal maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  berkata: Mandikan ia dengan air dan bidara dan kafankan dengan dua pakaiannya dan jangan menutup kepalanya karena Alloh akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah [12].
  3. Meninggal dalam rangka berjaga-jaga di perbatasan negeri kaum muslimin. Dari Salman Al Farisi Radhiallahu ‘Anhu, ia mendengar Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: Ribath (menjaga perbatasan kaum muslimin) sehari semalam lebih baik dari puasa dan sholat malam sebulan. Jika ia meninggal maka amalannya yang dahulu akan mengalir dan dialirkan rezkinya serta diamankan dari fitnah kubur [13] .
  4. Mati dalam membela darah, harta, agama dan Dari Sa’id bin Zaid Radhiallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  beliau bersabda: Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya maka ia syahid, barangsiapa yang terbunuh membela keluarganya maka ia syahid, barangsiapa yang terbunuh membela agamanya maka ia syahid dan barangsiapa yang terbunuh karena membela diri maka ia syahid [14] .

 Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu ia berkata: Telah datang seseorang kepada Rasululloh kemudian ia  berkata:’Wahai Rasululloh, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang ingin merampas hartaku?’. Maka Nabi menjawab:’Jangan engkau berikan hartamu itu!’. Ia bertanya lagi: ‘Bagaimana jika ia memerangiku?’. Nabi menjawab:’Lawanlah ia’. Ia bertanya lagi: ‘Bagaimana kalau ia membunuhku?’. Beliau menjawab:’Kamu syahid’. Orang itu bertanya lagi:’ Bagaimana seandainya aku membunuhnya?’. Nabi menjawab: ‘Orang itu di neraka’ [15].

Berkata Al Munawi :’Membela keluarganya maksudnya membela kehormatan istri atau kerabatnya, sedangkan membela agama maknanya menolong dan membela agama Alloh[16] .

e. Meninggal karena terkena penyakit-penyakit berikut:

1. Tho’un (Wabah secara umum). Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu bahwasanya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: Tho’un adalah syahid bagi setiap muslim [17].

Tho’un adalah penyakit massal atau wabah yang menjadikan udara tercemar dan menjangkiti tubuh dan badan[18] .

2. Sill (TBC, penyakit paru-paru). Dari Rosyid bin Hubais Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: Dan penyakit sill termasuk syahid [19]. Sill secara bahasa berarti kurus dan dalam kedokteran adalah luka pada paru-paru. Dinamakan demikian karena dapat membuat badan menjadi kurus [20].

3. Segala jenis penyakit perut. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwasanya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: Dan barangsiapa yang meninggal karena (penyakit) perut maka ia syahid [21].

Imam An Nawawi menjelaskan beberapa tafsiran dari Penyakit perut diantaranya mencret sebagaimana perkataan Al Qodhi, perut kembung dan segala jenis penyakit perut [22]. Namun pendapat yang lebih kuat adalah yang terakhir sebagaimana keumuman hadits ini.

4. Dzatul Janbi (radang selaput dada). Dari Uqbah bin Amir Radhiallahu ‘Anhu , Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: Orang yang mati karena dzatul janbi adalah syahid [23].

 Berkata Ibnul Mandzhur: ’Dzatul Janbi adalah bisul yang tumbuh di bagian dalam rusuk atau lambung dan menjalar ke bagian dalamnya dan sedikit orang yang bisa selamat’[24].

Disyaratkan bagi yang terkena penyakit di atas untuk sabar dan mengharap pahala kepada Alloh Ta’ala.

5. Mati tenggelam. Dari Jabir bin ‘Atik Radhiallahu ‘Anhu Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: Dan orang yang tenggelam syahid [25].

6. Mati terbakar dan tertimpa runtuhan, berdasarkan hadits Jabir bin ‘Atik Radhiallahu ‘Anhu : Orang yang terbakar adalah syahid dan yang mati di bawah runtuhan adalah syahid [26].

7. Meninggal ketika mengandung dan melahirkan bagi wanita beriman.

Dari ‘Ubadah bin Shomit t , Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: Wanita yang meninggal karena nifas (termasuk syahid); anaknya akan menariknya dengan plasentanya  menuju surga, orang yang mati terbakar dan terkena banjir (termasuk syahid) [27]. Dalam lafadz Imam Ahmad yang lain:

وَالْمَرْأَةُ يَقْتُلُهَا وَلَدُهَا جَمْعَاءَ شَهَادَةٌ

Wanita yang dibunuh oleh anaknya (yang masih di dalam perut) adalah syahid.

8. Meninggal tatkala melakukan amalan sholih. Dari Hudzaifah Radhiallahu ‘Anhu ia berkata:’ Aku menyandarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  ke dadaku kemudian beliau bersabda: Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh dengan mengharap wajah Alloh yang dengannya ia diakhiri (hidupnya) maka ia masuk surga, barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Alloh yang dengan puasa itu ditutup maka ia akan masuk surga dan barangsiapa yang bersedekah sesuatu dengan mengharap wajah Alloh lalu dengannya ia ditutup maka ia akan masuk surga [28].

3. Cara memproleh husnul khotimah

Ketahuilah saudaraku, bahwa adanya salah satu dari tanda-tanda husnul khotimah di atas tidaklah dapat dijadikan ukuran untuk memastikan bahwa ia adalah syahid ahli surga sebagaimana pula tidak adanya salah satu dari tanda –tanda tersebut bukanlah menunjukkan bahwa ia bukan orang sholih atau termasuk ahli neraka. Semuanya kembali kepada terpenuhinya syarat-syarat untuk mendapatkan husnul khotimah yaitu Mentauhidkan Alloh dan tidak berbuat syirik sedikitpun dan Mengikuti Agama Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  dan para sahabatnya yang bersih dari kesyirikan, bid’ah,  khurafat dan beriman sebagaimana apa yang mereka imani serta istiqomah di atasnya (QS. An Nisaa’{4}: 115).

 

 

[1] Al Khotimah, Syaikh Kholid bin Abdurrahman As Syayi’ hal. 7

[2] Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (3/120, 123, 230, 257), At Tirmidzi (2142) dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah As Shohihah (3/323) no.(1334)

[3] HR. Muslim (93) dari sahabat Jabir bin Abdulloh t

[4] HR. Ahmad  (5/357), at Tirmidzi (982) dan ia menghasankannya, Al Hakim (1/513) dan ia menshohihkannya dan disepakati oleh Adz Dzahabi

[5] Tuhfatul Ahwadzi, Abul ‘Ala’ (4/49)

[6] HR. Ahmad (2/169 no. 6582) dan dihasankan oleh Syaikh Albani  dalam Shohih At Targib wat Tarhib (3562)

[7] HR. Muslim (1915)

[8] As Shohabah hal.451

[9] HR. Ibnu Majah (227), Ahmad (2/418) dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohih Sunan Ibni Majah (186).

[10] HR. At Thobroni dalam Al Mu’jam Al Kabir (19/129). Berkata Al Mundziri: “rentetan perawi haditsnya shohih dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohih At targhib (1692)

[11] HR. Muslim (1909)

[12] HR. Muslim (1206)

[13] HR. Muslim (1913)

[14] HR. al Bukhori (2348), Muslim (62), Abu Dawud (4772) dan lafadznya dari beliau dan tambahan dalam kurung adalah riwayat An Nasai (4094)

[15] HR. Muslim (140)

[16] Faidhul Qodhir (6/195)

[17] HR. Al Bukhori (5400)

[18] Fathul Bari (10/133)

[19] Dikeluarkan oleh Al Haitsami dalam Al Majma’ (2/317, 5/301) dan dihasankan oleh Al Mundziri. Lihat Shohih At Targhib (1396)

[20] Tuhfatul Ahwadzi (6/211)

[21] HR. Muslim  (1915)

[22] Syarh shohih Muslim(13/62

[23] HR. Ahmad (4/157) dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah As Shohihah (2372)

[24] Lisanul ‘Arob (I/281)

[25] HR. Abu Dawud (3111), al Hakim (1/713) dan ia berkata: ‘Sanadnya shohih’ dan disepakati oleh Adz Dzahabi

[26] HR. Abu Dawud (3111), An Nasa’I (1846), Malik (1/232-233), Shohih Abi Dawud (2668)

[27] HR. Ahmad (4/201, 5/323), Al Majma’ (5/299), hadits hasan, lihat Shohih At Targhib wa At Tarhib (1396)

[28] HR. Ahmad (5/391) dengan sanad yang hasan

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *