Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Fiqih / Hukum Nazar
KLIK UNTUK BERINFAK

Hukum Nazar

HUKUM NAZAR

Pengertian Nazar :

Berkata Al-Imam Al-Ashfahani Rahimahullah :

قال الأصفهاني رحمه الله : ( النَّذْر: أن توجب على نفسك ما ليس بواجب لحدوث أمر ).

Nazar adalah Engkau mewajibkan dirimu  sendiri untuk mengerjakan sesuatu yang tidak wajib Karena terjadinya suatu perkara”. (Mufradat Al-Fadzil Qur’an Hal. 797)

Berkata Imam Abdurrahman Bin Muhammad ‘Awadh Al-Jaziry Rahimahullah dalam kitabnya Al-Fiqh ‘Alaa Mazaahibil Ar-Ba’ah :

النذر اصطلاحًا هو أن يوجب المكلَّف على نفسه أمرًا لم يلزمه به الشارع

Nazar secara istilah adalah Seorang mukallaf (orang yang sudah dikenai beban syariat) mewajibkan dirinya sendiri untuk mengerjakan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh syara’/agama”.

Hukum Nazar :

Para ‘Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua pendapat :

Pendapat pertama : Makruh, ini pendapat Jumhur ‘Ulama, berdasarkan beberapa hadits yang shohih yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, diantaranya :

  • Hadits riwayat Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma, beliau menuturkan :

نَهَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم -عَنِ النَّذْرِ قَالَ : ( إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ ) 

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang untuk bernazar, beliau bersabda: “Bahwa Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Dan nazar hanya dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit).” (HR. Bukhari no. 6693 dan Muslim no. 1639)

  • Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

لاَ تَنْذُرُوا فَإِنَّ النَّذْرَ لاَ يُغْنِى مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ

Janganlah kalian bernazar. Karena nazar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit).” (HR. Muslim no. 1640, Tarmizi no. 1538, Nasa’I 7/16, Ahmad 2/412)

  • Dari Abu Hurairah juga, Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ النَّذْرَ لاَ يُقَرِّبُ مِنِ ابْنِ آدَمَ شَيْئًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ قَدَّرَهُ لَهُ وَلَكِنِ النَّذْرُ يُوَافِقُ الْقَدَرَ فَيُخْرَجُ بِذَلِكَ مِنَ الْبَخِيلِ مَا لَمْ يَكُنِ الْبَخِيلُ يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَ

Sungguh nazar tidaklah membuat dekat pada seseorang apa yang tidak Allah takdirkan. Hasil nazar itulah yang Allah takdirkan. Nazar hanyalah dikeluarkan oleh orang yang pelit. Orang yang bernazar tersebut mengeluarkan harta yang sebenarnya tidak ia inginkan untuk dikeluarkan. ” (HR. Bukhari no. 6694 dan Muslim no. 1640)

  • Riwayat-riwayat diatas menunjukkan larangan memulai nazar, akan tetapi orang yang sudah terlanjur bernazar maka wajib menunaikan nazarnya.

Pendapat kedua ; Sunnah, inilah pendapat kebanyakan ‘Ulama Malikiyah dan sebagian ‘Ulama Syafi’iyah seperti Imam Nawawi dan Al-Gozali Rahimahullah. mereka berdalil dengan beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang memuji orang-orang yang menunaikan nazar, diantara dalil-dalil tersebut adalah :

  • Firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Haj ayat 9 :

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ

Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka.” (QS. Al Hajj: 29)

  • Firman Allah dalam surat Al-Insan ayat 5-7 memuji orang-orang yang menunaikan nazarnya :

إِنَّ الأبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا (٥)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا (٦)يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا (٧)

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al Insan: 5-7)

  • Hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda :

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ

Barangsiapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nazar tersebut. Barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya. ” (HR. Bukhari no. 6696)

  • Hadits riwayat Imran Bin Husain Radhiallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Beliau bersabda :

خَيْرُكُمْ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ – قَالَ عِمْرَانُ لاَ أَدْرِى ذَكَرَ ثِنْتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا بَعْدَ قَرْنِهِ – ثُمَّ يَجِىءُ قَوْمٌ يَنْذُرُونَ وَلاَ يَفُونَ

Sebaik-baik kalian adalah orang-orang yang berada di generasiku, kemudian orang-orang setelahnya dan orang-orang setelahnya lagi. -‘Imron berkata, ‘Aku tidak mengetahui penyebutan generasi setelahnya itu sampai dua atau tiga kali’-. Kemudian datanglah suatu kaum yang bernazar lalu mereka tidak menunaikannya, …. ” (HR. Bukhari no. 2651).

Permasalah dan Penyelesaiannya :

Kedua pendapat diatas terdapat sedikit masalah kalau ditinjau dari dalil-dalil pendapat yang lain.Pendapat yang mengatakan Sunnah kalau ditinjau dari dalil-dalil yang melarangnya, maka pendapat ini ada sedikit masalah, begitu juga pendapat jumhur yang memakruhkan akan ada sedikit masalah jika di tinjau dari dalil-dalil pujian atas orang-orang yang menunaikan nazarnya. Bagaimana mungkin sesuatu yang wajib ditunaikan makruh untuk dilakukan?

Cara terbaik untuk menghilangkan problema ini adalah kita katakan bahwa nazar ada dua macam :

  1. Nazar Mu’allaq artinya Seseorang mewajibkan dirinya sendiri untuk melakukan ketaatan apabila permintaan atau keinginannya terkabul, jika keinginannya tidak terkabul maka dia tidak akan melakukan ketaatan tersebut. Contohnya : “Apabila Allah menyembuhkan penyakitku aku bernazar kepada Allah akan menyedekahkan hartaku kepada anak yatim dll”

Nazar jenis inilah yang dilarang oleh Rasulullah, sebagaimana dalam hadits diatas. Karena dilakukan tidak ikhlas semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan tetapi dengan tujuan supaya keinginannya tercapai.dia akan bersedekah jika penyakitnya sembuh.jika penyakitnya tidak sembuh, dia tidak akan bersedekah.

  1. Nazar Muthlaq artinya Seseorang mewajibkan dirinya melakukan ketaatan tanpa menyebutkan syarat. Contoh : “Saya bernazar kepada Allah akan bersedekah kepada anak yatim”. Dll

Nazar jenis ini bukan termasuk nazar yang dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahkan disunnahkan.

  • Sebagian orang awam menyangka bahwa dengan bernazar keinginannya akan tercapai atau Allah pasti akan penuhi keinginannya karena nazar ketaatan yang akan dilakukan, ini adalah keyakinan yang salah.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا

“Bahwa Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu”.

Ponpes Al-Mahmud Aik Ampat, Selasa 26 Jumadal Akhir 1439 H/13 Maret 2018 M

Bahrul Ulum Ahmad Makki


Referensi :

  1. Shahih Fiqhussunnah Syaikh Abu Malik
  2. https://islamqa.info/ar/2587
  3. http://www.alukah.net/sharia/0/25055/

Tentang Penulis Bahrul Ulum Ahmad Makki

Bahrul Ulum Ahmad Makki -hafidzahullah-. Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana ) Aktifitas : Pengasuh dan pengajar di pondok Tahfidz Al-Mahmud Al-Islamy, Pembina Yayasan Al-Hakam NTB, Pengasuh Web alhakam.com

Silahkan Pilih Yang Lain

Nasehat akhir tahun

Nasehat akhir tahun إِنَّ اْلحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *