Rabu , Mei 23 2018
Breaking News
Home / Belajar Islam / Aqidah / Hukum Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hukum Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hukum Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

(Lanjutan Syarah Lamiyah Ibnu Taimiyah Bait ke-4)

Perlu kita ketahui bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia terbaik, paling utama dan orang yang paling berbakti kepada Rasulullah dari ummat ini. Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulnya telah memuji mereka dengan sebaik-baik pujian baik didalam Al-Qur’an maupun dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka barangsiapa yang mencela para sahabat setelah mengetahui keutamaan-keutamaan mereka, telah mengetahui pujian Allah dan Rasulnya untuk mereka, maka tidak diragukan lagi bahwa ia telah mendustakan Allah dan Rasulnya, ia harus di berikan hujjah atas hal itu, jika ia bertaubat dan kembali kejalan yang benar maka Allah akan menerima taubatnya, jika ia tidak bertaubat dari perbuatannya dan bahkan terus-menerus dalam mencela mereka maka dia telah kafir dan sesat menyesatkan.

Imam Malik rahimahullah berkata tentang orang-orang yang mencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إنّما هؤلاء قومٌ أرادوا القدح في النّبيّ – صلّى الله عليه و على آله و صحبه و سلّم – فلم يمكنهم ذلك ؛ فقدحوا في أصحابه ؛ حتّى يُقال : رجل سوء ؛ و لو كان رجلاً صالحًا لكان أصحابه صالحين

“Sesungguhnya mereka (para pencela sahabat) adalah kaum yang ingin mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi tidak memungkinkan bagi mereka untuk melakukannya, maka mereka mencela sahabat-sahabatnya. Supaya dikatakan : Ia (Nabi) seorang yang jelek, kalau sekiranya Ia orang shalih (baik) niscaya sahabat-sahabatnya orang-orang shalih.” (Sharimul Maslul 3/1088-1089)

Imam Ahmad rahimahullah berkata :

إذا رأيت رجلاً يذكر أحدًا من الصّحابة بسوءٍ ؛ فاتّهمه على الإسلام

“Apabila engkau melihat seseorang menyebut para sahabat dengan kejelekan, maka islamnya perlu dipertanyakan.” (Asy-Syarh wal Ibanah No.231 Ibnu Batthah).

Para pencela sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dalam satu tingkatan dan hukum, tergantung jenis celaan yang mereka lontarkan kepada para sahabat :

a. Barangsiapa yang mengkafirkan semua sahabat radhiallahu ‘anhum, atau memfasikkan semua atau sebagian besar mereka, maka ia telah kafir menurut kesepakatan para ‘Ulama, bahkan orang yang ragu atas kekafiran kelompok ini maka ia telah kafir juga. Karena hal ini termasuk perkara yang jelas dalam islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

آية الإيمان حب الأنصار وآية النفاق بغض الانصار

“Tanda iman adalah dengan mencintai kaum anshar, dan tanda kemunafikan adalah menbenci kaum anshar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا يحبهم إلا مؤمن ولا يبغضهم إلا منافق

“Tidaklah yang mencintai mereka (kaum anshar) kecuali orang-orang mukmin, dan tidaklah yang membenci mereka kecuali orang munafik.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ta’ala berkata :

و أمّا من جاوز ذلك إلى أن زعم أنّهم ارتدّوا بعد رسول الله – صلّى الله عليه و على آله و صحبه و سلّم – إلاّ نفرًا قليلاً لا يبلغون بضعة عشر نفسًا ، أو أنّهم فسقوا عامّتهم : فهذا لا ريب – أيضًا – في كفره ؛ لأنّه مكذّبٌ لما نصّه القرآن – في غير موضع – من الرّضى عنهم ، و الثّناء عليهم ؛ بل من يشكّ في كفر مثل هذا فإنّ كفره متعين، فإنّ مضمون هذه المقالة أنّ نقلة الكتاب و السّنّة كفارٌ أو فسّاق

“Dan adapun orang yang melampaui batas sampai-sampai mereka menuduh bahwa mereka (para sahabat) telah murtad setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali beberapa orang sahabat yang tidak sampai belasan. Atau mereka menfasikkan semua sahabat Nabi maka mereka tidak diragukan lagi akan kekafirannya, karena ia telah mendustakan apa yang telah di sebutkan Al-Qur’an -dibeberapa tempat- tentang ridha Allah kepada mereka, dan pujian Allah kepada mereka. Dan barang siapa yang ragu akan kekafiran orang yang seperti ini maka sesungguhnya ia telah kafir, karena kandungan (maksud) dari ucapan ini, bahwa para pembawa Al-Qur’an dan sunnah semuanya kafir dan fasik .” (Ash-Sharimul Maslul 3/1110-1112)

Imam Haitsami rahimahullah berkata :

ثم الكلام – أي الخلاف – إنما هو في سب بعضهم، أما سب جميعهم فلا شك في أنه كفر

“Kemudian khilaf terjadi (antara para ‘Ulama) terhadap orang yang mencela sebagian sahabat, adapun orang yang mencela semua sahabat maka tidak diragukan akan kekafirannya.”

Imam Malik rahimahullah mengambil hukum dari firman Allah dalam surat Al-Fath ayat 29, Bahwa orang-orang yang membenci para sahabat telah kafir, karena para sahabat murka kepada mereka, dan siapa saja yang dimurkai para sahabat maka ia telah kafir, Imam syafi’i rahimahullah dan yang lainnya telah sepakat dengan ini.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/204)

b. Barangsiapa yang mengkafirkan atau memfasikkan beberapa sahabat (satu atau dua orang sahabat), maka ia telah menjadi fasik menurut pendapat yang kuat, ia berhak di berikan sangsi, hukuman dan di penjara sampai meninggal. Dan kepada penguasa untuk tidak memaafkannya. 

Imam Ishaq bin Rahawaih rahimahullah berkata :

من شتم أصحاب النّبيّ – صلّى الله عليه و على آله و صحبه و أزواجه و سلّم – يُعاقب و يُحبس

“Barang siapa yang mencela sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia pantas di hukum dan dipenjara.” (Sharimul Maslul 3/1058)

c. Barangsiapa yang menghalalkan mencela salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia telah kafir menurut kesepakatan para ‘Ulama.

Qadhi Abi Ya’la Al-Hambali rahimahullah berkata :

إذا استحلّ سبّهم فإنّه يكفر بلا خلاف

“Apabila ia menghalalkan mencela para sahabat maka sesungguhnya ia telah kafir, tanpa ada perselisihan antara para ‘Ulama.” (Sharimul Maslul 3/1066)

d. Barang siapa yang mencela sebagian sahabat karena persahabatan mereka dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah kafir.

e. Barangsiapa yang mengkafirkan atau menfasikkan para sahabat yang telah jelas akan keutamaannya seperti Abu Bakar, ‘Umar’ ‘Utsman, ‘Ali dan Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah kafir menurut pendapat yang kuat.

Imam Ahmad rahimahullah berkata :

من شتم أبا بكرٍ وعمر و عائشة : ما أَرَاه على الإسلام

“Barangsiapa yang mencela Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Aisyah maka saya tidak melihat ia menjadi seorang muslim.” (Sharimul Maslul 3/1065)

f. Barangsiapa yang mencela sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan mensifati mereka dengan sifat yang tidak kembali kepada agama mereka, seperti mengatakan bahwa mereka bakhil, penakut, tidak faham politik, kurang ilmu, dan tidak zuhud. Maka ia telah fasik dan tidak kafir menurut pendapat yang kuat.

Imam Ahmad rahimahullah berkata :

لا يجوز لأحدٍ أن يذكر شيئًا من مساويهم ، و لا يطعن على أحدٍ منهم بعيب ، ولا بنقص ؛ فمن فعل ذلك فقد وجب على السّلطان تأديبه و عقوبته ؛ ليس له أن يعفو عنه ، بل يعاقبه و يستتيبه ؛ فإن تاب قبِلَ منه ، وإن ثبت عاد عليه بالعقوبة وخلَّده الحبس ؛ حتىّ يموت أو يُراجع

“Tidak boleh bagi seseorang menyebut sedikitpun dari kejelekan para sahabat, dan tidak boleh mencela seorangpun dari mereka dengan menyebut aib dan kekurangan mereka. Barangsiapa yang melakukan hal itu maka wajib bagi penguasa untuk memberikan pelajaran dan hukuman kepadanya, tidak boleh bagi mereka (para penguasa) memaafkan mereka(para pencela sahabat), maka hendaklah menghukum dan meminta mereka untuk bertaubat, jika ia bertaubat maka taubatnya di terima, jika ia tetap dengan pendiriannya (tidak bertaubat) maka ia pantas dihukum dan dipenjara sampai meninggal, atau ia ruju’ dari pendapatnya.” (Thabaqat Hanabilah Imam Abi Ya’la)

 

Selasai ditulis sebelum dzuhur, di Pondok Tahfidz Putri Al-Mahmud Aik Ampat, Senin 8 Sya’ban 1439 H/23 April 2018

Bahrul Ulum Ahmad Makki

 

Refrensi :

  • Al-Fawaid Al-bahiyah Fi Syarh Lamiyah Karya syaikh Muhammad Hizam al-Ba’dany
  • http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=2429
  • https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=95753
  • http://www.alserdaab.org/articles.aspx?selected_article_no=297
Please follow and like us:
0

About Bahrul Ulum Ahmad Makki

Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pondok Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana )

Check Also

‘Umdatul Ahkam : Cara Menentukan Awal Bulan Ramadhan (Hadits 179)

‘Umdatul Ahkam : Cara Menentukan Awal Bulan Ramadhan (Hadits 179) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Please like this page and share it